Selasa, 27 Juli 2010

Puasa, Ujian dan Sebuah Keputusan Besar

Ayyamul Bidh kali ini memang terasa berbeda. Angin Sya’ban yang ikut menghantar hawa Ramadhan menjadikannya kian syahdu. Benarlah jika disebut puasa ini sebagai ujian yang sulit. Bahkan ada yang menganggapnya jihad akbar (walaupun hadits tentang ini didhaifkan sebagian besar ulama). Ah, yang jelas puasa memang merupakan ibadah yang sangat privat, hanya sang ahli puasa dan Rabb-nya yang mengetahui. Sebab jika manusia, tentu saja sangat mudah dikibuli. Aku jadi teringat sebuah hadits Nabi yang menohokku sangat dalam, menukik tajam, “Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor. “ (HR. Ibnu Khuzaimah)

Puasa di pertengahan Sya’ban kali ini memberi kesan tersendiri. Sahur sendiri dengan lauk apa adanya cukup membuat semangat mereda, namun panorama langit Santan yang didandani terang rembulan membuat romantisme subuh berpadu. Namun yang membuatku terus berpacu melawan ragu dan pilu adalah karena ujian-ujian yang harus kuhadapi. Baik itu ujian dalam denotasi, maupun dalam makna yang lebih luas.

Untuk yang zhahir saja, di sela-sela kesibukan kantor yang eight to five, aku harus membagi waktu untuk “tugas dinas” lainnya (ini saja sudah menjadi tanya: halalkah take home pay-ku jika masih sering curi-curi waktu membolos dengan alasan demi dakwah (baca: menghadiri syura-syura dan pekerjaan teknis lain?).

Pertama, menjadi koordinator tempat dan perlengkapan untuk agenda Tarhib Ramadhan DPW yang rencananya akan digelar di Taman Sari, Banda Aceh menghadirkan Ust. Anis Matta. Kedua, menyiapkan seminar motivasi menulis “Untold Stories of Writer”. Di sini saya hanya kebagian tugas untuk bantuin jualan tiket (semua panitia juga punya kewajiban sama, jadi ini biasa saja) dan memesan backdrop (termasuk mendesainnya, walaupun yang ngerjain tetap orang lain), serta secara khilaf panitia memercaya saya sebagai salah satu penyampai materi (tentu karenanya saya harus siapkan slide presentasi).

Ketiga, Selasa malam depan saya harus betolak ke Medan karena akan mengikuti Ujian Saringan Masuk Program DIII Khusus STAN pada hari Kamisnya. Saya sangat serius di sini sebab berharap bisa melanjutkan pendidikan saya yang masih tingkat rendah ini. Dan, tentu saja, jika lulus nanti (Amiin), sepulangnya dari perkuliahan di Bintaro nanti akan menjadi auditor dan punya peluang sangat besar untuk mutasi. Oh, cerita tentang mutasi tiba-tiba membuat saya geli dan agak feeling guilty jika mengingat jawaban saya atas pertanyaan teman-teman di kampung halaman. “Gimana, By? Betah di Aceh?” Dan saya menjawab, “Alhamdulillah betah. Di Aceh ini termasuk dekat disbanding teman-teman alumni STAN lain yang ditempatkan di Karimun, Kalimantan atau bahkan Flores. Di sini juga dapat rumah dinas, bla..bla..”. Duh… padahal mungkin jawaban terjujur nurani saya sesungguhnya adalah, “Ya, dibetah-betahkanlah..” Entah kenapa belakangan saya merasa semakin menemukan alasan-alasan atas jawaban yang terakhir itu.

Selain itu, sebenarnya saya punya amanah untuk pembinaan dua kampus yang berada di kecamatan saya. Untuk yang inipun, rasa berdosa seperti bertumpuk-tumpuk membebani pundak. Betapa selama ini saya sudah membiarkannya berada di urutan ke sekian prioritas hidup saya, padahal jika ditimbang-timbang dengan kalkulasi apapun (dunia-akhirat) justru di sinilah ladang amal saya. Ini amanah yang kusia-siakan. Menzalimi anak-anak muda itu dengan tidak menunaikan hak-hak tarbiyahnya. Astaghfirullah. Ampuni aku duhai Rabb..

Entahlah. Entah apa yang membuat kegelisahan membuncah memecah resah. Susah rasanya jika gundah ini terus dilestarikan tanpa arah. Mau jadi apa jiwa yang manja ini? Kapan dia mengecap muthmainnah? Kapan dia hendak menggapai maghfirah?  O, Allah, izinkan aku menempuhi jalan ini dengan segenap ketegaran yang kucerap dari Kitab-Mu dengan mencontoh teladan para Rasul-Mu dan sahabatnya.

Detik ini aku sudah memancang tekad. Sebuah keputusan (yang bagiku) besar akan kuambil. Segera. Tanpa tunda-tunda. Kalaupun aku mengatur masa. Itu hanya untuk menemukan momentum yang tepat saja. Ini serius. Bukan gaya-gaya. Apalagi sekedar basa-basi untuk mengelak dari provokasi. Tidak, itu nakal sekali.

Setelah menyelesaikan tulisan ini, aku akan menuliskan surat itu di selembar kertas, memasukkannya ke dalam amplop dan mencari waktu yang pas untuk menyampaikannya kepada “dia yang berwenang”. Kujamin tak kan lama. Sebelum Ramadhan ini. Agar pribadi yang egois ini bisa segera menginsyafi diri.

Aku bermohon pada-Nya agar meneguhkan pilihanku atas keputusan (yang bagiku) besar ini. Aku mohon petunjuk-Nya. Aku mohon ridha-Nya. Bismillah…

Ruang Staf Kepala Kanwil, menunggu dimulainya Bakti Sosial Donor Darah di lantai bawah
28 Juli 2010

8 komentar:

  1. amiiin... semoga di permudah :D

    BalasHapus
  2. awak turut mendoakan yng terbaik aja buat dirimu sepupuku...

    BalasHapus
  3. Amiin..
    Makasi telah mendo'akan...
    Semoga Allah membalas yang lebih baik dan terbaik untukmu..

    BalasHapus
  4. loh..
    sepupu awak ni kok ikut2an ngempi sekarang?
    ckckck...

    BalasHapus
  5. bener...Bacanya aja udah capek By...*Bersabar dalam setiap ujian...Insya Allah.

    BalasHapus
  6. ckck.. Sarah..Sarah.. sori la ya klo bacanya capek.. mudah2an tetap sabar dan istiqamah membaca tulisan2 awak berikutnya.. :D

    BalasHapus
  7. pasti leh bro...Insya Allah. Tapi jangan sampai jatuhnya ber"keluh kesah" sama MP, di sini...

    BalasHapus