serupa air dari wajan penuh luka-luka tertumpah
kau nyanyikan nada-nada sendu pada awal perjalanan kita yang merah
semerah darah kita yang gelegak gelora hendak bertanya tentang gundah
: di manakah letak muthmainnah?
lantas kitapun terus mendaki terjalnya bebukit
sudah kubilang ini Sinabung bukan sembarang gunung
tapi kau kukuh katakan tekad, kalau memang yakin, kenapa harus berhenti?
langkah-langkah kita lanjut tapaki bebatu
meski pedih terabas belukar dan gerumbul perdu
tapi niat semakin berpadu, biar ular gigit kakimu
hingga kemudian kecamuk hujan goda kita untuk pulang
percayakah kau pada bisik manis setan itu?
hanya seulas senyum terpampang demi mendengar tanya bodohku
lalu kau hunus pedang saktimu untuk bunuh ragu
yang terus merayu-rayu di puncak Sinabung
Banda Aceh, 4 Januari 2010
maka tancapkan satu kepercayaan setelahnya dipucak sinabung pula
BalasHapusnice,
BalasHapusSinabung teh dimana ya?
Makasi mbak el..
BalasHapusragu itu ingin kutikam saja rasanya! n_n
syukran. Sinabung itu gunung tertinggi di Sumatera Utara..
BalasHapustikam saja jika itu membaebaskan langkahmu
BalasHapustentu. aku akan lakukan itu.
BalasHapusHyaaaaaaaaaaaat........... *ambil golok*
sini aku bantu pake clurit
BalasHapuswekekekekkeke
huhu.. tradisional nih peralatannya.. :D
BalasHapuslo aku cinta indonesia rek
BalasHapusyup. sama. aku juga ACI. ^_^
BalasHapushalah lebay semuanya
BalasHapushoho.. ^_^
BalasHapusRoby puisinya bagus2. Gak coba kirim ke Kompas? Bang Abdul Razak udah nembus Kompas.com
BalasHapusIya kak. Tapi bg Razak cm nembus versi onlinenya. Menurut roby biasa aja, Kak. Pengennya sih ke versi cetaknya. Mulai dari GirlieZone, Story, trus Sindo dan Koran Tempo. Gitu rencananya, Kak. Doain aja ya kak..
BalasHapus