serupa air dari wajan penuh luka-luka tertumpah
kau nyanyikan nada-nada sendu pada awal perjalanan kita yang merah
semerah darah kita yang gelegak gelora hendak bertanya tentang gundah
: di manakah letak muthmainnah?
lantas kitapun terus mendaki terjalnya bebukit
sudah kubilang ini Sinabung bukan sembarang gunung
tapi kau kukuh katakan tekad, kalau memang yakin, kenapa harus berhenti?
langkah-langkah kita lanjut tapaki bebatu
meski pedih terabas belukar dan gerumbul perdu
tapi niat semakin berpadu, biar ular gigit kakimu
hingga kemudian kecamuk hujan goda kita untuk pulang
percayakah kau pada bisik manis setan itu?
hanya seulas senyum terpampang demi mendengar tanya bodohku
lalu kau hunus pedang saktimu untuk bunuh ragu
yang terus merayu-rayu di puncak Sinabung
Banda Aceh, 4 Januari 2010