Senin, 30 November 2009

jika aku harus menuliskan jejak-jejak gelisah di gelap malam, maka akan kugores semuanya di kawah-kawah rembulan. biar kau tak tahu semua luka. supaya Dia saja yang menjawab pinta. dan tak perlu embun berjatuhan dari bola mata dia -dari 11th floor Soechi International Medan, berusaha menggapai-gapai langit-

10 komentar:

  1. Menggapai langit? Kalau nyampe, bilang-bilang ya..

    BalasHapus
  2. sebenarnya "menggapai langit" (pake tanda petik)..
    emang kenapa, Rin? kok mesti bilang2? ada mau nitip sesuatu? ^_^

    BalasHapus
  3. Mau pake tanda petik kek, ga masalah. Maksudnya, kalau nyampe dan bisa liat gimana di sana, kasi tau ana gimana di 'sana', bakal jadi cerpen sambungan "Marto Memetik Bulan", bisa ana bantu Marto kasi tau jalan ke bulan sekalian ana pun mau melancong lagi :D

    BalasHapus
  4. ini cerpen yang mana?
    cerpen siapa di mana?

    BalasHapus
  5. mau rihlah ke bulan lagi?
    ahaha.. ^_^

    BalasHapus
  6. Cerpennya Fahri Asiza, rada absurd ceritanya. Ana baca di antologi Surat untuk Abang juga..
    Ke bulan ada misi lho, 'kunjungan kerja' n_n

    BalasHapus
  7. owh..itu tho...
    kunjungan kerja? kedengarannya menarik.. hihi.. n_n

    BalasHapus
  8. woiii sesama gak nyambung dilarang begaduh!

    BalasHapus
  9. ohoho..
    "mengkremasi"...
    sungguh, diksi yg menarik, sist..
    ^_^

    BalasHapus