Selasa, 14 Desember 2010

Kepada Perempuan Bermata Teduh

Sumber: Harian Medan Bisnis Edisi Minggu, 5 Desember 2010
Persembahan Istimewa untuk Istriku
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2010/12/05/10433/parade_puisi/

Kepada Perempuan Bermata Teduh
: Endhika Sri Syahfitri 

Dulu aku tak pernah menyangka
bahwa rumah sederhanamulah yang kuketuk pintunya
untuk menjemput puterinya mengayuh biduk bersama

Siapa kira kita memagut janji sehidup semati
Bila perkenalan kita saja cuma sepuluh hari?

Dikarenakan pelangi yang memancar teduh dari matamu
Purnama pecah di dadaku
Sepertinya rindu sudah bertemu hulu
Kalau sudah begitu, buat apa lagi memintal ragu?
Bukankah degup cinta kini telah begitu syahdu?

Pada teduh matamu cahaya bening berpendar-pendar
Seolah mendesakku segera berlayar
Sebab samudera ini terlalu badai
Untuk kau lalui hingga sampai
Di tujuan paling damai

Banda Aceh, Awal  November 2010

Dalam Sebuah Penantian
: Endhika Sri Syahfitri

Malam itu rembulan tersedu-sedu
Kupu-kupu pun ikut menemani piluku
yang menderaikan airmata rindu
Sayap-sayapnya berguguran
Bersama embun yang dirajut sendu

Di tepi doa, serunai rindu melompati momentum
Hingga sesungging senyum menguntum
Sambil menangis, kukutipi kamboja yang menguning
Untuk menggenapi hening

Lalu langit terjungkal, redupnya berganti cahaya
Sampai gulita diusir fajar
Di penghujung doa, jalan-jalan terbentang terang
Mungkin ini jawaban Tuhan

Banda Aceh, 17 November 2010 

Mengeja Rindu
: Endhika Sri Syahfitri 

Aku masih belajar mengeja rindu
yang kau lukis pada kanvas hatiku
pada detik-detik mengharubiru

kala itu purnama belum begitu purna kita tembangkan
tapi ketika kulayarkan perahu pada sungai matamu
kulihat ada gundah yang mengombak pilu
memercik-mercik hendak mendendang lagu syahdu
tentang pertautan dua kalbu

lalu kau datang membawa hujan di tangan
dan membalurinya pada jiwaku yang kesepian
seolah inilah muara dari resah perjalanan

di dedaunan yang beradu, pandangan kita bertemu
lalu kau menelusup di lesatan waktu
dan diam-diam setunas cinta tumbuh di hatiku

Banda Aceh, 10 November 2010

Riwayat Sepasang Pengantin
: Endhika Sri Syahfitri 

Bagaimana hendak menceritakannya
Sementara kisah kita belum dimulai?
Halaman pertama saja belum lagi ditulis
Baiklah, kalau begitu kita ukir saja dulu bismillah

Setelah akad terucap nanti
Ada baiknya kita pahat prolog romantik
Di pinggiran kota yang agak sepi
Sambil sesekali menyeruput rosella pagi

Tentu saja leadnya harus menarik
Meski kau bukan pemuisi yang hobi bergulat syair
Tapi biarlah bab-bab awal ini jadi lebih eksentrik
Dalam bulan madu di putihnya pantai berpasir

Mungkin nanti di tengah cerita
Kita tetap harus menabur konflik
Kau cemburu, lalu aku curiga
Ditambah marah-marah dan sedikit buruk sangka
Supaya alurnya novel ini tetap terjaga

Sampai nanti kita menemukan klimaks
Rumah kita dirintiki sakinah
Karena di matamu sabar dan syukur menelaga
Hingga kisah kita berakhir seperti dongeng Cinderella
: dan merekapun hidup bahagia selamanya
Sampai kelak -- insya Allah - menginjak syurga


12 komentar:

  1. Subhanallah..!
    great!
    "dan merekapun hidup bahagia selamanya
    Sampai kelak -- insya Allah - menginjak syurga"-->> Amiiin... I pray for u n ur wife akh.

    BalasHapus
  2. Syukran, Ukht.. ^_^
    Wish u get better journey in His blessing..

    BalasHapus
  3. makasi atas semua support dan do'anya, Sarah..

    BalasHapus
  4. suka yang terakhir lha, bang..
    sweet..........^^

    titip salam untuk kakaknya ya..

    BalasHapus
  5. ehm..............
    menyejukkan sekali^___^
    tunggu aja tanggal mainnya.heheheh...

    lanjutkan pak ustadz...
    makin mantap aja nampaknya.

    BalasHapus
  6. hehe.. makasi, Iin ^_^

    Insya Allah ntar salamnya disampein..
    *agak kecewa mp-ers Medan dikit yg dateng*

    BalasHapus
  7. tanggal main apa yg ditunggu nih, Lu? :D

    BalasHapus
  8. aihh..
    hontou gomenasai, senpai
    ada kegiatan di kampus jugak itu iin n nurul
    kalo si yuli lagi ujian mentoring katanya
    maaph
    maaph
    tapi mudah2an doanya nyampe ya...^^

    BalasHapus
  9. Puisi yang indah ... *hope my husband can do it for me... but...* hahaha :-D

    BalasHapus
  10. hehe.. makanya mbak, suaminya diajak ikutan kajian di FLP :)

    BalasHapus
  11. ini, subhanallah..

    SUBHANALLAH..

    --sebelumnya, maaf telat sangat--
    barakallahu lakuma wa baraka 'alaykuma wa jama'a baynakuma fii khayr.. aamiin Yaa Mujiib.

    rasa bahagia ka roby dan sang istri tercinta saya rasakan(tidak akan bisa sepenuhnya memang, bahkan sepertiganya saja mungkin tidak, heheh), saat saya membaca kumpulan puisi di atas.. puisi tentang bidadarinya ka roby, fiddunya, wal aakhirah.


    ouw, subhanallah.. Ka Endhika Sri Syahfitri, ngempi juga ga ka?
    kalau iya, mau dong id-nya :D
    kalau tidak, nitip salam untuk beliau...

    tulisannya keren2 ka, subhanallah.. FLP mantap :)

    BalasHapus