Minggu, 08 Januari 2012

The Lost Java

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Mystery & Thrillers
Author:Kun Geia
Melenyapkan Jawa dari Peta Dunia
Oleh: Anugrah Roby Syahputra
(Koordinator Leutika Reading Society Banda Aceh)

Novel konspirasi memang seksi. Selalu memikat. Seperti karya-karya fenomenal Dan Brown. Mulai dari Da Vinci Code hingga The Lost Symbol. Rangkaian kalimatnya menyihir pembaca untuk tak mau lepas dari awal hingga akhir. Di Indonesia, style penulisan novel semacam ini sudah dilakukan oleh beberapa pengarang seperti Rizki Ridyasmara, ES Ito, Zaynur Ridwan dan Mahardhika Zifana. Hampir semua buku-buku itu meledak di pasaran. Laris manis diserbu pembeli.
Hanya saja, kemudian sejumlah kritik bermunculan bahwa karya demikian cuma epigon. Terlihat sekali dari model penokohan dimana ada seorang simbolog atau ahli sejarah Barat ditemani seorang wanita cantik yang menjadi tokoh utama. Begitu pula konflik yang dibangun. Datar. Seorang teman mengatakan bahwa mereka tidak menulis novel. Tapi hanya copy paste teks-teks tentang teori konspirasi yang bertebaran di internet: di berbagai website, blog, forum semacaam Kaskus dan situs video Youtube. Saya bilang, mungkin juga. Pengecualian untuk Rahasia Meede dan Negara Kelima hasil goresan pena ES Ito yang revolusioner itu.
Nah, dalam novel The Lost Java terbitan Leutika Prio ini ada yang sedikit berbeda. Tokoh utama yang dibangun di sini merupakan warga negara Indonesia. Profesor-profesornya berkebangsaan Indonesia. Bahkan mereka membuat skenario luar biasa penyelamatan bumi dan mahluk hidup dari kepupnahan akibat pemanasan global. Orang-orang yang digambarkan lebih jenius dari Habibie ini mendirikan Garuda Putih Lab (GarPu Lab) yang tersembunyi di bawah tanah dan tak terlacak oleh satelit. Di situ, mereka melakukan penelitian selama 35 tahun dengan menghimpun 50 ilmuwan dari berbagai negara demi menyelesaikan sebuah formula untuk misi WAR (Warriors of Antartic).
Dalam misi WAR inilah, lima ilmuwan akhirnya berangkat menuju puncak tertinggi di Kutub Selatan yaitu Gunung Vinson Massif. Di tengah badai es yang beberapa kali mengamuk, oksigen yang semakin menipis, suhu yang mencapai -450 derajat Celcius juga avalance yang sesekali mengincar, mereka terus melaju untuk misi mulia ini. Tapi siapa sangka jika di belakang mereka sebuah organisasi rahasia sedang mengikuti mereka dari jalur yang lain untuk merebut formula. Di sinilah mulai terkuak kejahatan Zionis Internasional dengan berbagai jubah organisasinya.
Novel ini, menurut saya, betul-betul mengaduk perasaan pembaca. Meresapinya, membangkitkan rasa nasionalisme dan keimanan secara bersamaan. Kun Geia, sang penulisnya seolah kembali ingin menegaskan bahwa Zionis Internasional adalah common enemy bagi semua manusia yang masih bernurani. Dengan alur yang cepat, adrenalin kita dipacu. Ditambah lagi konflik pribadi dan keluarga yang mengiringinya dengan dendam dan romantisme membuat emosi kita diaduk-aduk.
Petualangan dr. Gia dan kawan-kawan benar-benar mendebarkan sekaligus memukau. Dua catatan saya, mungkin sebaiknya seperti novel-novel Dan Brown, penulis mencantumkan bagian mana yang merupakan fakta dan mana yang merupakan fiksi. Beserta referensinya akan lebih mantap. Sebab beratus fakta ilmiah dijejalkan di sini yang semuanya menggambarkan masa depan bumi yang di ambang kehancuran. Jika sumbernya tak disebutkan, orang hanya akan bilang bahwa ini cuma sekedar mitos atau fantasi penulis fiksi belaka.
Yang jelas, saya angkat topi untuk Kun Geia. Salut. Salam kenal. Kita adalah contact di multiply.

Ngekos Yuuk

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Amanda Ratih Pratiwi
Dari Ngekos ke Jalan Lain Menuju Sukses
Oleh: Anugrah Roby Syahputra
(Koordinator Leutika Reading Society Banda Aceh)

Banyak jalan menuju Roma atau Mekkah. Begitupun dengan kesuksesan, terbentang beragam jalan. Banyak trainer, motivator dan penulis telah mengungkap rahasianya. Namun melalui buku Ngekos Yuk! karya Amanda Ratih Pratiwi ini saya diyakinkan oleh penulisnya bahwa ada jalan lain yang mudah dan sederhana untuk sukses: ngekos. Ya, ini memang langkah awal. Namun bukankah langkah ke seribu tak kan ada tanpa langkah pertama? Setidaknya begitulah ajaran pepatah Cina. Memang, sejatinya buku ini adalah sejenis how to, panduan praktis untuk para koser wa bil khusus kaum muslimah (meski cowok juga dianjurkan membaca kitab ini) tapi kenyataannya buku saku ini juga berhasil memotivasi pembaca.
Mengapa ngekos bisa menjadi salah satu jalan menuju sukses? Karena dengan ngekos kita akan menjadi manusia yang punya tanggungjawab. Kita benar-benar merasakan menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Maka kemudian sifat manja dan kekanak-kanakan perlahan-lahan akan kita tinggalkan. Lalu kita beralih menuju kedewasaan dan kemandirian. Kata si pengarang buku ini, “ Pokok’e, ngekos itu bisa menjadikan diri ini lebih dewasa sepulah tahun dari umur kita yang sebenarnya. Yakin!”
Meski awalnya ada keterpaksaan, namun benar kata pepatah yang sering saya pelintir: alah bisa karena dipaksa. Setelah dimotivasi pada bab pembuka, selanjutnya pembaca bisa mendapatkan tips-tips praktis untuk menjadi koser yang baik, gaul dan prestatif. Mulai dari tips menghemat pengeluaran, menjaga kesehatan dan kebersihan sampai cara untuk memulai wirausaha ringan buat nambah uang jajan.
Di samping itu, kita juga bisa mengulik banyak hal yang di luar dugaan kita (apabila kita masih berstatus calon koser). Tentang kisah-kasih anak kos, penyakit-penyakit khas anak kos juga mengenai bahaya-bahaya yang mungkin mengintai perantau belia ini. Siapa sangka kalau kos mahasiswa juga bisa digasak maling? Nah, kisah-kisah semacam ini akan mengajarkan kita untuk lebih waspada, sebab seperti petuah sakti dari Bang Napi karena kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tapi karena ada kesempatan.
Tak cuma itu, di buku mungil ini Amanda Ratih Pratiwi –yang konon katanya sekarang sudah alumni ngekos dan menetap di Ambon- juga mengulik dunia pergaulan anak kos. Bagaimana menjalin persahabatan yang baik dengan teman satu kamar, satu kos, tetangga, ibu kos, Pak RT sampai ke warga masyarakat setempat. Kerennya lagi, kita juga diberikan pilihan-pilihan anti bokek bagi anak kos. Sejumlah pilihan wirausaha ringan yang menjanjikan ditawarkan oleh sang penulis.
Pokoknya, buku ini benar-benar lengkap. Apalagi di bagian akhir kita juga diberi jurus-jurus ampuh mengasah kreativitas agar kita betah ngekos dan nggak terjangkit homesick. Plus tips aman ketika pulang kampong. Sampai seorang teman saya, yang sudah kos menahun (baca: bertahun-tahun) pun mengacungkan jempol untuk buku ini. Berasa betul manfaatnya, katanya.
Tapi, satu yang saya rasa agak kurang dari buku ini. Ops, sebenarnya mungkin bukan kurang. Jika dibaca-baca ulang seluruh konten buku ini hanya memberi panduan bagi koser yang sedang studi alias berstatus mahasiswa. Semua sudut pandangnya untuk koser mahasiswa. Sementara dalam fakta, tidak sedikit koser yang berstatus pekerja. Dan tentunya penanganan untuk mereka sedikit berbeda. Mungkin lebih tepatnya tagline buku ini diubah menjadi Panduan Wajib Mahasiswi Koser.
Begitupun, buku ini adalah sebuah karya besar. Sebuah kontribusi yang akan sangat berarti untuk para calon koser yang kebingungan di negeri rantau. Empat jempol buat Kak Manda dan Leutika!


Kampoeng Horas

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:LRS Medan
Membaca Kebhinekaan dan Eksotisme Alam dalam Kampoeng Horas
Oleh: Anugrah Roby Syahputra
(Koordinator LRS Chapter Banda Aceh)

Medan sudah berusia lanjut. Iapun dinobatkan sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Maka tak salah kalau kini Medan menjadi metropolitan yang riuh dengan ragam aktivitas kaum urban. Namun, belum banyak kajian, penelitian atau -lebih spesifik lagi- buku yang mengulas aneka budaya kota bestari ini. Nah, Kampoeng Horas yang ditulis oleh Evi Andriani, dkk dari Leutika Reading Society Chapter Medan ini menjadi jawabannya. Sebab ia mengungkap berbagai cerita tentang Medan dan juga provinsi yang menaunginya, Sumatera Utara.
Selama ini, publik hanya mengenal dan memahami Medan sebagai “Batak”. Yah, itu tak sepenuhnya salah. Namun juga tidak bisa dikatakan seratus persen tepat. Karena berdasarkan sejarahnya Medan memang tanah Melayu dimana dahulu Kesultanan Deli menancapkan kuku kekuasaannya. Di sisi lain, secara statistik penduduk Sumatera Utara justru persentase terbesarnya adalah masyarakat Suku Jawa. Mereka ini umumnya para transmigran yang kemudian turun-temurun menetap dan menjadikan tanah bertuah ini sebagai tanah kelahirannya. Istilahnya Pujakesuma (Putera Jawa Kelahiran Sumatera). Paguyubannya pun ada. Bernama sama pula.
Kampoeng Horas ini sesungguhnya adalah kumpulah flash fiction karya anak-anak LRS Medan. Oleh karena berbentuk flash fiction, maka jelas kisah dalam buku bersampul hijau ini seluruhnya adalah fiksi alias rekaan belaka. Namun inilah sebuah cara yang unik dan –mungkin- lebih mudah dicerna ketika kita hendak menyuguhkan keragaman budaya dan keindahan alam Medan dan Sumatera Utara. Yang kita tahu kita sedang membaca cerita fiksi superpendek yang tak sampai 300 kata, tapi sesungguhnya kita sedang membaca sejarah, budaya dan eksotisme ciptaan Tuhan. Tentu kita senang dan tak pusing. Akan berbeda halnya jika sejarah dan budaya ini kita baca dalam sebuah buku teks atau referensi yang tebalnya sudah menyaingi kamus atau ensiklopedia. Pasti akan eneg.
Di kitab ber-cover Becak Siantar dan lanskap Danau Toba, Masjid Raya serta sejumlah alat musik Karo yang didesai ciamik ini, pembaca bisa merasakan deburan air terjun Sipiso-piso, birunya danau Toba , jernihnya Aek Buru dan Aek Sijornih sampai kehangatan belerang di dekat Lau Kawar. Selain itu, objek wisata budaya dan sejarah juga dihidangkan sehingga kita bisa menjadi saksi kejayaan masa lalu peradaban Melayu yang tersebar di pesisir Sumatera Utara: mulai dari Masjid Azizi di Tanjungpura, Istana Maimun di Medan sampai menyusuri Batubara, Asahan hingga Labuhanbilik nun di perbatasan dengan Riau sana. Anda pun bisa melihat kusutnya suasana kota yang sesekali meneriakkan, “Hei, bodat!” di jalanan kota Medan. Kegelisahan anak muda yang terbentur dengan adat nenek moyangnya seperti persoalan pariban, pelangkah serta pernikahan semarga juga diurai secara dramatik. Ya, adat ini masih dipegang teguh oleh sebagian masyarakat yang kini sudah hidup di zaman modern. Meski sebagiannya jelas irasional bahkan dalam pandangan agama menjurus kepada kemusyrikan. Alasannya tentu soal ajaran warisan leluhur. Para antropolog dan sosiolog menyebutnya kearifan lokal.
Secara umum, buku ini sudah begitu cantik. Saya memberinya tiga bintang. Catatan saya, buku ini belum mengeksplorasi seluruh kekayaan yang ada di Sumut. Sebut saja Kepulauan Nias yang pada tahun 2005 lalu baru saja dihantam gempa dan tsunami. Bukankah tradisi lompat batu yang tercetak di pecahan seribu rupiah itu begitu mengesankan? Juga pantai Sorake serta desa Bawomataluwo yang indah. Satu lagi, pengucapan dialek Sumatera Utara seharusnya terjaga dalam dialog maupun deskripsi. Sayangnya, dalam tulisan berjudul “Meminang Naga” karya Ansar Husyam malah digunakan penyebutan Pasar Horas. Padahal orang-orang Pematangsiantar biasa menyebutnya “Pajak Horas”.
Namun tentunya buku ini sangat layak untuk dijadikan koleksi bagi Anda yang ingin mengenal Medan secara khusus dan Sumatera Utara secara umum. Bahkan ini bisa menjadi semacam buku panduan wisata. Sehingga nanti Anda tak akan bingung lagi ketika ada yang bertanya, “Tau ko Medan?”