Tampilkan postingan dengan label nikah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nikah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 September 2011

Ini Tentang Pertanyaanmu

Beberapa waktu lalu, Ukhti X, rekanku di sebuah perusahaan dulu mengirimiku sebuah pesan singkat. Isinya benar-benar singkat: "Akhi, antum sedang sibuk gak?"

Saya yang kebetulan waktu itu sedang tidak sibuk langsung saja meneleponnya. Maklum saja, ini memanfaatkan fasilitas nelpon seribu sejam oleh sebuah operator. Begitu mengucap salam dan saling bertanya kabar, dia kembali bertanya apa saya sibuk. Saya bilang tidak, lalu ada apa? Dia menjawab, "Ada yang mau ana tanya, mau minta pendapat antum, tapi via sms aja, ana agak gugup soalnya bicara ini."

Berselang beberapa menit kemudian, tibalah sms yang dijanjikan. Bunyi detailnya begini:
Gini, Akh. Akhi Y dan Z secara bersamaan ngajuin proposal ke ana. Ana yakin antum pasti nyuruh ana istikharah. Ana maunya, sebelum istikharah dengar pendapat dulu. Menurut antum, di antara mereka berdua, yang mana yang lebih baik untuk ana? Dua2nya udah kenal ana dan keluarga. Jawabnya via sms atau e-mail aja ya, Akh. Ana agak gugupan kalau bicara soal kayak gini. Oya, sebelumnya ana kemarin juga sudah dapat proposal dan hasilnya istikharahnya tidak. Tolong pertimbangkan juga soal kemungkinan fitnah, dll ya, Akh..

Wadow! Wat de....
Ini untuk ke sekian kali dimintai nasehat dan pertimbangan dari teman sebaya, adik-adik maupun mereka yang lebih tua. Seolah saya sudah begitu expert dan pengalaman. Padahal saya baru sembilan bulan menikah. Belum benar-benar merasa asam garamnya pernikahan.

Lapor komandan! Dari batalyon infantri Brawijaya bla..bla... menyampaikan ada sms masuk. Segera dibaca! Laporan selesai. 

Nada sms saya kembali merepet. Sms lanjutan dari Ukhti X masuk lagi.
Ana nanya ke antum karena antum mengenal mereka berdua dan antum sudah nikah. Oya, murabbiyah ana sudah menyerahkan sepenuhnya pada ana.

Hmm... Saya mulai memutar otak. Menimbang-nimbang. Baru dua hari setelahnya -sesudah diskusi dengan istri juga- saya mengirim jawaban padanya melalui message di facebook. Jawabannya saya buat dalams sebuah tulisan berjudul "Ini Tentang Pertanyaanmu". Begini isinya:

Ini Tentang Pertanyaanmu

Assalamu'alaikum

Ukhti X yang dimuliakanNya karena telah bertetap hati memilih jalanNya,
Menjawab pertanyaanmu itu sungguh berat. Seberat selusin karung beras membebani pundak. Sebab ini bukan remeh temeh. Sebab ini menyangkut masa depan. Kata seorang bijak, "Salah memilih pasangan hidup akan membuat kita menyesal seumur hidup." Sebab karena memang kita meniatkannya hanya sekali seumur hidup, hatta bagi seorang lelaki sekalipun akan berpikir ribuan kali untuk menikah kedua kali.

Namun, aku harus tetap menjawab pertanyaanmu. Yah, mungkin ini tak bisa menyelesaikan semua gundahmu. Tapi setidaknya aku harus memenuhi kewajiban sebagai saudara seiman. Bukankah ini adalah tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa?

Tetapi aku harus ingatkan, bahwa meskipun aku berupaya seobjektif mungkin, tetap saja pendapat ku ini dipenuhi dengan subjektivitas. Semuanya menurutku. Sependek yang aku tahu dan alami dari pengalaman empiris membersamai mereka. Bahkan kau sebenarnya lebih mengenal mereka. Karena kau mengenal mereka sebelum aku mengenal mereka. 

Saudariku yang baik,
Begini saja. Aku akan langsung utarakan pendapatku. Menerima proposal dari dua ikhwan sekaligus adalah "kemewahan" bagi seorang akhwat. Karena di luar sana ada banyak akhwat yang sudah kelelahan menunggu. Bahkan sampai usia kepala empat. Hingga kemudian mereka "mengikhlaskan" suami mereka bukan "tempaan tarbiyah". Asalkan hanif, asalkan shalat, asalkan bisa baca Qur'an sampai di ujung klimaksnya bagi yang tak sanggup bersabar: asalkan dia muslim dan mau. Sebagian lain memilih menempuh jalan sunyi: melajang untuk sementara sembari tetap mengikhtiarkan upaya dan doa agar lekas menemukan teman bersanding di pelaminan. Jadi, pertama kali syukurilah kedua proposal itu.

Nah, sekarang mari bicara soal fitnah yang kau khawatirkan. Pernyataanmu kemarin yang mengingatkan soal ini seolah ingin mengeliminasi Akhi Y. Padahal, jikapun jadi dengan Akhi Z, bukankah peluang timbulnya fitnah tetap ada? Karena kita semua satu tim dalam organisasi XYZ. Itu sudah cukup untuk setan melakukan propaganda bejatnya: aktivis dakwah pun pacaran di balik mihrab wajihahnya. Menurutku, dalam hal ini, mereka berdua sama saja. Meskipun Y sebenarnya sudah jamak diketahui publik (yang mengenal kalian berdua) bahwa dia menaruh hati padamu.Tapi itu semua bisa dijawab. Syariat tak mengharamkan cinta pranikah. Dia fitrah yang tak boleh dibunuh, tapi ia harus dipelihara sesuai tuntunannya. Dan menikah adalah jawabannya.

Lalu, bagaimana kau harus memilih? Seperti kata hadits Nabi, lihatlah agamanya. Mereka berdua kader tarbiyah. Terbina dengan baik insya Allah. Tapi apakah rutinnya mereka ikut halaqah pekanan sudah cukup menjadi jaminan? Tentu tidak. Sebab ikhwan itu tak sesempurna Fahri, Azzam ataupun Mas Gagah. Oleh sebab itu, manfaatkanlah ta'aruf untuk lebih memahaminya. Kalau perlu, tanyakanlah pada murabbi mereka tanpa sepengetahuan mereka. Karena lembar mutabaah yaumiyah tidaklah selalu tetap. Ia fluktuatif. Cobalah, agar tak ada lagi akhwat yang kecewa setelah menikah, "Ah, aku ditipu suamiku. Subuhnya saja sering kesiangan. Dhuha dan tahajjudnya pun jarang. Konon lagi tilawah dan shaum sunnah."

Saudariku yang shalihah,
Berikutnya, lihatlah maisyahnya. Yang penting tetap bekerja, tak harus berpekerjaan tetap. Begitu kata para asatidz. Tapi ini smua adalah pilihan. Tak ada salahnya memastikan nominal penghasilan mereka dengan kebutuhan primermu. Sebab menafkahi adalah kewajiban suami. Bahkan, masak dan mencuci adalah kewajiban suami. Jika istri tetap mengerjakan hal itu, maka ia berhak untuk digaji. Begitulah para imam madzhab memfatwakan. 

Selanjutnya, kita bicara kesiapan. Sebab menikah bukan soal kemauan. Tapi kesiapan dan tanggungjawab.

Maafkan aku jika harus menyinggung Leukimia-mu. Tapi suamimu kelak sebaiknya mengetahui itu sebelum akad terjadi (baca: ketika ta'aruf) sehingga dia benar2 sudah siap dengan kondisimu ketika nanti menyampaikan lafadz mengkhitbahmu. Ini urgen. Penting, Ukhti. Supaya tak ada yang merasa tertipu, kecewa, terbebani hingga akhirnya rumahtangga hanya dipenuhi dengan pertengkaran2 yang terjadi karena ketidaksiapan kita bersama. Untuk masalah ini, kulihat dari dulu Akhi Y betul-betul sudah serius, menaruh perhatian dan menunjukkan kesiapan. Itu tampilan luarnya. Wallahu a'lam aslinya. Sedangkan Akhi Z mungkin baru2 saja dia tahu soal ini.

Oya, mungkin perlu pula kau tanya keingian keluargamu: menantu seperti apa yang mereka mau?

Saudariku, maafkan aku jika terkesan mengguruimu. Padahal ilmuku dangkal, sementara pengalamanmu melampaui pengalamanku. Memang pendapatku ini masih mengambang. Sederhananya, berdasarkan sedikit informasi yang kuketahui tentang mereka, aku cenderung menganggap Akhi Y lebih baik. Tapi kau jangan mudah percaya pada penilaianku. Manfaatkanlah ta'aruf untuk memastikan. Silakan kau memilih satu di antara mereka jika itu baik bagimu. Namun hakmu pula untuk menolak keduanya. Doaku, semoga Allah pilihkan yang terbaik untukmu. Dan semoga kau bisa seoptimal mungkin mensyukuri kemewahan ini.


Wallahu a'lamu bish-showab.
Saudaramu yang jauh,
Anugrah Roby Syahputra

Demikianlah jawaban yang saya rangkai untuknya. Saya berdoa untuk kebaikan dirinya dan ikhwan-ikhwan itu. Sampai kemudian seminggu setelahnya, sang ukhti mengirim sms kembali:

"Assalamu'alaikum. Ya akhii Roby. Syukran ya, Akh atas masukannya kemarin. Ana sudah memutuskan untuk ta'aruf dengan salah satunya, berdasarkan istikharah ana juga. Tapi mungkin itu ta'aruf terakhir ana. Kalaupun ana ta'aruf lagi, mungkin waktunya akan sangat lama dari sekarang. Ikhwannya memang bisa menerima kondisi ana. Ortunya juga, Tapi ga tau kenapa tiba2 jadi ga setuju dan ga merihoi dengan berbagai alasan. Sekali lagi, jazakallah ya Akhi.."

Deg! Saya terdiam. Cuma bisa berdo'a. Tak tahu lagi harus membantu apa.

Di tengah kesunyian ruang kerja
Banda Aceh, 20 September 2011

Kamis, 13 Mei 2010

Jika Wanita Muda Cantik Ingin Menikah Dengan Pria Kaya (Sebuah Perspektif Bisnis)

Tulisan ini sudah lama beredar di milis2 dan forum2.. tapi, kira2 sebulan lalu ketika mengikuti training bersama Pak BS Wibowo (TRUSTCO) disuguhin lagi dan tetap menarik..

Kisah ini merupakan terjemahan bebas dari majalah Fortune yang berjudul: Young and pretty lady wishes to marry a rich guy.

Seorang wanita memposting sebuah pertanyaan melalui sebuah forum terkenal dengan bertanya:

*”Apakah yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria kaya?”*

Saya akan jujur dengan apa yang aku katakan. Usia saya 25 tahun. Saya sangat cantik, bergaya dan memiliki selera yang tinggi. Saya berharap menikah dengan pria kaya dengan penghasilan pertahun $500 ribu (+/-Rp.5,5M) atau lebih.

Anda mungkin akan berkata kalau saya termasuk perempuan materialistis, tapi kelompok berpenghasilan sampai dengan $ 1 juta pun masih termasuk kelas menengah di New York . Permintaan saya tidak setinggi itu. Adakah pria di forum ini yang berpenghasilan $ 500 ribu per tahun? Apakah Anda semua telah menikah? Saya ingin bertanya apa yang harus aku lakukan untuk dapat menikah dengan orang2 seperti Anda?

Di antara pria yang telah berpacaran denganku, yang terkaya hanya berpenghasilan $ 250 ribu dan kelihatannya ini batas tertinggi yang pernah saya capai. Jika seseorang ingin pindah ke perumahan mewah di wilayah barat New York City Garden , penghasilan $250 ribu tentu tidak cukup.

Beberapa hal yang ingin saya tanyakan:
1. Dimanakah kebanyakan para pria kaya bertemu & berkumpul? Mohon nama dan alamat bar, restauran dan gym yang sering dikunjungi.
2. Rentang usia berapakah yang dapat memenuhi kriteria saya?
3. Kenapa wajah istri-istri orang kaya hanya terkesan biasa-biasa saja? Saya telah bertemu dengan beberapa gadis yang tidak cantik dan kurang menarik, tapi mereka bisa menikah dengan pria kaya.
4. Apa pertimbangan Anda dalam menentukan istri dan siapakah yang bisa menjadi pacar Anda?

Terus terang, tujuan saya sekarang adalah untuk menikah.

Terimakasih,

Gadis Jelita

============================================================================

Dan inilah jawaban dari seorang ahli keuangan dari Wall Street Financial

Dear Gadis Jelita,

Saya membaca email anda dengan sangat antusias. Saya yakin sebenarnya

banyak gadis2 yang memiliki pertanyaan senada dengan Anda. Ijinkan saya untuk menganalisa situasi Anda dari sudut pandang investor profesional. Penghasilan tahunan saya lebih dari $ 500 ribu yang tentu memenuhi kriteria Anda. Jadi, saya harap setiap orang percaya bahwa jawaban saya cukup kredibel dan tidak membuang waktu.

Dari sudut pandang seorang pebisnis, menikah dengan Anda adalah keputusan yang buruk. Jawabannya sangat sederhana dan akan saya jelaskan. Kesampingkan dulu detil-detil yang Anda tanyakan. Sebenarnya apa yang ingin Anda lakukan adalah pertukaran antara “kecantikan” dan “uang”.

Si A akan menyediakan kecantikan dan si B akan membayar untuk itu. Kelihatannya adil dan cukup wajar.. Tapi ada permasalahan fatal di sini. Kecantikan Anda akan sirna, tapi uang saya tidak akan hilang tanpa alasan yang jelas.

Faktanya adalah penghasilan saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun. Tapi, Anda tidak akan bertambah cantik tiap tahunnya. Karena itu dari sudut pandang ekonomi: saya adalah aset yang ter-apresiasi sedangkan Anda adalah aset yang ter-depresiasi.

Depresiasi yang Anda alami bukan depresiasi normal, tapi depresiasi eksponensial. Jika hanya ini aset Anda, nilai Anda akan sangat mencemaskan 10 tahun kemudian.

Dengan menggunakan istilah yang kami gunakan di Wall Street, setiap perdagangan memiliki sebuah posisi. Berpacaran dengan Anda juga memiliki “posisi perdagangan” . Jika nilai aset yang didagangkan menurun, maka kami akan menjualnya. Bukan ide yang baik untuk mempertahankannya. Begitu juga dengan pernikahan yang Anda inginkan.

Saya sangat kejam untuk berkata seperti ini, tapi untuk membuat keputusan bijak, aset yang menurun nilainya akan dijual atau disewakan.

Pria dengan penghasilan $ 500 ribu tentu bukan orang bodoh. Kami hanya akan berpacaran dengan Anda, tapi tidak akan menikahi Anda.

Saran saya lupakan mencari petunjuk bagaimana cara menikahi pria kaya. Usahakan agar Anda dapat membuat diri Anda kaya dengan berpenghasilan $ 500 ribu, lebih berpeluang ketimbang mencari pria kaya yang bodoh.

Semoga jawaban saya dapat membantu

Tertanda,

JP Morgan


Senin, 04 Januari 2010

Inspirasi dari Sang Guru tentang Tema "Itu"

mohon maaf jika kurang berkenan membaca catatan ini..
catatan ini saya peroleh dari motivator nasional -yang saya anggap sebagai guru-: Kang Zen
alasannya saya reproduksi tulisan ini: sebab mayoritas tulisan-tulisan yang di-tag ke saya selalu bertema "itu". Entah itu artikel, cerpen, puisi atau sebuah renungan sederhana. mudah-mudahan bermanfaat.

# 1

"Dahulu, sebelum ia berhasil menikahi wanita impiannya, ia sulit tertidur, sebab selalu teringat kata-kata kekasihnya tersebut. Kini, setelah ia berhasil menikahinya, ia bahkan sudah tertidur sebelum istrinya menyelesaikan kata-katanya. Tapi tidak semua lelaki begitu.... :D"

# 2

Banyak wanita yang ingin memilki suami yang sholih
lalu Allah hadirkan seorang pria sholih melamarnya
lha.. malah ditolak..
sebab katanya pria ini kurang sholih....

Apakah yang sungguh diminta wanita itu
Suami sholih versinya
atau suami sholih versi Tuhan...?

Begitupun..
Banyak pria yang ingin memiliki istri sholihah
lalu Allah berikan beberapa alternatif wanita sholihah yang siap dinikahi
lha.. malah dipilihnya wanita sholihah yang belum siap nikah....
sebab katanya kalau bukan dengan yang itu gak sreg...

Apakah yang sungguh diminta pria itu
Istri sholihah pilihan Tuhan
atau istri sholihah yang menggoncang eksistensi Tuhan di jiwanya?

Sahabat semua...
Tidak harus menunggu pasangan yang ideal baru engkau menikah,
tapi menikahlah, maka kehidupanmu akan semakin ideal...

# 3

KURANG PERHATIAN

Karena ini perkara perHATIan
pasti urusannya dengan HATI
tak perlu HATI-HATI
kalau sudah yakin sepenuh HATI

dan biarkan HATI ini bercahaya
sebab tunduk sepenuhnya ...
kepada yang Maha MemperHATIkan
Zat yang menguasai HATI

Mencari perHATIan itu boleh
Asalkan bukan untuk sekedar mendapatkannya
tapi untuk dikembalikan padaNya
dan dariNya kembali lagi kepada mereka
yang memperHATIkanmu...

Perlu diperHATIkan, bahwa
Mencari perHATIan bukanlah untuk diperHATIkan
Tapi sebagai bukti bahwa engkau memperHATIkan mereka
dan engkau memperHATIkan Yang MAHA MemperHATIkan

Dan tidak jarang,
Cara terbaik mendapatkan perHATIan adalah
dengan cara tidak memperHATIkannya
tapi fokus memperHATIkan-Nya

Wahai ukhti, bukan karena cantik engkau diperHATIkan
tapi karena diperHATIkan engkau menjadi Cantik

Wahai Ikhwan, kalau engkau merasa istrimu tak lagi cantik
berarti engkau kurang memperHATIkannya

Wahai manusia, bukan karena diperHATIkan
lalu engkau berbuat baik dan taqwa
Tapi, karena engkau berbuat baik dan taqwa
maka engkau layak diperHATIkan

Lagipula...
PerHATIan manusia itu fana
Tidak layak diperjuangkan

Tapi perHATIan dari Allah itu Adil dan Bijaksana
Sungguh layak diperHATIkan

Tak perlu lagi sibuk mencari perHATIan manusia
Dengan umbar kesedihan dimana-mana
Sakit ini, sakit itu, dan sakit HATI

Apakah Allah kurang memperHATIkanmu,
sehingga engkau sibuk mencari perhatian selain dari-Nya?

Bukankah Allah yang menguasai jagat HATI kita?

PerHATIkanlah dirimu,
PerHATIkanlah Tuhanmu,
PerHATIkanlah dengan sepenuh HATImu...

Sahabat, Mengapa selalu mencari yang di luar,
Bukankah yang di dalam sini lebih sempurna...?

Sabtu, 24 Oktober 2009

(kopipaste) Sebuah Ta'aruf yang Indah

Sebuah Ta'aruf yang Indah

semuanya berawal dari kedua mata
ketika aku hanya berani mencuri pandang wajahmu di sana
dengan pakaian rapat tak kau biarkan auratmu terbuka
karena memang tak selayaknya bisa dipandang oleh sembarang mata
maka seiring perjalanan masa
kumulai beranikan diri tuk bertanya
tuk selanjutnya berbagi cerita

telah kukatakan kepada semenjak awal mula
bahwa aku adalah lelaki ibuku sepanjang masa
sebagai wujud bakti sebagaimana rasul telah bersabda
"ibumu, ibumu, ibumu!" begitulah dalam sebuah hadits yang pernah kubaca
"lalu ayahmu!" sebagai kelanjutan ucapan dari lidah yang mulia

sebuah jawaban darimu membuatku begitu lega
kau berkata bahwa lebih baik memiliki suami yang berbakti daripada yang durhaka
kau berkata bahwa lebih baik memilki suami yang dermawan daripada yang bakhil harta
dan kau pun berharap bahwa pendampingmu kelak bisa membuatmu bahagia

kau pernah berkata ingin segera menikah sebagai suatu rencana
bila kelak Allah mempertemukanmu dengan jodoh pilihan-Nya
agar mampu menjaga kemurnian dan kesucian niatmu dalam mewujudkan berbagai cita
serta menjadikanmu lebih kuat kala cobaan dan ujian datang menerpa
karena akan ada seseorang yang insya Allah akan mendampingi senantiasa
namun yang harus kau tahu adalah bahwa aku lelaki biasa
segala kelebihan dan kelemahan pastilah kupunya

senanglah hati ketika mengetahui dirimu rutin dalam sebuah tarbiyah
tidak seperti aku yang hanya pernah masuk madrasah
mulai ibtidaiyah, tsanawiyah namun tidak lanjut ke aliyah
namun sekarang aku sudah lulus kuliah
saat ini pun aku sudah memiliki ma'isyah
teman-temanku berkata, bahwa sudah waktunya bagiku mencari 'aisyah
mungkin dengan simpanan yang ada cukuplah untuk sebuah walimah
tentu saja yang sederhana dan bukan yang meriah
dan akupun belum sanggup untuk menyediakanmu sebuah rumah
karena itu kuberpikir untuk mengontrak dulu sajalah

suatu ketika ketika kau bertanya tentang poligami
kujawab bahwa itu adalah ketentuan Ilahi
tentu saja aku menyetujui
lantas kau bertanya apakah aku akan melakukannya suatu saat nanti
kujawab apa mungkin bila adil sebagai syarat utama tak mampu kumiliki
engkau tersenyum di mulut atau mungkin sampai ke hati
sambil mengakui bahwa dirimu belum bisa menerima bila hal itu terjadi
dan dirimu juga tak bisa menyamai saudah binti zam'ah istri sang nabi
yang tulus ikhlas kepada 'aisyah dalam berbagi

suatu ketika giliran aku bertanya tentang kemampuanmu bertilawah
kau menjawab bisa walau tak mau dibandingkan dengan para qoriah
karena kau merasa masih banyak berbuat salah
dalam mengucap hukum tajwid dan huruf-huruf hijaiyah
insya Allah kita kan bersama-sama belajar bila kelak kita menikah
untuk mewujudkan keinginanmu agar bisa menerangi setiap ruang rumah
dengan alunan suara al-quran yang merupakan ayat-ayat qauliyah
dari situ mungkin kita bisa membaca ayat-ayat kauniyah

untuk memastikan keyakinanku untuk menikah
kau pun mengundangku ke tempat temanmu seorang murabbiyah
dan tak lupa kau undang aku tuk datang ke rumah
sebagai awal perkenalan dengan bunda dan ayah
dan sebuah titik temu tercapailah
istikharah mencari jawaban tuk menggapai alhub fillah wa lillah

dalam doa kubersimpuh pasrah
memohon datangnya jawaban kepada Sang Pemberi Hidayah
bila jawaban itu masih menggantung di langit, maka turunkanlah
bila jawaban itu masih terpendam di perut bumi, maka keluarkanlah
bila jawaban itu sulit kuraih, maka mudahkanlah
bila jawaban itu masih jauh, maka dekatkanlah

NB: ini penggalan dari sebuah tulisannya Bang Jampang di sebuah e-book yang beredar di intranet DJP.