Selasa, 08 Desember 2009

Ikhwan Juga Punya Cinta

Ikhwan Juga Punya Cinta
Oleh: Anugrah Roby Syahputra              

             Berbicara soal cinta dan pernikahan memang tiada habisnya. Inilah tema paling dicari sepanjang zaman. Tak lekang dimakan waktu, tak hilang tergerus usia. Tiap harinya mulut-mulut di sudut dunia membahas cinta. Tua, muda, kaya, miskin, susah, senang semuanya bicara cinta. Tak terkecuali para ikhwan. Sosok lelaki yang umumnya dikenal aktif dalam kegiatan dakwah ini juga kerap ngomongin cinta. Meski diskusi, ngaji dan aksi adalah agenda utama, tapi obrolan soal cinta juga tak lepas dari hari-harinya. Walaupun berkata tidak untuk pacaran, tapi mereka –para ikhwan- juga manusia. Punya rasa, punya hati dan punya cinta sebagai fitrah yang Allah berikan untuk ditata menjadi indah mempesona.           

           Anda tak usah terkejut bila mendapati tumpukan buku tentang pernikahan dalam kost-kostan para ikhwan. Jangan terkejut pula bila dari bilik asrama mereka terdengar syair nasyid tentang cinta. Bisa jadi dalam forum-forum diskusi mereka sering dengan fasih mengutip pendapat Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb atau Anis Matta. Tapi di rumah mereka lebih doyan membaca buku Fauzil Adhim, Salim A. Fillah atau Cahyadi Takariawan. Mungkin saja di tengah-tengah jeda daurah, seminar atau aksi mereka berjingkrak-jingkrak menyenandungkan lagu-lagu perjuangan ala Ar-Ruhul Jadid, Izzatul Islam atau Shoutul Harokah, namun dalam kesendiriannya ia lebih sering tenggelam dalam melodi melankolik EdCoustic, Seismic, Brothers atau In-Team. Sampai di ambang batas yang meremukkan kalbu, terdengarlah irama kepiluan itu.           

Di dalam sunyi ia selalu hadir 
Di dalam sendiri ia selalu menyindir            
Kadang meronta bersama air mata            
Seolah tak kuasa menahan duka            
(Maidany: Menunggu di Sayap Rindu)        

         Itulah ikhwan. Hidupnya juga tak bisa lepas dari cinta. Akan tetapi, iltizamnya kepada Islam membuat ia berbeda dengan lelaki kebanyakan. Ia berusaha untuk tidak jatuh cinta. Sebab ia lahir, tumbuh dan besar di bawah naungan cinta. Kalaupun sesekali hati tersandung, lalu jatuh cinta. Mereka cepat-cepat mengingat pesan Ustadz Darlis Fajar, ”Cukup sekedar SIMPATI. Simpan dalam hati.”            

            Tak heran orang-orang selalu mengaitkan para ikhwan dengan sikap ghaddul bashar (menundukkan pandangan) –selain dengan jenggot, koko atau celana bahannya yang selalu di atas mata kaki. Itulah ciri khas mereka. Sebuah ikhtiar untuk menghindarkan diri dari zina dan meninimalisir akumulasi dosa. Mereka yakin bahwa pandangan itu adalah anak panah beracunnya Iblis yang siap menerjang hati untuk selanjutnya diproses oleh saraf untuk mengorganisir kebejatan berikutnya dalam bentuk khatarat (lintasan pikiran) dan lafadzat (kata-kata). Namun, sekali lagi, dengan keyakinannya pada Allah ia lebih memilih untuk merasai nikmatnya iman di hati saat menundukkan pandangan. 

           Begitupun, seorang ikhwan sejatinya juga tak seratus persen tahan godaan. Kondisi dunia yang berubah pesat ikut pula mempengaruhi resistensinya terhadap maksiat. Teman-teman sekelilingnya yang terseret arus sekularisasi berjubah globalisasi memaksanya untuk sedikit demi sedikit ”menikmati” berbagai penyimpangan syariat. Lama-kelamaan ia pun bisa  terjangkiti virus yang konon sudah mulai menjanin di kalangan aktivis hari ini. Istilah-istilah klasik yang aneh pun menghinggapi. Ada VMJ (Virus Merah Jambu), CBSA (Cinta Bersemi Sesama Aktivis) dan ada pula AIDS (Akhwat Idaman Syura’). Aduh, masa depan dakwah terancam gawat kalau jundi-jundinya seperti ini!           
           Untuk mengatasi hal ini, akhirnya para ikhwan mengeluarkan satu jurus ampuh dari tokoh utama dakwah, Baginda Nabi Muhammad SAW. Dengan khidmat para ikhwan kemudian mencoba menyambut seruan sang nabi, ”Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mencapai ba’ah (kemampuan), hendaklah ia menikah. Sungguh ia lebih tunduk bagi pandangan dan lebih suci bagi kemaluan!”            

           Nah, inilah jalan yang bisa dijadikan solusi bagi para ikhwan: menikah! Sebab, cuma ini follow up jatuh cinta yang direstui agama. Tapi, lagi-lagi, meskipun menjanjikan sejuta atau semilyar rasa kebahagiaan, menikah dan kehidupan pasca itu –mengutip Mbak Afifah Afra- adalah tak mudah. Masih banyak ikhwan yang belum berani melangkahkan kaki ke rumah guru ngaji untuk menyodorkan proposalnya. Alasannya terlalu banyak. Mulai dari kesiapan mental hingga maisyah. Yah, apa boleh buat. Para ikhwan lalu memilih memperbanyak puasa sunnah saja. Selain bisa menjaga hati dan diri, juga lebih ekonomis! Hehe..

67 komentar:

  1. ”Cukup sekedar SIMPATI. Simpan dalam hati.” keren!!
    ini baru ikhwan sejati... jika belum berani ya diam saja lalu berpuasalah.... karena itu lebih utama..
    ".... menikah untuk menjaga kehormatannya"

    BalasHapus
  2. ikhwan juga manusia.,.,.
    punya rasa punya hati :D

    BalasHapus
  3. Jangan samakan dengan pisau belatiiiii...

    BalasHapus
  4. hehe juga..
    no comment biasanya memiliki kesamaan dengan yang diceritakan :D

    BalasHapus
  5. tapi, sangat mungkin ini yang semakin sulit..
    lihat saja fenomena yang semakin merebak di kampus-kampus.. di sekolah-sekolah..bahkan di wasilah amal lainnya..
    semoga Allah anugerahkan kita kekuatan untuk istiqamah dalam menjaga hati dan diri..

    BalasHapus
  6. Walau begitu, jangan dijadikan dalih untuk bersikap sama dengan para "lelaki biasa". Kalau ikhwan kerjaannya cuma tebar pesona dan curi-curi pandang terus, lantas apa bedanya kita dengan mereka?
    Bukankah kita sangat bangga untuk menyandang julukan generas ghuraba'?

    BalasHapus
  7. Ya jelas beda lah.. ikhwan itu kan manusia..makhluk hidup..
    sementara pisau belati itu benda mati :D

    BalasHapus
  8. inilah yang nggak enaknya
    labelisasi
    padahal medan dakwah berbeda beda

    BalasHapus
  9. maksudnya bang?
    labelisasi yg gimana nih?
    *mikir*

    BalasHapus
  10. amin ya Rabb...
    bisa! bisa!pasti bisa! harus bisa! AllahuAkbar!!

    BalasHapus
  11. Amin,,
    Insya Allah bisa!
    Allahu Akbar!

    BalasHapus
  12. Dari Abu Hurairah R.A Rasulullah bersabda “Tiga orang yang akan selalu diberikan pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah SWT, seorang penulis yang selalu memberi penawar dan seorang menikah untuk menjaga kehormatannya.” (HR. Thabrani)

    BalasHapus
  13. Ketika cinta itu hadir, maka lupakan stimulatornya, tapi kembalilah kepada Inspiratornya.

    BalasHapus
  14. manusiawi :)

    Dan anda juga tak usah terkejut bila mendapati tumpukan buku tentang pernikahan dalam kost-kostan para akhwat :D

    BalasHapus
  15. Ikhwah cuma skedar label..
    Banggakah qta mnyandang gelar itu jika nyatanya qta tak ada bedanya dgn yg lain?

    Tak ada yg salah dgn cinta..
    Tak bsa dsalahkan jika ikhwah jatuh cinta..

    Saya spakat dgn prnyataan: SIMPATI. Cukup dsimpan di dalam hati.
    Jika ikhwah jatuh cinta,dan blum mampu utk mnikah, mka ckuplah dirinya dan Allah yg tahu..
    Jgn biarkan perasaan itu diungkapkan krna hal itu malah menambah pnyakit hati..

    Smoga stiap ikhwah bsa mnata hatinya dan mprsiapkan ruang dlm hati hanya tuk org yg tlah trtulis dlm kitabNYA..

    BalasHapus
  16. Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang yang mendapat pertolongan.. amiin..

    BalasHapus
  17. stimulator adalah "dia" dan inspirator adalah "Dia", begitukah?
    *soklugu*

    BalasHapus
  18. Ohoho..
    ya, saya sudah menduga itu! karena sebelumnya sudah banyak akhwat yang mengaku dan kesaksian kali ini semakin menegaskan hipotesa itu..
    tapi sebenarnya tak ada masalah dgn buku2 bertema itu..
    bahkan, beberapa asatidz mengatakan, mayoritas ikhwah yg bermasalah dlm prosesnya malah merupakan "Ikhwah langitan", yang ada di pusaran arus, mereka yang paling anti dengan bacaan2 semacam itu, paling ga suka baca novel2 cinta dan nasyid2 mellow.. bukan mereka yang biasa-biasa saja malah..
    Na'udzubillah,..semoga Dia kuatkan kita..

    BalasHapus
  19. Sepakat. Tentu saja tidak ada niatan ashabiyah di sini.
    Lagian, bukan berati ikhwah/ikhwan/akhwat lantas sudah pasti lebih baik ketimbang yang lain..
    Surga itu bukan milik kalangan tarbiyah saja,,
    Tetap saja, ketakwaan yang menjadi pembeda.

    BalasHapus
  20. Semoga para lelaki muslim -bukan hanya para ikhwan- dikuatkan untuk menjaga pandangan dan menata hatinya..

    BalasHapus
  21. Soal jodoh sudah tertulis di lauhil mahfudz..
    Sudah pasti. Tak kan tertukar. Tinggal kitanya, memilih untuk menjemput atau menunggu?
    Mudah-mudahan kita semakin sadar bahwa pilihan-pilihan kita juga kecenderungan2 kita sangat mungkin keliru, sementara pilihan2 Allah selalu yang terbaik bagi kita..

    BalasHapus
  22. "SIMPATI=simpan dalam hati"
    "lupakan stimulator dan kembali pada Inspirator"
    ,,, ini jadi pembelajaran buat saya...
    terimakasih share-nya,,, ^^
    semoga Allah Yang Maha Pengampun ,,
    mengampuni segala dosa,,, yang telah dilakukan ....
    ....sadar atau pun tak disadari.. amiinn..

    BalasHapus
  23. setuju akh...kalu memang belum mampu...berpuasalah...selain menyehatkan, mengekang hawa nafsu juga berpahala...jd satu dayung 3 pulau terlampaui.... :)

    btw, nice posting....menyambung postingan2 umi....jzk

    BalasHapus
  24. Ikhwan juga manusia..


    Tapi kenapa banyak yang takut untuk menikah hanya dengan alasan belum siap ini itu ya?

    mungkin level pengharapan ikhwan sekarang agak tinggi ya..

    harus cantik, harus kerja..

    memang sih gak begitu yang tersurat tapi itulah yang tersirat..

    (pengalaman nemenin suami memproses beberapa binaan beliau..)

    BalasHapus
  25. Ini, mungkin ya mbak, karena definisi "siap" yang disalah-artikan. Banyak yang menganggap siap adalah kemapanan finansial, akademis dan psikologis yang dimaknai sebagai: punya pekerjaan tetap, sudah sarjana dan usia minimal 25 (alias jangan terlalu cepat)..lalu prasyarat2 yang berkaitan dengan hal2 ta'abbudiy dan harakiy.. semisal: hafalan qur'an dan usia -serta jenjang- tarbiyah..merasa masi belum matang-lah, belum bisa bersikap dewasa-lah, belum punya rumah-lah, belum punya kendaraan-lah..

    padahal, menurut saya, semua kesiapan yg dimaksud itu adalah sesuatu yang relatif. Sejatinya, barometer kesiapan yg disebut2 itu bukanlah hal yang mesti sudah purna sblm menikah, lalu dibiarkan begitu saja setelah akad. Tidak. tapi semua itu adalah satu proses yang berkesinambungan..

    makanya, lagi2 mnurut saya, kesiapan menikah adalah ketika lisan kita secara nekad mengatakan "ya" dan kitapun tegar menghadapi risiko2 yang akan muncul dr ucapan kita tsb..

    BalasHapus
  26. makanya, lagi2 mnurut saya, kesiapan menikah adalah ketika lisan kita secara nekad mengatakan "ya" dan kitapun tegar menghadapi risiko2 yang akan muncul dr ucapan kita tsb..

    betul setuju..

    soal rejeki itu benar2 rahasia Allah..

    BalasHapus
  27. level pengharapan ikhwan terlalu tinggi? harus cantik dan bekerja jg ga mesti. Itu yg setau ana ya mbak. Kalo dari diskusi ana dengan para ikhwah "senior" dan juga mendengar aspirasi "adik2" (halah, sok tua!)
    dapat diambil kesimpulan:
    1. Ikhwan pengen calon istri yang bekerja, tp tidak full-day, yang setengah hari lebih disukai. Karena merasa, zaman ini biaya hidup makin tinggi dan butuh dukungan finansial juga dari istri. Tapi, pengennya tetep yang bisa "ngurus" rumah.. (hah, egois ya?"

    2. Cantik ga mesti. tapi tetep aja ada kriteria menarik jika dipandang..
    yang tidak sama dengan pengertian cantik yang ditanamkan oleh media dan iklan (baca: putih dan tinggi)

    hmm,.. kalo saya yg jadi binaan suami mbak, Insya Allah gak rumit.. :)

    BalasHapus
  28. Ok deh..

    semoga dimudahkan Allah sesuai niatnya..

    kalo udah done jangan lupa undangannya ya..!!

    BalasHapus
  29. Iya mbak. Secara teori, kita semua kan udah hafal dan paham betul, bahwa bisa jadi maksiat2 yg dibuat para lajang sebelum menikah adalah penghalang dari turunnya rizki yang telah Dia jatahkan..

    BalasHapus
  30. lajang yang tangguuh..

    selamat berjuang ya..

    Insya Allah selalu dijaga Allah..

    BalasHapus
  31. undangan? hoho.. emang mau datang mbak kalau ke Banda Aceh atau ke Medan? ^_^

    BalasHapus
  32. kaopun gak datang do'anya kan Insya Allah datang..

    kalo ada rezeki kenapa nggak??

    BalasHapus
  33. lajang yang tangguh?
    *tersipu*

    makasi atas support dan do'anya mbak..
    semoga do'a itu juga terlantun untuk semua lelaki yang menginginkan cintanya selalu terjaga dalam kesucian..

    BalasHapus
  34. hoho.. nggak mbak..
    ini masi sedang "proses", proses memantapkan niat.. hehe.. :D

    BalasHapus
  35. hihi.. 3 pulau ya umi..
    btw, bagus2 postingannya.. menyentak dan mencerahkan..

    BalasHapus
  36. jangan lama2 ya..

    kan dalam banyak sisi udah siap..

    BalasHapus
  37. ha? banyak sisi udah siap? dari mana mbak bisa yakin?
    *berlalu, mencari cermin*

    BalasHapus
  38. ya.. kebaca deh..


    makanya siap2 yang lain aja..

    proposal udah dikirim belum..kalo sudah ya tinggal di seriusin aja progressnya..

    BalasHapus
  39. kali ini dari pandangan ikhwan..
    nice posting. jazakillah di ingatkan kembali ttg kebersihan niat!

    BalasHapus
  40. Siip. Allah lbh tau mengenai diri kita.

    BalasHapus
  41. so, kita harus ikhlas atas apapun yang nantinya Allah tetapkan bagi kita..

    BalasHapus
  42. Oh..itu rahasia dong mbak.. n_n
    yg jelas agak ribet.. nggak sederhana.. belum apa2 ini..
    tapi, biarlah. semuanya emang butuh proses. dan jika memang belum sekarang saatnya, mengapa harus terburu dan memaksa?

    BalasHapus
  43. oogitu ya..?

    OK, semoga setelah ini gak ribet lagi

    (betul kan saya bilang...
    some time keribetan dimulai dari dan oleh kita, semoga Allah memudakan semuanya..)

    BalasHapus
  44. robby, pengen nikah tapi belum sanggup. pengen puasa, aku kurus kayak gini. serba salah

    BalasHapus
  45. Mba Icha, udah semangat lagi, kan?
    smile mba.. ^_^

    BalasHapus
  46. aku pengen nikah tapi ga sanggup. pengen puasa, kurus kek gini. serba salah

    BalasHapus
  47. klo cepet2lah jadi sanggup.. jgn sampe awak yg junior ni "melangkahi"
    klo soal kurus, samanya kita ni :D

    BalasHapus
  48. weits...apanya yang begitu?
    tema2 yg kumaksud kesempatan dan pilihan bukan cuma ini loh..
    jgn salah sangka :)

    BalasHapus
  49. Sip.. mantap..
    insya Allah akan tetap -dan selalu- tenang n_n

    BalasHapus
  50. ..smoga bisa lebih sabar nih..., perjuangan masih panjang, hehe...
    (hrs kukawal rasa ini, agar menjadi sebuah keindahan diakhirnya... ^_^)

    BalasHapus
  51. hayukk....

    semangat utk jadi orang yg JAHAT (menJAga HATi) n_n

    BalasHapus