Senin, 21 Desember 2009

KEPADA PEREMPUAN TERKASIH

KEPADA PEREMPUAN TERKASIH
: dia yang sungguh kucinta

Duapuluh satu tahun lalu, kau bersimbah darah
Kau relakan tak cuma tangis, tapi juga jerit keperihan
Butir keringat dan bulir bening menjadi saksi atas pengorbananmu
Kiri kanan ramai malaikat maut terus mengintaimu
Seolah kau sedang dalam pertaruhan besar untuk cintamu

Lalu kisah kita pun berlanjut dengan nyanyian kasih paling merdu sejagad raya
Kau gendong aku ke mana-mana, melintasi lelah yang menetes-netes dari dagumu
Gundah yang kugantung di pundakmu pun tak kau hiraukan
Kau terus melaju, tanpa malu pada nyinyir kicauan sumbang burung-burung melata

Kemudian, seonggok senja mengajakmu untuk berhenti cengkerama denganku
Kau harus pergi, katamu. Lantas aku cuma bisa diam, tertunduk lesu.
Kukalungkan bunga di lehermu bersama segenggam embun yang kutitip untuk menawar rindumu
Baiklah, aku akan meneruskan kelana
Ini cinta bukan sampai sini saja

Entah kenapa tiba-tiba terbersit lagi pikiran aneh. "Lebih baik tak usah mengenalnya, mengenal mereka. Lupakan saja! Buat apa jika itu hanya menambah masalahmu dan kaupun hanya membuat mereka dongkol dan uring-uringan?" begitu ujarnya. Kau tahu siapa "nya" dan "mereka"? Ya, tepat sekali. Mereka adalah beberapa sahabat (bahkan) dekatku! :( *butuh tausiyah mode:on*

Selasa, 15 Desember 2009

Sunyi, Patah Hati dan Prasangka-prasangka yang Menyertai

Ini hanya nukilan sebuah percakapan lepas. Tadi siang, seseorang menyapa saya melalui fitur chat facebook. Belum apa-apa, dia sudah mengomentari foto profil saya. Begini diskusi kami:

Mr. X : salam. foto profilmu bagus. melankolis.
Saya : wslm. oh, melankolis? :D
Mr. X : perasaan sunyi. biasanya istilah itu untuk orang yang sedang patah hati.
Saya : ha? apakah sunyi selalu bermakna patah hati?
Mr. X : Tentu saja tidak. Sama halnya dengan pengertiannya; apakah patah hati itu selalu
bermakna berpisah dengan seorang dara.
kenapa diam. benar ya? sedang patah hati waktu itu ya?
Saya : Oh, tidak. tidak sama sekali. banyak fakta yang tersembunyi. tak semua persoalan
sama seperti zahirnya.
Mr.X : he he.. kalau iya mengapa memangnya. bukankah itu persoalan hidup yang
dianugerahkan Yang Kuasa juga?
Saya : ya. itu benar. persoalan hidup adalah hal yang membuat hidup berasa. tanpa
rintangan2, hidup akan hambar. tanpa rasa. menjemukan.

Lalu bincang-bincang kami mengalir bagai air, deras hingga bermuara ke tema-tema lain. Tentang slogan "Nikah Yes! Pacaran No!". Sampai tema politik dan hukum semacam polemik Qanun Jinayah di Aceh. Hingga akhirnya obrolan itu terhenti gara-gara koneksi internet kantor saya yang terputus. Tapi setidaknya, saya sudah menawarkan padanya untuk sesekali bertemu di keude kupi, cerita banyak hal sambil menyeruput minuman hangat. Ya, memang kami sudah pernah bertemu beberapa kali sebelumnya.

Kembali ke topik. Dari dialog singkat di atas, apa yang bisa kita simpulkan? Apakah sunyi selalu identik dengan patah hati? Ah, ini sudah ke sekian kali orang-orang berkomentar tentang foto profil saya. Apalagi foto itu juga kadang-kadang menjadi wallpaper laptop saya. Macam-macam pendapat kuterima. Banyak yang menebak-nebak. Tak sedikit yang memuji. Mayoritas mengira itu saat sunset, padahal itu adalah pemandangan matahari menjelang terbit di pantai Iboih, Sabang yang menghadap ke pulau Rubiah. Walaupun ada juga yang kurang sreg karena foto ini –katanya- menyiratkan kesedihan. Ada pula yang bilang memunculkan aura lemah, kalah, putus asa dan tak punya harapan. Ah, silahkan terus berkomentar, aku akan terus berjalan di lorong ini…

Apakah sunyi selalu menarasikan pesimisme? Bukankah kita juga butuh saat-saat sendiri untuk bertafakkur diri? Bukankah kita butuh waktu khusus untuk berkhalwat dengan-Nya. Tak tahukah Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengibaratkan suasana sunyi dan tenang itu sebagai pendingin bagi otak yang menjadi tempat berpikir. la mengatakan, "Otak diciptakan dalam keadaan panas (hangat) karena digunakan sebagai tempat untuk berpikir. Karena itu di dalamnya harus ada zat pendingin dan ia butuh tempat yang tenang, kokoh, bersih dari kotoran dan noda, sunyi dan terhindar dari keramaian dan keributan."

Bahkan beliau yang menjadi murid Imam Ibnu Taimiyah itu lalu menggaris bawahi bahwa pikiran yang bersih, daya ingat yang hebat dan analisa yang tepat itu keluar ketika badan dalam badan tenang, tidak terlalu sibuk dan terhindar dari goncangan-goncangan yang menyibukkan.
Sekarang, terserah saja Anda memilih jalan yang mana. Tapi yakinlah, sehingar-bingar apapun keriuhan hidup, Anda tetap butuh kesunyian. Dan berhentilah untuk menebak-nebak isi hati orang yang sedang menyendiri..

Kalaupun sang pemilih jalan sunyi sedang berada dalam kegalauan, biarkanlah..
Berikan ia waktu bermuhasabah diri, memutaba’ah amal-amal anggota tubuhnya..

Sendiri menyepi..
Tenggelam dalam renungan
Ada apa aku seakan kujauh dari ketenangan
perlahan kucari, mengapa diriku hampa…
mungkin ada salah, mungkin ku tersesat,
mungkin dan mungkin lagi…

Oh Tuhan aku merasa
sendiri menyepi
ingin ku menangis, menyesali diri, mengapa terjadi
sampai kapan ku begini
resah tak bertepi
kembalikan aku pada cahayaMu yang sempat menyala
benderang di hidupku..

(Edcoustic, Sendiri Menyepi)


Lalu, tentang semua prasangka terhadap diriku? Izinkan saya menggumamkan do’a Ali bin Abi Thalib ra. : "Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang mereka katakan tentang aku. Berikanlah kebaikan padaku dari apa yang mereka sangkakan kepadaku. Ampunilah aku karena apa yang tidak mereka ketahui tentang diriku."

Pagar Air, 15 Desember 2009

Nantikan juga note-note saya berikutnya:
Tentang Sedih yang Membuatmu Tertatih
Tentang Godaan yang Membuatmu Tertawan
Tentang Lelah yang Membuatmu Hampir Menyerah
Tentang Rindu yang Membuatmu Pilu
Tentang Gelisah yang Membuatmu Nyaris Kalah
Tentang Lima Sekawan dan Cita-cita Membangun Peradaban

Selasa, 08 Desember 2009

Ikhwan Juga Punya Cinta

Ikhwan Juga Punya Cinta
Oleh: Anugrah Roby Syahputra              

             Berbicara soal cinta dan pernikahan memang tiada habisnya. Inilah tema paling dicari sepanjang zaman. Tak lekang dimakan waktu, tak hilang tergerus usia. Tiap harinya mulut-mulut di sudut dunia membahas cinta. Tua, muda, kaya, miskin, susah, senang semuanya bicara cinta. Tak terkecuali para ikhwan. Sosok lelaki yang umumnya dikenal aktif dalam kegiatan dakwah ini juga kerap ngomongin cinta. Meski diskusi, ngaji dan aksi adalah agenda utama, tapi obrolan soal cinta juga tak lepas dari hari-harinya. Walaupun berkata tidak untuk pacaran, tapi mereka –para ikhwan- juga manusia. Punya rasa, punya hati dan punya cinta sebagai fitrah yang Allah berikan untuk ditata menjadi indah mempesona.           

           Anda tak usah terkejut bila mendapati tumpukan buku tentang pernikahan dalam kost-kostan para ikhwan. Jangan terkejut pula bila dari bilik asrama mereka terdengar syair nasyid tentang cinta. Bisa jadi dalam forum-forum diskusi mereka sering dengan fasih mengutip pendapat Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb atau Anis Matta. Tapi di rumah mereka lebih doyan membaca buku Fauzil Adhim, Salim A. Fillah atau Cahyadi Takariawan. Mungkin saja di tengah-tengah jeda daurah, seminar atau aksi mereka berjingkrak-jingkrak menyenandungkan lagu-lagu perjuangan ala Ar-Ruhul Jadid, Izzatul Islam atau Shoutul Harokah, namun dalam kesendiriannya ia lebih sering tenggelam dalam melodi melankolik EdCoustic, Seismic, Brothers atau In-Team. Sampai di ambang batas yang meremukkan kalbu, terdengarlah irama kepiluan itu.           

Di dalam sunyi ia selalu hadir 
Di dalam sendiri ia selalu menyindir            
Kadang meronta bersama air mata            
Seolah tak kuasa menahan duka            
(Maidany: Menunggu di Sayap Rindu)        

         Itulah ikhwan. Hidupnya juga tak bisa lepas dari cinta. Akan tetapi, iltizamnya kepada Islam membuat ia berbeda dengan lelaki kebanyakan. Ia berusaha untuk tidak jatuh cinta. Sebab ia lahir, tumbuh dan besar di bawah naungan cinta. Kalaupun sesekali hati tersandung, lalu jatuh cinta. Mereka cepat-cepat mengingat pesan Ustadz Darlis Fajar, ”Cukup sekedar SIMPATI. Simpan dalam hati.”            

            Tak heran orang-orang selalu mengaitkan para ikhwan dengan sikap ghaddul bashar (menundukkan pandangan) –selain dengan jenggot, koko atau celana bahannya yang selalu di atas mata kaki. Itulah ciri khas mereka. Sebuah ikhtiar untuk menghindarkan diri dari zina dan meninimalisir akumulasi dosa. Mereka yakin bahwa pandangan itu adalah anak panah beracunnya Iblis yang siap menerjang hati untuk selanjutnya diproses oleh saraf untuk mengorganisir kebejatan berikutnya dalam bentuk khatarat (lintasan pikiran) dan lafadzat (kata-kata). Namun, sekali lagi, dengan keyakinannya pada Allah ia lebih memilih untuk merasai nikmatnya iman di hati saat menundukkan pandangan. 

           Begitupun, seorang ikhwan sejatinya juga tak seratus persen tahan godaan. Kondisi dunia yang berubah pesat ikut pula mempengaruhi resistensinya terhadap maksiat. Teman-teman sekelilingnya yang terseret arus sekularisasi berjubah globalisasi memaksanya untuk sedikit demi sedikit ”menikmati” berbagai penyimpangan syariat. Lama-kelamaan ia pun bisa  terjangkiti virus yang konon sudah mulai menjanin di kalangan aktivis hari ini. Istilah-istilah klasik yang aneh pun menghinggapi. Ada VMJ (Virus Merah Jambu), CBSA (Cinta Bersemi Sesama Aktivis) dan ada pula AIDS (Akhwat Idaman Syura’). Aduh, masa depan dakwah terancam gawat kalau jundi-jundinya seperti ini!           
           Untuk mengatasi hal ini, akhirnya para ikhwan mengeluarkan satu jurus ampuh dari tokoh utama dakwah, Baginda Nabi Muhammad SAW. Dengan khidmat para ikhwan kemudian mencoba menyambut seruan sang nabi, ”Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mencapai ba’ah (kemampuan), hendaklah ia menikah. Sungguh ia lebih tunduk bagi pandangan dan lebih suci bagi kemaluan!”            

           Nah, inilah jalan yang bisa dijadikan solusi bagi para ikhwan: menikah! Sebab, cuma ini follow up jatuh cinta yang direstui agama. Tapi, lagi-lagi, meskipun menjanjikan sejuta atau semilyar rasa kebahagiaan, menikah dan kehidupan pasca itu –mengutip Mbak Afifah Afra- adalah tak mudah. Masih banyak ikhwan yang belum berani melangkahkan kaki ke rumah guru ngaji untuk menyodorkan proposalnya. Alasannya terlalu banyak. Mulai dari kesiapan mental hingga maisyah. Yah, apa boleh buat. Para ikhwan lalu memilih memperbanyak puasa sunnah saja. Selain bisa menjaga hati dan diri, juga lebih ekonomis! Hehe..