Rabu, 10 Februari 2010

Mencari Akhwat yang Hilang?

Duhai akhwat idaman, dimanakah kau kini berada? Aku heran, mengapa kini aku terlalu sering menemukanmu dimana-mana, apakah kau tak lagi menjadi idaman para pengidam kesucian, tak lagi special, bak bidadari syurga yang hadir di bumi, tak pernah tersentuh jin dan manusia.

Tak kubayang, akhwatku hilang, tak lekang, dimakan jaman yang garang. Dulu kau tak terlihat, tapi aku tak perlu mencari-cari dirimu. Karena aku yakin kau ada, seperti keyakinanku beriman kepada yang ghoib. Semakin ghoib, semakin indah, semakin beriman.
Wuih. Subahanallah.

Tapi kini kau tak lagi ghoib, kau begitu menyebar, kau begitu visual, kau begitu obral, sehingga justru aku kehilanganmu di antara kerumunanmu. Terlihat tapi tak terlihat, tak terlihat justru terlihat.

Duhai akhwatku, yang cantik menawan iman. Ketahuilah bahwa semakin ghoib dirimu maka semakin besar energi dirimu, sehingga semakin besar kualitas keakhwatanmu, maka semakin aku merindukanmu. Kami menyayangimu. Sayang sekali jika kau tak menyayangi dirimu sendiri lagi; dalam kekhawatiranmu yang berlebihan pada Tuhan.

Ku tahu kau berhijab dalam hizibmu. Tapi mengapa harus kau lupakan inti perjuanganmu, apakah karena hizibmu tidak lagi tegas padamu. Apakah identitasmu harus bergantung pada identitas hizibmu yang mulai teragu?

Ku yakin, kau tahu bahwa kau bagai perhiasan di mata ikhwan atau kawan. Dan karakter dari perhiasan adalah butuhnya sebuah atau banyak perhatian. Yang memperhatikan nikmat, yang diperhatikan bahagia. Dan biasanya perhiasan eksklusif berkarakter : diam, tersembunyi, dijaga ketat, personal & privacy, dan hanya orang-orang yang sudah menunaikan akad “jual beli” yang boleh memakainya. Kecuali perhiasan murahan, tak perlu akad spesial pun sudah bisa dipakai siapapun …. lalu menjadi manusia terbuang…na’udzubillahi min dzalik.

Duhai akhwat budiman kekasih ikhwan beriman, perhatikanlah bahwa kau adalah perhiasan terindah. Bisakah kau bayangkan, bahwa perhiasan itu “diam”nya saja sudah indah dan menggoda. Maka apa yang terjadi jika engkau pun bergerak – kesana kemari- sehingga mata ikhwan memandangmu, sengaja tidak sengaja, sebab syaitan itu cerdas dan waras. Sedangkan ikhwan itu cerdas tapi terbatas. Karena ikhwan itu terbatas, maka kau harus membatasi diri dari pandangannya, agar syaitan usahanya pun terbatas menggoda manusia beriman, akhwat dan ikhwan.

Kuharap kau lebih banyak diam yang penuh gerakan, daripada gerakan yang membuat ikhwan terdiam. Pahamkah maksudku? Kau begitu indah untuk tidak diperhatikan, perhiasan itu begitu banyak yang memperhatikan, kadang saling bersaing antara satu perhaiasan dengan perhiasan lainnya, bersaing untuk diperhatikan… tentu saja karena adanya perhatian. Perhatian hadir karena adanya sumber perhatian dan adanya yang memperhatikan.

Fokus dakwah pun kadang berubah, bahasan bab menikah dan poligami lebih menjadi perhatian daripada bagaimana cara memperjuangkan dakwah ini, dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah, Ilahi Robbi?

Duhai akhwat, kau bukan syahwat; ku tak menyalahkanmu, tapi marilah mulai hari ini sama-sama kita mengambil porsi yang tidak melampaui suci. Sebab akhwat itu wanita, dan wanita itu makhluk indah sejati yang penuh perasaan, maka perlu diberikan banyak batasan. Agar perasaannya tidak meluap dan tumpah di sembarang nyawa. Jika satu atau dua batasan sudah mulai dianggap tak membatasi, maka berkhawatir dirilah jika engkau kesulitan mengontrol perasaanmu yang agung itu….

Wahai akhwat sejati, bukanlah karena cantikmu engkau diperhatikan, tapi karena diperhatikanlah engkau menjadi cantik. Berterimakasihlah kepada orang-orang yang memperhatikanmu, dan bersyukurlah kepada Allah agar DIA tetap memperhatikanmu. Kalau Allah yang memperhatikanmu, maka para ikhwan beriman pun insya Allah tak sungkan tuk memperhatikanmu. Tapi kalau perhatian manusia yang engkau kejar, maka kemanakah kau tempatkan perhatian Tuhanmu, dari hatimu yang agung, wahai calon ibu, wanita yang paling perhatian….dan butuh perhatian. Harus diperhatikan.

Wallahu'alam
KZ
http://cahaya-semesta.com
nb : jika suka, silakan dishare...

20 komentar:

  1. jazakallah khari, pengingat T__T (merasa yg berkeliaran dimana) :((

    BalasHapus
  2. semoga bermanfaat ya, Mbak Biru (ups!).. n_n

    BalasHapus
  3. Yup. Tafadhal..
    Semakin banyak yang baca, insya Allah semakin banyak yg tercerahkan..

    BalasHapus
  4. siapa??? Biru?? ooohh...MP ku emang theme nya warna biru yah ^_^

    BalasHapus
  5. hehe... Iya, themenya warna biru.. hehe..

    tenang aja, mbak.. I'll keep silent :)

    BalasHapus
  6. jiaaaaaaaaahh masih di bahaaas....

    BalasHapus
  7. Oke.. Masalah ini kita tutup!

    Deal? n_n

    afwan ya mbak..

    BalasHapus
  8. hehehhe..

    deal..!!

    yoo...gpp kok broe :D

    BalasHapus
  9. good...good...good...!

    mari cari ikhwan yang hilang bi....hehe

    BalasHapus
  10. alhamdulillah..
    iya, mari.. :)

    btw, ini bg Farid Luengbata alias Farid FE aka Farid DPD-kah? kok tiba2 punya mp? wah.. makin bnyk aja anak Banda Aceh buat mp.. n_n

    BalasHapus
  11. subhanallah...
    begitukah pikiran ikhwah?
    sepertinya harus muhasabah, apakah diriku juga berlaku sama seperti akhwat yang menjadikan hizib-nya hanya sebatas zhahir saja?

    hm... tp kami juga dituntut untuk ikut bergerak
    untuk berkontribusi membangun peradaban
    sejujurnya kami ingin sembunyikan diri ini
    agar tak merusak niat setiap mujahid-Nya
    tapi ternyata buat para hamba-Nya yang shalih kami tetap terlihat
    dan bahkan jadi perhatian
    karena kami DIA ciptakan sebagai perhiasan

    pf... lalu apa yang harus kami lakukan?
    *termangu*

    bolehkan kami meminta agar para ikhwan lebih bisa menjaga perhatiannya?
    dan kami pun akan berusaha menjaga hijab kami
    karena letak penjagaan ada dalam diri setiap insan, ikhwan dan akhwat
    yang mengharapkan kesucian :)

    BalasHapus