seperti dikejar hantu dari setiap penjuru
tolong dengarkan ceritaku, katamu pilu
lalu aku mengangguk dan sanggupi pintamu
kitapun sama-sama berlari menuju dermaga
menatapi riak-riak Toba yang nakal
di permukaannya,
aku temukan wajahmu terapung
dipermainkan gelombang
ditertawakan ikan-ikan
sebab kau masih juga bungkam
sampai akhirnya angin datang berbisik
di telingaku ia kirimkan kabar dukamu yang tak henti menganak sungai
membanjiri lesung pipimu
tapi kau tetap diam,
wajahmu dikurung murung,
dan aku hanya menyimak ocehan angin
sembari terus menunggu bibirmu jujur padaku
Banda Aceh, 3 Januari 2010, 23.50 WIB
terapung
BalasHapusmelayang layang
mengikuti pikiran terbang
biarkan dulu
pasti nati akan kembali lagi
reda seperti semula
nice poem
sepi
BalasHapusmurung
puisinya sgt murung mas
suasananya bgs :)
ya, ada masa untuk rehat sejenak dari lelah letih rutinitas yang memenatkan..
BalasHapusmurung? kenapa menyimpulkan begitu?
BalasHapustapi suasananya bagus? duh, bagaimana bisa begitu?
maksud sy ada kontradiktif yg indah yg dilukiskan di puisi itu. antara latar yg bagus dan perasaan yg murung :)
BalasHapussalah ya? sy menangkapnya spt itu
entahlah. adalah hak pembaca untuk menerjemah bait-bait makna. n_n
BalasHapus