| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Mystery & Thrillers |
| Author: | Kun Geia |
Oleh: Anugrah Roby Syahputra
(Koordinator Leutika Reading Society Banda Aceh)
Novel konspirasi memang seksi. Selalu memikat. Seperti karya-karya fenomenal Dan Brown. Mulai dari Da Vinci Code hingga The Lost Symbol. Rangkaian kalimatnya menyihir pembaca untuk tak mau lepas dari awal hingga akhir. Di Indonesia, style penulisan novel semacam ini sudah dilakukan oleh beberapa pengarang seperti Rizki Ridyasmara, ES Ito, Zaynur Ridwan dan Mahardhika Zifana. Hampir semua buku-buku itu meledak di pasaran. Laris manis diserbu pembeli.
Hanya saja, kemudian sejumlah kritik bermunculan bahwa karya demikian cuma epigon. Terlihat sekali dari model penokohan dimana ada seorang simbolog atau ahli sejarah Barat ditemani seorang wanita cantik yang menjadi tokoh utama. Begitu pula konflik yang dibangun. Datar. Seorang teman mengatakan bahwa mereka tidak menulis novel. Tapi hanya copy paste teks-teks tentang teori konspirasi yang bertebaran di internet: di berbagai website, blog, forum semacaam Kaskus dan situs video Youtube. Saya bilang, mungkin juga. Pengecualian untuk Rahasia Meede dan Negara Kelima hasil goresan pena ES Ito yang revolusioner itu.
Nah, dalam novel The Lost Java terbitan Leutika Prio ini ada yang sedikit berbeda. Tokoh utama yang dibangun di sini merupakan warga negara Indonesia. Profesor-profesornya berkebangsaan Indonesia. Bahkan mereka membuat skenario luar biasa penyelamatan bumi dan mahluk hidup dari kepupnahan akibat pemanasan global. Orang-orang yang digambarkan lebih jenius dari Habibie ini mendirikan Garuda Putih Lab (GarPu Lab) yang tersembunyi di bawah tanah dan tak terlacak oleh satelit. Di situ, mereka melakukan penelitian selama 35 tahun dengan menghimpun 50 ilmuwan dari berbagai negara demi menyelesaikan sebuah formula untuk misi WAR (Warriors of Antartic).
Dalam misi WAR inilah, lima ilmuwan akhirnya berangkat menuju puncak tertinggi di Kutub Selatan yaitu Gunung Vinson Massif. Di tengah badai es yang beberapa kali mengamuk, oksigen yang semakin menipis, suhu yang mencapai -450 derajat Celcius juga avalance yang sesekali mengincar, mereka terus melaju untuk misi mulia ini. Tapi siapa sangka jika di belakang mereka sebuah organisasi rahasia sedang mengikuti mereka dari jalur yang lain untuk merebut formula. Di sinilah mulai terkuak kejahatan Zionis Internasional dengan berbagai jubah organisasinya.
Novel ini, menurut saya, betul-betul mengaduk perasaan pembaca. Meresapinya, membangkitkan rasa nasionalisme dan keimanan secara bersamaan. Kun Geia, sang penulisnya seolah kembali ingin menegaskan bahwa Zionis Internasional adalah common enemy bagi semua manusia yang masih bernurani. Dengan alur yang cepat, adrenalin kita dipacu. Ditambah lagi konflik pribadi dan keluarga yang mengiringinya dengan dendam dan romantisme membuat emosi kita diaduk-aduk.
Petualangan dr. Gia dan kawan-kawan benar-benar mendebarkan sekaligus memukau. Dua catatan saya, mungkin sebaiknya seperti novel-novel Dan Brown, penulis mencantumkan bagian mana yang merupakan fakta dan mana yang merupakan fiksi. Beserta referensinya akan lebih mantap. Sebab beratus fakta ilmiah dijejalkan di sini yang semuanya menggambarkan masa depan bumi yang di ambang kehancuran. Jika sumbernya tak disebutkan, orang hanya akan bilang bahwa ini cuma sekedar mitos atau fantasi penulis fiksi belaka.
Yang jelas, saya angkat topi untuk Kun Geia. Salut. Salam kenal. Kita adalah contact di multiply.