KEPADA PEREMPUAN TERKASIH :
dia yang sungguh kucinta Duapuluh satu tahun lalu, kau bersimbah darah
Kau relakan tak cuma tangis, tapi juga jerit keperihan
Butir keringat dan bulir bening menjadi saksi atas pengorbananmu
Kiri kanan ramai malaikat maut terus mengintaimu
Seolah kau sedang dalam pertaruhan besar untuk cintamu
Lalu kisah kita pun berlanjut dengan nyanyian kasih paling merdu sejagad raya
Kau gendong aku ke mana-mana, melintasi lelah yang menetes-netes dari dagumu
Gundah yang kugantung di pundakmu pun tak kau hiraukan
Kau terus melaju, tanpa malu pada nyinyir kicauan sumbang burung-burung melata
Kemudian, seonggok senja mengajakmu untuk berhenti cengkerama denganku
Kau harus pergi, katamu. Lantas aku cuma bisa diam, tertunduk lesu.
Kukalungkan bunga di lehermu bersama segenggam embun yang kutitip untuk menawar rindumu
Baiklah, aku akan meneruskan kelana
Ini cinta bukan sampai sini saja