| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Biographies & Memoirs |
| Author: | Aan Wulandari |
“Oh ya?” kata Mama senang.
“Tahu nggak kenapa?”
“Nggak ….”
“Karena nggak ada yang marah-marah.”
***
“Enak mana, kereta Indonesia atau kereta Jepang?”
“Enak kereta Indonesia. Yang jualan banyak. Syafiq bisa jajan deh ….”
***
Oyako no Hanashi, sebuah kalimat bahasa Jepang yang mempunyai arti cerita antara orang tua dan anak-anaknya. Dan, cerita seperti itulah yang terdapat dalam buku ini. Kisah antara ibu dan anak yang terjadi ketika keluarga ini tinggal di Jepang selama tiga tahun dan ketika mereka telah kembali lagi ke Indonesia.
Banyak kisah seru, inspiratif, juga lucu, di antara Aan Wulandari-sang penulis- dan kedua anaknya. Terutama, celotehan mereka yang sangat polos, lucu, dan kadang menyentil kita sebagai orang tua.
Kisah ini bermula dengan rencana Abah mau berangkat ke Jepang, Mama yang Heboh, Syafiq yang lugu dan polos, serta Sofie yang suka ngikutin abangnya. Ada saja tingkahnya yang bikin kita tertawa geli.
"Ituuu buat percobaan, perawan apa enggak..."
Hah? Syafiq yang anak SD mau bikin percobaan perawan apa enggak?
Gubraks banget kan?
Atau Sofie yang seragam sholatnya meliputi juga kain popok! Hehe..
Atau Mama yang suka panik sendiri...
Atau Abah yang ngasih trivia buat anaknya yang SD "Berapa besar masa proton?"
Buku ini, bagi saya, sungguh mengasyikkan. Apalagi bagi yang pernah tinggal di Jepang atau –setidaknya- bercita-cita menetap atau jalan-jalan ke sana. Buku ini segar dan menghibur, Dan yang membuat kita benar-benar mencerap hikmah adalah karena kelucuannya itu natural, alami, tanpa dibuat-buat.
Meskipun beberapa cerita sungguh-sungguh meledakkan tawa, jarang sekali kita temukan kata -hihihi atau -hahaha di akhir kalimat/alinea/cerita yang mengesankan si penulis menertawakan leluconnya sendiri dan tidak menyisakan untuk pembaca yang dapat berpotensi mengerutkan kening.
Selain itu, kita juga dapat mengambil banyak pelajaran dari kisah Mbak Aan ini. Salah satunya adalah agar belajar menjaga lisan agar kelak tak asal bicara saja ketika sudah menjadi orangtua (mempunyai anak). Kalau sekarang masih bujangan, atau sudah menikah namun belum dikaruniai buah hati, mulailah belajar hal-hal kecil dan sederhana. Saya betul-betul ngakak karena ucapan Syafiq, "Nambah EMPAT KALI lho, Ma." Mudah-mudahan kita nanti tak asal memberi nasehat buat anak kita.
Secara pribadi, saya memberi empat bintang untuk buku ini. Bahkan rencananya lima bintang. Namun, karena saya menemukan sedikit yang mengganjal, nggak jadi deh :D. Yang mengganjal itu sepele saja mungkin, yaitu sub judul yang ada di cover. Mom vs Kids @ Japan. Pertama, kesannya buku ini bercerita tentang “pertarungan” antara ibu dan anak gara-gara adanya kata “versus”. Kedua, kesannya semua kisah terjadi di Jepang karena ada @Japan. Padahal kisah yang benar-benar terjadi di Jepang sangat sedikit sekali dari keseluruhan konten, jadi pembaca bisa-bisa agak terkecoh. Sebab yang lebih banyak ditampilkan adalah culture-shock¬-nya Syafiq dan Sofie saat kembali ke Indonesia. Namun, hal itu tidak mengurang taste buku ini, karena ke-Jepang-annya sesungguhnya tetap terjaga dan terasa hingga halaman terakhir. Selamat membaca! ^_^
Judul Buku : Oyako No Hanashi
Penulis : Aan Wulandari
Penerbit : Leutika Publisher
Cetakan : Pertama, Juli 2010
*NB: Sebagian konten review ini dikutip dari http://orinkeren.multiply.com/reviews/item/16/ dan goodreads-nya Mbak Rinurbad yang juga memberi endorsement di buku ini.
Peresensi adalah Koordinator Leutika Reading Society Banda Aceh
iya, aku juga ngerasa gitu... padahal aku justru berharap akan banyak menemui kisah2 seru selama mereka di Jepang. ternyata cerita ttg Jepangnya justru malah dikit bgt...
BalasHapustapi setuju kalo buku ini sangat menghibur... :))
Terima kasih banyak resensinya :)
BalasHapusIya...banyak yang protes adegan di Jepang-nya kurang.
Maaf, semoga tidak mengecewakan.