Tampilkan postingan dengan label taubat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taubat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Desember 2009

Sunyi, Patah Hati dan Prasangka-prasangka yang Menyertai

Ini hanya nukilan sebuah percakapan lepas. Tadi siang, seseorang menyapa saya melalui fitur chat facebook. Belum apa-apa, dia sudah mengomentari foto profil saya. Begini diskusi kami:

Mr. X : salam. foto profilmu bagus. melankolis.
Saya : wslm. oh, melankolis? :D
Mr. X : perasaan sunyi. biasanya istilah itu untuk orang yang sedang patah hati.
Saya : ha? apakah sunyi selalu bermakna patah hati?
Mr. X : Tentu saja tidak. Sama halnya dengan pengertiannya; apakah patah hati itu selalu
bermakna berpisah dengan seorang dara.
kenapa diam. benar ya? sedang patah hati waktu itu ya?
Saya : Oh, tidak. tidak sama sekali. banyak fakta yang tersembunyi. tak semua persoalan
sama seperti zahirnya.
Mr.X : he he.. kalau iya mengapa memangnya. bukankah itu persoalan hidup yang
dianugerahkan Yang Kuasa juga?
Saya : ya. itu benar. persoalan hidup adalah hal yang membuat hidup berasa. tanpa
rintangan2, hidup akan hambar. tanpa rasa. menjemukan.

Lalu bincang-bincang kami mengalir bagai air, deras hingga bermuara ke tema-tema lain. Tentang slogan "Nikah Yes! Pacaran No!". Sampai tema politik dan hukum semacam polemik Qanun Jinayah di Aceh. Hingga akhirnya obrolan itu terhenti gara-gara koneksi internet kantor saya yang terputus. Tapi setidaknya, saya sudah menawarkan padanya untuk sesekali bertemu di keude kupi, cerita banyak hal sambil menyeruput minuman hangat. Ya, memang kami sudah pernah bertemu beberapa kali sebelumnya.

Kembali ke topik. Dari dialog singkat di atas, apa yang bisa kita simpulkan? Apakah sunyi selalu identik dengan patah hati? Ah, ini sudah ke sekian kali orang-orang berkomentar tentang foto profil saya. Apalagi foto itu juga kadang-kadang menjadi wallpaper laptop saya. Macam-macam pendapat kuterima. Banyak yang menebak-nebak. Tak sedikit yang memuji. Mayoritas mengira itu saat sunset, padahal itu adalah pemandangan matahari menjelang terbit di pantai Iboih, Sabang yang menghadap ke pulau Rubiah. Walaupun ada juga yang kurang sreg karena foto ini –katanya- menyiratkan kesedihan. Ada pula yang bilang memunculkan aura lemah, kalah, putus asa dan tak punya harapan. Ah, silahkan terus berkomentar, aku akan terus berjalan di lorong ini…

Apakah sunyi selalu menarasikan pesimisme? Bukankah kita juga butuh saat-saat sendiri untuk bertafakkur diri? Bukankah kita butuh waktu khusus untuk berkhalwat dengan-Nya. Tak tahukah Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengibaratkan suasana sunyi dan tenang itu sebagai pendingin bagi otak yang menjadi tempat berpikir. la mengatakan, "Otak diciptakan dalam keadaan panas (hangat) karena digunakan sebagai tempat untuk berpikir. Karena itu di dalamnya harus ada zat pendingin dan ia butuh tempat yang tenang, kokoh, bersih dari kotoran dan noda, sunyi dan terhindar dari keramaian dan keributan."

Bahkan beliau yang menjadi murid Imam Ibnu Taimiyah itu lalu menggaris bawahi bahwa pikiran yang bersih, daya ingat yang hebat dan analisa yang tepat itu keluar ketika badan dalam badan tenang, tidak terlalu sibuk dan terhindar dari goncangan-goncangan yang menyibukkan.
Sekarang, terserah saja Anda memilih jalan yang mana. Tapi yakinlah, sehingar-bingar apapun keriuhan hidup, Anda tetap butuh kesunyian. Dan berhentilah untuk menebak-nebak isi hati orang yang sedang menyendiri..

Kalaupun sang pemilih jalan sunyi sedang berada dalam kegalauan, biarkanlah..
Berikan ia waktu bermuhasabah diri, memutaba’ah amal-amal anggota tubuhnya..

Sendiri menyepi..
Tenggelam dalam renungan
Ada apa aku seakan kujauh dari ketenangan
perlahan kucari, mengapa diriku hampa…
mungkin ada salah, mungkin ku tersesat,
mungkin dan mungkin lagi…

Oh Tuhan aku merasa
sendiri menyepi
ingin ku menangis, menyesali diri, mengapa terjadi
sampai kapan ku begini
resah tak bertepi
kembalikan aku pada cahayaMu yang sempat menyala
benderang di hidupku..

(Edcoustic, Sendiri Menyepi)


Lalu, tentang semua prasangka terhadap diriku? Izinkan saya menggumamkan do’a Ali bin Abi Thalib ra. : "Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang mereka katakan tentang aku. Berikanlah kebaikan padaku dari apa yang mereka sangkakan kepadaku. Ampunilah aku karena apa yang tidak mereka ketahui tentang diriku."

Pagar Air, 15 Desember 2009

Nantikan juga note-note saya berikutnya:
Tentang Sedih yang Membuatmu Tertatih
Tentang Godaan yang Membuatmu Tertawan
Tentang Lelah yang Membuatmu Hampir Menyerah
Tentang Rindu yang Membuatmu Pilu
Tentang Gelisah yang Membuatmu Nyaris Kalah
Tentang Lima Sekawan dan Cita-cita Membangun Peradaban