Senin, 04 Januari 2010

Suatu Petang di Tepi Toba

petang itu kau ketuk-ketuk pintu rumahku buru-buru
seperti dikejar hantu dari setiap penjuru
tolong dengarkan ceritaku, katamu pilu
lalu aku mengangguk dan sanggupi pintamu

kitapun sama-sama berlari menuju dermaga
menatapi riak-riak Toba yang nakal

di permukaannya,
aku temukan wajahmu terapung
dipermainkan gelombang
ditertawakan ikan-ikan
sebab kau masih juga bungkam

sampai akhirnya angin datang berbisik
di telingaku ia kirimkan kabar dukamu yang tak henti menganak sungai
membanjiri lesung pipimu

tapi kau tetap diam,
wajahmu dikurung murung,
dan aku hanya menyimak ocehan angin
sembari terus menunggu bibirmu jujur padaku


Banda Aceh, 3 Januari 2010, 23.50 WIB

6 komentar:

  1. terapung
    melayang layang
    mengikuti pikiran terbang

    biarkan dulu
    pasti nati akan kembali lagi
    reda seperti semula

    nice poem

    BalasHapus
  2. sepi
    murung

    puisinya sgt murung mas
    suasananya bgs :)

    BalasHapus
  3. ya, ada masa untuk rehat sejenak dari lelah letih rutinitas yang memenatkan..

    BalasHapus
  4. murung? kenapa menyimpulkan begitu?
    tapi suasananya bagus? duh, bagaimana bisa begitu?

    BalasHapus
  5. maksud sy ada kontradiktif yg indah yg dilukiskan di puisi itu. antara latar yg bagus dan perasaan yg murung :)
    salah ya? sy menangkapnya spt itu

    BalasHapus
  6. entahlah. adalah hak pembaca untuk menerjemah bait-bait makna. n_n

    BalasHapus