Selasa, 29 Juni 2010

Ode untuk Ismail Haniyya

Ode untuk Ismail Haniyya

Oleh: Anugrah Roby Syahputra

Sudah puluhan tahun penjajahan keji itu terus mencengkeram tanahmu
Sejak Ben Gurion memproklamirkan negeri yang lahir dari aneksasi itu

Ini bukan kali pertama darah tertumpah mengurai duka
Sebab derap Merkava memuntah rudal-rudal angkara sudah biasa
Kulihat bocah-bocah belajar tahfidz diiringi sesuatu yang berdentum-dentum
Juga peluru berebut berdesingan di sekeliling yang malah membuat senyummu menguntum

Entah mengapa api ghirahmu kian membara
Walau darah bercucuran membasahi tanahmu yang tandus
Walau isakan kepedihan terus berlolongan dari segenap penjuru Gaza

Tak ingatkah kau jerit luka yang menganga sejak pembantaian Qabiyyah?
Belum lagi nyawa yang meregang di Shabra Shatilla, Hebron dan Deir Yassin
Ah, cerita tentangmu memang selalu biru
Kisah semangat suci yang berselimut haru
Dan jalan sunyi yang selalu berdebu

Ketahuilah wahai penganut Talmud yang bersembunyi di belakang adidaya
Kami adalah generasi yang lahir dari rahim lingkaran-lingkaran rabbani
Sayatan luka di tubuh lebih kami cintai daripada dunia yang kalian takjubi
Kami adalah anak-anak muda yang lahir dari shaf pertama jamaah subuh masjid kampung kami
Bersiaplah kalian untuk mengulangi sejarah keruntuhan benteng Khaibar

Ketahuilah wahai kaum yang berlindung di sebalik Nitraria Retusa*
Jangan kaupikir derai airmata kami pertanda hamasah yang melemah
Tapi bulirnya adalah amunisi ruhiyah untuk melanjutkan Intifadhah
Jangan kaukira tetesan tertumpah membuat kami menyerah kalah
Sungguh darah syuhada membuat bumi kami semerbak wangi kesturi
Maka nantikanlah kehadiran Panglima Shalahuddin memporandakan kepongahan kalian.

Banda Aceh, 29 Juni 2010

NB:
Nitraria Retusa: Nama latin untuk pohon Gharqad, satu-satunya pohon yang memberi perlindungan pada bangsa Yahudi pada pertempuran akhir zaman antara Yahudi dan Kaum Muslimin ketika pohon dan batu-batu berbicara memberitahukan persembunyian Yahudi.

Puisi ini diikutkan dalam program Tribute to Palestine
http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest&note_id=411106508880

Ayo teman-teman nyatakan kepedulian kita pada Palestina dengan do'a, dana dan usaha memberitahukan kepada dunia kekejaman Zionis laknatullah..

Donasi dapat disalurkan melalui:
Rekening Mer-C untuk Palestina :
BCA cab. Kwitang No. Rek. 686.0153678
BSM cab. Kramat No. Rek. 009.0121.773
a.n. Medical Emergency Rescue Committee

Rekening KISPA untuk Palestina :
Bank Muamalat Indonesia cab.Slipi
No. 311.01856.22 an.Nurdin QQ Kispa

Rekening Sahabat Al Aqsha untuk Palestina:
Bank Syariah Mandiri
No. Rek. 1540006443
an. M Fanni bdn Palestina
atau
Bank Muamalat
No Rek. 9244632778
an. M Fanni cq Sahabat Al-Aqsha


اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَاَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ

Ya Allah, ampunilah kami dan kaum mukminin dan mukmininat muslimin dan muslimat; dan tautkanlah hati-hati mereka dan perbaikilah hubungan mereka; dan tolonglah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka

اَللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ اَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُوْنَ اَوْلِيَائَكَ

Ya Allah, kutuklah kaum kuffar dari kalangan ahli kitab yang menghalang-halangi jalan-Mu dan mendustakan Rasul-Mu dan memerangi para wali-Mu

اَللَّهُمَّ اَنْجِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ أَفْغَانِسْتَانَ وَ فِي الْعِرَاقِ وَفِيْ فَلَسْطِيْنِ وَ سَائِرِ بِِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ

Ya Allah, selamatkanlah kaum muslimin di Afghanistan, Irak, dan Palestina serta seluruh negeri kaum muslimin

اَللَّهُمَّ انْصُرِِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي أفغانستان و في العراق وفي فلسطين و في كُلِّ مَكَانٍ

Ya Allah, tolonglah para mujahidin yang berjihad di Afghanistan, Irak, Palestina, dan di mana saja berada

اَللَّهُمَّ قَاَتِلْ جُيُوْشَ أَمْرِيْكَا وَ حُلَفَائِهِمْ وَاشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَيْهِمْ وَاجْعَلْهُمْ مُنْهَزِمِيْنَ

Ya Allah, perangilah tentara Amerika dan para sekutunya; keraskanlah injakan-Mu kepada mereka; dan jadikanlah mereka kalah

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَاجْعَلْهُمْ عِبْرَةً لِلْمُعْتَبِرِيْنَ
وَ دَمِّرْ هُمْ بِعِزَّتِكَ يَاعَزِْيزُ يَاقَهَّارُ ياَجَبَّارُ يَامُنْتَقِمُ

Ya Allah, ceraiberaikanlah barisan mereka, dan pecahkanlah kesatuan mereka, dan jadikanlah kehancuran mereka sebagai pelajaran bagi siapa saja; dan hancurkanlah mereka dengan kekuatan-Mu, wahai Dzat yang Maha Kuat, Paling Berkuasa, Paling bisa berbuat sewenang-wenang dan Zat yang Maha Pembalas.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Kamis, 24 Juni 2010

Tarian Uang (Cerpen untuk Rekan-rekan Gayus yang Tahan Godaan)

Sebuah cerpen yang saya buat enam tahun yang lampau, sudah pernah saya tampilkan di note2 saya yang terdahulu. Kali ini kami tampilkan kembali, bukan untuk menyinggung hati teman-teman sahabat di Depkeu (sekarang Kemenkeu), justru sebaliknya . Cerpen ini adalah selaksa penghargaan bagi anda semua yang istiqomah menjalankan amanah menjaga keuangan negara. Saya percaya gayus adalah sample error, bukan puncak gunung es sebagaimana yang digambarkan.

Masih banyak aparat pajak yang bersih dan tahan godaan. Saya memberikan cOntoh sederhana saja: Kalo Gayus Tambunan usia 30 tahun punya rumah seharga 3 milyaran, maka kakak saya -kakak kelasnya Gayus di STAN, juga pegawai Ditjen Pajak- untuk beli rumah harus jual mobil terlebih dahulu plus kredit sepuluh tahunan. Apakah bisa disamakan? Selamat menikmati.


TARIAN UANG

Oleh: Hatta Syamsuddin

" Allahu Akbar…. Allahu Akbar ..!!! "

Kawasan Jurang mangu, Bintaro, menjelang sholat Isya'. Haru dan bisu. Masjid Baitul Mal (MBM) Kampus STAN Jakarta tepat dihadapanku. Tiga tahun lebih hati dan ragaku berlabuh di dalamnya. Mencoba mereguk arti hidup sebenarnya. Masjid itu masih seperti yang dulu. Tidak terlalu besar, namun mempunyai arsitektur yang unik. Sederhana, namun menyimpan beribu makna.

Betapa tidak, masjid itu dan kegiatan-kegiatan di dalamnya telah mengubah jalan hidup puluhan bahkan ratusan anak manusia yang mengenalnya. Ari, sahabat karib dan temanku se-SMU di kampung dulu, adalah salah satunya. Sejak SMU ia dikenal anak berandal. Motor-motoran, minuman keras, bahkan gonta ganti cewek sudah jadi kebiasaannya. Orangtuanya sudah lepas tangan dan menyerahkan ke pihak sekolah. Bahkan, hampir-hampir kepala sekolah pernah akan mengeluarkannya.
Namun lihat Ari yang kini. Tiga tahun sejak meninggalkan kampung halamannya. Dari penampilannya orangpun tahu, ia bukan Ari yang dulu. Wajah berjenggot tipis yang sejuk dan khusyuk. Mushaf kecil tak pernah lepas dari saku baju atau tas kuliahnya. Aku sih maklum, hafalannya saja mencapai duapuluh juz. Apalagi, jika ia sedang menjadi imam di masjid kampus. Bacaan khas Hudzaifi, imam masjid Nabawi, berkumandang menambah kekhusyukan jama'ah.

Ah, kalau mau jujur. Aku juga salah satu yang bermetamorfosis sejak aktif di kegiatan MBM. Jelek-jelek gini, aku pernah punya pacar juga. Salah satu siswi tercantik di sekolahku ! Yach. Kata orang sih itu cinta monyet atau gorila yang selalu bertabur bunga. Janji seia sekata, sehidup semati. Belum lagi orangtuanya yang selalu ramah saat aku rutin ngapel di akhir pekan. Ada kesan mendukung penuh. Suit..suiit

Piuuh, merinding aku saat mengingat masa lalu. Alhamdulillah, hidayah Allah mengetuk pintu hatiku. Kini yang ada dalam benakku, bukan lagi pacaran. Tapi dakwah, maisyah, dan nikah ! ups ! Ngelantur !

" Qod qoomatish sholah….Qod qoomatish sholaaah … "

Wah, sempat ngelamun juga nih. Maklum, saat-saat perpisahan yang mengharukan. Sebentar lagi lulusan tahun 2000 ini akan segera penempatan kerja di instansinya masing-masing. Bergegas aku melangkah menuju pintu utama masjid. Selepas Isya ada acara pembekalan alumni sekaligus mabit.
Alunan surah al-Fatihah ala Hudzaifi mulai terdengar dari lisan sahabat karibku, Ari.

*************************

Acara Mabit dan pembekalan belum di mulai. Panitia pelaksana masih sibuk mengatur sound system dan dekorasi. Selintas kudengar ucapan salam yang tak asing lagi bagiku.
" Akh Fatih, Assalamu'alaikum. Jadi berangkat ke Sorong? Udah istikhoroh belum ?. Ana denger antum cuma bertiga di KPP sana ya ? " . Sahabatku Ari dengan wajah teduhnya menyapa hangat.
" Walaikum salam akhii, Alhamdulillah, ana sudah mantap untuk memulai medan dakwah baru di Sorong. Doakan kami bertiga istiqomah. Insya Allah lusa kami berangkat. Antum sendiri di kantor Pajak mana ?

" Alhamdulillah, sesuai dengan pilihan kedua orangtuaku. Aku ditempatkan di Padang. Disana ada sanak saudaraku. Mungkin, sekitar dua minggu lagi berangkat. Sebelumnya, aku akan pulang sebentar ke kampung untuk pamitan. Antum ada titipan buat keluarga ? " " Ooo, syukron akhi… ana sudah pamitan ke ayah ibu ana di kampung, tiga hari yang lalu… "

" Wah nggak kebayang ya berdakwah di tengah suku terpencil di Indonesia Timur. Pasti antum semakin tsabat nantinya. Eh, acara hampir di mulai. Yuk, kita gabung dengan ikhwah yang lain.. "
Bismillah, kami berdua beranjak. Serempak menuju barisan depan. Akh Firman, ikhwah Akuntansi Tingkat III, nampak sudah siap membawakan acara malam ini.

Acara berlangsung dengan khusyuk dan tertib. Ustad Syauqi, alumni LIPIA yang sering diundang ceramah di MBM membawakan materi pertama. Judulnya : Istiqomah dan Tsabat di jalan dakwah. Materi Kedua yang berjudul ' Yang berguguran di dunia kerja ' di sampaikan Bang Mahmud, Alumni tahun 1992 yang sekarang mengajar di kampus. Sebelumnya ia sempat tujuh tahun berkeliling Sumatra Utara. Mutasi kerja dari satu kota ke kota yang lainnya.

Acara Mabit dan pembekalan seperti ini rutin diadakan MBM untuk melepas para alumni sebelum memulai dunia kerjanya. Tujuannya jelas, agar para alumni MBM bisa tetap teguh dengan idealisme dakwah di kantornya nanti.

Sudah menjadi rahasia umum, instansi tempat mereka bekerja nantinya dikenal sebagian orang bagai 'lahan basah' atau 'rimba belantara' yang menyimpan seribu misteri tentang korupsi dan manipulasi uang negara. Hiiii…. Bergetar hatiku saat mendengar kalimat dunia kerja dan korupsi. Mampukah aku bertahan ??

Perlahan tausiyah Bang Mahmud terdengar mengalun jelas di telingaku,
" Di dunia kerja nanti, antum akan bertemu dengan berbagai macam karakter dan kepribadian. Sebagian besar dari mereka menjadikan uang, harta dan jabatan sebagai tuhan-tuhan baru. Godaan uang bukan datang silih berganti dalam hitungan hari, tapi hitungan jam !. Kibarkan bendera idealisme antum, tetaplah selalu beraktifitas bersama senior-senior antum yang telah teguh bertahan di sana, Jangan jauhi mereka…."

Malam terus merambat pelan. Isak tangis para peserta mabit saat qiyamul lail dan muhasabah membuat hatiku miris. Dunia kerja yang penuh godaan keimanan di depan kami. Perpisahan yang cukup mengharukan. Setelah tiga tahun merenda dakwah bersama di Kampus Jurangmangu. Bersama dalam suka dan duka. Di masjid ini kami bertemu, dan kini, di sini pula kami akan berpisah.

Bahkan bukan sekedar berpisah. Kami semua akan ditempatkan berpencar dan tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Memulai hidup baru dalam dunia kerja yang masih asing. Sendiri. Jauh dari sanak keluarga. Aaah…ujian dakwah baru saja di mulai.

Perlahan kulangkahkan kaki gontai. Meninggalkan masjid MBM tercinta. Meninggalkan sejuta kesan indah tentang dakwah dan ukhuwah. Perlahan aku menengok sebentar ke belakang. Aaah, masjid itu tetap diam, anggun. Kembali ia melepas kader-kader terbaiknya. Semoga aku ada diantara mereka.
" ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul dalam kecintaan kepada-Mu…. "
Aku menangis dalam langkah terakhirku meninggalkan masjid dan kampusku. Menangis. Dan harus menangis.

****************


Bandara Soekarno-Hatta, Terminal penerbangan domestik. Dua jam lagi pesawat Merpati rute Jakarta - Jayapura akan bertolak. Aku, Ahmad dan Hari akan berangkat bersama. Kami semua akan di tempatkan di Kantor Pelayanan Pajak Sorong. Sebuah kota yang tidak pernah aku tahu letaknya di dalam peta.

Kami baru saja selesai mengurus boarding pass. Perlahan aku menuju sekumpulan temanku yang ikut mengantar. Ari, tentu saja ada diantara mereka. Ia sahabat setiaku. Sejak SMU, di perkuliahan, sampai aktifitas di MBM kami sering bersama. Bagiku, ia sahabat terbaik. Sedih rasanya harus berpisah dan berpamitan dengannya.

" Well, Akhi Ari.. saatnya kita berpisah, Semoga Allah mempertemukan kita kembali. Di dunia, dan di surga nantinya… dan semoga Allah memudahkan setiap urusanmu .."
" Jazakallah Akhi, dan semoga antum juga. Inni ihibbuka fillah…. "
" Ahabbakallahu fiima ahbabtani fiih….. "
" Tetap teguh dalam jalan ini akhi.. "
" Insya Allah, kita akan teguh bersama akhi.. "

Kami berpelukan. Kembali menangis sebagaimana dua hari yang lalu di masjid. Dada kami berguncang hebat menahan isakan tangis yang semakin mengeras. Kalau saja Ahmad tidak mengingatkan bahwa kami sedang ditempat umum, mungkin aku dan Ari akan tenggelam lebih lama dalam pelukan perpisahan ini.

Dalam lambaian tangannya yang terakhir. Ari sempat bercanda ringan penuh makna.
" Akh Fatih, jangan lupa undangan walimahnya kita tunggu selalu… "

**************************
*********

Setengah tahun berlalu. Tidak ada kabar dari Ari. Sudah dua kali aku mencoba mengirim kabar ke alamat saudaranya di Padang. Beberapa kali aku juga menghubungi rekan di MBM, kalau-kalau mereka tahu alamat terakhirnya. Tapi hasilnya; nihil !.

Hari ini sudah enam bulan lebih aku memulai hidup baruku di Sorong. Dunia kerja memang penuh godaan. Benar apa yang dikatakan Bang Mahmud dan senior yang lain. Hampir setiap minggu ada saja amplop tak bernama mampir di meja kerjaku. Saat kubuka, masya Allaah ! paling sedikit nominalnya tiga ratus ribu !

Aku tidak ragu. Ini jelas harta yang meragukan. Dan berkali-kali terjadi tanpa aku tahu kemana aku harus mengembalikannya. Akhirnya ku simpan saja amplop berisi uang itu di laci meja kerjaku. Setiap minggu tanpa sedikitpun aku menyentuhnya.

Akhirnya, tepat dua bulan aku tak tahan lagi. Kuberanikan diri menghadap Pak Hendrik, Kepala Seksi berusia limapuluhan yang mempunyai rumah besar plus tiga mobil terbaru. Ya Allah, kuatkan hati ini……
" Assalamu'alaikum Pak, boleh saya duduk……."
" oya Wa'alaikum salam,… Nak Fatih, silahkan… sepertinya ada yang mau di bicarakan… ".
Suara pak Hendrik terdengar datar dan bijak. Namun ia memang cukup berwibawa di kantor ini. Lalu dengan perlahan ku ceritakan perihal amplop tak bernama itu. Tentu lengkap dengan cerita laci meja kerjaku. Tidak kurang, tidak lebih.

" Jadi, Nak Fatih menolak uang yang ada di amplop itu karena tidak jelas asal-usulnya "
" Iya, Pak.. begitulah kira-kira "
"Lalu bagaimana kalau saya katakan bahwa uang itu adalah hadiah, wujud rasa terima kasih dari Bapak kepada seluruh anak buah bapak di Seksi ini "
" Tapi Pak, kami telah digaji untuk seluruh kerja kami di sini .."
Wajah pak Hendrik agak berubah. Tapi ia bisa menyembunyikan rasa tidak senangnya. Ia hanya sedikit menggeser tempat duduknya.

" Benar nak Hendrik tidak butuh uang lagi ? Tidak ingin menabung untuk pernikahan, beli rumah, atau mengirim ke orang tua di kampung ? "
" Bukan begitu maksud saya Pak, Alhamdulillah gaji saya selama ini cukup memenuhi kebutuhan hidup saya.."
" Jika begitu, terserah Nak Fatih mau dikemanakan uangnya. Yang jelas, amplop itu sudah tradisi di kantor ini bertahun-tahun lamanya. Tidak bisa dihindari. Silahkan mau menerimanya atau tidak. Yang jelas, mengembalikannya ke sini adalah penghinaan bagi saya. Mengerti ?? Sudah, sekarang Bapak mau meeting dengan Kepala KPP.."

Pembicaraan seolah selesai bagi Pak Hendrik. Tapi bagiku, ini menyisakan banyak misteri yang semakin mengganggu idealismeku.
Dan demikian seterusnya. Amplop itu masih saja berdatangan. Apalagi saat ku dengar ada beberapa proyek yang telah berhasil diselesaikan oleh rekan-rekan di ruanganku.

Sampai suatu ketika kubuka laci mejaku. Ku hitung jumlah uang di dalam seluruh amplop itu. Astaghfirullah !! Bergetar tanganku memegangnya. Jumlahnya mencapai sepuluh juta rupiah!. Sebanding dengan delapan kali gaji bulananku sebagai calon pegawai negri sipil !!
Akhirnya, aku konsultasikan permasalahan ini dengan beberapa ustad di Sorong. Kata mereka, dana itu bisa di sumbangkan untuk perbaikan sarana umum masyarakat, seperti jembatan, WC Umum, jalan dan sekolahan. Syaratnya, bukan untuk tempat ibadah dan sembako untuk para fakir miskin.
Allahu Akbar ! Hamba-Mu memohon keteguhan ya Rabb !

**************

Waktu terus berjalan. Hari kerja penuh ujian terus menghiasi gerak langkahku.Alhamdulillah, aktifitas bersama ikhwah di kantor membuat sejauh ini aku dapat bertahan. Godaan demi godaan terus datang silih berganti. Dengan berbagai macam modus operandi, persis kata Bang Mahmud dulu.

Alhamdulillah. Satu tahun telah berlalu. Hari ini ku terima sepucuk surat yang telah lama ku tunggu-tunggu. Ya, dari Ari sahabat karibku sejak SMU. Ah, dia bercerita banyak tentang dunia kerjanya di Kantor Pajak kota Padang.
Dia juga bercerita tentang ujian demi ujian yang datang begitu membabi buta. Bahkan beberapa kali ia mengaku sempat agak tergoda dengan semua itu. Astgahfirullah, semoga kau tetap bertahan saudaraku. Dan kamipun terus berhubungan melalui surat dan sesekali lewat telpon.

Dalam telponnya ia pernah bercerita. Suatu ketika ia ditugaskan ke luar kota untuk memeriksa keuangan di suatu perusahaan berskala lokal di daerah. Baru saja sampai di kota tersebut, ia disambut bak seorang pejabat. Ia diajak keliling menikmati pemandangan daerah tersebut. Restoran mewah lengkap dengan makanan khasnya pun ikut menyambut kedatangannya.
Malam harinya, di hotel bintang empat yang dipesankan khusus untuknya. Seorang gadis cantik dengan pakain minim mengetuk pintu kamarnya. Ia menawarkan diri untuk menemani Ari malam itu. Bahkan gadis itu memaksa masuk. Katanya, ia tidak akan di gaji bahkan diancam oleh seseorang jika tidak melayani Ari malam itu. Tentu saja Ari menolak keras tawaran itu.

Alhamdulillah, aku percaya padamu Ari. Meski dulu saat SMU kau suka gonta-gnati pacar. Namun aku merasa tiga tahun di kampus cukup membawa banyak perubahan yang berarti bagi dirimu.
Pernah juga dalam suratnya ia bercerita…..
Suatu ketika ia ditugaskan untuk menghitung pajak di sebuah perusahaan berskala skala nasional di Padang. Setelah selesai, seorang konsultan perusahaan masalah perpajakan mendekatinya dengan ramah.
" Jadi berapa total jumlah kewajiban kami dik Ari….. ? "
" Total kewajiban pajak perusahaan Bapak, sesuai dengan hitungan tahun berjalan, tiga ratus juta lebih sekian sekian…… ", jawab Ari dengan mantap.
" Sudah benar hitungan adik itu ? ", kata sang Konsultan menyelidik.
" Benar Pak, saya tidak melakukannya sendiri. Tapi bersama Tim "
" Apakah tidak bisa dikomunikasikan lagi jumlahnya ? "
" Maksud Bapak bagaimana ? " Wajah Ari penuh tanda tanya.
" Begini, Bagaimana jika nominalnya di ganti seratus juta saja. Tentu saja Tim yang adik pimpin akan mendapatan kontraprestasi sebesar lima puluh juta dari perusahaan kami. Dan ini sudah wajar kok. Tim-tim yang datang sebelumnya juga seperti itu ? "

Ari tidak menyebutkan akhir cerita dalam suratnya. Ia hanya menyebutkan bahwa ia akan menikah dengan wanita Padang dan mungkin membutuhkan banyak biaya. Semoga kau tetap bertahan Ari. Dalam hati aku bangga kau akan segera menikah.
Ah, dari dulu dia memang lebih baik dari aku. Lihat saja hafalan Qurannya saat kuliah yang mencapai dua puluh juz. Sementara aku saat ini saja masih terseok-seok dengan lima juzku. Wajar kan kalau akhirnya dia lebih dulu menikah.
Setelah undangan pernikahannya datang, tak pernah kudengar lagi berita dari sahabatku itu.

*************

Agustus 2003..
Jakarta, Aku kembali. Kampus Jurang Mangu, aku datang lagi. Tiga tahun sudah aku menanam benih keteguhan di belahan timur tanah air, Sorong. Keteguhan yang bagi sebagian rekan kerja dan atasanku adalah sebuah keanehan dan keterasingan. Mereka selalu berpikir, tidak waras orang yang menolak uang dan fasilitas yang ada di hadapan.
Segala puji bagi Allah, aku mendapatkan kesempatan untuk kuliah kembali di kampus mengambil program DIV. Tidak semua alumni DIII berkesempatan mendapatkan kehormatan ini. Aku tersanjung dalam rasa syukur.

" Selamat datang kembali Akhi, selamat datang di medan dakwah kampus yang telah membina antum di masa-masa yang lampau. Selamat atas keteguhan antum dalam jalan dakwah ini. Namun jangan berbesar hati, ujian setelah ini akan lebih besar dari yang sebelumnya…"
Pesan dan tausiyah Bang Mahmud kembali menghangati semangat dakwah dan ukhuwah kami. Hari ini acara penyambutan diadakan oleh MBM. Banyak teman sesama aktifis satu angkatan kembali
berkumpul di sini.

Mataku sibuk menelusuri sudut-sudut MBM. Setiap wajah yang terasa asing aku tatap satu persatu. Sekali, dua dan tiga kali. Tapi masih saja tak ku temukan wajah yang ku cari-cari.
Yah, wajah Ari.. sahabatku itu. Kemana ia ? aku penasaran. Rasanya sudah berkali-kali kulihat namanya tercantum dalam daftar mahasiswa yang diterima kembali di program DIV.

Sebuah jawaban yang mengambang ku dengar dari Riyan, seorang rekannya yang sama-sama di bertugas di Padang.
" Afwan akh Fatih, .. Ari memang di terima juga di sini. Tapi ia bukan Ari yang dulu. Antum akan segera tahu saat bertemu nanti…. Ana tak bisa mengungkapkannya…"
Wajahnya tampak muram. Aku menebak-nebak apa yang sedang terjadi pada sahabatku. Jangan-jangan … jangan-jangan !!. Ah, tidak. Aku tidak boleh buruk sangka pada sahabatku itu. Tidak, aku mengenalnya dengan baik. Ia sangat lebih baik dari pada aku !!

Kerinduan ku pada seorang Ari sekaligus rasa penasaran membuatku terus mencarinya. Sampai suatu ketika…..

Saat ku hentikan sepeda motorku di pelataran parkir Bintaro Plasa sore hari itu. Sudah lama tidak ku kunjungi Gramedia sebagaimana kebiasaan rutin akhir pekanku saat kuliah DIII dulu.
Dari jauh kulihat Ari, sahabatku ……. Baru saja ia keluar dari sebuah mobil Escudo keluaran terbaru. Pakaiannya yang dikenakannya menunjukkan status ekonominya yang sangat mapan. Disampingnya bergelayut manja seorang gadis cantik berambut panjang menggendong seorang bayi.
Mobil Escudo keluaran terbaru ? Punya Istri tak berjilbab ?. Tiba-tiba saja aku merasa pusing. Ingat cerita Ryan tentang Ari. Mataku ikut berkunang-kunang.
Sahabatku Ari, yang selalu menjadi tempat curhatku saat gundah gulana melanda. Kini dihadapanku bagai makhluk asing dari dunia luar. Perlahan kuberanikan diri melangkah menghampiri sosok asing tersebut…

" Akh Ariiii……… kaifa haluka ya Akhiii ??? "
Sosok asing itu menoleh. Matanya sekilas melotot namun tak bergeming. Bahkan seolah tidak peduli dengan teriakanku. Meski aku yakin wajahnya sempat sekilas berubah. Namun langkah cepatnya bersama sang istri semakin jauh meninggalkan tempatku berpijak.

Aku terpekur dalam diam. Benar kata Akhi Riyan, ia bukan Ari yang dulu. Ari yang imam masjid. Ari yang aktifis MBM. Ari yang hafalannya dua puluh juz dengan tilawah khas Hudzaifinya.
Ia Ari yang asing. Wajahnya tidak teduh dan khusyuk lagi. Bahkan pada sinar kedua bola matanya, sempat kulihat uang menari-menari. Ya..dalam pandangan yang sekilas tadi. Aku yakin, aku melihat tarian uang ! tarian uang dalam matanya.
Astaghfirullah !

Bayang wajah-wajah sejuk Bang Mahmud, Ustad Syauqi, Akhi Riyan, dan para senior MBM lainnya seolah menari-menari juga di hadapanku.
" ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul dalam kecintaan kepada-Mu…. "

Khartoum, 13 Jumadil Akhir 1424 / 30 Juli 2004

Sabtu, 05 Juni 2010

Sri Mulyani Indrawati (SMI), Berkeley Mafia, Organisasi Tanpa Bentuk (OTB), IMF dan World Bank (WB)

Sri Mulyani Indrawati (SMI), Berkeley Mafia, Organisasi Tanpa Bentuk (OTB), IMF dan World Bank (WB)

Oleh Kwik Kian Gie

Mundurnya Sri Mulyani Indrawati (SMI) sebagai Menteri Keuangan RI menimbulkan kehebohan dan banyak pertanyaan tentang penyebab yang sebenarnya. Ada yang mengatakan bahwa perpindahannya pada pekerjaan yang baru di World Bank (WB) adalah hal yang membanggakan. Tetapi ada yang berpendapat, bahkan berkeyakinan tidak wajar, terutama kalau dikaitkan dengan skandal Bank Century (Century).

Saya termasuk yang berpendapat, bahkan yakin sangat tidak wajar. Alasan-alasan saya sebegai berikut.


Beberapa ungkapan dan pernyataan dalam berbagai pidato perpisahannya mengandung teka-teki dan mengundang banyak pertanyaan, yaitu : “Jangan ada pemimpin yang mengorbankan anak buahnya.” “Saya tidak bisa didikte”. “Saya menang”. “Saya tidak minggat, saya akan kembali”. Dalam pidato serah terimanya kepada Menkeu yang baru mengangisnya tidak wajar, berkali-kali dan sangat-sangat sedih. Lucu, menyatakan menang kok menangis sampai seperti itu. Juga sangat tidak wajar adanya sikap yang demikian fanatiknya dari staf Departemen Keuangan dengan ungkapan belasungkawa, seolah-olah SMI sudah meninggal.


SMI sedang diperiksa oleh KPK sebagai tindak lanjut dari penyelidikan tentang skandal Century. Dalam proses yang sedang berjalan, Bank Dunia menawarkan jabatan dengan dimulainya efektif pada tanggal 1 Juni 2010. Bank Dunia yang selalu mengajarkan good governance dan supremasi hukum ternyata sama sekali tidak mempedulikan adanya proses hukum yang sedang berlangsung terhadap diri SMI.


Menurut Jakarta Post, yang memberitakan melalui siaran pers tentang pengangkatan SMI sebagai managing director di WB adalah WB sendiri. Setelah itu, melalui wawancara barulah SMI mengakui bahwa berita itu benar. Itu terjadi pada tanggal 4 Mei 2010.


Juru bicara Presiden memberi pernyataan bahwa Presiden SBY akan memberi konperensi pers setelah memperoleh ketegasan dari Presiden WB Robert Zoelick. Namun sehari kemudian diberitakan bahwa SBY telah menerima surat dari Presiden WB pada tanggal 25 April 2010. Mengapa SBY merasa perlu berpura-pura seperti ini ?


Dalam konperensi persnya, SBY memuji SMI sebagai salah seorang menteri terbaiknya yang disertai dengan rincian prestasi dan capaian-capaiannya. Tetapi justru dengan bangga melepaskan SMI supaya tidak melanjutkan baktinya kepada bangsa Indonesia.


SMI diberi waktu 72 jam untuk memberikan jawabannya menerima atau menolak tawaran WB. Tetapi SMI tidak membutuhkan waktu itu, karena dalam 24 jam langsung saja memberikan jawaban bahwa dirinya menerima tawaran itu.

Dan antara penerimaan tawaran dan efektifnya dia berfungsi di WB hanya 25 hari. Seorang sopir saja membutuhkan waktu transisi yang lebih lama untuk majikannya perorangan. Tetapi SMI dan SBY merasa tidak apa-apa kalau jangka waktu tersebut hanyalah 25 hari.


Mustahil bahwa WB yang mempunyai kantor perwakilan di Indonesia tidak mengetahui dan tidak mengikuti bekerjanya Pansus Century di DPR. Mustahil juga bahwa kantor perwakilan WB di Jakarta dan kantor pusatnya tidak mengetahui isi dari Laporan BPK. Dengan sendirinya juga mustahil bahwa WB tidak mengetahui bahwa sampai dibuktikan sebaliknya, SMI memang belum bersalah, tetapi jelas bermasalah yang masih dalam proses penyelesaian dan kejelasan oleh KPK.


Tetapi WB yang di seluruh dunia mengumandangkan dan mengajarkan Good Governance dan jagoan dalam menegakkan supremasi hukum melakukan penginjak-injakan proses hukum yang sedang berjalan di KPK.

Ketika itu, tindakan WB jelas melecehkan dan bahkan menganggap keseluruhan proses yang telah berjalan di Pansus Century DPR RI sebagai tidak ada atau hanya dagelan saja. Maka sangatlah menyedihkan bahwa sikap yang demikian oleh WB didukung oleh


Presiden RI, sedangkan SMI bersikap tidak akan ada siapapun di Indonesia yang bisa menyentuhnya selama WB ada di belakangnya.

Ketika berita itu meledak, banyak orang termasuk saya sendiri yang bertanya-tanya, apakah pengangkatannya ini tidak akan menimbulkan gejolak. Ternyata sama sekali tidak. Dalam waktu 10 hari sudah tidak ada lagi yang berbicara dengan nada kritis. Sebaliknya, banyak sekali yang berbicara dengan nada memuji.


Yang lebih mengejutkan lagi yalah praktis tidak ada elit politik Indonesia yang marah kepada WB. Sebaliknya, dalam konperensi persnya Presiden RI SBY merasa berterima kasih kepada WB yang telah memberikan penghargaan kepada Indonesia, karena telah sudi memungut SMI menduduki jabatan yang terhormat di WB sebagai Managing Director.


Ada suara dari DPR, terutama dari Faisal Akbar (Hanura) yang menyerukan agar SMI dicekal sebelum pemeriksaannya oleh KPK tuntas dengan kesimpulan bahwa SMI memang bersih dalam kebijakannya bailout Century. Namun pernyataan yang sangat logis ini tidak bergaung. Respons dari KPK justru mengatakan bahwa pemeriksaan dapat dilanjutkan di Washington, DC. Langsung saja muncul reaksi yang mengatakan bahwa pemeriksaan semacam ini akan sangat mahal, karena jaraknya yang jauh, dan juga akan terkendala oleh tersedianya dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Saya sendiri tidak dapat membayangkan bahwa WB akan mengizinkan adanya seorang managing director--nya diperiksa oleh KPK di markas WB di Washington, DC.


Tadinya saya berpikir bahwa kalau dilakukan, pemeriksaan seorang managing director oleh KPK di Washington, DC pasti akan menarik perhatian pers internasional. Ternyata salah. Kenyataan adanya pengangkatan seorang MD WB yang bermasalah sama sekali tidak menarik perhatian pers internasional, terutama pers AS. Masih segar dalam ingatan kita betapa hebohnya reaksi pers internasional ketika Paul Wlfowitz terlibat skandal, sehingga memaksanya mengundurkan diri. Apa artinya ? Begitu hebatkah SMI, atau begitu remehnya bangsa Indonesia di mata pers internasional, sehingga peristiwa Century yang sedang berlangsung dianggap tidak ada ?


Episode paling akhir dari hijrahnya SMI ke WB adalah penampilan SMI dalam pertemuan-pertemuan perpisahan. Pidatonya yang mendapat tepuk tangan sambil berdiri (standing ovation) dari orang-orang seperti Gunawan Mohammad, Marsilam Simanjuntak, Wimar Witoelar mengundang renungan apa gerangan yang ada di belakang ucapannya yang hanya sepotong tanpa penjelasan lanjutannya itu ? Yaitu : “Saya menang”, “Jangan lagi ada pemimpin yang tidak melindungi atau mengorbankan anak buahnya.” “I will come back” yang sangat mirip dengan ucapan Mac Arthur : “ I shall return”. Akankah SMI membentuk semacam pemerintahan in exile yang akan kembali menjadi Presiden RI ? Sudah ada yang menyuarakan bahwa SMI-lah yang paling cocok untuk menjadi Presiden RI di tahun 2014.


Di satu pihak demikian gagah beraninya sikap yang ditunjukkan oleh SMI dalam beberapa pidatonya, tetapi beliau menangis berkali-kali dengan wajah yang sangat-sangat sedih ketika berpidato dalam acara serah terima jabatan kepada Menteri Keuangan yang baru. Ada apa ? Sedihkah ? Menurut SMI sendiri tidak, dia menangis karena merasa “plong”, merasa lega. Bukankah orang menangis karena sedih atau karena terharu ? Kalau lega, apalagi “plong” biasanya bersorak sorai.


Apa pula yang menyebabkan Presiden SBY menghapus pengangkatan Anggito Abimanyu sebagai Wakil Menteri Keuangan tanpa yang bersangkutan diberitahu sebelumnya. Anggito mengetahuinya dari media massa seperti kita semua. Maka demi harga diri profesional, dia mengundurkan diri, membuang semua karir cemerlang yang dijalaninya. Demikian kejam, manipulatif, raja tega, main diktator, ataukah ada kekuatan besar, ada big stream that Presdient SBY can not resist ?

METAFORSA BERKELEY MAFIA MENJADI ORGANISASI TANPA BENTUK (OTB)
Fenomena adanya sekelompok ekonom yang dikenal dengan sebutan Berkeley Mafia sudah kita ketahui. Aliran pikiran yang dihayati oleh kelompok ini juga sudah kita kenali. Komitmennya membela rakyat Indonesia ataukah membela kepentingan-kepentingan yang diwakili oleh 3 lembaga keuangan internasional (Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IMF) juga sudah diketahui oleh masyarakat luas.

Pembentukan kelompok yang terkenal dengan nama Berkeley Mafia sudah dimulai sejak lama. Namanya menjadi terkenal dalam Konperensi Jenewa di bulan November 1967 yang akan diuraikan lebih lanjut pada bagian akhir tulisan ini. Awalnya kelompok ini adalah para ekonom dari FE UI yang disekolahkan di Universitas Berkeley untuk meraih gelar Ph.D. Tetapi lambat laun menjadi sebuah Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) yang sangat kompak dan kokoh ideologinya. Ideologinya mentabukan campur tangan pemerintah dalam kehidupan ekonomi. Afiliasinya dengan kekuatan asing yang diwakili oleh Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IMF, sehingga sangat sering memenangkan kehendak mereka yang merugikan bangsanya sendiri. Lambat laun para anggotanya meluas dari siapa saja yang sepaham. Banyak ekonom yang tidak pernah belajar di Universitas Berkeley, bahkan tidak pernah belajar di UI menjadi anggota. Mereka membentuk keturunan-keturunannya.

Anggotanya ditambah dengan para sarjana ilmu politik dari Ohio State University dengan Prof. Bill Liddle sebagai tokohnya, karena dia merasa dirinya “Indonesianist” dan diterima oleh murid-muridnya sebagai akhli tentang Indonesia. Paham dan ideologi yang dihayatinya sama.

Kemudian diperkuat dengan orang-orang yang merasa dirinya paling pandai di Indonesia, sedangkan rakyatnya masih bodoh. Sikapnya seperti para pemimpin dan kader Partai Sosialis Indonesia (PSI) dahulu, yang dipimpin oleh Sutan Sjahrir. Kecenderungannya memandang rendah dan sinis terhadap bangsanya sendiri, dengan sikap yang selalu tidak mau menjawab kritikan terhadap dirinya, melainkan disikapi dengan senyum yang khas, bagaikan dewa yang sedang tersenyum sinis. Sikap ini terkenal dengan sikap “senyum dewata”. Dengan senyum dewata banyak masalah sulit yang sedang menggantung memang menjadi lenyap.

Dengan demikian sebutan Berkeley Mafia sebaiknya diganti dengan Organisasi Tanpa Bentuk (OTB).
Ilustratif tentang adanya OTB ini adalah pidato Dorodjatun Kuntjorojakti yang pertama kali dalam forum CGI sebagai Menko Perekonomian dalam kabinet Megawati. Kepada sidang CGI diberikan gambaran tentang perekonomian Indonesia. Setelah itu dikatakan olehnya bahwa dia mengetahui kondisi perekonomian Indonesia dengan cepat karena dia selalu asistennya Prof. Ali Wardhana dan dekat dengan Prof. Widjojo Nitisastro. Selanjutnya dikatakan bahwa “dirinya bukan anggota partai politik. Tetapi kalau toh harus menyebut organisasinya, sebut saja Partai UI Depok”. Setengah bercanda, setengah bangga, secara tersirat Dorodjatun mengakui bahwa OTB memang ada, pandai, profesional dan berkuasa.

KAITAN Sri Mulyani Idrawati (SMI), PERAN KELOMPOK “BERKELEY MAFIA” DAN PENGANGKATANNYA SEBAGAI MANAGING DIRECTOR DI BANK DUNIA.

Jauh sebelum SMI menjadi “orang”, Berkeley Mafia sudah lahir dan sangat instrumental buat kekuatan asing. SMI adalah salah satu kader yang berkembang menjadi “Don”.

Marilah kita telusuri sejarahnya. Pencuatan Berkeley Mafia yang pertama kali dan fenomenal terjadi di Jenewa di bulan November 1967, ketika mereka mendukung atau lebih tepat “mengendalikan” pimpinan delegasi RI, yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Adam Malik. Tentang hal ini akan saya kemukakan pada bagian akhir tulisan ini dengan mengutip John Pilger, Jeffrey Winters dan Bradley Simpson yang akan diuraikan pada bagian akhir tulisan ini. Kita fokus terlebih dahulu pada jejak dan track record SMI.

JEJAK SMI DAN TRACK RECORD-NYA SEBAGAI KADER OTB YANG SANGAT GIGIH DAN MILITAN

SMI adalah orang yang sejak awal sudah disiapkan sebagai kader yang militan dari OTB. Seperti yang lain-lainnya, karir dimulai dari FE-UI. Karirnya yang menonjol tidak sebagai dosen, tetapi sebagai Direktur Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat UI (LPEM UI). Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa FE UI dan Departemen Keuangan adalah pusat pengkaderan OTB.

Ketika sudah terlihat jelas bahwa PDI-P akan menang dalam pemilu tahun 1999, dan Ketua Umumnya Megawati diperkirakan pasti akan menjadi Presiden, Kongres-nya di Bali menarik perhatian dari seluruh dunia. Saya terkejut melihat SMI, Dr. Sjahrir almarhum dan teknokrat Berkeley Mafia lainnya hadir dalam Kongres tersebut yang mendapat tempat khusus di stadion berlangsungnya pidato pembukaan oleh Megawati, yaitu duduk di kursi di bawah panggung. Tidak berdiri di depan panggung bersama-sama dengan massa yang mendengarkan pidato Ketua Umum PDI-P. Buat saya sangat mengherankan karena Berkeley Mafia adalah arsitek pembangunan ekonomi di era Soeharto yang dengan sendirinya bersikap berseberangan dan sangat melecehkan serta memandang rendah PDI-P. Mengapa mereka sekarang hadir dalam Kongres PDI-P ? Ternyata mereka dibawa oleh orang yang ketika itu sangat dekat dengan Megawati. Mereka diperkenalkan kepada Megawati sebagai calon-calon menteri dalam Kabinet Mega nantinya.


Dari sini sangatlah jelas bahwa buat OTB, yang penting memegang kekuasaan ekonomi tanpa peduli siapa Presidennya dan tanpa peduli apa ideologi Presidennya. Mereka mempunyai organisasi sendiri yang saya sebut OTB tadi dengan kekuatan dan pengaruh yang sangat besar. Sepanjang 32 tahun rezim Soeharto, mereka selalu memegang tampuk kekuasaan ekonomi.


Ketika pak Harto mengundurkan diri dan digantikan oleh Habibie, walaupun sudah tidak 100% lagi, kekuasaan ekonomi ada di tangan para menteri OTB.

Sejak pak Harto berkuasa sampai dengan Megawati, dua Don dari OTB, Widjojo Nitisastro dan Ali Wardhana selalu secara resmi penasihat Presiden atas dasar Keputusan Presiden.

Habibie digantikan oleh Gus Dur sebagai Presiden. Dalam kabinet Gus Dur tidak ada satupun menteri dari OTB. Menko EKUIN dipegang oleh Kwik Kian Gie (KKG), Menteri Keuangannya Bambang Sudibyo, Menteri Perdagangan dan Industri Jusuf Kalla. Tiga orang ini jelas tidak ada sangkut pautnya dengan OTB dan sama sekali tidak dapat dipengaruhi oleh OTB.


Dalam waktu singkat Gus Dur ditekan oleh kekuatan internasional dan kekuatan para pengusaha besar di dalam negeri untuk memecat KKG. Karena sudah lama bersahabat, Gus Dur menceriterakannya terus terang kepada KKG, sambil mengatakan bahwa beliau telah mencapai kompromi dibentuk Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dengan Emil Salim sebagai Ketua dan SMI sebagai sekretarisnya. Di dalamnya ada beberapa anggota yang hanya berfungsi sebagai embel-embel. Mereka tidak pernah aktif kecuali SMI dan Emil Salim. DEN berhak menghadiri setiap rapat koordinasi oleh Menko EKUIN. Sebelum dan setelah KKG menjabat Menko EKUIN DEN tidak pernah ada. Jadi DEN memang khusus diciptakan untuk menjaga, mengawasi dan memata-matai KKG supaya jangan neko-neko terhadap OTB dan kepentingan World Bank, Bank Pembangunan Asia dan IMF.


Dalam rapat koordinasi yang pertama KKG mengatakan kepada para menteri yang ada dalam koordinasinya bahwa kita sedang berhadapan dengan IMF yang mengawasi dengan ketat pelaksanaan Letter of Intent (LoI). Banyak dari butir-butir dalam LoI yang merugikan bangsa Indonesia, antara lain, bea masuk untuk impor beras dan gula harus nol persen, sedangkan ketika itu produksi dalam negeri melimpah. Maka KKG mengatakan supaya para menteri bersikap membela kepentingan bangsa Indonesia, kalau perlu menelikung, menghambat atau menyiasati LoI yang merugikan bangsa kita. Kalau mereka menghadapi persoalan KKG sebagai Menko EKUIN akan bertanggung jawab.


Beberapa hari kemudian Emil Salim mendatangi KKG menegur dengan keras bahwa KKG tidak boleh bersikap seperti itu. KKG harus taat melaksanakan semua butir yang ada di dalam LoI, karena KKG sendirilah sebagai Menko EKUIN yang menandatangani LoI.


Beberapa hari lagi setelah itu, Bambang Sudibyo (Menkeu), KKG dan Emil Salim dipanggil oleh Gus Dur. Gus Dur mempersilakan Emil Salim mengkuliahi KKG dan Bambang Sudibyo yang isinya tiada lain adalah butir-butir dari LoI.


Mungkin dirasakan tidak mempan, sidang kabinet diselenggarakan secara khusus yang agendanya tunggal, yaitu membahas LoI. Kepada setiap menteri diberikan selembar formulir yang isinya butir-butir LoI yang harus dilaksanakan oleh masing-masing menteri yang bersangkutan, dan kemudian harus ditandatangani. Menteri-menteri menggerutu diperlakukan seperti anak SD.

Dalam sidang kabinet itu, Mensesneg Bondan Gunawan membacakan uraiannya tentang butir-butir LoI yang mutlak harus dilaksanakan oleh setiap menteri, lengkap dengan slides. SMI hadir dalam sidang kabinet itu. Seusai membacakannya, Bondan sambil berkeringat menggerutu kepada KKG sambil mengatakan “diamput” bahwa dirinya tidak mengerti ekonomi kok disuruh memaparkan hal-hal seperti itu. Ketika KKG menanyakannya siapa yang membuatnya, dijawab singkat : SMI.
Sebagai Menko EKUIN KKG ex officio menjabat Ketua KKSK yang memimpin dan memutuskan tentang rekapitalisasi bank-bank seperti yang tercantum dalam LoI. Dalam rapat tentang rekap BNI sebesar Rp. 60 trilyun, LoI mengatakan bahwa rekap dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama sebesar Rp. 30 trilyun, seluruh Direksi diganti dan


dipantau apakah bekerja dengan baik menurut ukuran IMF. Kalau ya, maka Rekap. kedua sebesar Rp. 30 trilyun dilakukan. Darmin Nasution yang ketika itu Direktur di Kementerian Keuangan hadir mewakili Depkeu. Dia mengusulkan supaya Rekap. dilakukan sekaligus saja sebesar Rp. 60 trilyun, agar pemerintah tidak perlu dua kali minta izin/melaporkan kepada DPR. SMI yang hadir protes, mengatakan bahwa dalam LoI tercantum Rekap. dalam dua tahap. KKG merasa usulan Darmin Nasution masuk akal. Maka diputuskan olehnya bahwa Rekap. dilakukan sekaligus. Terlihat SMI sibuk dengan HP-nya.


Seusai rapat, begitu KKG tiba di ruang kerjanya dari ruang rapat, telpon berdering dari John Dordsworth, Kepala Perwakilan IMF di Jakarta yang marah-marah karena KKG memutuskan tentang Rekap. BNI yang bertentangan dengan ketentuan LoI. Begitu telpon diletakkan telpon berdering lagi dari Bambang Sudibyo yang menceriterakan bahwa dirinya baru dimarah-marahi oleh Mark Baird, Kepala Perwaklian Bank Dunia di Jakarta tentang hal yang sama. Sangat jelas tugas SMI ternyata melaporkan segala sesuatu yang dilakukan oleh Pemerintah dan dianggap menyimpang dari yang dikehendaki oleh IMF, walaupun yang dikehendaki oleh IMF merugikan bangsa Indonesia.


Peristwa selanjutnya adalah ketika KKSK harus merekap Bank Danamon. Bank Danamon diwakili oleh Dirutnya, seorang Amerika bernama Milan Schuster dan Direkturnya puteranya Ali Wardhana, Mahendra Wardhana. Mereka mengemukakan bahwa Bank Danamon menderita kerugian setiap bulannya dan CAR-nya juga di bawah 8%. KKG bertitik tolak dari jumlah kerugian setiap bulannya. Untuk menutup kerugian ini, surat utang pemerintah yang bernama Obligasi Rekapitalisasi Perbankan (OR) yang harus diinjeksikan haruslah Rp. X


yang harus memberikan pendapatan bunga sebesar kerugian Bank Danamon. Maka keluarlah angka Rp. 18 trilyun. Dengan pendapatan bunga sebesar 1% sebulan dari OR yang Rp. 18 trilyun, kerugian Bank Danamon akan tertutup, atau Bank Danamon tidak akan bleeding lagi. SMI langsung protes mengatakan bahwa menginjeksi OR sebesar Rp. 18 trilyun berarti menjadikan CAR-nya sebesar 36%, sedangkan LoI memerintahkan merekap bank-bank sampai CAR-nya menjadi 8% saja. KKG tidak peduli, karena yang hendak dicapai adalah supaya Bank berhenti merugi. Kalau rekap dilakukan dengan jumlah yang hanya cukup untuk menjadikan CAR 8% saja, pendapatan bunganya akan jauh lebih kecil daripada kerugiannya, sehingga rekapitalisasi tidak akan menghentikan kerugian-nya (masih tetap bleeding).


Kebijakan KKG yang menyimpang dari LoI, tetapi jelas-jelas lebih logis ini ternyata dilaporkan kepada IMF oleh SMI. Saya mengetahui tentang hal ini, karena ketika melakukan kunjungan kehormatan pada Menteri Keuangan Larry Summers di kantornya di Washington, DC, saya diterima oleh Larry Summers sendiri sebagai Menteri Keuangan, didampingi oleh Timothy Geithner selalu Deputy-nya plus beberapa pejabat tinggi lainnya yang memarahi KKG bahwa KKG selalu menelikung LoI-nya IMF. Ketika saya tanyakan tentang apa konkretnya sebagai contoh, dia menceriterakan persis seperti yang dikatakan oleh SMI dalam rapat KKSK.


Selaku Menko EKUIN KKG harus memimpin delegasi RI ke Paris Club untuk berunding tentang penjadwalan kembali pembayaran hutang yang sudah jatuh tempo, karena Pemerintah tidak mampu membayarnya. KKG diundang ke Departemen Keuangan guna menerima penjelasan-penjelasan tentang jalannya perundingan, dan juga diberikan arahan-arahan oleh 3 perusahaan konsultan asing yang terkenal dengan nama “Troika”. Saya lupa nama dari masing-masing perusahaan konsultan tersebut. Dikatakan juga bahwa KKG beserta delegasinya (Dono Iskandar dari BI dan Jusuf Anwar dari Depkeu) harus siap bahwa lamanya perundingan 24 jam non stop tanpa dapat tidur, yaitu dari jam 10.00 pagi sampai jam 10.00 pagi keesokan harinya.


KKG mengatakan bahwa dia tidak mau mengikuti skenario yang seperti itu. KKG minta kepada para petinggi Depkeu yang hadir agar mempersiapkan gambaran menyeluruh tentang posisi hutang luar negeri RI. KKG akan mengatakan bahwa jumlah hutang yang demikian besarnya adalah kesalahan negara-negara pemberi hutang juga, yang sejak tahun 1967 menggerojok hutang kepada Indonesia melalui IGGI/CGI. Setelah mengucapkan pidato singkat ini KKG akan tidur, dan mempersilakan mereka berunding sesukanya. Apa yang merekaputuskan akan dipenuhi oleh KKG kalau dianggap reasoanble dan fair, tetapi kalau dianggap tidak fair akan ditolak dan KKG akan segera terbang kembali ke Indonesia sambil mengatakan akan berani menghadapi resiko apapun.


Beberapa hari kemudian Marsilam Simanjuntak (Mensesneg) menelpon KKG memberitahukan bahwa Presiden Gus Dur telah menerbitkan Keputusan Presiden yang membentuk Tim Asistensi pada Menko EKUIN yang harus mengawal (baca mengawasi dan mengendalikan) Menko EKUIN selama perundingan Paris Club. Ketuanya Widjojo Nitisastro dan Sekretarisnya SMI. Memang selama perundingan Widjojo N. dan SMI mengapit KKG dan Bambang Sudibyo selama 24 jam, supaya mereka menjaga bahwa KKG benar-benar menanggapi pasal demi pasal dari para anggota Paris Club.


Ketika Megawati menjabat Presiden, diberitakan di Kompas bahwa SMI akan menjabat sebagai anggota Board of Directors IMF di Washington mewakili Indonesia. KKG menanyakan hal itu kepada Mega. Beliau terkejut sambil mengatakan : “kok enak saja, kan harus dengan persetujuan saya ?”, sambil mengatakan juga bahwa beliau tidak pernah mengetahuinya dan tidak pernah menandatangani Keppres untuk itu. Beberapa hari kemudian diberitakan lagi di Kompas bahwa SMI sudah akan efektif menjabat per tanggal tertentu. KKG menanyakan hal itu lagi kepada Megawati, dan dijawab bahwa Keppresnya memang sudah ditandatangani dengan alasan “…daripada, daripada ….”


Konon kabarnya, sebelum susunan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I terbentuk, SBY didatangi oleh Dubes AS Ralph Boyce dan Kepala Perwakilan Bank Dunia di Jakarta Andrew Steer. Mereka mengatakan bahwa kendali ekonomi hendaknya diberikan kepada SMI, Boediono dan Mari Pangestu. Boediono menolak yang bisa dipahami. Seusai sidang kabinet Megawati terakhir Boediono berpamitan dengan rekan-rekan menterinya. Dia mengatakan bahwa salah satu dari kita bisa saja diminta lagi oleh SBY untuk duduk dalam kabinetnya. Tetapi dia (Boediono) tidak akan mau duduk dalam pemerintahan. Dia sudah fed up dan akan kembali ke kampus saja. Saya termasuk yang diberitahu tentang hal ini. Maka saya tidak heran mendengar bahwa Boediono menolak tawaran SBY untuk duduk dalam KIB-nya. Namun ketika SBY tidak tahan tekanan publik, beliau mengumumkan akan melakukan reshuffle kabinet. Saya mendengar bahwa Boediono sedang “digarap” habis-habisan untuk mau menjadi Menko Perekonomian, dan terjadilah itu. Ini saya gambarkan betapa mutlak pengaruh kekuatan internasional dalam mengendalikan kebijakan ekonomi Indonesia. Lebih hebat lagi, Jakarta Post tanggal 25 Mei 2009 memberitakan bahwa ketika Boediono ditanya, faktor apa yang mendorongnya mau menerima pencalonan dirinya sebagai Wakil Presiden dijawab olehnya : “because of a big stream that I can not resist”, yang berarti karena arus (kekuatan) besar yang tidak dapat ditahannya. Saya merasa perlu menceriterakan ini karena hubungannya antara SMI dan Boediono yang sama-sama anggota senior OTB dan sama-sama disodorkan kepada SBY agar mereka dan Mari Pangestu memegang kekuasaan ekonomi di Indonesia. Kenyataan-kenyataan ini jelas relevan dalam menjelaskan mengapa pengangkatan SMI sebagai managing director WB yang sangat tidak wajar dan menghina bangsa Indonesia itu berjalan demikian mulusnya.


Di tengah-tengah menjalankan tugas sebagai Menkeu yang dalam proses pemeriksaan oleh KPK sebagai tindak lanjut dari hasil kerja Pansus DPR tentang Bank Century, SMI mengumumkan pengunduran dirinya untuk menjabat sebagai managing director di WB mulai tanggal 1 Juni 2010, seperti yang kita ketahui bersama.


Saya mempunyai pengalaman yang menyangkut SMI dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Ceriteranya sebagai berikut : hibah dari Uni Eropa kepada Indonesia menurut investigasi WB dikorup. Karena pelaksananya Bappenas, maka saya “diperiksa” oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Yang dipermasalahkan bukan KKG mengkorup, tetapi mengapa KKG membayar kembali hibah yang dituntut oleh WB sebesar USD 500 juta sedangkan yang dikorup hanyalah sekitar USD 30.000. Mengembalikan hibah seluruhnya sebesar USD 500 juta dianggap merugikan keuangan negara. Tetapi ketika salah paham, bahwa justru KKG yang berkelahi tidak mau membayar dan SMI yang sebagai Menteri Keuangan yang membayarnya, SMI-nya tidak diapa-apakan. KKG juga tidak diapa-apakan, tetapi sempat diperiksa. Berkaitan dengan ini ada hal sejenis yang terpublikasikan secara luas. Indonesia menerima hutang dari WB sebesar USD 4,7 juta untuk membangun proyek infra struktur. Menurut WB lagi sebagian dikorup, dan karena itu minta supaya seluruh hutang yang USD 4,7 juta dikembalikan. Tidak jelas dikembalikan atau tidak. Rasanya dikembalikan dan tidak ada konsekwensinya, walaupun dianggap merugikan dan mengacaukan perencanaan keuangan negara. Saya kemukakan ini karena ada kecenderungan segala sesuatunya akan kebal hukum apabila WB ada di belakangnya. Jelas ini merupakan faktor yang bisa menjelaskan mengapa pengangkatan SMI oleh WB langsung saja mematikan urusannya dengan KPK tentang Century yang sebelumnya demikian gegap gempitanya.







SMI, BERKELY MAFIA, KEKUATAN ASING DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA
Kekuatan asing yang boleh dikatakan menentukan semua kebijakan ekonomi dan keuangan Indonesia diwakili oleh tiga lembaga keuangan internasional, yaitu Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IMF.


Ketika KKG sebagai Menko EKUIN pertama kali harus mengucapkan pidato di depan CGI dalam pembukaan rapat tahunannya, kepada KKG disodorkan naskah pidato oleh staf yang jelas anggota OTB. Isinya sama sekali tidak disetujui oleh KKG, dan dia minta kepada staf yang bersangkutan supaya diubah dengan arahan dari KKG. Dia menolak sambil mengatakan bahwa sudah menjadi tradisi sejak dahulu kala bahwa pidato pembukaan IGGI/CGI oleh Ketua Delegasi RI haruslah dibuat oleh WB melalui staf Menko EKUIN. Akhirnya saya membuatnya sendiri yang isinya sesuai dengan hati nurani dan keyakinan saya, yang ternyata isinya mengejutkan pimpinan sidang, Wakil Presiden WB Dr. Kasum.


Pidato yang saya ucapkan mengandung tiga inti. Yang pertama, kalau Indonesia tidak mampu membayar cicilan pokok utang beserta bunga yang jatuh tempo, negara-negara IGGI/CGI ikut bersalah, karena barang siapa memberi utang harus mengevaluasi apakah yang diberi utang akan mampu membayar cicilan utang pokoknya beserta bunganya tepat waktu. Kalau ternyata tidak bisa, negara-negara pemberi utang harus ikut bertanggung jawab dalam bentuk hair cut. Bukan hanya penundaan pembayaran cicilan utang pokoknya saja, yang sifatnya menggeser beban di kemudian hari, sedangkan bunganya membengkak. Kedua, KKG protes penggunaan istilah “negara donor”, dan minta supaya istilah yang sudah dibakukan oleh WB bersama-sama dengan para ekonom OTB itu diganti dengan istilah “negara kreditur” atau “negara pemberi utang”. Ketiga, KKG juga protes digunakannya istilah “aid” atau bantuan, dan minta diganti dengan “loan” atau kredit. Kesemuanya tidak dihiraukan. Belakangan saya mendengar dari Dr. Satish Mishra yang khusus diperbantukan pada Indonesia oleh PBB selama krisis. Dia memberitahukan kepada saya bahwa walaupun segala sesuatu yang saya katakan masuk akal, para ekonom OTB sendiri bersama-sama dengan WB, Bamk Pembangunan Asia dan IMF menyikapinya dengan “let him talk”. Biarlah dia bicara, tidak akan ada dampaknya sama sekali.






SEJARAH PENGUASAAN EKONOMI INDONESIA OLEH KEKUATAN ASING DAN KELOMPOK BERKELEY MAFIA
Mari sekarang kita telaah bagaimana beberapa akhli dan pengamat asing melihat peran kekuatan asing dan kelompok Berkeley Mafia dalam perekonomian Indonesia sejak tahun 1967.


Saya kutip apa yang ditulis oleh John Pilger dalam bukunya yang berjudul “The New Rulers of the World.” Saya terjemahkan seakurat mungkin ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut :


“Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konperensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambil alihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili : perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonoom-ekonoom Indonesia yang top”.


“Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan ‘the Berkeley Mafia’, karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Sultan menawarkan : …… buruh murah yang melimpah….cadangan besar dari sumber daya alam ….. pasar yang besar.”


Di halaman 39 ditulis : “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ‘Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen konperensi. ‘Mereka membaginya ke dalam lima seksi : pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan : ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infra struktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.


Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.”


Demikian gambaran yang diberikan oleh Brad Simpson, Jeffrey Winters dan John Pilger tentang suasana, kesepakatan-kesepakatan dan jalannya sebuah konperensi yang merupakan titik awal sangat penting buat nasib ekonomi bangsa Indonesia selanjutnya.


Kalau baru sebelum krisis global berlangsung kita mengenal istilah “korporatokrasi”, paham dan ideologi ini sudah ditancapkan di Indonesia sejak tahun 1967. Delegasi Indonesia adalah Pemerintah. Tetapi counter part-nya captain of industries atau para korporatokrat.
PARA PERUSAK EKONOMI NEGARA-NEGARA MANGSA
Benarkah sinyalemen John Pilger, Joseph Stiglitz dan masih banyak ekonom AS kenamaan lainnya bahwa hutanglah yang dijadikan instrumen untuk mencengkeram Indonesia ?


Dalam rangka ini, saya kutip buku yang menggemparkan. Buku ini ditulis oleh John Perkins dengan judul : “The Confessions of an Economic Hit man”, atau “Pengakuan oleh seorang Perusak Ekonomi”. Buku ini tercantum dalam New York Times bestseller list selama 7 minggu.


Saya kutip sambil menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.


Halaman 12 : “Saya hanya mengetahui bahwa penugasan pertama saya di Indonesia, dan saya salah seorang dari sebuah tim yang terdiri dari 11 orang yang dikirim untuk menciptakan cetak biru rencana pembangunan pembangkit listrik buat pulau Jawa.”


Halaman 13 : “Saya tahu bahwa saya harus menghasilkan model ekonometrik untuk Indonesia dan Jawa”. “Saya mengetahui bahwa statistik dapat dimanipulasi untuk menghasilkan banyak kesimpulan, termasuk apa yang dikehendaki oleh analis atas dasar statistik yang dibuatnya.”


Halaman 15 : “Pertama-tama saya harus memberikan pembenaran (justification) untuk memberikan hutang yang sangat besar jumlahnya yang akan disalurkan kembali ke MAIN (perusahaan konsultan di mana John Perkins bekerja) dan perusahan-perusahaan Amerika lainnya (seperti Bechtel, Halliburton, Stone & Webster, dan Brown & Root) melalui penjualan proyek-proyek raksasa dalam bidang rekayasa dan konstruksi. Kedua, saya harus membangkrutkan negara yang menerima pinjaman tersebut (tentunya setelah MAIN dan kontraktor Amerika lainnya telah dibayar), agar negara target itu untuk selamanya tercengkeram oleh kreditornya, sehingga negara penghutang (baca : Indonesia) menjadi target yang empuk kalau kami membutuhkan favours, termasuk basis-basis militer, suara di PBB, atau akses pada minyak dan sumber daya alam lainnya.”


Halaman 15-16 : “Aspek yang harus disembunyikan dari semua proyek tersebut ialah membuat laba sangat besar buat para kontraktor, dan membuat bahagia beberapa gelintir keluarga dari negara-negara penerima hutang yang sudah kaya dan berpengaruh di negaranya masing-masing. Dengan demikian ketergantungan keuangan negara penerima hutang menjadi permanen sebagai instrumen untuk memperoleh kesetiaan dari pemerintah-pemerintah penerima hutang. Maka semakin besar jumlah hutang semakin baik. Kenyataan bahwa beban hutang yang sangat besar menyengsarakan bagian termiskin dari bangsanya dalam bidang kesehatan, pendidikan dan jasa-jasa sosial lainnya selama berpuluh-puluh tahun tidak perlu masuk dalam pertimbangan.”





Halaman 15 : “Faktor yang paling menentukan adalah Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Proyek yang memberi kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan PDB harus dimenangkan. Walaupun hanya satu proyek yang harus dimenangkan, saya harus menunjukkan bahwa membangun proyek yang bersangkutan akan membawa manfaat yang unggul pada pertumbuhan PDB.”


Halaman 16 : “Claudia dan saya mendiskusikan karakteristik dari PDB yang menyesatkan. Misalnya pertumbuhan PDB bisa terjadi walaupun hanya menguntungkan satu orang saja, yaitu yang memiliki perusahaan jasa publik, dengan membebani hutang yang sangat berat buat rakyatnya. Yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin. Statistik akan mencatatnya sebagai kemajuan ekonomi.”


Halaman 19 : “Sangat menguntungkan buat para penyusun strategi karena di tahun-tahun enam puluhan terjadi revolusi lainnya, yaitu pemberdayaan perusahaan-perusahaan internasional dan organisasi-organisasi multinasional seperti Bank Dunia dan IMF.”



PENUTUP
Fokus tulisan ini adalah peran SMI dalam perpspektif sejarah dan kaitannya dengan hubungan yang sangat erat dan subordinatif pada kekuatan-kekuatan asing, mungkin kekuatan corporatocracy yang diwakili oleh tiga lembaga keuangan internasional, yaitu Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IMF.


Sejak Konperensi Jenewa bulan November 1967 yang digambarkan oleh John Pilger, dalam tahun itu juga lahir UU no. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, yang disusul dengan UU No. 6 tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri, dan serangkaian perundang-undangan dan peraturan beserta kebijakan-kebijakan yang sangat jelas menjurus pada liberalsasi. Dalam berbagai perundang-undangan dan peraturan tersebut, kedudukan asing semakin lama semakin bebas, sehingga akhirnya praktis sama dengan kedudukan warga negara Indonesia. Kalau kita perhatikan bidang-bidang yang diminati dalam melakukan investasi besar di Indonesia, perhatian mereka tertuju pada pertumbuhan PDB Indonesia yang produknya untuk mereka, sedangkan bangsa Indonesia hanya memperoleh pajak dan royalti yang sangat minimal.

Bidang-bidang ini adalah pertambangan dan infra struktur seperti listrik dan jalan tol yang dari tarif tinggi yang dikenakan pada rakyat Indonesia mendatangkan laba baginya.

Bidang lain adalah memberikan kredit yang sebesar-besarnya dengan tiga sasaran : pertama, memperoleh pendapatan bunga, kedua, proyek yang dikaitkan dengan hutang yang diberikan di mark up, dan dengan hutang kebijakan Indonesia dikendalikan melalui anak bangsa sendiri, terutama yang termasuk kelompok OTB untuk ekonomi dan kelompok The Ohio Boys untuk bidang politik.

Keseluruhan ini sendiri merupakan ceritera yang menarik dan bermanfaat sebagai bahan renungan introspeksi betapa kita sejak tahun 1967 sudah dijajah kembali dengan cara dan teknologi yang lebih dahsyat.


Para penjajah Belanda dahulu menanam berbagai pohon yang buahnya bernilai tinggi. Kekejaman mereka terletak pada eksploitasi manusia Indonesia bagaikan budak. Kebun-kebunnya sampai sekarang menjadi PTP yang masih menguntungkan.

Sejak tahun 1967, pengerukan dan penyedotan kekayaan alam Indonesia oleh kekuatan asing, terutama mineral yang sangat mahal harganya dan sangat vital itu dilakukan secara besar-besaran dengan modal besar dan teknologi tinggi. Para pembantunya adalah bangsa sendiri yang berhasil dijadikan kroni-kroninya. Apakah pengangkatan SMI menjadi managing director WB merupakan bagian dari skenario ini saya tidak tahu.