| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Nonfiction |
| Author: | LRS Medan |
Oleh: Anugrah Roby Syahputra
(Koordinator LRS Chapter Banda Aceh)
Medan sudah berusia lanjut. Iapun dinobatkan sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Maka tak salah kalau kini Medan menjadi metropolitan yang riuh dengan ragam aktivitas kaum urban. Namun, belum banyak kajian, penelitian atau -lebih spesifik lagi- buku yang mengulas aneka budaya kota bestari ini. Nah, Kampoeng Horas yang ditulis oleh Evi Andriani, dkk dari Leutika Reading Society Chapter Medan ini menjadi jawabannya. Sebab ia mengungkap berbagai cerita tentang Medan dan juga provinsi yang menaunginya, Sumatera Utara.
Selama ini, publik hanya mengenal dan memahami Medan sebagai “Batak”. Yah, itu tak sepenuhnya salah. Namun juga tidak bisa dikatakan seratus persen tepat. Karena berdasarkan sejarahnya Medan memang tanah Melayu dimana dahulu Kesultanan Deli menancapkan kuku kekuasaannya. Di sisi lain, secara statistik penduduk Sumatera Utara justru persentase terbesarnya adalah masyarakat Suku Jawa. Mereka ini umumnya para transmigran yang kemudian turun-temurun menetap dan menjadikan tanah bertuah ini sebagai tanah kelahirannya. Istilahnya Pujakesuma (Putera Jawa Kelahiran Sumatera). Paguyubannya pun ada. Bernama sama pula.
Kampoeng Horas ini sesungguhnya adalah kumpulah flash fiction karya anak-anak LRS Medan. Oleh karena berbentuk flash fiction, maka jelas kisah dalam buku bersampul hijau ini seluruhnya adalah fiksi alias rekaan belaka. Namun inilah sebuah cara yang unik dan –mungkin- lebih mudah dicerna ketika kita hendak menyuguhkan keragaman budaya dan keindahan alam Medan dan Sumatera Utara. Yang kita tahu kita sedang membaca cerita fiksi superpendek yang tak sampai 300 kata, tapi sesungguhnya kita sedang membaca sejarah, budaya dan eksotisme ciptaan Tuhan. Tentu kita senang dan tak pusing. Akan berbeda halnya jika sejarah dan budaya ini kita baca dalam sebuah buku teks atau referensi yang tebalnya sudah menyaingi kamus atau ensiklopedia. Pasti akan eneg.
Di kitab ber-cover Becak Siantar dan lanskap Danau Toba, Masjid Raya serta sejumlah alat musik Karo yang didesai ciamik ini, pembaca bisa merasakan deburan air terjun Sipiso-piso, birunya danau Toba , jernihnya Aek Buru dan Aek Sijornih sampai kehangatan belerang di dekat Lau Kawar. Selain itu, objek wisata budaya dan sejarah juga dihidangkan sehingga kita bisa menjadi saksi kejayaan masa lalu peradaban Melayu yang tersebar di pesisir Sumatera Utara: mulai dari Masjid Azizi di Tanjungpura, Istana Maimun di Medan sampai menyusuri Batubara, Asahan hingga Labuhanbilik nun di perbatasan dengan Riau sana. Anda pun bisa melihat kusutnya suasana kota yang sesekali meneriakkan, “Hei, bodat!” di jalanan kota Medan. Kegelisahan anak muda yang terbentur dengan adat nenek moyangnya seperti persoalan pariban, pelangkah serta pernikahan semarga juga diurai secara dramatik. Ya, adat ini masih dipegang teguh oleh sebagian masyarakat yang kini sudah hidup di zaman modern. Meski sebagiannya jelas irasional bahkan dalam pandangan agama menjurus kepada kemusyrikan. Alasannya tentu soal ajaran warisan leluhur. Para antropolog dan sosiolog menyebutnya kearifan lokal.
Secara umum, buku ini sudah begitu cantik. Saya memberinya tiga bintang. Catatan saya, buku ini belum mengeksplorasi seluruh kekayaan yang ada di Sumut. Sebut saja Kepulauan Nias yang pada tahun 2005 lalu baru saja dihantam gempa dan tsunami. Bukankah tradisi lompat batu yang tercetak di pecahan seribu rupiah itu begitu mengesankan? Juga pantai Sorake serta desa Bawomataluwo yang indah. Satu lagi, pengucapan dialek Sumatera Utara seharusnya terjaga dalam dialog maupun deskripsi. Sayangnya, dalam tulisan berjudul “Meminang Naga” karya Ansar Husyam malah digunakan penyebutan Pasar Horas. Padahal orang-orang Pematangsiantar biasa menyebutnya “Pajak Horas”.
Namun tentunya buku ini sangat layak untuk dijadikan koleksi bagi Anda yang ingin mengenal Medan secara khusus dan Sumatera Utara secara umum. Bahkan ini bisa menjadi semacam buku panduan wisata. Sehingga nanti Anda tak akan bingung lagi ketika ada yang bertanya, “Tau ko Medan?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar