Sabtu, 17 Juli 2010

Pena, Tinta dan Secangkir Semangat Perlawanan

Pena, Tinta dan Secangkir Semangat Perlawanan

Oleh: Anugrah Roby Syahputra

"
Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah. Ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tak terarah" (Qatadah dalam Tafsir Al-Qurthubi, 2002)

Tak seorangpun yang memungkiri bahwa menulis adalah nikmat. Berbagai penelitian telah membuktikan hal tersebut. Fatima Mernissi, seorang penulis wanita tersohor, menyebutkan bahwa setiap satu goresan tulisan dapat menghilangkan satu keriput di kantong mata. Kemudian diketahui pula seorang psikolog peneliti, Dr. James W. Pennebaker, mengamini keyakinan Mernissi itu dengan membuktikan bahwa menulis dapat meningkatkan kekebalan tubuh seseorang. Dari  mahasiswa yang dia teliti didapatkan kunjungan ke klinik kesehatan menurun dengan cukup signifikan setelah mereka menulis. Pemeriksaan darah yang dilakukan setelah mereka menulis pun menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih.

Fakta itu dia tuliskan dalam bukunya 
Opening Up: The Healing Power of Expressing Emmotions. Sampai-sampai menulis bisa menyembuhkan gangguan kejiwaan yang dialami oleh John Mulligan, seorang veteran perang Vietnam. Belum lagi cerita-cerita orang yang berhasil bebas dari belenggu kegelisahannya dengan menulis diary. Ya, menulis itu memang nikmat. Tapi bukan untuk itu saja kita diperintahkan menulis. Nikmat menulis itu seyogianya bukan untuk pribadi saja, melainkan juga untuk kemanfaatan sebanyak-banyak orang agar kita bisa menjadi sebaik-baik manusia (khairun-naas).

Berbagai literatur menunjukkan pada kita tentang keutamaan menulis dalam perspektif Islam. Menulis juga merupakan sebuah ibadah yang mulia. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT bersumpah, “
Nuun. Demi pena dan apa yang ia tulis”. Ini adalah cara Allah memuji para penulis. Dalam ilmu tafsir, jika Allah sudah bersumpah dengan nama mahluk, itu menandakan bahwa mahluk itu dimuliakan sebab ia memiliki arti penting bagi kehidupan sebagaimana Allah pernah bersumpah demi waktu, bulan, matahari, fajar dan sebagainya.

Demikianlah Allah memuliakan para penulis. Ini artinya menulis bukanlah amalan sembarangan yang tidak berharga. Menulis adalah alat perjuangan dalam arti yang sangat luas. Tidakkah kita ingat bahwa Imam Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, “
Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”?

Tradisi Kepenulisan dalam Sejarah Islam

Sejarah Islam, kata tokoh jihad Afghanistan Asy-Syahid DR. Abdullah Azzam, hanya dapat ditulis dengan tinta emas para ulama dan darah merah para syuhada. Maka tak heran jika kita mengorek kembali keping mozaik kehidupan generasi awal umat ini selalu menyertakan para penulis di balik kejayaannya. Hampir semua ulama yang menjadi –meminjam istilah Anis Matta- arsitek peradaban adalah para penulis ulung dengan karya-karya fenomenal yang sampai sekarang masih dijadikan referensi berbagai macam disiplin ilmu di seluruh dunia.

Dunia Barat pun ikut tercengang menyaksikan kegemilangan Islam yang dibangun dengan budaya literasi yang kokoh itu. Salah seorang ilmuwan mereka sendiri secara tulus mengakuinya,”
Sepanjang masa kekhalifahan Islam, para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya; menyediakan peluang kepada siapapun yang membutuhkan; memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah mereka; menjadikan pendidikan menyebar luas hingga ilmu, sastra, filsafat dan seni mengalami kejayaan luar biasa yang membuat Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.”(Will Durrant, Story of Civillization).

Dalam catatan emas itu, kita akan temukan torehan-torehan luar biasa para tokoh termasyhur dari kalangan ilmuwan Islam. Di bidang kedokteran, Ibnu Sina –atau Avicenna- menulis kitab-kitab tentang obat dan jamu-jamuan seperti
Al-Qanun Fi Ath-Thibbi dan Asy-Syifa’. Kemudian ada Al-Khawarizmi, peletak dasar ilmu matematika yang menulis kajian awal tentang aljabar dalam Al Jabru Wal Mughabala. Selain itu, ada Ibnu Rusyd yang mematahkan argumen sesat para filosof Yunani yang diagung-agungkan dunia semacam Aristoteles dalam Bidayatul Mujtahid dan Fasli Al- Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syariat. Ditambah lagi sederetan nama lain seperti Al-Haitsam si “Bapak Optik” dan penemu kamera analog. Al-Idrisi bapak kartografi dari pulau Sisilia, Italia. Ibnu Khaldun, Al-Kindi, Al-Biruni dan masih banyak lagi.

Tak ketinggalan para ulama pewaris Nabi mentradisikan menulis dalam hidupnya. Kapasitas dan produktivitasnya diakui. Mereka sadar betul bahwa ini adalah sarana pengikatan dan pewarisan ilmu. Muhammad bin Idris atau yang lebih dikenal sebagai Imam Syafi’i menulis karya masterpiece-nya kitab
Al-Umm yang terdiri dari 4 jilid dan 128 masalah dan Ar-Risalah Al-Jadidah. Bahkan konon kabarnya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bisa menyelesaikan sebuah kitab dalam sekali duduk. Tak kalah hebat dengannya, Ibnu Katsir pun tidak berpuas diri hanya menulis tafsir, tapi juga kitab lainnya semisal Al-Bidayah Wan Nihayah. Lalu Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dengan karangan spektakulernya Raudhatul Muhibbin.

Di kalangan khalaf, kita bisa mendapati hal serupa. Sayyid Quthb menulis tafsir
Fii Zhilalil Qur’an sebagian besarnya di balik jeruji penjara Mesir. Buku ini kemudian menjadi inspirasi bagi banyak gerakan Islam di seluruh dunia. Hal serupa juga dilakukan oleh ideolog sekaligus pendiri organisasi Ikhwanul Muslimin, Hassan Al-Banna. Wasiat-wasiatnya untuk generasi penerus estafet dakwah ia tuliskan di berbagai media. Kumpulan tulisan beliau tersebut akhirnya dikompilasi dalam sebuah kitab berjudul Majmu’atur Rasail yang hingga kini menjadi pemantik gelora jihad para aktivis di segenap penjuru untuk membangkitkan kembali kejayaan yang telah lama pergi.

Di samping itu, salah satu yang paling anyar adalah Dr. Aidh Al-Qarni. Ulama muda yang hafal ribuan hadits dan puluhan ribu bait syair ini telah berhasil menggugah kesadaran spiritual ummat Islam dengan karya-karya beliau seperti
La Tahzan. Sementara itu di bidang pemikiran dan fiqih, kita mengenal nama ulama kontemporer asal Qatar Dr. Yusuf Al-Qaradhawy yang menulis puluhan buku yang mengulas berbagai problema kekinian seperti Al Halal wa Al-Haram fi Al-Islam, Fiqh Zakat, Fiqh Al-Thaharah, Fiqh Al-Ghina’ wa Al-Musiqa dan yang terbaru: Fiqh Jihad. Buah tangan beliau ini menjadi rujukan di berbagai perguruan tinggi dan institusi pengkajian Islam lainnya.

Begitulah para ulama mencontohkan. Karya-karya mereka abadi dan dikenang sepanjang masa. Kontribusinya berlanjut tanpa pernah terputus. Inilah amalan yang terus berlanjut meski nyawa telah berpisah dari jasad. Rasulullah SAW bersabda, “
Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara : shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya”. Mereka percaya bahwa menulis adalah bagian dari cara untuk mentransfer ilmu dan semangat mereka. Pekerjaan menulis adalah ibadah yang dianjurkan. Ada sebuah keyakinan mendalam bahwa menulis adalah ladang amal tempat kita berinvestasi agar memiliki tempat yang nyaman di kampung akhirat. Dengan menulis, ilmu-ilmu itu dapat dikonsumsi manusia dari berbagai zaman meski penulisnya telah mati sebagaimana sebuah pepatah yang berbunyi scripta manent verba volant (yang tertulis akan abadi, yang terucap akan berlalu bersama angin). Dengan begitu, jika kita mau menghitung-hitung kalkulasi pahala yang kita peroleh dari amalan menulis ini akan dengan sangat cepat berlipat ganda. Belum lagi bonus-bonus tambahan yang dijanjikan-Nya jika kita menjadi fasilitator hidayah bagi orang lain. Bukankah Sang Nabi pernah menyampaikan bila kita menjadi perantara hidayah, maka itu lebih baik bagi kita daripada dunia dan seisinya. Dalam riwayat yang lain disebutkan lebih baik dari unta merah, kendaraan termewah masa itu.

Itulah sebabnya Helvy Tiana Rosa menuliskan
Ketika Mas Gagah Pergi dan tergerak mendirikan komunitas penulis Forum Lingkar Pena yang berasaskan Islam. Banyak sekali muslimah yang tergugah kesadarannya untuk berhijab secara sempurna setelah membaca kumpulan cerita pendek karangan beliau tersebut. Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El-Shirazy pun tak kalah daya dobraknya. Novel-novel tersebut mampu secara apik dan estetik menyadarkan banyak orang bahwa agama ini ternyata mengatur etika komunikasi dengan lawan jenis. Publik disuguhkan pemahaman yang membuat mereka tersadar bahwa selama ini ada norma yang dilanggar. Orang-orang menjadi tahu bahwa pacaran adalah bentuk lain dari zina yang diharamkan. Mereka diajari tanpa merasa digurui. Ini baru karya sastra, yang fiktif dan dikemas dengan gaya pop.

Belum lagi yang serius dan ilmiah. Lihatlah bagaimana
Ma’alim Fith Thariq­-nya Sayyid Quthb dan Ayaturrahman fii Jihadil Afghan-nya Abdullah Azzam telah sukses memompa gelora jihad di tengah ummat yang sempat kehilangan ghirah dan kepercayaan diri. Hal ini pula yang kemudian “diimani” Pramoedya Ananta Toer –tentu dengan akidah kirinya-,”Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Hingga ia menulis tetralogi Buru yang terus menjadi perbincangan hangat di berbagai forum itu.

Menulis, Instrumen Perlawanan

Alvin Toffler, seorang futurolog dan pakar ilmu sosial menyatakan bahwa abad ini adalah era informasi global sehingga dakwah konvensional yang dilakukan para ulama selama ini sudah tidak relevan lagi. Sebab, mayoritas umat manusia sudah tak peduli lagi terhadap nasehat lisan para syaikh dan ustadz. Mereka kini lebih percaya kepada media massa yang telah memberikan mereka kepuasan. Sampai-sampai ada ungkapan seperti
mass media is our second god. Na’udzubillah min dzalik. Tak tahukah mereka bahwa dengan mendewakan media massa, mereka telah berbuat kemusyrikan. Ada thagut, sesuatu selain Allah yang mereka jadikan sesembahan. Betapa miris memang nasib umat Islam hari ini yang telah jauh dari tuntunan Qur’an dan Sunnah. Banyak dari mereka yang telah menjadi korban ghazwul fikr (invasi pemikiran) yang dilancarkan oleh musuh-musuh Allah SWT.

Hari ini dunia kita adalah dunia yang berbeda. Kapitalisme secara keji telah melakukan penindasan terhadap dunia ketiga dan ummat Islam. Kejahatan Zionis Internasional dengan berbagai lembaga dan organisasi mereka semacam Freemasonry, Illuminati dan klub-klub berkedok sosial semakin menggurita. Kemaksiatan merajalela gara-gara mayoritas kaum muslimin kesulitan keluar dari jerat kemiskinan. Fakta-fakta ini merupakan sebuah tantangan bagi para dai yang mengaku telah mewakafkan jiwanya di jalan penuh onak dan duri ini.

Oleh karena itu, mantan Mursyid Aam Ikhwanul Muslimun, Syaikh Umar At-Tilmisani mengingatkan para penggiat dakwah, “
Kami telah belajar banyak dari pemimpin kami Imam Hasan Al-Banna bahwa sarana-sarana dakwah hari ini berbeda dengan apa yang berlaku kemarin. Menjadi kewajiban seluruh da’i untuk menguasai dengan baik seluruh alat-alat informasi dan sarananya.” Di sinilah peran karya tulis. Ia adalah senjata perlawanan yang paling efektif dalam as-shira’ul wujud (pertempuran eksistensi) antara Al-Haq dan Al-Bathil. Kita telah menyaksikan dalam perjalanan peradaban manusia, peristiwa-peristiwa besar selalu saja diiringi oleh karya-karya hebat yang mampu memengaruhi publik.

Sebut saja salah satunya Adam Smith. Orang-orang mengenalnya sebagai “Bapak Ekonomi Liberal”. Gagasannya tentang ekonomi terangkum dalam buku
An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth Nations (Suatu Penyelidikan tentang Sebab-Musabab Kemakmuran Bangsa-bangsa). Karyanya yang pertama kali terbit tahun 1776 itu telah dicetak ulang puluhan kali dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pemikirannya –yang pro pasar bebas- kemudian mengakibatkan terjadinya kesenjangan antara negara maju dan modern (developed countries) dan negara-negara terbelakang (underdeveloped countries). Hal itu semakin diperkuat oleh David Ricardo dengan bukunya Principles of Political Economy and Taxation. Akibatnya terasa hingga kini. Kapitalisme dan Liberalisme menghegemoni bumi. Dunia ketiga pun menjadi korban sistem yang tak adil ini.

Di keping sejarah yang lain dunia juga mengenal seorang pengkritik ajaran Smith. Ia menuliskannya dalam satu buku tebal berjudul
Das Kapital. Ya, dia adalah Karl Marx (1818-1883). Hidupnya yang berkubang kemelaratan membuat ia membenci kapitalisme yang hanya melahirkan segelintir orang kaya dan memarginalkan lebih banyak orang. Marx mengkritik kebijakan kapitalis soal uang dan komoditas serta pemerasan tenaga kerja demi keuntungan pemilik modal. Semua ini baginya hanya akan menciptakan kolonisasi baru. Hingga akhirnya karya masterpiece-nya ini pun menjadi “kitab suci” bagi gerakan kiri di seluruh dunia sampai saat ini. Termasuk di sini, di zamrud khatulistiwa ini.

Beranjak ke negeri tirai bambu, membaca lintasan-lintasan waktu yang lalu, kita akan menemukan figur “Bapak Revolusi” Sun Yat Sen (1844-1925) yang menelurkan
Fundamentals of National Reconstructions (1923). Lelaki itu memang cuma dua tahun memimpin Republik Cina, namun pemikirannya abadi. Bahkan diadopsi oleh founding father kita, Soekarno. Tiga prinsip revolusi Sun Yat Sen –nasionalis, demokrasi dan kesejahteraan- diubah menjadi Pancasila.Nasionalisme Cina itu lantas berubah sejak Mao Tse Tung memproklamirkan komunisme sebagai ideologi Negara pada tanggal 1 Oktober 1949. Mao sempat menuliskan esai dan puisi yang dibukukan. Salah satunya berjudul On Guerilla Warfare. Tampaknya buku itu memicu logika Jenderal Abdul Haris Nasution –tokoh penting militer Indonesia masa itu- untuk menyiasati strategi pertempuran menghadapi komunis di tahun 1965. Sang jenderal popular dengan buku rujukan Pokok-pokok Perang Gerilya.

Sungguh dari berbagai kisah tersebut, saya hanya ingin menarik satu benang merah. Bahwa perubahan dan perlawanan tak bisa dipisahkan dari peranan sebuah karya tulis sebagai produk dari kerja kreatif menulis. Apapun peristiwa besar yang terjadi, pasti selalu ada buku-buku yang mengiringi perjalanan suksesnya. Terlepas apakah itu baik atau tidak. Semua sepakat bahwa pena adalah senjata untuk melakukan perlawanan.

Pena adalah alat untuk mendesain perubahan.Kegiatan menulis (buku) kemudian menjadi salah satu prasyarat dalam mengubah dunia. Adolf Hitler pun berbuat serupa. Selama Sembilan bulan mendekam di penjara, ia menulis
Mein Kampf. Buku yang mengagungkan ras Aria dan menyebar kebencian terhadap Yahudi itu laris manis. Dalam waktu tak begitu lama bukunya terjual 5 juta kopi. Buku itu pula yang menyulut Perang Dunia II yang membantai 16 juta orang. Pena memang memiliki kekuatan dahsyat. Wajar saja bila jagoan perang Prancis, Napoleon Bonaparte pun berujar, “Saya lebih takut pada sebuah pena ketimbang seribu pedang.

Jadi, jika ingin berjuang menulis buku memang sebuah keharusan. Meski terkadang, aral yang melintang terasa sangat pahit. Wiji Thukul menghilang pada 27 Juli 1996 akibat puisi-puisinya yang dinilai subversive oleh rezim represif Orde Baru. Di belahan dunia lain, Nikolai Vaptsarop mati dieksekusi regu tembak penguasa fasis Bulgaria gara-gara buku sajaknya.

Persoalannya sekarang, relakah kita membiarkan orang-orang kafir dan musyrik yang menata kehidupan kita sesuai gaya hidup hedonis permisif mereka? Atau menjadi boneka dalam permainan yang mereka dalangi untuk mencipta
the new world order yang mereka cita-citakan?Al Islam mahjubun bil muslimun. Kemuliaan Islam terhijabi oleh kebodohan-kebodohan sikap dan perangai ummatnya. Serbuan pemikiran semakin tajam. Sementara dari internal umat ini, telah muncul duri dalam daging yang hendak menggembosi kekuatan Islam dengan pemikiran sekuler-liberalnya. Sudah saatnya kita mengambil peran untuk merebut kemenangan yang sudah dijanjikan-Nya. Sudah tiba masanya kita bergegas menjemput dan mengakselerasi terwujudnya peradaban mulia di bawah naungan Khilafah ala Minhajin Nubuwwah dengan melahirkan karya-karya tulis yang mampu membebaskan ummat dari belenggu kejahiliyyahan modern, mengarahkan mereka agar memiliki afiliasi, partisipasi dan kontribusi tehadap perjuangan dakwah.

Mudah-mudahan tidak ada alasan lagi untuk menuliskan kebaikan jika kita benar-benar mukmin yang meyakini adanya Hari Akhir dan balasan kebaikan di syurga-Nya yang dipenuhi bidadari dan mengalir sungai-sungai di bawahnya. Tidakkah kita malu jika mendengar bahwa Imam Malik bisa mengerjakan kitab
Al-Muwaththa’-nya di dalam perjalanan safar beliau? Atau kisah Buya Hamka yang menyelesaikan Tafsir Al-Azhar di dalam kurungan hotel prodeo? Sekaranglah saatnya. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

nb: naskah ini awalnya diikutsertakan dalam seleksi naskah untuk antologi esai "Islam Mengajarkan Tradisi Menulis" yang digagas oleh Edo Segara. Namun naskah ini "belum beruntung" . Buku itu sendiri kabarnya akan diterbitkan oleh Muda Cendikia.

 

Kopi dan Kehidupan

Suatu hari beberapa alumni Universitas California Berkeley yang sudah bekerja & mapan dalam karir mendatangi profesor kampus mereka yang kini sdh lanjut usia. Mereka membicarakan banyak hal menyangkut pekerjaan maupun kehidupan mereka.

Sang profesor lalu ke dapur  dan kembali dengan membawa setéko kopi panas. Di sebuah nampan ia membawa bermacam-macam cangkir. Ada yang terbuat dari kaca, kristal, melamin, beling dan plastik. Beberapa cangkir nampak indah dan mahal, tetapi ada juga yg bentuknya biasa-biasa saja dan terbuat dari bahan yang murah. "Silahkan masing-masing mengambil cangkir & menuang kopinya sendiri," sang Profesor mempersilahkan tamu-tamunya.

Setelah masing-masing sudah memegang cangkir berisi kopi, profesor itu berkata, "Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir-cangkir yang bagus & yang tertinggal kini hanya cangkir murah & tidak begitu menarik. Memilih yang terbaik adalah hal yang normal. Tetapi sebenarnya justru disitulah persoalanya. Ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus, perasaan kalian menjadi terganggu. Kalian mulai melihat cangkir-cangkir yang dipegang orang lain & membandingkannya dengan cangkir yang kalian pegang. Pikiran kalian terfokus kepada cangkir,padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya, melainkan kopinya."

Sesungguhnya kopi itu adalah kehidupan kita, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, uang & posisi yang kita miliki. Jangan pernah membiarkan wadah dari kopi mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Orang boleh saja menaruh kopi ke dalam gelas kristal yang sangat mahal & indah, tetapi belum tentu mereka dapat merasakan nikmat dari kopi tersebut. Artinya, ada sebagian orang yang menurut penglihatan jasmaniah kita mereka begitu beruntung dan berbahagia, tetapi belum tentu mereka dapat menikmati indahnya karunia kehidupan yang Allah berikan.

Yuk kita belajar bersyukur dengan kreativitas menapaki hidup. Karena, kata Maidany, orang beriman itu unik.

Sabtu, 03 Juli 2010

beres-beres rumah plus siap2 menuju Pantai Ujong Batee. It's FLP Aceh Fun Day.. ^_^

Komite Pengingat Janji (Catatan Ngayal Seorang Pelupa)

Komite Pengingat Janji

(Catatan Ngayal Seorang Pelupa)

Oleh: Anugrah Roby Syahputra

Indonesia. Negeri gemah ripah loh jinawi. Syaikh Ath-Thantawi pernah menyebutnya sebagai sepenggal firdaus di muka bumi. Sementara Max Havelaar menjulukinya zamrud khatulistiwa. Yah, intinya republik ini adalah tanah yang kaya. Bumi dan lautnya bisa lebih dari cukup untuk menyejahterakan rakyatnya. Tapi memang harapan belum berjodoh dengan realitas. Lalu apa yang salah pada negeri yang kecintaanku padanya lebih dalam daripada Samudra Hindia ini?

Ah, entahlah. Andai aku jadi presiden seperti Pak SBY, kurasa banyak hal yang akan segera kulakukan. Sekarang saja kepalaku hampir pecah menampung uneg-uneg yang tak kunjung tersalur itu.

Andai aku jadi SBY, hal pertama yang kulakukan adalah memanggil para wartawan yang dulu bertugas melakukan liputan selama Pilpres untuk kumintai data-data mereka tentang apa saja yang sudah pernah aku janjikan dalam kampanye. Paling tidak dari kliping pemberitaan mereka, aku bisa melihat semacam daftar janji yang di samping kanannya ada kolom check list apakah poin itu sudah terlaksana atau belum. Dan di sebelah kanannya ada kolom keterangan lagi supaya aku bisa tahu mengapa program yang aku janjikan itu belum juga mewujud nyata.

Tak lupa, aku juga akan menjumpai semua elemen yang dulu sudah pernah membuat kontrak politik menjelang pemilihan denganku. Baik dari kalangan organisasi mahasiswa maupun lembaga swadaya masyarakat serta pihak partai koalisi. Biar mereka bisa mengingatkanku jika lupa pada naskah kontrak yang dulu kuteken tanpa sempat kubaca betul-betul itu.

Bahkan jika mereka setuju, aku akan buat jadwal khusus bagi mereka untuk bertemu denganku secara rutin untuk bersama-sama mengevaluasi target-target pemerintah. Nanti akan kuminta sekretaris kabinet untuk mengagendakan majelis ini. Soal tempat, terserah mereka saja. Bisa di Istana Kepresidenan, namun bila hendak duduk lesehan di bawah rerindang pohon taman kota juga tak mengapa. Sesekali mengganti setting rapat seperti ini tentu mengasyikkan. Hitung-hitung juga sekalian refreshing, agar staf ahliku tak bosan berkelahi terus dengan data dan angka.

Andai aku jadi SBY, aku akan menumbuhkan kepercayaan (trust) masyarakat terlebih dahulu. Masih jelas terngiang dalam ingatanku nasehat Pak Kyai bahwa pemimpin yang baik adalah yang mencintai rakyat dan rakyatpun mencintainya. Tapi yang kumaksud ini bukan soal politik pencitraan belaka loh. Aku tentu tak mau menghambur-hamburkan anggaran yang diperas dari keringat dan darah rakyat hanya untuk beberapa spot iklan televisi.

Tapi aku ingin seperti Umar dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah yang pernah kubaca. Aku ingin meniru lakon Umar bin Khattab yang tak bisa tidur nyenyak dan makan enak sebelum memastikan seluruh warganya telah mengepul asap dapurnya. Kupikir itulah yang semestinya aku dan bawahanku (baca: gubernur/walikota/bupati) lakukan jika benar-benar bertekad menjadi pelayan ummat. Sungguh indah sekali rasanya, jika kami –aku dan para menteri serta kepala daerah- secara sukarela melakukan ronda keliling untuk mengecek kondisi rakyat. Minimal di kampung kediaman sendirilah. Seperti Umar yang menyamar dengan pakaian lusuh dan mengendap-endap. Ia betul-betul menjaga keikhlasan amalnya.

Memang itu tak mudah. Namun kedekatan dengan rakyat harus dibangun. Dan satu lagi yang insya Allah akan cukup efektif adalah dengan shalat jama’ah lima waktu berpindah-pindah masjid. Setidaknya di setiap lokasi shalat aka nada curhat dan keluh kesah warga yang bisa kudengar langsung. Kan sekalian memangkas prosedur birokrasi yang berbelit-belit untuk menyampaikan aspirasi. Cara inipun bisa juga dicontoh oleh teman-teman anggota legislatif agar tidak hanya mengandalkan masa reses baru bisa menyerap aspirasi konstituen.

Kemudian, masa libur dan cutikupun tak akan kusia-siakan untuk bercengkerama dengan rakyat. Aku tetap akan berlibur, namun tetap dengan misi menyambangi orang-orang yang kupimpin. Meski tanpa prosesi protokoler kenegaraan, tugas-tugas ini akan menjadi nikmat, apalagi jika rakyat tak lagi canggung untuk berbagi suka-dukanya serta sesekali bercanda dan tertawa lepas bersamaku. Tak perlu acara formal. Di teras masjid atau serambi rumah penduduk pun tak masalah. Yang penting tak ada lagi buruk sangka rakyat kepada pemimpinnya. Dan untuk kunjungan-kunjungan seperti ini, aku akan memprioritaskan kawasan Indonesia Timur dan daerah-daerah terpencil yang jarang atau –bahkan- tak pernah didatangi pejabat-pejabat publik sebelumnya.

Oya, untuk mengatasi masalah ekonomi, aku sudah betul-betul bertekad untuk mengumpulkan putra-putri terbaik ibu pertiwi untuk dimasukkan dalam tim ekonomi yang akan mencampakkan jauh-jauh sistem ribawi. Mungkin kapitalisme tak akan mudah digeser, namun jika serius dan semua pihak turut mendukung maka ia akan mudah kita gusur dan gantikan dengan sistem kerakyatan yang adil dan menenteramkan seperti yang dahulu pernah dipraktikkan Nabi Muhammad dalam bermuamalah. Yang jelas, kelompok mafia Berkeley yang masih bersarang di pemerintahan kupastikan akan segera hengkang. Sumpah! Aku tak akan pernah ikut-ikutan mengemis mengharap utang dari luar negeri lagi. Sungguh! Dan aku akan mempercepat pelunasan utang yang sudah terlanjur dinikmati oleh para koruptor sejak empat dekade sebelumnya. Aku tak ingin bayi-bayi baru lahir memikul beban utang di pundak mereka.

Andai aku jadi SBY, zakat akan kuwajibkan. Tentu saja setelah berkonsultasi dan berkoordinasi dengan para ulama, pakar hukum dan tim ekonomiku. Sementara pajak akan dimimalisir. Pajak hanya akan diminta jika penerimaan zakat tidak bisa meng-cover total pengeluaran negara. Dan untuk melipatgandakan revenue, aku akan membuat kebijakan untuk menasionalisasi asset-aset penting yang dulu secara tolol telah diprivatisasi atau diserahkan secara cuma-cuma kepada asing termasuk perusahaan telekomunikasi dan pertambangan seperti Exxon, Inalum, Caltex, Freeport dan Newmont.Satu hal lagi yang ingin kulakukan untuk menghemat anggaran adalah dengan mengefisiensi biaya perjalanan dinas. Tidak ada lagi yang ke luar negeri kecuali dengan izinku untuk keperluan yang benar-benar urgen. Selama ini aku sudah tahu kalau kunjungan kerja, studi banding dan sejenisnya itu hanyalah ajang pelesir belaka.

Masalah republik ini memang terlalu banyak. Tekadku, andai aku jadi SBY, di mata hukum semua akan kuperlakukan sama. Tak peduli jika yang salah adalah kerabat atau besanku sendiri sebagaimana Rasulullah menegaskan komitmennya untuk memotong tangan Fatimah ra. jika putrinya tersebut mencuri. Walaupun dia anak seorang jenderal, menantu pimpinan parpol atau pengusaha kelas kakap akan kuperlakukan dengan sama. Tak ada beda.

Soalan Lapindo belum kelar. Pe-er lain masih menanti: pengangguran, kemiskinan, kriminalitas, kualitas pendidikan dan layanan kesehatan, kelengkapan persenjataan militer dan seabreg problem lainnya. Jika bergerak sendiri tentu aku tak mampu. Maka mungkin aku akan mengundang para pakar multidisiplin ilmu untuk curah gagasan pada kabinetku secara rutin setiap bulan. Dan agar cita-cita mulia ini tetap terjaga serta istiqamah tampaknya kegiatan pembinaan mental kerohanian butuh dilaksanakan secara rutin setiap pekan agar kami bisa mengingat janji-janji yang harus kami pertanggungjawabkan nanti baik kepada rakyat maupun kepada Dzat yang Maha Memiliki Kekuasaan.

Besar harapanku rencana ini diberikan jalan kemudahan. Akupun akan segera merampingkan banyak Lembaga Non Struktural yang tak ada kerja dan hanya membuang-buang duit rakyat saja serta membentuk satu lembaga baru yang diisi orang-orang terpilih yang teruji integritas dan konsistensinya: Komite Pengingat Janji. Sebab aku dan para pemimpin pendahuluku, baik di negeriku maupun di seberang samudera sana, seringkali mudah lupa pada janji-janjinya.