Ia tak pernah mimpi menjadi istri seorang Habibullah. Awalnya ia hanya seorang jariyah, hadiah seorang raja bagi suaminya. Namun itu hanya pintu. Tuhan telah menetapkan taqdir dahsyat untuknya. Ia menjadi istri bagi suami yang dicintai Tuhannya. Ia menjadi ibu bagi generasi cinta.
Memang ia tak melahirkan Ismail di Makkah. Namun ia membesarkan generasi cinta di Makkah, tanah tandus bergunung batu. Namun, mendapat garansi Tuhannya bahwa penduduknya tidak akan lapar dan tidak akan takut di Tanah itu.
Awal hidupnya dimulai dengan sejarah ridho pada Tuhannya. Saat sang suami meninggalkannya, "Aku ridho, jika ini sudah ketetapan Tuhan kita, wahai suamiku!". Tanpa bekal yang cukup. Hanya cinta dan ridho pada Tuhannya. Saat Ismail as mulai gelisah dan haus. Ia meninggalkan Ismail di Hijr. Dan berlari antara shofa dan Marwa. Bukan pelarian, tapi ikhtiar menetapkan bahwa jejak-jejak yang tertinggal akan menjadi manasik para pejuang.
Bahwa bukan kalian yang membuat hasil, tapi Tuhan kalianlah. Akhirnya, melimpahlah zamzam. Bukan hanya untuk Ismail,tapi untuk semua pecinta Tuhannya, yang terus berlari membangun ikhtiar dan tahu bahwa hasil adalah urusan Tuhannya.
------------------------------
------------------------------
Suaminya adalah seorang Imam al Muttaqin, sang pembangun Ka'bah. Sementara anaknya adalah seorang anak sholih yang tak pernah berlaku durhaka. Walau sang suami sangat jarang bersamanya, ia mampu menjadi ibu yang shalihah bagi anaknya, sekaligus pengetua Makkah yang disegani.
Rumahnya dibangun dengan cinta. Makkah ia bangun dengan cinta sang suami bersama anaknya. Saat membangun Ka'bah menguntai doa cinta, harapan bagi kesejahteraan Makkah dan lahirnya "utusan" yang mengajarkan cinta bagi manusia, menjadi rahmat bagi semesta.
Saat Iblis berupaya merusak cinta, Iblis salah sangka. Ia kira Hajar as hanya mencintai suami dan anaknya. Tidak! Ia as mencintai Tuhannya. Kemelimpahan dari cinta pada Tuhannya itulah yang membuatnya pun mencintai suami dan anaknya.
Saat kematian datang, Hajar as tak selalu disebut. Suami dan anaknyalah yang selalu disebut. Sementara Hajar as., ia mendapat kedudukan khusus, pulang pada cinta, padaTuhannya. Terucap saat bicara tentang ketangguhan cinta Istri, ketangguhan cinta ibu, bagi generasinya.
bsa d jadiin lagu nyoe by
BalasHapusnyaingin gelora keadilan shouhar
hajar yang mengajarkan.......
BalasHapusAkh, izin copy di blog ku ya...boleh ????
BalasHapushhehe.. betulkah?
BalasHapussiapin terus not2 nadanya ya.. :D
yup. smoga kita bisa meneladaninya..
BalasHapusBoleh saja. Tak ada yg melarang. Tafadhal..
BalasHapussyukron ^ ^
BalasHapusInspiratif akhi, jazaakaLlaah ;)
BalasHapusmanteb !! keren
BalasHapuscieee...copas ni yeee
BalasHapussatu anggota ALK kita, jadi awak tau lah.
hihihihi
ehm...buku yang kemaren dikasih baguussss euuuyyy^__^
afwan ^_^
BalasHapuswaiyyaki jazakillah khair..
BalasHapussmoga manfaat, mbak..
BalasHapushehe.. Iya, Lu. Lulu tau aja :D
BalasHapusHmm.. smoga bukunya bukan cuma menarik, tp jg bermanfaat ya.. Jadi itung2 nambah timbangan amal jariyah abang ^_^