Tampilkan postingan dengan label penipuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penipuan. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Januari 2011

INFORMASI DPO PENIPUAN: DICARI ARIS KRISTIANTO!

Astagfirullah...
URGENT & PENTING !
Informasi ini HARUS saya SEBAR untuk MENGHENTIKAN/MENGURANGI KORBAN Penipuan dari Oknum yang TIDAK BERTANGGUNG JAWAB DAN TELAH MERUGIKAN Puluhan Orang, MERUSAK KELUARGA ORANG, MENGHANCURKAN DAN MEMBUAT MALU KELUARGA dengan Nilai Ratusan Juta Rupiah, termasuk saya....

DPO karena Menipu/Manipulasi/Menjual Nama Saya Orang yang bernama ARIS KRISTIANTO (profil ada di fesbuknya), asal : Aceh, domisili medan..... dengan modus :
1. investasi usaha dengan margin yg besar dan menguntungkan,
2. orang tua sakit,
3. anak/istri sakit,
4. menjual nama saya (syahrul komara) atau bisnis saya,
5. menjual nama partai da'wah/mengaku kader
6. dana awal tender/proyek ...

Orang berpenampilan menarik,usia 23-25 th, tinggi 178-180 cm, hitam manis,wajah arab/aceh, rambut ikal pendek,dan mampu meyakinkan org. Saat ini istri & anaknya (yang berumur 2 bulanan) serta ibunya yang sudah tua dan tinggal sendiri ditinggalkan dan menanggung semua akibat perbuatannya. AGAR REKAN-REKAN & SAUDARAKU TIDAK TERTIPU & MENJADI KORBAN SELANJUTNYA..

MOHON AGAR BERHATI-HATI TDK LANGSUNG IBA & PERCAYA (karena yang bersangkutan sendiri telah TEGA MENJUAL IBUnya, Berbohong pada Orang Tua Angkat yang telah Mengangkat dan membesarkan serta membiayai kehidupannya, meninggalkan Anak & Istrinya, Membohongi Mertuanya,dan merusak ikhwan/akhwat yg lugu, ikhlas  dan telah memberikan / berniat membantu MALAH diZHALIMI)

Mohon dapat diinformasikan bila ada yang melihat keberadaannya karena sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dan pencarian orang-orang terzhalimi serta sudah diserahkan keluarganya untuk diproses secara hukum. Semoga bermanfaat. Astagfirullah.

 Cp. syahrul komara 081397242401

Sumber: Note FB Syahrul Komara http://www.facebook.com/profile.php?id=1415617729#!/note.php?note_id=475470273402

NB: Saya sendiri merupakan korban, dengan nilai 25 juta rupiah ketika saya akan menikah dan memulai hidup berumahtangga. Malangnya, 20 jutanya adalah uang teman-teman yang saya ajak ikut. Dan saya tetap harus mengganti semuanya.

Buronan ini pernah dua kali ditangkap tapi dua kali kabur/melarikan diri. Dia pernah aktif di Moslem Youth Club Medan, Rumah Zakat Indonesia di Batam, Arminareka (Biro Haji) dan manager tim nasyid Maidany. Berhati-hatilah, sebab ia memanfaat semua predikat ini untuk menipu. Bahkan ada yang sampai ditipu 300 juta rupiah.

Foto ybs (Aris Kristianto) yang berdiri paling depan.

Rabu, 18 Agustus 2010

Ditipu Cinta Ibu

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, seorang lelaki datang menemui Rasulullah dan bertanya kepada beliau, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku pergauli?". Beliau menjawab, "Ibumu," ia bertanya lagi, "Lalu siapa?" Rasul menjawab lagi, "Ibumu! Ia balik bertanya lagi, "Siapa lagi?" Rasul kembali menjawab, "Ibumu!" Ia kembali bertanya, "Lalu siapa lagi?" Beliau menjawab, "Bapakmu!" (Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani)

Ibu. Dialah manusia yang cintanya tak putus. Kata lagu-lagu yang kuhafal semasa SD dulu, kasih ibu sepanjang masa seperti matahari, sementara kasih ayah sepanjang galah yang pasti ada ujungnya. 

Ibu. Kata ini sungguh menggetarkan hati. Pengorbanannya tak terhingga. Sepanjang hayat tak kan mampu kita membayar jerih ketelatenannya mengasuh dan mendidik kita, anak-anaknya, hingga menuju puncak kesuksesan. Mulai dari mengandung selama sembilan bulan, melahirkan yang mempertaruhkan nyawa, menyusui dengan ASI eksklusif selama dua tahun, menyekolahkan kita, memberi kita uang jajan sampai meminangkan seorang gadis beriman untuk kita (bagi lelaki, atau menerima pinangan seorang lelaki berakhlak menawan buat perempuan).

Ibu. Surga berada di bawah telapak kakinya. Setiap anak pasti mencintai ibunya. Alangkah janggal jika ada yang tidak menaruh hormat dan kasih mendalam kepada insan yang telah menjadi asbab kehidupannya.

Tapi tulisan ini tidak sedang ingin mengkaji lebih dalam hadits di atas. Juga tak hendak menjabarkan faedah-faedah dan cara-cara birrul walidain (berbakti pada orang tua).

Namun tulisan ini juga bukan merupakan sebuah kisah pengkhianatan. Mungkin dari judulnya, ada yang menduga bahwa goresan pena ini akan bercerita tentang kekecewaan. Bukan. Sungguh bukan. Tulisan ini hanya ingin membagi pengalaman saya yang sederhana sekaligus agak menggelikan.

Dua pekan yang lalu saya pulang kampung ke Binjai, Sumatera Utara. Tujuan utamanya sebenarnya adalah untuk mengikuti ujian seleksi Program D3 Khusus STAN. Namun, seperti biasa, misi sampingan tentu tak boleh dilewatkan. Prinsipnya, jangan sampai ada kesempatan yang disia-siakan.

Kepulangan ini juga melepas rindu saya yang tak terbendung pada keluarga: ibu, ayah (yang berdomisili di Mandailing Natal dan kebetulan sedang pulang juga) serta adik-adik (salah satunya baru saja pulang dari perantauan di bumi Sriwijaya).

Entah memang saya yang terlalu mencintai ibu saya. Entah karena keinginan untuk berbakti yang begitu kuat. Rasionalitas saya seketika hilang ketika menerima sebuah sms yang berbunyi:

"Belikan dulu Mama pulsa As 20rb di nomor baru mama. Ini nomornya 08521067xxxx. Cepat ya. Soalnya Mama ada masalah penting."
Pengirim: 08524230xxxx

Saya langsung panik. Ingin segera memenuhi seruan sederhana untuk berbakti ini. Entah karena saya yang kelelahan sebab baru saja tiba dari Banda Aceh setelah melalui perjalanan darat selama 10 jam. Saya langsung keluar. Men-starter Beat. Mencari kios pulsa terdekat.

Oh, tidak!
Semuanya tutup!
Saya harus gegas. Jangan sampai Mama kecewa.
Lalu saya menelepon Bang Rajab, seorang ikhwan yang bisnis wartel dan pulsa. Diawali dengan sedikit basa-basi menanyakan kabar, saya langsung to the point, "Bang, kirimkan pulsa 20 ribu ke nomer 08521067xxxx ya! Ntar uangnya ana ganti. Ba'da zuhur insya Allah ana silaturahim ke rumah Abang."

Lalu pulsapun terkirim. 
Saya buru-buru menelepon Mama untuk memastikan pulsanya sudah masuk.
"Gimana, Ma? Udah masuk pulsanya, khan?"
"Pulsa? Pulsa apa maksudnya, By?" jawab Mama heran.
"Loh? Tadi kan Mama yang minta dikirimin pulsa di nomor baru?" saya menjawab lebih heran lagi.

Usut punya usut. Saya telah menjadi korban penipuan. Ya, penipuan yang bisa dituntut dengan Pasal 378 KUHP. Meski nominalnya cuma 20 ribu, tapi saya tertipu. Si penipu memanfaatkan kecintaan si korban kepada ibunya untuk mengeruk keuntungan. Ini modus operandi baru (setidaknya bagi saya). Walaupun mungkin juga ini hanya ulah iseng teman saya yang usil. Ckck...

Huffhh...
Mungkin saya yang terlalu ceroboh. Nomor si pengirim jelas-jelas nomor asing, bukan nomor ibu saya (baik yang Telkomsel maupun IM3), tapi saya dengan begitu mudahnya mempercayai dan meresponnya. Ah, sudahlah. Lebih baik ambil pelajaran saja. Supaya kita tidak ditipu (gara-gara) cinta ibu..