Saya yang kebetulan waktu itu sedang tidak sibuk langsung saja meneleponnya. Maklum saja, ini memanfaatkan fasilitas nelpon seribu sejam oleh sebuah operator. Begitu mengucap salam dan saling bertanya kabar, dia kembali bertanya apa saya sibuk. Saya bilang tidak, lalu ada apa? Dia menjawab, "Ada yang mau ana tanya, mau minta pendapat antum, tapi via sms aja, ana agak gugup soalnya bicara ini."
Berselang beberapa menit kemudian, tibalah sms yang dijanjikan. Bunyi detailnya begini:
Ini untuk ke sekian kali dimintai nasehat dan pertimbangan dari teman sebaya, adik-adik maupun mereka yang lebih tua. Seolah saya sudah begitu expert dan pengalaman. Padahal saya baru sembilan bulan menikah. Belum benar-benar merasa asam garamnya pernikahan.
Lapor komandan! Dari batalyon infantri Brawijaya bla..bla... menyampaikan ada sms masuk. Segera dibaca! Laporan selesai.
Hmm... Saya mulai memutar otak. Menimbang-nimbang. Baru dua hari setelahnya -sesudah diskusi dengan istri juga- saya mengirim jawaban padanya melalui message di facebook. Jawabannya saya buat dalams sebuah tulisan berjudul "Ini Tentang Pertanyaanmu". Begini isinya:
Assalamu'alaikum
Ukhti X yang dimuliakanNya karena telah bertetap hati memilih jalanNya,
Menjawab pertanyaanmu itu sungguh berat. Seberat selusin karung beras membebani pundak. Sebab ini bukan remeh temeh. Sebab ini menyangkut masa depan. Kata seorang bijak, "Salah memilih pasangan hidup akan membuat kita menyesal seumur hidup." Sebab karena memang kita meniatkannya hanya sekali seumur hidup, hatta bagi seorang lelaki sekalipun akan berpikir ribuan kali untuk menikah kedua kali.
Namun, aku harus tetap menjawab pertanyaanmu. Yah, mungkin ini tak bisa menyelesaikan semua gundahmu. Tapi setidaknya aku harus memenuhi kewajiban sebagai saudara seiman. Bukankah ini adalah tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa?
Tetapi aku harus ingatkan, bahwa meskipun aku berupaya seobjektif mungkin, tetap saja pendapat ku ini dipenuhi dengan subjektivitas. Semuanya menurutku. Sependek yang aku tahu dan alami dari pengalaman empiris membersamai mereka. Bahkan kau sebenarnya lebih mengenal mereka. Karena kau mengenal mereka sebelum aku mengenal mereka.
Begini saja. Aku akan langsung utarakan pendapatku. Menerima proposal dari dua ikhwan sekaligus adalah "kemewahan" bagi seorang akhwat. Karena di luar sana ada banyak akhwat yang sudah kelelahan menunggu. Bahkan sampai usia kepala empat. Hingga kemudian mereka "mengikhlaskan" suami mereka bukan "tempaan tarbiyah". Asalkan hanif, asalkan shalat, asalkan bisa baca Qur'an sampai di ujung klimaksnya bagi yang tak sanggup bersabar: asalkan dia muslim dan mau. Sebagian lain memilih menempuh jalan sunyi: melajang untuk sementara sembari tetap mengikhtiarkan upaya dan doa agar lekas menemukan teman bersanding di pelaminan. Jadi, pertama kali syukurilah kedua proposal itu.
Nah, sekarang mari bicara soal fitnah yang kau khawatirkan. Pernyataanmu kemarin yang mengingatkan soal ini seolah ingin mengeliminasi Akhi Y. Padahal, jikapun jadi dengan Akhi Z, bukankah peluang timbulnya fitnah tetap ada? Karena kita semua satu tim dalam organisasi XYZ. Itu sudah cukup untuk setan melakukan propaganda bejatnya: aktivis dakwah pun pacaran di balik mihrab wajihahnya. Menurutku, dalam hal ini, mereka berdua sama saja. Meskipun Y sebenarnya sudah jamak diketahui publik (yang mengenal kalian berdua) bahwa dia menaruh hati padamu.Tapi itu semua bisa dijawab. Syariat tak mengharamkan cinta pranikah. Dia fitrah yang tak boleh dibunuh, tapi ia harus dipelihara sesuai tuntunannya. Dan menikah adalah jawabannya.
Saudariku yang shalihah,
Berikutnya, lihatlah maisyahnya. Yang penting tetap bekerja, tak harus berpekerjaan tetap. Begitu kata para asatidz. Tapi ini smua adalah pilihan. Tak ada salahnya memastikan nominal penghasilan mereka dengan kebutuhan primermu. Sebab menafkahi adalah kewajiban suami. Bahkan, masak dan mencuci adalah kewajiban suami. Jika istri tetap mengerjakan hal itu, maka ia berhak untuk digaji. Begitulah para imam madzhab memfatwakan.
Selanjutnya, kita bicara kesiapan. Sebab menikah bukan soal kemauan. Tapi kesiapan dan tanggungjawab.
Oya, mungkin perlu pula kau tanya keingian keluargamu: menantu seperti apa yang mereka mau?
Saudariku, maafkan aku jika terkesan mengguruimu. Padahal ilmuku dangkal, sementara pengalamanmu melampaui pengalamanku. Memang pendapatku ini masih mengambang. Sederhananya, berdasarkan sedikit informasi yang kuketahui tentang mereka, aku cenderung menganggap Akhi Y lebih baik. Tapi kau jangan mudah percaya pada penilaianku. Manfaatkanlah ta'aruf untuk memastikan. Silakan kau memilih satu di antara mereka jika itu baik bagimu. Namun hakmu pula untuk menolak keduanya. Doaku, semoga Allah pilihkan yang terbaik untukmu. Dan semoga kau bisa seoptimal mungkin mensyukuri kemewahan ini.
Wallahu a'lamu bish-showab.
Saudaramu yang jauh,
Anugrah Roby Syahputra