aku mencium aroma keringat para buruh
bertamorfosa menjadi kupu-kupu tangguh di tengah riuh penuh peluh
seindah gugusan debu-debu yang menyanyikan irama pasrah pada pesta ungkap keluh
Di sepanjang Sei Deli
aku membaca kumpulan surat tentang hakikat terhampar luas
di permukaannya yang tak jernih, ada nada-nada perih tersirat
dalam gemericik air yang bingung ke mana mereka hendak berujung
Di sepanjang Sei Deli
aku melihat sinar mentari pantulkan kezaliman yang tertata
hiasi wajah sombong yang membayang di tengah sana
Di sepanjang Sei Deli
sampah-sampah bertasbih mensucikan Dia Yang Maha Esa
sambil menegurku tajam, "Kaupikir kau mulia, sedang kami ini hina?"
Banda Aceh, 5 Januari 2010