Rabu, 19 Mei 2010
Memang kacau republik ini. Musyrikun yang meninggal kok dihebohin, dielu-elukan bak pahlawan, seolah-olah dia punya jasa besar, sementara para mujahid yang berjuang di jalan-Nya dicemooh mereka. Yang buat paling geram, pas di infotainment, berita kematiannya pake backsound lagu Opick pula tuh. Arrghhh... Siapa yang gila sih sebenarnya?
Selasa, 18 Mei 2010
Sabtu, 15 Mei 2010
"Apabila empuknya kasur dan hangatnya selimut masih lebih engkau sukai daripada meletakkan kening di atas sajadah di keheningan malam, niscaya engkaupun akan merasa berat bila suatu saat diminta mengorbankan harta dan jiwamu di jalan Allah. Sebab, apabila qiyamullail yang merupakan ibadah yang tidak mengandung risiko saja belum mampu engkau laksanakan, bagaimana mungkin engkau bisa merasa ringan dan ikhlas melakukan ibadah yang menuntut adanya pengorbanan harta, jiwa dan raga darimu…"
Kamis, 13 Mei 2010
Jika Wanita Muda Cantik Ingin Menikah Dengan Pria Kaya (Sebuah Perspektif Bisnis)
Kisah ini merupakan terjemahan bebas dari majalah Fortune yang berjudul: Young and pretty lady wishes to marry a rich guy.
Seorang wanita memposting sebuah pertanyaan melalui sebuah forum terkenal dengan bertanya:
*”Apakah yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria kaya?”*
Saya akan jujur dengan apa yang aku katakan. Usia saya 25 tahun. Saya sangat cantik, bergaya dan memiliki selera yang tinggi. Saya berharap menikah dengan pria kaya dengan penghasilan pertahun $500 ribu (+/-Rp.5,5M) atau lebih.
Anda mungkin akan berkata kalau saya termasuk perempuan materialistis, tapi kelompok berpenghasilan sampai dengan $ 1 juta pun masih termasuk kelas menengah di New York . Permintaan saya tidak setinggi itu. Adakah pria di forum ini yang berpenghasilan $ 500 ribu per tahun? Apakah Anda semua telah menikah? Saya ingin bertanya apa yang harus aku lakukan untuk dapat menikah dengan orang2 seperti Anda?
Di antara pria yang telah berpacaran denganku, yang terkaya hanya berpenghasilan $ 250 ribu dan kelihatannya ini batas tertinggi yang pernah saya capai. Jika seseorang ingin pindah ke perumahan mewah di wilayah barat New York City Garden , penghasilan $250 ribu tentu tidak cukup.
Beberapa hal yang ingin saya tanyakan:
1. Dimanakah kebanyakan para pria kaya bertemu & berkumpul? Mohon nama dan alamat bar, restauran dan gym yang sering dikunjungi.
2. Rentang usia berapakah yang dapat memenuhi kriteria saya?
3. Kenapa wajah istri-istri orang kaya hanya terkesan biasa-biasa saja? Saya telah bertemu dengan beberapa gadis yang tidak cantik dan kurang menarik, tapi mereka bisa menikah dengan pria kaya.
4. Apa pertimbangan Anda dalam menentukan istri dan siapakah yang bisa menjadi pacar Anda?
Terus terang, tujuan saya sekarang adalah untuk menikah.
Terimakasih,
Gadis Jelita
============================================================================
Dan inilah jawaban dari seorang ahli keuangan dari Wall Street Financial
Dear Gadis Jelita,
Saya membaca email anda dengan sangat antusias. Saya yakin sebenarnya
banyak gadis2 yang memiliki pertanyaan senada dengan Anda. Ijinkan saya untuk menganalisa situasi Anda dari sudut pandang investor profesional. Penghasilan tahunan saya lebih dari $ 500 ribu yang tentu memenuhi kriteria Anda. Jadi, saya harap setiap orang percaya bahwa jawaban saya cukup kredibel dan tidak membuang waktu.
Dari sudut pandang seorang pebisnis, menikah dengan Anda adalah keputusan yang buruk. Jawabannya sangat sederhana dan akan saya jelaskan. Kesampingkan dulu detil-detil yang Anda tanyakan. Sebenarnya apa yang ingin Anda lakukan adalah pertukaran antara “kecantikan” dan “uang”.
Si A akan menyediakan kecantikan dan si B akan membayar untuk itu. Kelihatannya adil dan cukup wajar.. Tapi ada permasalahan fatal di sini. Kecantikan Anda akan sirna, tapi uang saya tidak akan hilang tanpa alasan yang jelas.
Faktanya adalah penghasilan saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun. Tapi, Anda tidak akan bertambah cantik tiap tahunnya. Karena itu dari sudut pandang ekonomi: saya adalah aset yang ter-apresiasi sedangkan Anda adalah aset yang ter-depresiasi.
Depresiasi yang Anda alami bukan depresiasi normal, tapi depresiasi eksponensial. Jika hanya ini aset Anda, nilai Anda akan sangat mencemaskan 10 tahun kemudian.
Dengan menggunakan istilah yang kami gunakan di Wall Street, setiap perdagangan memiliki sebuah posisi. Berpacaran dengan Anda juga memiliki “posisi perdagangan” . Jika nilai aset yang didagangkan menurun, maka kami akan menjualnya. Bukan ide yang baik untuk mempertahankannya. Begitu juga dengan pernikahan yang Anda inginkan.
Saya sangat kejam untuk berkata seperti ini, tapi untuk membuat keputusan bijak, aset yang menurun nilainya akan dijual atau disewakan.
Pria dengan penghasilan $ 500 ribu tentu bukan orang bodoh. Kami hanya akan berpacaran dengan Anda, tapi tidak akan menikahi Anda.
Saran saya lupakan mencari petunjuk bagaimana cara menikahi pria kaya. Usahakan agar Anda dapat membuat diri Anda kaya dengan berpenghasilan $ 500 ribu, lebih berpeluang ketimbang mencari pria kaya yang bodoh.
Semoga jawaban saya dapat membantu
Tertanda,
JP Morgan
Rabu, 12 Mei 2010
Selasa, 11 Mei 2010
Aceh, Nusantara dan Khilafah Islamiyah
Berbagai catatan sejarah membuktikan bahwa kesultanan-kesultanan Islam tersebut tidaklah berdiri sendiri, melainkan memiliki hubungan sangat erat dengan Kekhilafahan Islam, khususnya Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Tulisan ini akan mengulas secara ringkas beberapa bukti sejarah yang menggambarkan hubungan kesatuan antara kesultanan-kesultanan Islam di wilayah Nusantara dengan Khilafah Islamiyah.
Pengakuan Nusantara terhadap Khilafah Islamiyah
Pengaruh keberadaan khalifah terhadap kehidupan politik Nusantara sudah terasa sejak masa-masa awal berdirinya kekhilafahan (baca: Daulah Islamiyah). Keberhasilan umat Islam melakukan futuhat terhadap Kerajaan Persia dan menduduki sebagian besar wilayah Romawi Timur, seperti Mesir, Siria, dan Palestina, di bawah kepemimpinan Umar bin al-Khaththab telah menempatkan Daulah Islamiyah sebagai superpower dunia sejak abad ke-7 M. Ketika kekhilafahan berada di tangan Bani Umayyah (660-749 M), penguasa di Nusantara -yang masih beragama Hindu sekalipun– mengakui kebesaran khilafah.
Pengakuan terhadap kebesaran khalifah dibuktikan dengan adanya dua pucuk surat yang dikirimkan oleh Maharaja Sriwijaya kepada khalifah masa Bani Umayyah. Surat pertama dikirim kepada Muawiyyah, dan surat kedua dikirim kepada Umar bin Abdul Aziz.1 Surat pertama ditemukan dalam sebuah diwan (arsip, pen.) Bani Umayyah oleh Abdul Malik bin Umayr yang disampaikan kepada Abu Ya’yub Ats-Tsaqofi, yang kemudian disampaikan kepada Al-Haytsam bin Adi. Al-Jahizh yang mendengar surat itu dari Al-Haytsam menceriterakan pendahuluan surat itu sebagai berikut:
“Dari Raja Al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar yang mengairi pohon gaharu, kepada Muawiyah….”2
Surat kedua didokumentasikan oleh Abd Rabbih (246-329 H/860-940 M) dalam karyanya Al-Iqd Al-Farid. Potongan surat tersebut sebagai berikut:
“Dari Raja di Raja…; yang adalah keturunan seribu raja … kepada Raja Arab (Umar bin Abdul Aziz) yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.”3
Selain itu, Farooqi menemukan sebuah arsip Utsmani yang berisi sebuah petisi dari Sultan Ala Al-Din Riayat Syah kepada Sultan Sulayman Al-Qanuni yang dibawa Huseyn Effendi. Dalam surat ini, Aceh mengakui penguasa Utsmani sebagai khalifah Islam. Selain itu, surat ini juga berisi laporan tentang aktivitas militer Portugis yang menimbulkan masalah besar terhadap para pedagang muslim dan jamaah haji dalam perjalanan ke Makkah. Karena itu, bantuan Utsmani sangat mendesak untuk menyelamatkan kaum Muslim yang terus dibantai Farangi (Portugis) kafir.4
Sulayman Al-Qanuni wafat tahun 974 H/1566 M. Akan tetapi petisi Aceh mendapat dukungan Sultan Selim II (974-982 H/1566-1574 M), yang mengeluarkan perintah kesultanan untuk melakukan ekspedisi besar militer ke Aceh. Sekitar September 975 H/1567 M, Laksamana Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis, diperintahkan berlayar menuju Aceh dengan sejumlah ahli senapan api, tentara, dan artileri. Pasukan ini diperintahkan berada di Aceh selama masih dibutuhkan oleh Sultan.5 Namun dalam perjalanan, armada besar ini hanya sebagian yang sampai ke Aceh karena dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman yang berakhir tahun 979 H/1571 M.6 Menurut catatan sejarah, pasukan Turki yang tiba di Aceh pada tahun 1566-1577 M sebanyak 500 orang, termasuk ahli-ahli senjata api, penembak, dan ahli-ahli teknik. Dengan bantuan ini, Aceh menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1568 M.7
Kehadiran Kurtoglu Hizir Reis bersama armada dan tentaranya disambut dengan suka cita oleh umat Islam Aceh. Mereka disambut dengan upacara besar. Kurtoglu Hizir Reis kemudian diberi gelar sebagai gubernur (wali) Aceh,8 yang merupakan utusan resmi khalifah yang ditempatkan di daerah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan Nusantara dengan Khilafah Utsmaniyah bukanlah sebatas hubungan persaudaraan melainkan hubungan politik kenegaraan. Adanya wali Turki di Aceh lebih mengisyaratkan bahwa Aceh merupakan bagian tak terpisahkan dari Khilafah Islamiyah.
Di sisi lain, banyak institusi politik melayu di Nusantara mendapatkan gelar sultan dari penguasa-penguasa tertentu di Timur tengah. Pada tahun 1048H/1638 M, Penguasa Banten, Abd al-Qodir (berkuasa 1037-1063H/1626-1651) dianugerahi gelar sultan oleh Syarif Makkah sebagai hasil dari misi khusus yang dikirimnya untuk tujuan itu ke Tanah Suci. Sementara itu, kesultanan Aceh terkenal mempunyai hubungan erat dengan penguasa Turki Ustmani dan Haramayn. Begitu juga Palembang dan Makasar yang turut menjalin hubungan khusus dengan penguasa Makkah9. Pada saat itu, para penguasa Makkah merupakan bagian tak terpisahkan dari Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki.
Dilihat dari penggunaan istilah, kesultanan Islam di Nusantara mengasosiasikan dirinya tak terpisahkan dari kekhalifahan. Beberapa kitab Jawi klasik menyebut hal ini. Hikayat Raja-raja Pasai (hal. 58, 61-62, 64), misalnya, menyebut nama resmi kesultanan Samudea Pasai sebagai “Samudera Dar al-Islam”. Istilah Dar al-Islam juga digunakan kitab Undang-undang Pahang untuk menyebut kesultanan Pahang. Adapun Nur al-Din al-Raniri, dalam Bustan al-Salatin (misalnya, pada hlm. 31, 32, 47), menyebut kesultanan Aceh sebagai Dar al-Salam. Istilah ini juga digunakan di Pattani ketika penguasa setempat, Paya Tu Naqpa, masuk Islam dan mengambil nama Sultan Ismail Shah Zill Allah fi-Alam yang bertahta di negeri Pattani Dar al-Salam (Hikayat Patani, 1970:75).
Dalam ilmu politik Islam klasik, dunia ini terbagi dua, yaitu Dar al-Islam dan Dar al-Harb. Dar al-Islam merupakan daerah yang diterapkan hukum Islam dan keamanannya ada pada tangan kaum Muslim. Sedangkan Dar al-Harb adalah lawan kata dari Dar al-Islam. Penggunaan istilah “Dar al-Islam” atau “Dar al-Salam” menunjukkan bahwa para penguasa Melayu Nusantara menerima konsepsi geopolitik Islam tentang pembagian dua wilayah dunia itu. Konsep geopolitik ini semakin mengkristal ketika bangsa-bangsa Eropa —dimulai oleh “bangsa Peringgi” (Portugis) yang kemudian disusul bangsa-bangsa Eropa lainnya, khususnya Belanda dan Inggris— mulai merajalela di kawasan Lautan India dan Selat Malaka (Sulalat al-Salatin, 1979:244-246). Mereka melakukan penjajahan fisik dan menyebarkan agama Kristen melalui missi dan zending.
Khilafah Turki Utsmani, seperti disebutkan oleh Hurgronje (1994, halaman 1631)10, bersifat pro-aktif dalam memberikan perhatian kepada penderitaan kaum Muslim di Indonesia dengan cara membuka perwakilan pemerintahannya (konsulat) di Batavia pada akhir abad ke-19. Kepada kaum Muslim yang ada di Batavia para konsul Turki berjanji akan memperjuangkan emansipasi hak-hak orang-orang Arab sederajat dengan orang-orang Eropa. Selain itu, Turki juga akan mengusahakan agar seluruh kaum Muslim di Hindia Belanda terbebas dari penindasan Belanda.
Lebih dari semua itu, Aceh banyak didatangi para ulama dari berbagai belahan dunia Islam lainnya. Syarif Makkah mengirimkan utusannya ke Aceh seorang ulama bernama Syekh Abdullah Kan’an sebagai guru dan muballigh. Sekitar tahun 1582, datang dua orang ulama besar dari negeri Arab, yakni Syekh Abdul Khayr dan Syekh Muhammad Yamani. Di samping itu, di Aceh sendiri lahir sejumlah ulama besar, seperti Syamsuddin Al-Sumatrani dan Abdul Rauf al-Singkeli. 11
Abdul Rauf Singkel mendapat tawaran dari Sultan Aceh, Safiyat al-Din Shah untuk menduduki jabatan Kadi dengan sebutan Qadi al-Malik al-Adil yang sudah lowong beberapa lama karena Nur al-Din Al-Raniri kembali ke Ranir (Gujarat). Setelah melakukan berbagai pertimbangan, Abdul Rauf menerima tawaran tersebut.12 Karena itu, ia resmi menjadi qadi dengan sebutan Qadi al-Malik al-Adil. Selanjutnya sebagai seorang Qadi, Abd Rauf diminta Sultan untuk menulis sebuah kitab sebagai patokan (qaanun) penerapan syariat Islam.13 Buku tersebut kemudian diberi judul Mir’at al-Tullab.
Berbagai kenyataan sejarah tadi lebih menegaskan adanya pengakuan dan hubungan erat antara Aceh dan Nusantara dengan Khilafah Utsmaniyah. Bahkan, bukan sebatas hubungan persaudaraan atau pertemanan melainkan hubungan ‘kesatuan’ sebagai bagian tak terpisahkan dari Khilafah Utsmaniyah (Dar al-Islam).
Penjaga Perjalanan Haji Nusantara
Keberadaan Turki Utsmani sebagai khilafah Islam, terutama setelah berhasil melakukan futuhat atas Konstantinopel, ibu kota Romawi Timur, pada 857 H/1453 M, menyebabkan nama Turki melekat di hati umat Islam Nusantara. Nama yang terkenal bagi Turki di Nusantara ialah “Sultan Rum.”14 Istilah “Rum” tersebar untuk menyebut Kesultanan Turki Utsmani. Mulai masa ini, supremasi politik dan kultural Rum (Turki Utsmani) menyebar ke berbagai wilayah Dunia Muslim, termasuk ke Nusantara.15
Kekuatan politik dan militer Khilafah Utsmaniyah mulai terasa di kawasan lautan India pada awal abad ke-16. Sebagai khalifah kaum Muslim, Turki Utsmani memiliki posisi sebagai khadimul haramayn (penjaga dua tanah haram, yakni Makkah dan Madinah). Pada posisi ini, para Sultan Utsmani mengambil langkah-langkah khusus untuk menjamin keamanan bagi perjalanan haji. Seluruh rute haji di wilayah kekuasaan Utsmani ditempatkan di bawah kontrolnya. Kafilah haji dengan sendirinya dapat langsung menuju Makkah tanpa hambatan berarti atau rasa takut menghadapi gangguan Portugis. Pada 954 H/1538 M, Sultan Sulayman I (berkuasa 928 H/1520-1566 M) mengirim armada yang tangguh di bawah komando Gubernur Mesir, Khadim Sulayman Pasya, untuk membebaskan semua pelabuan yang dikuasai Portugis guna mengamankan pelayaran haji ke Jeddah.16
Turki Utsmani juga mengamankan rute haji dari wilayah sebelah Barat Sumatera dengan menempatkan angkatan lautnya di Samudra Hindia. Kehadiran angkataan laut Utsmani di Lautan Hindia setelah 904 H/1498 M tidak hanya mengamankan perjalanan haji bagi umat Islam Nusantara, tetapi juga mengakibatkan semakin besarnya saham Turki dalam perdagangan di kawasan ini. Pada gilirannya, hal ini memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi sebagai dampak sampingan perjalanan ibadah haji. Pada saat yang sama Portugis juga meningkatkan kehadiran armadanya di Lautan India, tapi angkatan laut Utsmani mampu menegakkan supremasinya di kawasan Teluk Persia, Laut Merah, dan Lautan India sepanjang abad ke-16. 17
Dalam kaitan dengan pengamanan rute haji, Selman Reis (w 936/1528), laksanama Turki di Laut Merah, terus memantau gerak maju pasukan Portugis di Lautan Hindia, dan melaporkannya ke pusat pemerintahan di Istanbul. Salah satu bunyi laporan yang dikutip Obazan ialah sebagai berikut:
“(Portugis) juga menguasai pelabuhan (Pasai) di pulau besar yang disebut Syamatirah (Sumatera)… Dikatakan, mereka mempunyai 200 orang kafir di sana (Pasai). Dengan 200 orang kafir, mereka juga menguasai pelabuan Malaka yang berhadapan dengan Sumatera…. Karena itu, ketika kapal-kapal kita sudah siap dan, insyaallah, bergerak melawan mereka, maka kehancuran total mereka tidak terelakkan lagi, karena satu benteng tidak bisa menyokong yang lain, dan mereka tidak dapat membentuk perlawanan yang bersatu.”18
Laporan ini memang cukup beralasan, karena pada tahun 941 H/1534 M, sebuah skuadron Portugis yang dikomandoi Diego da Silveira menghadang sejumlah kapal asal Gujarat dan Aceh di lepas Selat Bab el-Mandeb pada Mulut Laut Merah.
Bentuk-bentuk Hubungan
Portugis terus meluaskan pengaruhnya bukan hanya ke Timur Tengah melainkan juga ke Samudera India. Raja Portugis Emanuel I terang-terangan menyampaikan tujuan utama ekspedisi tersebut dengan mengatakan, “Sesungguhnya tujuan dari pencarian jalan laut ke India adalah untuk menyebarkan agama Kristen, dan merampas kekayaan orang-orang Timur”19. Khilafah Utsmaniyah pun tidak tinggal diam. Pada tahun 925H/1519 M, Portugis di Malaka digemparkan oleh kabar tentang pelepasan armada ‘Utsmani’ untuk membebaskan Muslim Malaka dari penjajahan kafir. Kabar ini tentu saja sangat menggembirakan kaum Muslim setempat.20
Ketika Sultan Ala Al-Din Riayat Syah Al-Qahhar naik tahta di Aceh pada tahun 943 H/1537 M, ia kelihatan menyadari kebutuhan Aceh untuk meminta bantuan militer kepada Turki. Bukan hanya untuk mengusir Portugis di Malaka, tetapi juga untuk melakukan futuhat ke wilayah-wilayah yang lain, khususnya daerah pedalaman Sumatera, seperti daerah Batak. Al-Kahar menggunakan pasukan Turki, Arab dan Abesinia.21 Pasukan Turki sebanyak 160 orang ditambah 200 orang tentara dari Malabar, mereka membentuk kelompok elit angkatan bersenjata Aceh. Selanjutnya dikerahkan Al-Kahhar untuk menaklukkan wilayah Batak di pedalaman Sumatera pada tahun 946 H/1539 M. Mendez Pinto, yang mengamati perang antara pasukan Aceh dengan Batak, melaporkan kembalinya armada Aceh di bawah komando seorang Turki bernama Hamid Khan, keponakan Pasya Utsmani di Kairo.22
Seorang sejarawan Universitas Kebangsaan Malaysia, Lukman Thaib, mengakui adanya bantuan Turki Utsmani untuk melakukan futuhat terhadap wilayah sekitar Aceh. Menurut Thaib, hal ini merupakan ekspresi solidaritas umat Islam yang memungkinkan bagi Turki melakukan serangan langsung terhadap wilayah sekitar Aceh.23 Bahkan, Turki Utsmani membangun akademi militer di Aceh bernama ‘Askeri Beytul Mukaddes’ yang diubah menjadi ‘Askar Baitul Makdis’ yang lebih sesuai dengan dialek Aceh. Pendidikan militer ini merupakan pusat yang melahirkan para pahlawan dalam sejarah Aceh dan Indonesia24. Demikianlah, hubungan Aceh dengan Turki sangat dekat. Aceh seakan-akan merupakan bagian dari wilayah Turki. Persoalan umat Islam Aceh dianggap Turki sebagai persoalan dalam negeri yang harus segera diselesaikan.
Nur Al-Din Al-Raniri dalam Bustan Al-Salathin meriwayatkan, Sultan Ala Al-Din Riayat Syah Al-Qahhar mengirim utusan ke Istanbul untuk menghadap “Sultan Rum”. Utusan ini bernama Huseyn Effendi yang fasih berbahasa Arab. Ia datang ke Turki setelah menunaikan ibadah haji.25 Pada Juni 1562 M, utusan Aceh tersebut tiba di Istanbul untuk meminta bantuan militer Utsmani guna menghadapi Portugis. Ketika duta itu berhasil lolos dari serangan Portugis dan sampai di Istanbul, ia berhasil mendapat bantuan Turki, yang menolong Aceh membangkitkan kebesaran militernya sehingga memadai untuk menaklukkan Aru dan Johor pada 973 H/1564 M.26
Hubungan Aceh dengan Turki Utsmani terus berlanjut, terutama untuk menjaga keamanan Aceh dari serangan Portugis. Menurut seorang penulis Aceh, pengganti Al-Qahhar Kedua yakni Sultan Mansyur Syah (985-998 H/1577-1588 M) memperbaharui hubungan politik dan militer dengan Utsmani.27 Hal ini dibenarkan sumber-sumber historis Portugis. Uskup Jorge de Lemos, sekretaris Raja Muda Portugis di Goa, pada tahun 993 H/1585 M, melaporkan kepada Lisbon bahwa Aceh telah kembali berhubungan dengan Khalifah Utsmani untuk mendapatkan bantuan militer guna melancarkan offensif baru terhadap Portugis. Penguasa Aceh berikutnya, Sultan Ala Al-Din Riayat Syah (988-1013 H/1588-1604 M) juga dilaporkan telah melanjutkan pula hubunghan politik dengan Turki. Dikatakan, Khilafah Utsmaniyah bahkan telah mengirimkan sebuah bintang kehormatan kepada Sultan Aceh, dan memberikan izin kepada kapal-kapal Aceh untuk mengibarkan bendera Turki.28
Kapal-kapal atau perahu yang dipakai Aceh dalam setiap peperangan terdiri dari kapal kecil yang gesit dan kapal-kapal besar. Kapal-kapal besar atau jung yang mengarungi lautan hingga Jeddah berasal dari Turki, India, dan Gujarat. Dua daerah terakhir ini merupakan bagian dari wilayah kekhilafahan Turki Utsmani. Menurut Court, kapal-kapal ini cukup besar, berukuran 500 sampai 2000 ton.29 Kapal-kapal besar dari Turki yang dilengkapi meriam dan persenjataan lainnya dipergunakan Aceh untuk menyerang penjajah dari Eropa yang mengganggu wilayah-wilayah muslim di Nusantara.30 Aceh benar-benar tampil sebagai kekuatan besar yang sangat ditakuti Portugis karena diperkuat oleh para ahli persenjataan dari Turki sebagai bantuan kekhilafahan tersebut terhadap Aceh.31
Menurut sumber-sumber Aceh, Sultan Iskandar Muda (1016-1046 H/1607-1636 M) mengirimkan armada kecil yang terdiri dari tiga kapal, yang mencapai Istanbul setelah dua setengah tahun pelayaran melalu Tanjung Harapan. Ketika misi ini kembali ke Aceh, mereka diberi bantuan sejumlah senjata, 12 pakar militer, dan sepucuk surat yang merupakan keputusan Utsmani tentang persahabataan dan hubungan dengan Aceh. Kedua belas pakar militer itu disebut sebagai pahlawan di Aceh. Mereka juga dikatakan begitu ahli sehingga mampu membantu Sultan Iskandar Muda, tidak hanya dalam membangun benteng tangguh di Banda Aceh, tetapi juga dalam membangun istana kesultanan.32
Dampak dari keberhasilan Khilafah Utsmaniyah menghadang Portugis di Lautan Hindia tersebut amat besar. Diantaranya mampu mempertahankan tempat-tempat suci dan jalan-jalan menuju haji; kesinambungan pertukaran barang-barang India dengan pedagang Eropa di pasar Aleppo, Kairo, dan Istambul; serta kesinambungan jalur-jalur bisnis antara India dan Indonesia dengan Timur Jauh melalui Teluk Arab dan Laut Merah33.
Hubungan beberapa kesultanan di Nusantara dengan Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki nampak jelas. Misalnya, Islam masuk Buton (Sulawesi Selatan) abad 16M. Silsilah Raja-Raja Buton menunjukkan bahwa setelah masuk Islam, Lakilaponto dilantik menjadi ‘sultan’ dengan gelar Qaim ad-Din (penegak agama) yang dilantik oleh Syekh Abd al-Wahid dari Makkah. Sejak itu, dia dikenal sebagai Sultan Marhum. Sejak itu pula nama sultan dipuja dalam khuthbah Jum’at. Menurut sumber setempat, penggunaan gelar ‘sultan’ ini terjadi setelah diperoleh persetujuan dari Sultan Turki (ada juga yang menyebutkan dari penguasa Makkah). Dan Syekh Wahid pula yang mengirim kabar (tentang hal ini, pen.) kepada Sultan Rum (Khalifah) di Turki34. Realitas ini menunjukkan bahwa Makkah berada dalam kepemimpinan Turki, dan Buton memiliki hubungan ‘struktural’ dalam bentuknya yang masih sederhana dengan Khilafah Turki Utsmani melalui perantaraan Syekh Wahid dari Makkah.
Sementara itu, di wilayah yang saat ini disebut Sumatera Barat, Penguasa Alam Minangkabau yang menyebut dirinya sebagai “Aour Allum Maharaja Diraja” dipercaya merupakan adik laki-laki sultan Ruhum (Rum). Orang Minangkabau percaya bahwa penguasa pertama mereka adalah keturunan Khalifah Rum (Utsmani) yang ditugaskan untuk menjadi Syarif di wilayah tersebut35. Hal ini memberikan informasi bahwa kesultanan tersebut memiliki hubungan dengan Khilafah Utsmaniyah.
Disamping ada kesultanan di Nusantara (Indonesia) yang berhubungan langsung dengan Khilafah Utsmaniyah, ada pula beberapa kesultanan yang berhubungan secara tidak langsung, yaitu melalui kesultanan lainnya, misalnya, kesultanan Ternate. Pada tahun 1570-an, saat perang Soya-soya melawan Portugis, sultan Ternate, Baabullah, dibantu oleh para sangaji dari Nusa Tenggara yang terkenal dengan armada gurap dan Demak dengan laskar Jawanya. Begitu juga Aceh dengan armada maritim yang perkasa berkekuatan 30.000 kapal perang telah memblokir pelabuhan Sumatera dan memblokade pengiriman bahan makanan, amunisi Portugis lewat jalur India dan Selat Malaka. Musuh Ternate berarti musuh Demak36.
Berdasarkan beberapa realitas ini terlihat bahwa kesultanan Islam di Nusantara memiliki hubungan dengan Khilafah Utsmaniyah. Bentuk hubungan tersebut berupa perdagangan, militer, politik, dakwah, dan kekuasaan.
Respon Kaum Muslim Indonesia atas Penyatuan Umat
Di saat Khilafah Islamiyah berada pada masa sulit, di mana beberapa daerahnya mulai hendak diduduki oleh kaum penjajah, muncullah upaya untuk terus mengokohkan persatuan Islam yang dimotori oleh Sultan Abdul Hamid II. Beliau menyatakan, “Kita wajib menguatkan ikatan kita dengan kaum Muslim di belahan bumi yang lain. Kita wajib saling mendekat dan merapat dalam intensitas yang sangat kuat. Sebab, tidak ada harapan lagi di masa depan kecuali dengan kesatuan ini.”37 Inilah gagasan yang kelak dikenal sebagai Pan-Islamisme. Upaya penguatan kesatuan Islam pun sampai ke Indonesia (Hindia Belanda).
Snouck Hourgronje, penasihat kolonial Belanda, senantiasa menyampaikan informasi kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda bahwa ada usaha gerakan pan-Islamisme untuk membujuk raja-raja dan pembesar-pembesar Hindia Belanda (kaum Muslim) untuk datang ke Istana Sultan Abdul Hamid II di Istambul. Tujuan jangka pendek yang ingin dicapainya di Batavia, lanjut Snouck, adalah mendapatkan persamaan status orang-orang Arab dan kemudian untuk semua orang Islam sederajat dengan orang-orang Eropa. Jika tujuan sudah tercapai maka orang-orang Islam tidak sukar lagi mendapat kedudukan yang lebih tinggi dari orang Eropa, yang kemudian bahkan bisa memojokkan mereka sama sekali. Pemerintah kolonial Hindia Belanda amat khawatir bila kaum Muslim tahu bahwa Sultan Abdul Hamid II menyediakan beasiswa untuk pemuda Islam. Atas biaya Sultan Abdul Hamid II, mereka dapat masuk sekolah-sekolah yang paling tinggi untuk menerima pendidikan ilmiah dan menemukan kesadaran yang mendalam tentang superioritas setiap muslim atas orang-orang kafir, kesadaran dan kehinaan yang mendalam yang tidak harus mereka terima dengan membiarkan diri mereka diperintah oleh orang kafir itu. Jika mereka telah menyelesaikan studinya dan telah melakukan ibadah haji ke Makkah, mereka diharapkan dapat berperan dalam menumbuhkembangkan pemikiran Islam di daerah mereka38.
Upaya pengokohan penyatuan ini terus dilakukan. Hingga tahun 1904 telah ada 7 sampai 8 konsul (‘utusan’ pen.) yang pernah ditempatkan Khilafah Utsmaniyah di Hindia Belanda39. Diantara aktivitas para konsul ini adalah membagi-bagikan mushaf al-Quran atas nama sultan, dan pencetakan karya-karya theologi Islam dalam bahasa Melayu yang dicetak di Istambul. Di antara kitab tersebut adalah tafsir al-Quran yang di halaman judulnya menyebut “Sultan Turki Raja semua orang Islam”40. Istilah Raja di sini sebenarnya mengacu pada kata al-Malik yang berarti penguasa, dan semua orang Islam mengacu pada istilah Muslimin. Jadi, sebutan tersebut menunjukkan deklarasi dari sang Khalifah bahwa beliau adalah penguasa kaum Muslim sedunia. Hal ini menunjukkan bahwa khilafah Utsmaniyah terus berupaya untuk menyatukan kesultanan Melayu ke dalamnya, termasuk melalui penyebaran al-Quran.
Sebagai respon terhadap gerakan penyatuan Islam oleh Khilafah Utsmaniyah ini, di Hindia Belanda terdapat beberapa organisasi pergerakan Islam di Hindia Belanda yang mendukung gerakan tersebut. Abu Bakar Atjeh menyebutkan di antara organisasi tersebut adalah Jam’iyat Khoir yang didirikan pada 17 Juli 1905 oleh keturunan Arab. Karangan-karangan pergerakan Islam ini di Hindia Belanda dimuat dalam surat-surat kabar dan majalah di Istambul, di antaranya majalah Al-Manar. Khalifah Abdul Hamid II yang tinggal di Istambul pun pernah mengirimkan utusannya ke Indonesia, bernama Ahmed Amin Bey, atas permintaan dari perkumpulan tersebut untuk menyelidiki keadaan kaum Muslim di Indonesia. Akibatnya, pemerintah kolonial Hindia Belanda menetapkan pelarangan bagi orang-orang Arab mendatangi beberapa daerah tertentu41.
Organisasi pergerakan Islam lain yang muncul sebagai respon positif terhadap penyatuan ini adalah Sarikat Islam. Peristiwa dikibarkannya bendera Turki Utsmani pada Kongres Nasional Sarikat Islam di Bandung pada tahun 1916, sebagai simbol solidaritas sesama muslim dan penentangan terhadap penjajahan, menunjukkan hal tersebut. Pada masa itu, salah satu usaha yang dilakukan Khilafah Ustmaniyah adalah menyebarkan seruan jihad dengan mengatasnamakan khalifah kepada segenap umat Islam, termasuk Indonesia, yang dikenal sebagai Jawa. Di antara seruan tersebut adalah:
“Wahai saudara seiman, perhatikanlah berapa negara lain menjajah dunia Islam. India yang luas dan berpenduduk seratus juta muslim dijajah oleh sekelompok kecil musuh dari orang-orang kafir Inggris. 40 juta muslim jawa dijajah oleh Belanda. Maroko, Al-Jazair, Tunisa, Mesir dan Sudan menderita dibawah cengkraman musuh Tuhan dan Rasul-Nya. Juga Kuzestan, berada dibawah tekanan penjajah musuh iman. Persia yang dipecah-belah. Bahkan tahta khilafah pun, oleh musuh-musuh Tuhan selalu ditentang dengan segala macam cara”42.
Realitas ini memberikan gambaran bagaimana khilafah Utsmaniyah memberikan dukungan dan bantuan kepada kaum Muslim Indonesia serta memandangnya sebagai satu kesatuan tubuh, bahkan menyerukan untuk membebaskan diri dari penjajah musuh iman. Dalam hal ini kaum Muslim memberikan respon positif terhadap upaya pengokohan kesatuan umat Islam sedunia tersebut.
Respon kaum Muslim Indonesia atas keruntuhan Khilafah Utsmaniyah
Pada tanggal 3 Maret 1924, Mustafa Kamal la’natullahu ’alaih memutuskan untuk melakukan pembubaran Khilafah yang disebutnya sebagai “bisul sejak abad pertengahan”43. Pada pagi hari 1924, diumumkan bahwa Majelis Nasional telah menyetujui penghapusan Khilafah dan pemisahan agama dari urusan-urusan negara. Malamnya, Khalifah pun diusir secara paksa oleh kesatuan polisi dan militer44. Secara resmi, runtuhlah Khilafah Utsmaniyah pada 3 Maret 1924 tersebut.
Penghancuran kepemimpinan umat Islam sedunia tersebut mengguncang seantero alam, termasuk Indonesia. Sebagai respon terhadap keruntuhan Khilafah, sebuah Komite Khilafah didirikan di Surabaya tanggal 4 Oktober 1924 dengan ketua Wondosudirdjo (kemudian dikenal dengan nama Wondoamiseno) dari Sarikat Islam dan wakil ketua K.H.A. Wahab Hasbullah. Tujuannya untuk membahas undangan kongres kekhilafahan di Kairo45. Pertemuan ini ditindaklanjuti dengan menyelenggarakan kongres Al-Islam Hindia ketiga di Surabaya tanggal 24-27 Desember 1924. Kongres ini diikuti oleh 68 organisasi Islam yang mewakili pimpinan pusat (hoofd bestuur) maupun cabang (afdeling), serta mendapat dukungan tertulis dari 10 cabang organisasi lainnya. Kongres ini dihadiri pula oleh banyak ulama dari seluruh penjuru Indonesia. Keputusan penting Kongres ini adalah melibatkan diri dalam pergerakan khilafah dan mengirimkan utusan yang harus dianggap sebagai wakil umat Islam Indonesia ke kongres dunia Islam46. Kongres ini memutuskan untuk mengirim sebuah delegasi ke Kairo yang terdiri dari Surjopranoto (Sarikat Islam), Haji Fachruddin (Muhammadiyah), dan K.H.A. Wahab dari kalangan tradisi.47
Karena ada perbedaan pendapat dengan kalangan Muhammadiyah, K.H.A. Wahab dan tiga penyokongnya mengadakan rapat dengan kalangan ulama kaum tua dari Surabaya, Semarang, Pasuruan, Lasem, dan Pati. Mereka sepakat mendirikan Komite Merembuk Hijaz. Komite ini dibangun dengan dua maksud, yaitu pertama untuk mengimbangi Komite Khilafat yang secara berangsur-angsur jatuh ke tangan golongan pembaharu, dan kedua, untuk berseru kepada Ibnu Su’ud penguasa baru di tanah Arab agar kebiasaan beragama secara tradisi dapat diteruskan48. Komite inilah yang diubah namanya menjadi Nahdlatul Ulama (NU) pada suatu rapat di Surabaya tanggal 31 Januari 1926. Rapat ini tetap menempatkan masalah Hijaz sebagai persoalan utama49. Sekalipun terdapat beda pendapat, akan tetapi kalangan Muhammadiyah dan Sarikat Islam maupun kalangan NU sama-sama memberikan perhatian besar terhadap keruntuhan khilafah Islamiyah dan memandangnya sebagai persoalan utama kaum Muslim.
Sikap ini lahir dari keyakinan bahwa Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim. Umat Islam Indonesia saat itu memandang Sultan Turki sebagai Khalifah50. Di antara tokoh Indonesia dari Sarikat Islam, HOS Cokroaminoto, menyatakan bahwa khalifah bukan semata-mata untuk umat Islam di jazirah Arab, tetapi juga bagi umat Islam Indonesia. Ditegaskannya pula bahwa khalifah merupakan hak bersama sesama muslim dan bukan dominasi bangsa tertentu51. Lebih tegas lagi, Cokroaminoto juga menyatakan selain dua kota suci Makkah-Madinah, khalifah adalah milik umat Islam sedunia. Ia menyarankan untuk mengirimkan utusan ke Kongres. Tujuannya untuk “mempertoendjoekan moeka terhadap oemat Islam sedoenia”, dan “melakoekan segala oesaha jang ditimbang bergoena bagi oemat Islam di negeri kita”. Di samping itu, mencari keterangan mengenai kelanjutan pemilihan khalifah52. Bahkan, beliau menganalogikan umat Islam laksana suatu tubuh. Karenanya, bila umat Islam tidak memiliki khalifah maka “seolah-olah badan tidak berkepala”53.
Penutup
Berdasarkan beberapa catatan sejarah di atas dapat disimpulkan bahwa kesultanan Islam di Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat dengan Khilafah Utsmaniyah. Bahkan bukti-bukti tersebut menggambarkan kesultanan Islam di Indonesia sebagai bagian tak terpisahkan dari Khilafah Islamiyah.
Hanya saja, disaat kekuatan Khilafah Utsmaniyah mulai melemah, penjajah kafir Barat (Inggris) melalui agennya, Mustafa Kamal, berhasil meruntuhkannya. Akibatnya, institusi pemersatu kaum Muslim sedunia itu pun lenyap dan wilayah negeri-negeri Muslim pun terpecah belah di bawah kekuasaan penjajah.
Sementara di Indonesia sendiri, pasca penjajahan secara fisik (militer), beberapa tokoh yang ingin membangun Indonesia berdasarkan sistem politik Islam, juga mengalami kegagalan akibat adanya ‘pengkhianatan’. Walhasil, Indonesia pun menjadi sebuah negara yang ‘merdeka’ atas dasar sekularisme dan nasionalisme. Hal ini menjadikan perpecahan negeri-negeri Muslim terus berlanjut dan menjadikan kaum Muslim tetap dalam kondisi lemah.
Merujuk pada kenyataan sejarah yang ada, tampak jelas bahwa upaya menyatukan kaum Muslim di berbagai negeri Muslim, termasuk Indonesia, atas dasar Islam merupakan sebuah keniscayaan sejarah. Bagi kaum Muslim Indonesia, perjuangan untuk melanjutkan kehidupan Islam dan menyatukan negeri Islam dalam kekhilafahan bukan semata-mata wujud ketaatan kepada perintah Allah SWT. Aktivitas tersebut sesungguhnya juga merupakan upaya untuk meneruskan sejarah, di samping upaya untuk melanjutkan perjuangan para Sultan dan Ulama Saleh terdahulu yang telah mempersatukan Nusantara dengan Khilafah Islamiyah. Sebaliknya, penentangan terhadap upaya ini merupakan wujud pengingkaran terhadap sejarah Indonesia, di samping pengingkaran terhadap perintah Allah SWT. [hizbuththarir]
Catatan Kaki :
[1] Uka Tjandrasasmita, “Hubungan Perdagangan Indonesia-Persia (Iran) Pada Masa Lampau (Abad VII-XVII M) daan Dampaknya terhadaap Beberapa Unssur Kebudayaan” Jauhar Vol. 1, No. 1, Desember 2000 hal. 32.
2 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Edisi Revisi (Jakarta: Prenada Media, 2004) hal. 27-28. 3Ibid. hal. 28
4 Farooqi, “Protecting the Routhers to Mecca,” hal. 215-6, dikutip dari Ibid hal. 44.
5 Metin Innegollu, “The Early Turkish-Indonesian Relation,” dalam Hasan M. Ambary dan Bachtiar Aly (ed.), Aceh dalam Retrospeksi dan Reflkesi Budaya Nusantara, (Jakarta: Informasi Taman Iskandar Muda, tt), hal. 54.
6 Azyumardi Azra, op.cit. hal. 44
7 Marwati Djuned Pusponegoro (eds.), Sejarah Nasional Indonesia, Jilid III (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hal. 54.
8 Metin Innegollu, op.cit. hal. 54
9 Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara ; Sejarah wacana dan kekuasaan. (Bandung : Rosda, 1997), hal. 116-118).
10Snouck Hurgronje, 1994, Nasehat-nasehat C. Snouck Hurgronje semasa kepegawaiannya kepada pemerintah Hindia Belanda; 1889 –1936. (Jakarta : INIS), hal. 1631.
11 Peunoh Daly, ‘Hukum Nikah, Talak, Rujuk, Hadanah dan Nafkah dalam Naskah Mir’at al-Tullab Kaarya Abd Raauf Singkel,” Disertasi Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah (Jakarta, 1982). Hal. 15-16.
12 Ibid. hal. 32
13 Ibid hal. 36
14Para khalifah Turki Ustmani sering disebut sebagai “Sultan Rum” karena menduduki Konstantinopel yang merupakan bekas Kerjaaan Romawi Timur. Ini merupakan hasil wawancara tim Hizbut Tahrir Indonesia dengan Prof.Dr. Uka Tjandrasasmita, Selasa, 11 Januari 2005.
15Azyumardi Azra, 2004, op.cit. hal. 36.
16 Ibid hal. 38
17 Ibid. hal. 36
18 Saleh Obazan, dikutip dari Azyumardi Azra, op.cit. hal. 40-41.
19 Dr. Yusuf ats-Tsaqafi, Mawqif Uruba min ad-Daulat al-Utsmaniyyah, hal. 37.
20 Saleh Obazan, op.cit. hal. 41
21 Marwati Djuned Pusponegoro (eds.), op.cit. hal. 33.
22 Azyumardi Azra, op.cit. hal. 42.
23 Lukman Thaib, “Aceh Case: Possible Solution to Festering Conflict,” Journal of Muslim Minorrity Affairs, Vol. 20, No. 1, tahun 2000 hal. 106
24 Metin Inegollu (the Ambassador of Turkey), The early Turkish-Indonesian Relations, Aceh dalam restrospeksi dan refleksi budaya Nusantara (Editor Hasan Muarif Ambary dan Bachtiar Aly), Informasi Taman Iskandarmuda (INTIM), Jakarta, tt, hal. 53-55.
25 Ibid, hal. 53.
26 Azyumardi Azra, op.cit. hal.. 43-44.
27 H.M. Zainuddin, Tarich Atjeh dan Nusantara (Medan: Pustaka Iskandar Muda, 1961) hal. 272-77; lihat juga, op.cit. hal. 44.
28Azyumardi Azra, op.cit. hal. 44-45.
29 Marwati Djuned Puspo dan Nugroho Notosusanto, op.cit. hal. 56.
30Ibid. hal. 96.
31 Ibid. hal. 257.
32Azyumardi Azra, op.cit. hal. 45.
33 Ali Muhammad Ash-Shalabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (Terj.), Pustaka Al Kautsar, tahun 2003, hal. 258-259.
34 Abd. Rahim Yunus, Posisi Tasawuf dalam Sistem Kekuasaan di Kesultanan Buton pada Abad ke-19, INIS Jakarta, tahun 1995, hal. 10.
35 W. Marsden, The History of Sumatra, London: Thomas Paine & Sons, 1783, 272, 283 dikutip oleh Ayzumardi, 2004, op.cit. hal. 33.
36 RZ. Leirissa, Shalfiyanti, dan Restu Gunawan, Ternate Sebagai Bandar Jalur Sutra, Jakarta: Ilham Bangun Karya, tahun 1999, hal. 59-60.
37 Mudzkirat as-Sulthan Abdul Hamid ats-Tsani, Pengantar oleh Dr. Muhammad Harb, Dar al-Qalam, 1412H/1991M, hal. 23.
38Hamid Al-Gadri, Islam dan Keturunan Arab dalam Pemberontakan melawan Belanda, tahun1996, Mizan Bandung, hal. 132-152.
39 Snouck Hurgronje, op.cit. hal. 1691.
40 Ibid, hal. 1740.
41 Abu Bakar Atjeh, Salaf, Gerakan Salaf di Indonesia. Pertama, Jakarta, hal. 103-104.
42 H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, tahun 1991, LP3ES Jakarta, hal. 81-82, dan 219.
43 Muhammad Zahid Abdul Fattah Abu Ghuddah, at-Tarikh al-Utsmaniy fi Syi’ri Ahmad Syauqi, Dar al-Raid Kanada, Cet. I, tahun 1417H/1996M, hal. 110.
44 Abdul Qadim Zallum, Konspirasi Barat meruntuhkan Khilafah Islamiyah (Terj.), Pustaka Thariqul ‘Izzah, tahun 2001, hal. 183.
45 Bandera Islam, 16 Oktober 1924
46 Bandera Islam, 8 Februari 1925. Lihat juga Deliar Noer, Gerakan modern Islam di Indonesia 1900-1942, tahun 1973, LP3ES Jakarta, hal. 242.
47 Hindia Baroe, 9 Januari 1925.
48 Deliar Noer, ibid. hal. 242.
49 Ibid, hal. 243.
50 Ibid, hal. 242.
51 Hindia Baroe, 9 Februari 1926.
52 Bintang Islam, bundel tahun 1927, hal. 19.
53 Hindia Baroe, 15 Januari 1926.
Catatan: Peringatan 81 tahun runtuhnya Khilafah Islamiyah di Turki, 3 Maret 1924 ......
Sumber: http://swaramuslim.net/islam/more.php?id=713_0_4_0_M
Minggu, 02 Mei 2010
"Imam al-Ghazali Melakukan Pembangkangan Sipil” (dari Diskusi KAMMI Pusat)
“Imam al-Ghazali dalam Prakteknya Melakukan Pembangkangan Sipil”
Markas KAMMI Pusat, Jl Gugus Depan Matraman Jakarta Timur
Rabu, 31 Maret 2010
Narasumber : Asep Sobari, Lc.
Notulensi : Amin Sudarsono
Peserta : Rijalul Imam, Deny Priyatno, Maukuf, Joko Wardoyo, Yudi Hermawan, Inggar Saputra, Syamsul, Erwin, Vina Nisrina, Sari Kurnia Nur Fath, Yumroni, Kamaludin, Ramli al-Banna.
Rijalul Imam:
Hamdalah, sholawat. Sebelumnya, terimakasih ustadz telah bersedia hadir pada diskusi rutin kita tentang politik dan peradaban. Kami biasa menyebut Halaqah Reboan. Untuk mengawali, tema yang kita angkat sekarang ada korelasi dengan isu yang hangat. Pertama Century, ternyata ada masalah pengambilan kebijakan, yaitu kebijakan yang neolib. Indonesia dijarah luar biasa. Problem pertama peradaban, di tengah Amerika turun, kita ingin peradaban alternatif yang harus menang di muka bumi, yaitu Islam. Buku Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib ada korelasi, yaitu kekuatan yang menginvasi Palestina adalah kekuatan Barat, Romawi. Pada saat yang sama, internal Islam rusak, kesenjangan terlalu luas. Identifikasi persoalannya ternyata sama dengan kondisi saat ini.
Menarik membaca terjemahan ustadz, ternyata Shalahuddin berhasil memenangkan perang global dengan satu konstruk sejarah yang luar biasa. Bukan karena Shalahuddin secara individu yang merebut Palestina, tapi kerja besar generasi. Saat membaca aslinya ternyata lebih obsesif judul aslinya, membuat kita sedih dan meratap. “Beginilah cara generasi Shalahuddin merebut al-Quds,” ini bahasa saya. Dalam konteks aktivis sangat bersemangat. Karena problem kita sama, Palestina masih dikuasai Zionisme.
Ternyata kami juga melihat formula penulisan sejarah di buku ini yang dahsyat. Saya dan Amin berasal dari jurusan Sejarah Peradaban Islam IAIN Sunan Kalijaga, merasa mendapatkan satu konstruk metodologi sejarah yang jarang digunakan di IAIN, karena di IAIN metodenya liberal. Pembacaan perubahan sosial secara sekuler, nggak usah bicara hati dalam sejarah. Di buku ini, ada keikhlasan ketemu penyiapan generasi. Pertemuan masyarakat yang luar biasa.
Spirit yang kita bangun dari diskusi ini adalah bagaimana cara membangun konstruk peradaban di Indonesia. Karena kita sudah merdeka, ternyata faktanya tidak merdeka, kita belum merdeka. Umat Islam masih merasa di luar struktur negara. Rata-rata tema pergerakan Islam di luar masalah negara. Padahal mestinya lebih memimpin. Konstruk ini yang hendak kami bangun. Di sini, kira-kira wacana apa yang harus kita gagas? Kini, seolah yang berhak mengelola negara hanya kaum nasionalis. Itu konteks indonesia.
Sementara internasional, braindrain internasional. Jadi ketika bicara Palestina tidak sekedar berwacana, tapi menyediakan gerakan utuh. Jangan hanya khilafah dalam spanduk, tapi bikin gerakan yang nyata. Tapi itu lebih tertata kalau membaca konstruk sejarahnya. Sebetulnya, ini diskusi yang sudah lama, kami sudah meminta sejak 2009. Saya ingat ketika ada yang meminta diskusi buku ini. Silakan dimulai.
Ustadz Asep Sobari, Lc:
Hamdalah dan sholawat. Saya ucapkan jazakallah khair atas kesempatan berbagi diskusi terbatas, agak lama baru terealisasi. Pertama, saya optimis buku ini sudah dibaca. Ketika kita sudah bicara bisa langsung ke masalah yang bisa ditarik sisi kongkretnya. Beberapa kali saya membedah buku ini—tidak terlalu tebal tapi banyak persoalan yang diungkap, sangat luas.
Kita dipaparkan pada satu model dalam sejarah, bahwa umat Islam itu pada dasarnya, dalam arti normatif benar-benar mendapat jaminan dari Allah sebagai umat yang paling tinggi. Ternyata implementasi keIslaman tiap zaman menjadi berbeda. Tapi di sisi lain, Allah dan Rasul-Nya memberikan satu jalan yang jelas bagi umat Islam untuk menemukan jalan keluar dari bersoalan umat yang sifatnya besar. Misalnya konsep pembaruan, tajdid, juga diberikan semacam yang lebih spesifik lagi, yang menurut saya tidak terbatas ruang waktu, yaitu konsep at-thaifah al-manshurah. Ini konsep dan bukan hanya identitas sebuah kelompok. Meski secara bahasa, artinya “golongan yang diselamatkan.”
Sebetulnya itu sebuah konsep. Konsep yang memberi jalan agar Islam kembali kepada keunggulannya.
Dan tajdid tidak terlepas dari thaifah ini. Dalam hadits dijelaskan, tidak ada pembaharuan kecuali dalam satu kurun. Di sini, ‘kurun’ tidak pasti dalam satu waktu tertentu, Qardhawi mengartikan generasi, ada juga 40 tahun. Intinya ini terjadi dalam jeda waktu yang cukup panjang. Nah, dalam jeda itu apa yang bisa diteropong umat Islam. Dari satu tajdid ke yang lain. Itu la tazal, akan selalu. Mereka selalu ditolong, menang karena kebenaran. Para sahabat pun mengkaji masalah ini. Jadi, yang penting, bukan Anda berada dalam kelompok siapa atau bersama siapa, tapi kamu sendirian. Jadi sebenarnya kalau dalam titik nadir juga ada.
Buku ini memaparkan sebuah model yang pernah ada dalam sejarah. Islam pernah terpuruk bahkan jauh lebih dalam dari Bani Umayyah. Itu menunjukkan secara mendasar umat sangat sehat pada masa Umar bin Abdul Aziz. Karena dalam waktu dua tahun, ada perubahan yang mendasar, setelah dari penguasa sebelumnya. Di grass root umat Islam sangat sehat, sampai zakat tak ada yang bisa menerima. Meski ada juga persoalan di tingkat elite.
Saat itu ada masyarakat dari unsur sahabat—yang tersisa sedikit—dan kalangan tabi’in. Secara umum mereka tidak ada masalah. Tapi berbeda dengan periode Shalahuddin. Kurang lebih 400 tahun sesudah itu, pembuktian kurun kehancuran umat Islam terlihat sekali dalam kekalahan di berbagai lini. Pemberontakan Buwaihiyyah yang berorinetasi Syiah Ismailiyyah, juga dinasti Fathimiyyah di Mesir. Yang kondisi ini menguatkan Eropa, yang masuk ke Palestina, saat itulah umat Islam betul-betul rapuh.
Jadi itu adalah momentum pembuktian saja. Konsepsi umat benar-benar rapuh. Kalau melihat cerita tentang perang salib di fase ini mengerikan, bagaimana pembantaian mengerikan, dalam satu hari bisa ratusan ribu dibantai. TANPA ADA PERLAWANAN! Ada pidato dan orasi, tapi mengapa ini tidak membangkitkan umat? Munasharah dimana-mana, tapi umat tidak bangkit. Pertanyaannya kenapa? Butuh waktu 60-an tahun untuk melahirkan generasi.
Dibatasi daerah Syam, kemudian muncul kekuatan yang bisa menghancurkan Dinasti Fathimiyyah—yang pengaruhnya sampai Baghdad. Padahal mereka punya sayap militer. Mereka bekerjasama dengan Hasyasyin—yang kemudian diserap dalam bahasa Inggris menjadi assassin (pembunuh bayaran). Kemudian, sayap militer Qaramithah, ada sayap intelektual Ikhwanus Shafa. Bahkan sampai bisa mengosongkan khilafah dalam satu tahun. Dinasti ini hancur, bukan hanya politik atau kekuasaan. Bahkan masyarakat yang orientasinya Syi’i kembali ke Sunni, ini ada penyehatan yang luar biasa. Serangan ini menghasilkan kekuatan baru di segala bidang—terutama intelektual. Ini fase sejarah yang penting. Bagaimana itu lahir? Pertanyaan besar, bagaimana Shalahudin bisa menang?
Selama ini Shalahuddin dipotong sejarahnya, hanya mengembalikan Palestina. Seakan yang dominan disitu adalah kembalinya kebangkitan Islam dengan kepemimpinan Shalahuddin. Tapi, dia lahir dari mana, dalam kondisi apa, atau itu adalah mu’jizat? Itu persoalan besar. Kalau kita memotong fase sejarah, sejarah Shalahuddin tidak akan terulang. Tapi kalau kita lihat sebelum dan sesudahnya, tampak thaifah manshurah. Ini dari konsep besar dan itu bisa diteropong sampai sepanjang massa.
Yang penting, Abbasiyah sebagai khilafah itu ada. Tapi, di masa itu pula pasukan salib. Terlepas dari masa khilafah ada, generasi Shalahuddin itu lahir. Artinya yang melahirkan Shalahuddin bukanlah khilafahnya, tapi dia lahir dalam konteks.
Shalahudin adalah juru bicara dari generasi yang sudah siap. Kalau bukan Shalahuddin, maka tetap akan ada jubir yang lain. Itu disiapkan generasi sebelumnya yang menyadari kerapuhan, lalu mendiagnosa, terapi dan melahirkan satu generasi. Meskipun mereka tidak merasakan buah dan jerih payah mereka sekian puluh tahun. Itu cakupan besar buku ini.
Buku ini membahas fase-fase yang menurut saya komprehensif yaitu melihat sejarah sebagai sebuah keutuhan, bukan penggalan-penggalan. Jadi, kajiannya bukan model lain dari yang sudah ada. Ini bukan hanya buku sejarah, tetapi FIKIH SEJARAH. Dia memahamkan kepada kita rangkaian-rangkaian peristiwa. Fokus utamanya adalah muslim bisa merebut Palestina. Tapi itu hanya penggalan. Banyak buku yang membahas itu, tapi tidak dalam konteks. Biasanya Shalahuddin jadi aktor tunggal. Di buku ini, cerita Shalahuddin menang kok bisa ya?
Apa yang terjadi di umat Islam selama 80 tahun sebelum kemenangan itu. Masa ketika kalah dengan mudah, dan ketika menang sangat heroik, tidak bisa dibendung Kristen. Apa yang terjadi selama 80 tahun? Buku ini tidak bicara banyak Shalahuddin, lebih banyak bicara umat dibangun lagi, satu tren—bukan hanya satu kelompok orang—arus pergerakan yang dipelopori para ulama yang tahu persis dan mengalami sejarah waktu itu karena keterpurukan.
Mereka membangkitkan semangat umat Islam. Saat munasharah gagal, khilafah tidak eksis. Khilafah tidak langsung menyelesaikan persoalan. Umat Islam berkali-kali terpuruk pada saat khilafah masih ada. Di luar itu justru yang terbangun. Bahkan cenderung melakukan perlawanan sipil yang sangat kuat sekali. Tapi bukan berarti melawan itu semua tidak diterima. Mereka punya prinsip yang jelas saat melakukan kebangkitan. Pemerintah tidak tanggung-tanggung untuk dilawan.
Nah, arus ini sangat kuat. Sulit menunjuk satu aktor tunggal. Cuma, fakta sejarah belum menggambarkan itu. Kalau baca sejarah klasik, yang kita dapati hanyalah kronologi. Tapi, kaitan satu sama lain tidak dijelaskan, melalui buku ini coba dijelaskan, buku ini fikih sejarah. Itu harus dikembangkan. Karena peradaban itu, lebih 1/3 al-Quran adalah kisah. Dan rasul dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah, tidak lepas dari arahan sejarah.
Sebelumnya, rasul dipaparkan kisah Nabi Musa secara gamblang. Bagaimana gambaran kaau sudah masuk fase konfrontasi. Dalam al-Quran itu jelas, memberi satu gambaran tentang sunnatullah dalam hubungan manusia dengan setiap kejadian yang terjadi –pada masa itu. Sikap mereka menghasilkan apa dan bagaimana. Ini yang penting bagi rasul untuk merekonstruksi umat sebagai kelanjutan nabi terdahulu.
Juga memberi gambaran pada beliau agar menjadi visioner. Misalnya saat Perang Khandak, yang sudah hampir kalah—10.000 pasukan mengepung kota kecil. Tiba-tiba Rasul katakan, Romawi akan takluk, Persia akan takluk. Itu bukan sekedar persoalan ilham, tapi ada indikator—sunnatullah—bahw
Lihatkah pada Hudaibiyah, Rasul menerima semua kesepakatan. Dianggap merendahkan oleh para sahabat, tapi Rasul tidak. Menurut Rasul, Quraisy mau tunduk bersepakat damai dengan Madinah itu sudah merupakan sebuah kekalahan. Dan bisa dilihat Makkah sudah lemah. Fathan mubnina itu bukan Makkah, tapi Hudaibiyyah, yang mengantarkan Islam ke kancah internasional. Rasul pandangannya jauh. Sebenarnya, itulah pentingnya sejarah. Mencoba rekonstruksi kejadian yang tampaknya tidak terkait menjadi terkait.
Umat Islam saat dihabisi pasukan Salib, seiring betul dengan lemahnya internal pada abad 4-5 hijriah. Memang ada pada tahun sebelumnya dan itu semakin menurun. Bahwa kerapuhan internal yang membuat umat Islam begitu mudah jatuh, terbukti Palestina. Bukan karena semata kekuatan musuh dari luar, tapi lebih pada kelemahan internal. Itu yang membuat perimbangan dengan luar. Kita secara internal terus turun dan menjadi lemah.
Ini diterjemahkan sebagai fase. Katakanlah, Mongol begitu hebat sehingga Baghdad hancur. Bukan begitu! sebetulnya umat Islam Baghdad sudah lemah. Mongol bisa masuk ke Syiria dan Mesir dan mereka kalah. Jadi kekuatan umat ada di internalnya pertama kali dan ini yang membuat saya berfikir bahwa konspirasi selalu menentukan akhir perjuangan kita. Dan kita menjadi ahistoris.
Sejak umat dibangun selalu ada konspirasi. Kenapa bisa menang, karena internal menang. Nah, ketika yang terjadi di Baghdad dahulu, atau Palestina sekarang, di sini dipaparkan bagaimana keterpurukan sosial, politik. Yang harus digarisbawahi, itu hanyalah gejala, ada masalah yang lebih mendasar—apa itu? Itu yang jarang dalam kajian strategis. Yaitu pemikiran, nilai, keilmuan dan keulamaan.
Karena apa? Pertama, ulama dalah warastatul ambiya. Titik Islam adalah nubuwat, karena ada wahyu dan implementasi. Itulah yang melahirkan peradaban. Bagaimana Khulafaur Rasyidin, mereka memiliki kekuatan legal dan otoritatif ’alaikum bisunnati wa sunnatil khulafaur rasyidin. Itu yang paling ideal 30 tahun dan harus menginspirasi. Dengan segala kondisinya, umat sejahtera sampai ada konflik antar sahabat, itu tetap masa ideal. Konfliknya tidak ideal, tapi bagaimana menyikapi konflik, itu yang ideal. Bagaimana para sahabat menghadapi hak yang sensitif dan krusial. Itu penting.
Nah, ketika ulama dikatakan sebagai pewaris, sebenarnya misi keulamaanlah yang menjadi susbtansi perjuangan umat Islam untuk betul-betul mempertahankan dan membangkitkan kembali kondisi umat. Nah, misi keulamaan itulah yang mencakup pemikiran, nilai dan pendidikan. Itu yang menjadi sorotan terbesar dari buku ini. Pemaparan lebih banyak diwarnai Imam al-Ghazali dalam hal ini. Imam al-Ghazali mewakili ulama saat itu yang membaca kenapa umat rapuh, buktinya umat Islam begitu rapuh. Imam al-Ghazali butuh 10 tahun untuk membaca sejarah ini, dan buktinya jelas, ada penyimpangan luar biasa. Kata ulama tolong jangan diartikan sebagai ’ustadz masa kini’, tapi lebih luas.
Ulama menyimpang dari risalahnya yaitu amar makruf nahi mungkar, padahal itu substansi umat. Ukhrijat linas, Allah memberi kemuliaan pada umat. Kuntum generasi awal Islam, ini bukan hanya awal. Kuntum khaira umat, itu sesudah. Tidak akan seluruh generasi itu menjadi mulia, karena ada syarat. Harus amar makruf dan iman. Sayyid Qutb kasih catatan, iman kenapa dimasukkan, karena amar makruf harus melalui sudut pandang yang jelas yaitu iman. Karena baik buruk di mata orang itu berbeda-beda. Itu kalau diserahkan pada manusia, tapi kalau iman ada standar sendiri mana baik mana buruk.
Amar makruf nahi mungkar sesuai sebenar-benarnya. Yang mungkar sudah dieliminasi oleh generasi awal Islam. Maka mereka mulia. Misi para ulama itu memberi penjelasan mana baik mana buruk dan ini akan menjadi corak kebijakan sosial politik, nah yang hilang di masa itu. Ulama sudah tren umum sudah rusak. Maka ada ulama dunia dan akhirat, ada yang terbungkus materi.
Ada pengakuan, setelah Bani Saljuk naik, ulama diangkat oleh penguasa. Awalnya baik tapi akhirnya berujung pada tragis. Ulama melihat posisi mereka di pemerintahan awalnya wasilah (jalan), kemudian menjadi ghayah (tujuan).
Saat itu, mulai hilangnya ulama saleh, yang memberikan pandangan dan penjelasan dalam fenomena kehidupan. Pemerintah mengambil kebijakan tanpa pandangan ulama, politik dan ekonomi rusak. Ini yang menjadi titik persoalan. Imam al-Ghazali akhirnya memutuskan menjadi tabib, dia bukan satu-satunya contoh—tapi memang sangat sulit mencari arus pergerakan masa itu. Imam al-Ghazali memberi pengaruh sangat penting.
Nah gejala-gejala tadi, yaitu kiblat pada politik dan fanatisme madzhab sangat bahaya. Madzhab itu menjadi pengkotakan, identitas sosial, padahal pada awalnya bukan begitu. Tapi fungsinya madrasah pemikiran yang masing-masing punya pendekatan metologi, untuk menyelesaikan persoalan yang tidak ada keterangan langsung dari al-Quran dan Sunnah. Pendekatan itu dilakukan para ulama, mereka satu sama lain, posisinya metodologi perbedaan itu bisa dimaklumi asal dalam kerangka keislaman. Jadi bukan sama sekali identitas sosial, tapi karena lama-kelamaan menjadi penunjang popularitas seseorang atau mencapai jabatan. Misalnya saat itu ada pejabat yang Hambali, semua ikut Hambali, yang lain dipersulit. Masing-masing antara ulama itu lalu bersaing untuk jabatan dan kehormatan. Itu dikritik luar biasa dalam Ihya Ulumudin.
Imam al-Ghazali itu dulu rektor universitas terelit di Nidzamiyyah, sangat penting kebijakannya menentukan. Imam al-Ghazali lalu menyelesaikan itu, pertama membentuk tren pendidikan baru—karena memang awal masalah adalah keulamaan. Ishlah Imam al-Ghazali tahap kedua, yang pertama melalui Bani Saljuk. Jadi dua ishlah model pertama jalur politik melalui Bani Saljuk—lahirnya Nidzamiyyah—tapi itu kerangka politik. Dia tidak sendiri dalam struktur politik. Sehingga ketika terjadi benturan di atas, yang jadi korban adalah pendidikan itu, universitas itu. Ulama yang awalnya ditujukan untik ishlah, akhirnya menjadi tujuan. Akhirnya Imam al-Ghazali keluar, padahal Nidzamiyyah masih hebat.
Imam al-Ghazali bikin madrasah sendiri, pendidikan sendiri, revolusi pendidikan untuk melahirkan generasi yang baru membawa risalah amar makruf. Yang dibahas adalah terminologi konseptual, sederhana dan lazim tapi substansinya mendasar. Misalnya membahas sabar, konseptual, dan itu diajarkan Imam al-Ghazali pada muridnya.
Polanya ada madrasah—untuk keilmuan rasional intelektual. Ribath—asrama didik sebagai miniatur masyarakat untuk mengimplementasikan nilai yang dipelajari di madrasah. Lahirnya generasi Syaikh Abdul Qadir Jailani dan kawan-kawan, mempengaruhi umat Islam dan sampai saat ini. Akhirnya melahirkan pemerintahan sendiri, sultan. Perlu diketahui saat itu khalifah satu tapi simbol. Tapi para sultan yang dibawah khilafah, mereka otonom sekali.
Ada satu sultan di Syam dipimpin Imadudin Zanki—ayah Nuruddin Zanki— paling banyak mengadopsi ishlah ini. Ini terwujud benar. Perlawanan terhadap Palestina yang dikuasasi Kristen sudah dimulai. Ini indikator, perlawanan yang dilakukan Nuruddin Zanki, pasukan salib kedodoran. Menunjukkan umat Islam sudah mulai sehat. Karena ada proses penyehatan mulai dari proses pendidikan.
Ishlah sebetulnya tidak terlalu tepat diartikan reformasi. Jadi gambarannya dalam buku ini, sebelum kebangkitan militer—yang biasanya jadi sorotan. Kesehatan pemerintahan Nuruddin Zanki dari kesehatan ekonomi, sosial, kesenjangan diminimalisir. Bahkan orang asing yang datang, dari manapun datang bisa dengan nyaman mendapat penginapan gratis, ganti kendaraan gratis. Sehat betul. Dan itu tidak terjadi di belahan dunia yang lain. Itu di masa Syaikh Abdul Qadir Jailani, itu kesultanan. Ibaratnya gubernuran. Setiap sultan menyebut khalifah pada shalat Jumat itu cukup, yang lain itu urusan sendiri.
Ada kisah tentang kehidupan pribadi Nuruddin Zanki, di masa itu dia butuh dana besar untuk perang. Dia butuh pajak, reformasi pajak kuat. Dalam ishlah, devisa negara terbatas, bahkan di saat kejayaan Islam masa Utsman—devisa terbatas—hanya dari zakat, ghanimah—yang hanya 20 %, jizyah sangat sedikit dari lelaki produktif saja. Kemudian kharaj lahan negara yang dikelola rakyat, ushur—semacam pajak perdagangan impor ekspor bea cukai. Di luar itu tidak ada. Orang mendirikan bangunan, PPn, PPh, orang jualan apapun, tidak dikenakan apa pun. Mereka hanya bayar 10 % saat masuk pertama selama setahun. Selama di pasar, muslim tidak ada pajak apapun. Pasar dibangun negara, bisa mengambil kios, tapi tidak permanen. Itu fasilitas negara, sebenarnya tidak banyak dari pajak.
Yang jelas, praktek pada berikutnya banyak pungutan, yang disebut dengan maks atau muqus, itu yang di luar yang asli, liar. Nah, saat itu Nuruddin Zanki butuh dana, ulama mengkritik harusnya nggak ada. Nuruddin Zanki menangis, saat itu juga, dia keluarkan semua. Di luar yang syar’i dihapus. Ternyata itu bukan melemahkan, masyarakat makin berani bisnis, semua orang diberi kesempatan sama, tidak ada riswah atau suap, ada peluang yang sama. Malah mereka makmur.
Lalu ditunjang dengan akhlaq. Zuhud, silaturahim, itu adalah instrumen ekonomi sangat penting. Itulah, Imam al-Ghazali kembalikan ke konsep sebenarnya. Zuhud bukan benci dunia, tapi lebih meyakini apa yang di tangan Allah daripada di tangan kita. Saat ada tuntutan, kita tidak berfikir ulang untuk mendanai setiap kebutuhan sosial. Karena orang kaya saat itu mereka zuhud tidak pernah takut dan menghitung-hitung.
Zuhud itu bukan konsep untuk orang miskin, apalagi malas. Tapi orang potensial. Saya kasih, nanti saya untung lagi. Dan saat itu, semua kesempatan terbuka sama. Pada masa Nuruddin Zanki, gerakan wakaf luar biasa. Orang luar akan aman, tidak takut kehabisan bekal, tidak ada copet dan dicukupi kebutuhan tiga hari, mandi air panas disediakan, ganti kendaraan juga bisa dengan yang baru. Itu kekuatan ekonomi, zuhud, silaturahim adalah instrumen ekonomi yang penting. Itu yang hilang sekarang, juga sebelum masa Nuruddin Zanki. Dengan kondisi itulah muncul militer yang kuat.
Penyakit sudah dibuang. Masalah keilmuan, konsepnya seperti apa, ekonomi, gaya hidup, semua berpengaruh. Yang penting ulama jangan mendunia, ulama menjadi arus yang spiritual, menyehatkan gejala yang tadinya sakit.
Nuruddin Zanki itu Hanafi, Ibnu Qudamah salah satu murid Syaikh Abdul Qadir Jailani itu Hambali, Shalahuddin itu Syafii. Itu bisa dalam satu arus kerjasama. Ini bisa terbayangkan. Padahal sebelumnya, perbedaan mazhab merupakan sumber perpecahan. Kalau hakim dari Hanafi, seorang dari mazhab Hambali. Hakim bilang, kalau ada kambing di kampung sebelah—Syafii, kamu ambil. Luar biasa, demikian parah betul. Perbedaan dan kotak gerakan. Sampai sekarang masih ada juga, mereka tidak akan menikahkan anak-anaknya dengan madzhab yang berbeda. Misi keulamaan menyediakan hak.
Dulu tasawuf dengan fikih berseberangan. Tawawuf merasa memegang kendali spiritual, intelektual fikih. Tasawuf bilang fikih hanya kulit, fikih bilang tasawuf bodoh. Imam al-Ghazali melihat, gabungkan semuanya, gabungkan antara fikih dengan tasawuf. Tren yang sama. Kita lihat perkembangan masa itu dan itu melahirkan generasi baru ulama, yang kemudian berperang besar dalam pergerakan militer.
Jenderal-jenderal Nuruddin Zanki adalah murid madrasah dari daerah Hakkari, tergabung dalam organisasi Syaikh Abdul Qadir Jailani, yang orang sekarang pahami sebagai maqam tasawuf yang membuat muktamar tahunan pada musim haji. Saat melihat Palestina, mereka melihat Fathimiyah yang Syiah, ini melihat jalur yang paling mudah dengan Eropa. Syiah membiarkan terbuka. Maka, tutup dulu jalur Eropa dengan Palestina dengan men-sunni-kan Mesir. Nuruddin Zanki bergerak, lalu berhasil setelah beberapa tahap. Asadudin Syirkuh pertama—paman Shalahuddin.
Itu tujuh tahun fasenya. Tapi sebelumnya, murid Syaikh Abdul Qadir Jailani sudah bergerak. Mereka berdakwah agar kembali ke Sunni. Nuruddin Zanki, melalui Asadudin Syirkuh dan Shalahuddin menyerang, ketika diselesaikan di atas, di bawah sudah selesai. Ini perpaduan yang sangat indah. Pergerakan di grass root itu lebih panjang dan lama.
Rijalul Imam:
Saya melihat kesalahan mempersepsikan, Syaikh Abdul Qadir Jailani terlalu tinggi, dia sebagai tokoh spiritual saja. Kok dipahaminya sangat mistis, padahal di buku itu pergerakan yang rasional dan luar biasa sangat aktual.
Asep Sobari, Lc:
Faktor pecahnya usai Syaikh Abdul Qadir Jailani, yang trennya menggabungkan spiritual dengan rasional. Kemudian pecah lagi, tren rasional ke Ibnu Qudamah dan lalu Ibnu Taimiyyah. Spiritualnya ke Qadiriyyah. Syaikh Abdul Qadir Jailani sendiri tidak begitu. Sebetulnya ada disertasi penulis buku ini yang menjelaskan Qadiriyah sejak madrasah sampai tarekat saat ini. Ini perlu dikaji secara komprehensif.
Tentang Syaikh Abdul Qadir Jailani dan Imam al-Ghazali. Sosok ini kontroversial, secara akademik dan dunia Islam. Imam al-Ghazali lebih diidentikkan filosof, pengkritik filsafat, juga sufi yang pasif. Itu melahirkan umat yang apatis terhadap kondisi umat Islam saat itu. Tulisan Imam al-Ghazali tentang umat Islam yang sedang mengalami dilema peradaban, buku-buku Imam al-Ghazali tidak ada satupun yang menyebut jihad. Itu yang membuat orang-orang menyebut Ghazali pasif. Padahal, di buku ini, Imam al-Ghazali adalah tokoh sentral gerakan peradaban—jihad. Militer tidak berdiri tanpa aspek lain yang sehat.
Menarik juga di buku ini, Imam al-Ghazali tidak menyebut jihad, itu iya. Tapi yang jelas tidak ada ajakan yang heboh dari Imam al-Ghazali untuk berjihad secara militer. Menurut penulis buku, itu justru pemahaman yang mendalam atas persoalan masanya. Itu adalah orang sekarang. Yang sekarat nggak bisa melakukan apapun, apalagi jihad. Dan itu yang luar biasa dari Imam al-Ghazali. Dia sangat paham akan kondisi masanya. Yang dia hantam adalah aliran kebatinan. Karena bahayanya adalah penafsiran dan teks.
Kebatinan punya metodologi tafsir yang sangat rancu. Namanya kebatinan ya metodologinya nggak ada. Al-Quran ditafsirkan mereka sebagai normatif dan tidak mengakar. Padahal, al-Quran riil sekali, al-Quran bicara tentang apa dan kemana. Itu dikembalikan Imam al-Ghazali, dia menghantam kebatinan. Dan saat itu, orang yang mengkritik kebatinan ancamannya luar biasa. Kebatinan sebuah aliran, waktu ancamannya bisa dibunuh, Hasyasyin termasuk gerakan kebatinan. Imam al-Ghazali sangat berani. Ilmu kalam yang lebih pada jadal (perdebatan) teologi, masalah akidah dan tauhid menjiwai justru menjadi wacana. Itu dikritik Imam al-Ghazali lewat bukunya. Itu akar persoalan umat.
Imam al-Ghazali dalam prakteknya, melakukan pembangkangan sipil. Membuat tren pendidikan sendiri, radikal revolusioner, dengan materi dan kurikulumnya. Meski secara disiplin fikih, tafsir, biasa, tapi ada pemurnian dalam hal ini. Nah, yang menjadi pertanyaan, apa yang menjadi dasar pemikiran Imam al-Ghazali dari yang dilakukan itu? Selain pengalaman sejarah.
Imam al-Ghazali memiliki landasan filosofi yang mendalam, dari hadits Rasul terdapat pendekatan amar makruf nahi mungkar saat kepentingan publik tersedot oleh kepentingan kelompok. Saat yang bermain di umat hanya beberapa kelompok. Idza roaita... wahanan mutaba’an—dan nafsu diikuti, dan setiap orang cerdik pandai membanggakan pendapatnya sendiri, dan tidak bisa menyatu dalam satu bagian interaksi. Muncul ego dan rivalitas, di saat kondisi itu engkau tidak bisa menyelesaikan semuanya. Maka jangan terjun atau berfikir terjun selesaikan semuanya. Tapi, mundurlah, sibukkan dirimu dengan urusan pribadimu. Bersama orang-orang yang seide, tinggalkan yang umum. Mundur dari tren, tidak ikut berdebat, meski ramai orang berdebat. Tidak perlu mengumbar argumentasi ketika argumentasi hanya sebagai komoditas.
Jika tidak mungkin memperbaiki, jauh lebih besar kapasitasnya, maka mundur. Pertama membuat evaluasi internal, lalu komunikasi seide, setelah mampu kapasitas yang sesuai, kembali ’audah ke arus. Membuat arus. Maka setelah 10 tahun itu, Imam al-Ghazali dan teman-temannya membuat madrasah sendiri. Imam al-Ghazali dihujat, buku-bukunya dibakar di Maroko. Tapi, orang yang terinspirasi Imam al-Ghazali menghafal Ihya Ulumudin bagaikan al-Quran. Imam al-Ghazali membuat arus baru.
Kalau kita berfikir, terus kalau gitu kita tidak peduli? Kita tetap peduli, dalam kapasitas terbatas, tidak semua potensi dicurahkan pada persoalan yang sulit. Jangan masuk ke medan fitnah (yaitu suatu masalah yang tidak ada ujung pangkal yang bisa diselesaikan), misalnya terbunuhnya Utsman, sahabat tidak tahu bagaimana, tapi perang harus diselesaikan. Sikap ini hebat.
Intinya, dalam kondisi fitnah seperti itu, ide dan nilai, hanya bagian dari komoditas. Orang hebat dan cerdas, diterima idenya hanya untuk menguntungkan—pengiklan, televisi, dll. Itu sayang, maka Imam al-Ghazali lebih baik membangun. Sepuluh tahun dia membangun, lalu kembali membentuk madrasah sendiri. Bahkan Imam al-Ghazali, saat itu ada kaum Murabithin di Maroko, dengan gagasannya tentang kesatuan umat. Jadi Imam al-Ghazali bukan mundur pasif, dia paham betul bagaimana menyelesaikan persoalan ke akar. Mundur sementara, merasa cukup dan membuat arus, yang dikembangkan Syaikh Abdul Qadir Jailani.
Syaikh Abdul Qadir Jailani membuat madrasah pusat, lalu ke cabang, mereka punya tren pemikiran yang sama. Mereka punya kerangka ishlah yang sama. Maka ketika mereka dapat kesempatan Nuruddin Zanki, semua dipasok madrasah ini. Misalnya Hakkar, jenderal berasal dari murid-murid Syaikh Abdul Qadir Jailani. Mereka masuk ke politik. Saat itulah ulama kembali ke politik dengan wacana, konsep dan pandangan hidup yang berbeda. Itulah yang membedakan kesultanan Nuruddin Zanki. Bagaimana mereka menyelesaikan Fathimiyyah yang sudah 300 tahun berdiri. Diselesaikan dua gerakan yang tampaknya terpisah, tapi harmonis dan tujuan yang sama.
Jika kita ingin menyelesaikan hanya dengan cara politik, saya yakin akan gagal. Waktu itu kekuatan Nuruddin Zanki dan Shalahuddin tetap butuh tujuh tahun. Sebenarnya di bawah (grass root) bersama rakyat jelata ada Ibnu Najah dan kawan-kawan yang bergerak. Tidak menyelesaikan masalah sendiri. Saya merasa, gambarannya sekarang semua instrumen seakan menjadi bagian dari struktur politik atau bagian politik. Itu kerugian besar, tafaqquh dan yang membentuk pandangan hidup tidak menjadi prioritas. Padahal itu adalah penunjang.
Rijalul Imam:
Usia antara kita dengan generasi Imam al-Ghazali hampir satu milenium. Ulama merupakan waratsatul anbiya. Baik, ada yang mau ditanyakan?
Maukuf:
Kalau ana melihat, ada tulisan akh Rijalul Imam tentang Sulaiman. Ana ingin memetakan yang tadi disampaikan pada titik tertentu. Ana lihat dua masa, kelam dan terang. Ana melihat buku ini adalah peta kebangkitan. Shalahudin memiliki modal dasar, kompetensi dasar apa yang ada di sana. Daya dukung dan sumberdaya strategisnya apa saja?
Daya dukung yang ana lihat hanya alim ulama, belum ada yang lain. Apakah itu saja? Untuk kebangkitan peradaban, basisnya ilmu. Kedua, jika kita kaitkan dengan kondisi saat ini, Indonesia mau bangkit darimana? Padahal banyak para ulama. Jangan-jangan masa ini justru misteri masa kelam itu?
Asep Sobari, Lc:
Yang ditonjolkan masa itu adalah ulama. Tapi jangan ditafsirkan ulama itu mubalig atau ustadz di masa sekarang. Karena sekarang dikotominya sudah terlalu kuat. Dan itu didukung oleh fakta. Seorang yang belajar fikih, bisa dikatakan sebagai ulama. Padahal belum tentu tahu tentang tafsir. Atau sebaliknya. Atau guru besar sejarah Islam Indonesia, mengomentari sejarah awal Islam dan hasilnya rancu, muncul kesalahan besar.
Sebelum menguasai Palestina, Nuruddin Zanki sudah membuat mimbar yang kemudian diletakkan di mihrab Masjidil Aqsha. Itu visi. Dan yang paling memahami Nuruddin Zanki adalah Shalahuddin. Saat Nuruddin Zanki mati agak goyah, tapi Shalahuddin bisa menyambungkan kembali antara Mesir dengan Syam. Kekuatan Shalahuddin pelanjut dari Nuruddin Zanki. Yang unik juga, para jenderal saat itu adalah murid madrasah. Mereka menguasai ilmu syar’i. Struktur negara dipasok oleh murid madrasah. Bukan sekedar ulama dalam konteks, tapi masalah keilmuan. Hal ini berbeda dengan masa sebelumnya, dimana siapa yang ganas, bisa jadi jenderal.
Masuk bagian doa Rasulullah. Kita minta agar jangan sampai dunia menjadi hasrat kami yang tertinggi dan puncak pencapaian kami. Kalau sekarang, dalam dunia pendidikan, link and match kan kesana. Filsafat pendidikan jauh, itu yang bikin ilmu jadi rendah. Itulah, karena manusia pola dan trennya materialistis. Yang paling tinggi bayarannya adalah artis, host acara TV. Kalau guru ngaji ongkosnya hanya bensin. Intinya ini lebih pada tren masyarakat. Para ulama keikhlasan dijunjung tinggi.
Saya kemarin bayar SPT, dimasukkan sebagai pengusaha. Saya bilang, saya guru ngaji, masak disamakan dengan pengusaha. Karena tidak ada pekerjaan tetap. Kalau pengusaha ada berlembar-lembar kertas yang harus ditandatangani, masak saya disamakan pengusaha. Hahaha.
Dalam masa Zanki, selama 50 tahun, banyak menghasilkan banyak tokoh besar yang kontributif terhadap perubahan. Ini sunnatullah, bahwa tidak ada satupun, individu, etnik atau bangsa yang dicipta untuk terbelakang. Tinggal, bisa nggak dia menguasai sunnatullah untuk bangkit. Dan itu yang diajarkan Islam.
Di jaman jahiliyyah, susah lahir pemimpin, kalau lahir toh dari gen tertentu. Tapi, ketika Rasul membangun dalam kurun 15 tahun lebih, bisa melahirkan 40 jenderal, kurang lebih yang dalam 99 % perang itu menang. Dan mereka dari gen berbeda-beda, dari orang yang dianggap maupun tidak dianggap dari struktur sosial. Dan, disitulah kekuatan Shalahuddin. Mereka tahu harus bagaimana.
Deny Priyatno:
Insihab (mundur) itu kan kontemplasi. Bisa membaca seluruhnya secara utuh. Bagaimana secara utuh. Negeri ini harus melakukan redefinisi. Saya pikir ini pas. Gerakan pemuda seperti apa yang harus lahir? Kita membicarakan kekinian. KAMMI menciptakan madrasah itu di sini. Di gerakan kalau berkiblat pada politik saja bagaimana?
Asep Sobari, Lc:
Kalau kita inginkan lahir Imam al-Ghazali sekarang itu susah. Thaifah manshurah itu konsep Mahdi. Imam Mahdi akan datang bukan pada saat umat berantakan. Mahdi datang sebagai rangkaian, dia datang sudah melalui tahap, umat sudah rapi. Bahan-bahan itu ada, dan itu ditakuti Barat. Mereka tahu dan sadar betul, peradaban itu bergulir, karena itu mereka tidak ingin ada yang menyadari hal itu. Meski teks-teks Islam—al-Quran, hadits, dan sejarah—tafsirnya dikuasai mereka.
Saya menganggap serampangan terhadap penulisan sejarah Islam yang selalu identik dengan militer. Padahal sejarah itu bukan hanya militer. Ada yang lebih kokoh dari sekedar itu. Coba bayangkan, bagaimana kekuatan militer bisa menyaingi Persia dan Romawi? Padahal baru 15 tahun usia Islam? Bagaimana strategi Umar menguasai, bukan memperbanyak tentara, tapi dengan gerakan keilmuan. Jaman Umar bahkan sangat kuat. Seusai perang baru jadi guru ngaji. Abu Darda’ itu, setiap malam ada 1.200 orang di masjidnya. Ada 120 halaqah, satu halaqah 10 orang. Kita bagaimana?
Perang yang diterjuni Rasulullah ada 28, selama hidup ada 80 perang. Tapi, tetap lahir puluhan ribu hadits. Padahal, ada 10 perang dalam setahun, kalau dipikir, kapan beliau bicara. Kalau hanya militer, kapan beliau bicara tentang cara masuk WC, tentang cara makan? Ini yang luput dari kita sejak sekarang, yaitu peradaban ilmu. Jadi, sampai dimana kita? Tugas regenerasi dalam Islam. Walaupun tidak ada generasi mendatang yang lebih baik dari sebelumnya. Ini tugas kolektif.
Usamah bin Zaid tidak canggung. Sekarang, anak muda canggung karena ada senioritas. Saya tertarik menulis buku pemimpin muda. Pasukan Usamah sangat hebat, di bawahnya ada para senior. Membuat anak muda percaya diri tapi tahu diri. Misi Usamah sukses betul. Saat menggerakkan pasukan ke Syam. Mereka berfikir, Madinah lemah, tapi kok memberangkatkan ribuan orang untuk melawan Romawi? Justru karena itu, daerah utara itu tidak ada yang murtad. Mereka justru berfikir, wah ini berarti Madinah kuat sekali. Romawi bahkan tidak berani menyerang Madinah.
Jadi, nggak usah bikin tokoh muda. Cukup tokoh saja. Asal kapasitas keilmuannya memadai. Tahun 2014 itu kekosongan calon pemimpin Indonesia. Itu juga sudah banyak prediksi. Kalau dulu itu sudah bisa dilihat, bisa diteropong. Masa Nuruddin Zanki sudah bisa diprediksi. Kalau kitasekarang kebanyakan menunggu satu generasi habis, baru berfikir pengganti. Wallahu a’lam. KAMMI harus kesana mustinya.
Rekomendasi ada di halaman belakang buku ini. Mereka yang merumuskan adalah orang cerdas. Dan mereka berpengaruh, mereka juga soleh. Ada kesinambungan yang kuat, misalnya ikhlas dalam showab. Aspek ketepatan. Tidak cukup kita syar’i. Ini adalah cermin dari al-Quran dan sunnah. Kita dalam framework tauhid, implementasinya bagaimana Rasul menjalankan agama ini. Agama itu kan aspek praktis. Sirah adalah praktek, bukan hanya item per item. Kita bisa memandangnya dalam sirah. Generasi tabi’in bercerita, kami diajari sirah sebagaimana ayah kami mengajarkan al-Quran kepada kami. Insihab (mundurlah), dan bangun peradaban!
Rijalul Imam:
Banyak yang berminat untuk schooling tapi tidak berminat learning. Hanya sekolah saja.
Asep Sobari, Lc:
Kalau tentang kehausan pada ilmu, masih sama. Tapi tujuan berilmu bergeser. Kekacauan pada masa Umayyah dan Abbasiyyah juga sudah terjadi, tapi tetap saja tradisi keilmuan muncul. Sebenarnya saat itu pandangan tentang ilmu itu jelas. Belajar tidak pernah berhenti. Imam Nawawi kan ada di masa kacau. Hampir di ujung kekuasaan Abbasiyyah. Kalau Ibnu Taimiyyah, lahir 4 tahun di ujung Baghdad hancur. Tapi ilmu dipentingkan keluarga mereka. Itu adalah tradisi, ilmu begitu tinggi dan begitu mulia.
Masalahnya sekarang adalah tujuan kelimuan dan risalah keulamaan tidak terealisasi. Intinya, ada disfungsi keilmuwan dan ulama. Tapi masa kelimuan sampai abad 10 masih kokoh. Tapi setelah itu keilmuan terpuruk.
Lihat fragmen ini. Ibnu ’Aqil yang hidup di awal Perang Salib disebutkan kalau makan memilih yang lembek dan cepat masuk. Karena dia harus menulis lagi. Pada masa itu, lapar bukan jadi persoalan. Makan bukan menjadi kegiatan yang khusus, sampai nggak sempat mereka. Ad-Dzahabi menyebutkan, dia menemukan jilid ke-401 dari buku Ibnu ’Aqil. Padahal jelas nggak menulis saja pekerjaannya. Dia punya aktivitas lain. Demikian juga at-Thabari, 84 tahun usianya punya buku hingga 500 jilid.
Rijalul Imam:
Saya mengutip Hery Nurdi: saya tidak khawatir dengan muslim di Palestina, karena mereka tetap bisa beribadah, kualitas keimanan meningkat, hafalan lancar, anak banyak. Tapi, saya justru lebih khawatir muslim di Indonesia, yang kualitasnya minim. Menurut saya, insihab jangan kolektif. Mundur jangan semuanya.
Asep Sobari, Lc:
Saya tidak setuju juga kalau perjuangan wilayah politik dikosongkan. Hanya orientasinya yang harus jelas: peradaban. Bukan hanya material. Misalnya Syaikh Abdul Qadir Jailani, punya madrasah markaziyah yang cabangnya ada di mana-mana. Lalu diambil yang potensial, ditariknya ke Baghdad, karena selain ibukota juga banyak ulamanya, lebih kongkret. Contohnya Ibnu Qudamah dari Palestina—anak pengungsi—ditarik ke Baghdad selama 2 tahun, lalu berguru setelah Syaikh Abdul Qadir Jailani meninggal, lalu kembali ke Baitul Maqdis.
Revolusi pendidikan itu bentuknya ya pesantren. Sebagai sebuah sistem, pesantren diakui di Indonesia, bisa independen dan punya racikan kurikulum sendiri. Aspek moral lebih terasa dibanding sekolah umum. Masalahnya, bagaimana membuat pemerataan gerakan itu. Makanya, braindrain itu kalau dibuat polanya akan sangat relevan. KAMMI punya melting pot. Jangan hanya dikumpulkan dalam seminar, tapi kesosialan juga.
Rijalul Imam:
KAMMI ada 47 cabang, satu di luar negeri yaitu Jepang. Dulu ada rencana madrasah markaziyah. Intelektual di jogja, jaringan jakarta, sosial preneur di solo. Kita mencoba bangun itu. Masalahnya adalah tim instruktur. Kita tidak punya murabbi sekualitas zaman Nuruddin Zanki itu. Kita tidak ada murabbi yang siap membina sekaligus connect dengan materi gerakan. Dari pengkajian menjadi pengajian. Semoga bisa segera teralisasi, dan KAMMI meniru peradaban masa Zanki.[]
Data Buku
Pengarang : Dr. Majid ‘Irsan al-Kilani
Judul Asli : Hakadza Zhahara Jil Shalahuddin wa Hakadza ’Adat al-Quds
Judul Indo : Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib
Penerbit : Kalam Aulia Mediatama, 2007
Penerjemah : Asep Sobari, Lc dan Amaludin, Lc., MA.
Mbah Priok Nggak Pernah Nikah. Ahli Waris Mbah Priok Palsu?
Quote:
1. Sejarah penamaan Tanjung Priok yang berasal dari Priok yang menyelamatkan Habib Al-Haadad dari tenggelamnya kapal lalu kemudian prioknya ditanam di samping makam, lalu di atas priok itu tumbuh pohon, adalah hoax
Penjelasan : Sebenarnya, nama Tanjung Priok berasal dari abad 1 Masehi, ketika itu masyarakat pribumi yang masih primitif dan belum mengenal Perahu layar yang besar menyebut perahu Bangsa China dan Arab dengan nama Sampan Priok, yang artinya Periuk raksasa. Perahu-perahu itu bersandar di pantai yang luas, sehingga disebut Tunjung Periok, artinya Tanah tempat Periuk besar. Pada abad-abad selanjutnya, secara kebetulan pula perdagangan meningkat, masyarakat setempat yang banyak pengrajin Periuk menimbun barang dagangan mereka di atas rakit-rakit bambu di pantai.
2. Habib Al-Haadad lahir pada 1727 dan wafat pada 1756 adalah hoax
Penjelasan : Habib Al-Haadad adalah keturunan ketiga (cicit) dari SUltan Hamid dari Palembang. Sultan Hamid sendiri wafat pada 1820 dalam usia 70 tahun (lahir 1750), bagaimana mungkin cicit duluan lahir daripada kakek buyut?
3. Habib Al-Haadad adalah salah satu pe-nyiar agama di Jawa adalah hoax
Penjelasan : Habib Al-Haadad memang berniat untuk melakukan syiar agama di Pulau Jawa. Dia mendengar kisah Faletehan dan Para Wali, sehingga merasa terpanggil untuk datang ke Jawa.
Pada usia yang sangat muda ia berangkat ke Nusa Kelapa (Jakarta). Tapi di tengah perjalanan kapalnya karam, dan diapun selamat karena tertolong periuk yang dipakainya buat menopang samapai ke pantai. Setibanya di Pantai, dia ditolong masyarakat. Diapun mengakui bahwa dia keturunan Sultan Palembang yang ingin melakukan syiar di Jawa. Mendengar hal itu masyarakat setempat menjadi senang, karena kebetulan mereka membutuhkan seorang habib untuk mendampingi Para Habib di Priok.
Dia sendiri tidak pernah melakukan syiar agama kemana-mana, dia hanya menjadi penceramah agama di daerah Tanjung Priok sampai meinggal setahun setelah selamat dari tenggelam itu.
4. Tanah Makam adalah milik Habib Al-Haadad adalah hoax
Penjelasan : Habib Al-Haadad adalah Habib ke 11 yang dimakamkan disana. Habib pertama yang dikubur disana adalah Habib Abdullah bin ALatas, seorang Habib dari Kebun Jeruk yang meninggal pada 1760, selanjutnya masih ada 9 Habib lainnya sebelum terakhir adalah Mbah Priok. Yang paling terkenal dari 11 itu adalah Habib Luar Batang yang hidup pada masa bersamaan dengan Habib Al-Haadad. Habib Luar Batang sangat dihormati oleh orang Betawi, bahkan narasumber (Ridwan Saidi) diberi nama Ridwan oleh Habib Luar Batang ini pada awal abad 19.
Keturunan 10 Habib sudah pernah menyerahkan tanah makam tersebut kepada Pemerintah Belanda dan Indonesia karena makam tersebut sudah bercampur baur dengan makam masyarakat.
Kecuali (orang yang mengaku) sebagai Ahli Waris Habib Al-Haadad, justru mengajukan SUrat Hak Evigendoom.
5. Habib Al-Haadad punya keturunan adalah hoax,
Penjelasan : Habib Al-Haadad sampai saat wafatnya belum pernah menikah, apalagi sampai punya keturunan, sehingga dipertanyakan, siapa sebenarnya orang-orang yang mengaku Ahli Warisnya?
6. TPU Semper sudah memiliki 11 Makam Habib sejak 1997, sehingga dipertanyakan, kalau memang jasad Mbah Priok masih di Koja, lalu siapakah yang dipindah dan dimakamkan di Semper?
Pada akhir wawancara, Alwi Shahab meminta agar masalah Makam Mbah Priok jangan dikait-kaitkan dengan sejarah yang justru menjadi pengaburan sejarah.
Bila ada yang merasa sebagai ahli waris dan menganggap memiliki tanah tersebut, silahkan ditempuh jalur hukum, dan jangan mengaitkannya dengan sejarah, karena mereka tahu persis bahwa banyak sejarah yang dilencengkan pada kasus Makam Mbah Priok ini.
taken from note fb-nya Mas Amin Sudarsono http://www.facebook.com/note.php?note_id=388492349916