Sabtu, 03 Juli 2010

Komite Pengingat Janji (Catatan Ngayal Seorang Pelupa)

Komite Pengingat Janji

(Catatan Ngayal Seorang Pelupa)

Oleh: Anugrah Roby Syahputra

Indonesia. Negeri gemah ripah loh jinawi. Syaikh Ath-Thantawi pernah menyebutnya sebagai sepenggal firdaus di muka bumi. Sementara Max Havelaar menjulukinya zamrud khatulistiwa. Yah, intinya republik ini adalah tanah yang kaya. Bumi dan lautnya bisa lebih dari cukup untuk menyejahterakan rakyatnya. Tapi memang harapan belum berjodoh dengan realitas. Lalu apa yang salah pada negeri yang kecintaanku padanya lebih dalam daripada Samudra Hindia ini?

Ah, entahlah. Andai aku jadi presiden seperti Pak SBY, kurasa banyak hal yang akan segera kulakukan. Sekarang saja kepalaku hampir pecah menampung uneg-uneg yang tak kunjung tersalur itu.

Andai aku jadi SBY, hal pertama yang kulakukan adalah memanggil para wartawan yang dulu bertugas melakukan liputan selama Pilpres untuk kumintai data-data mereka tentang apa saja yang sudah pernah aku janjikan dalam kampanye. Paling tidak dari kliping pemberitaan mereka, aku bisa melihat semacam daftar janji yang di samping kanannya ada kolom check list apakah poin itu sudah terlaksana atau belum. Dan di sebelah kanannya ada kolom keterangan lagi supaya aku bisa tahu mengapa program yang aku janjikan itu belum juga mewujud nyata.

Tak lupa, aku juga akan menjumpai semua elemen yang dulu sudah pernah membuat kontrak politik menjelang pemilihan denganku. Baik dari kalangan organisasi mahasiswa maupun lembaga swadaya masyarakat serta pihak partai koalisi. Biar mereka bisa mengingatkanku jika lupa pada naskah kontrak yang dulu kuteken tanpa sempat kubaca betul-betul itu.

Bahkan jika mereka setuju, aku akan buat jadwal khusus bagi mereka untuk bertemu denganku secara rutin untuk bersama-sama mengevaluasi target-target pemerintah. Nanti akan kuminta sekretaris kabinet untuk mengagendakan majelis ini. Soal tempat, terserah mereka saja. Bisa di Istana Kepresidenan, namun bila hendak duduk lesehan di bawah rerindang pohon taman kota juga tak mengapa. Sesekali mengganti setting rapat seperti ini tentu mengasyikkan. Hitung-hitung juga sekalian refreshing, agar staf ahliku tak bosan berkelahi terus dengan data dan angka.

Andai aku jadi SBY, aku akan menumbuhkan kepercayaan (trust) masyarakat terlebih dahulu. Masih jelas terngiang dalam ingatanku nasehat Pak Kyai bahwa pemimpin yang baik adalah yang mencintai rakyat dan rakyatpun mencintainya. Tapi yang kumaksud ini bukan soal politik pencitraan belaka loh. Aku tentu tak mau menghambur-hamburkan anggaran yang diperas dari keringat dan darah rakyat hanya untuk beberapa spot iklan televisi.

Tapi aku ingin seperti Umar dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah yang pernah kubaca. Aku ingin meniru lakon Umar bin Khattab yang tak bisa tidur nyenyak dan makan enak sebelum memastikan seluruh warganya telah mengepul asap dapurnya. Kupikir itulah yang semestinya aku dan bawahanku (baca: gubernur/walikota/bupati) lakukan jika benar-benar bertekad menjadi pelayan ummat. Sungguh indah sekali rasanya, jika kami –aku dan para menteri serta kepala daerah- secara sukarela melakukan ronda keliling untuk mengecek kondisi rakyat. Minimal di kampung kediaman sendirilah. Seperti Umar yang menyamar dengan pakaian lusuh dan mengendap-endap. Ia betul-betul menjaga keikhlasan amalnya.

Memang itu tak mudah. Namun kedekatan dengan rakyat harus dibangun. Dan satu lagi yang insya Allah akan cukup efektif adalah dengan shalat jama’ah lima waktu berpindah-pindah masjid. Setidaknya di setiap lokasi shalat aka nada curhat dan keluh kesah warga yang bisa kudengar langsung. Kan sekalian memangkas prosedur birokrasi yang berbelit-belit untuk menyampaikan aspirasi. Cara inipun bisa juga dicontoh oleh teman-teman anggota legislatif agar tidak hanya mengandalkan masa reses baru bisa menyerap aspirasi konstituen.

Kemudian, masa libur dan cutikupun tak akan kusia-siakan untuk bercengkerama dengan rakyat. Aku tetap akan berlibur, namun tetap dengan misi menyambangi orang-orang yang kupimpin. Meski tanpa prosesi protokoler kenegaraan, tugas-tugas ini akan menjadi nikmat, apalagi jika rakyat tak lagi canggung untuk berbagi suka-dukanya serta sesekali bercanda dan tertawa lepas bersamaku. Tak perlu acara formal. Di teras masjid atau serambi rumah penduduk pun tak masalah. Yang penting tak ada lagi buruk sangka rakyat kepada pemimpinnya. Dan untuk kunjungan-kunjungan seperti ini, aku akan memprioritaskan kawasan Indonesia Timur dan daerah-daerah terpencil yang jarang atau –bahkan- tak pernah didatangi pejabat-pejabat publik sebelumnya.

Oya, untuk mengatasi masalah ekonomi, aku sudah betul-betul bertekad untuk mengumpulkan putra-putri terbaik ibu pertiwi untuk dimasukkan dalam tim ekonomi yang akan mencampakkan jauh-jauh sistem ribawi. Mungkin kapitalisme tak akan mudah digeser, namun jika serius dan semua pihak turut mendukung maka ia akan mudah kita gusur dan gantikan dengan sistem kerakyatan yang adil dan menenteramkan seperti yang dahulu pernah dipraktikkan Nabi Muhammad dalam bermuamalah. Yang jelas, kelompok mafia Berkeley yang masih bersarang di pemerintahan kupastikan akan segera hengkang. Sumpah! Aku tak akan pernah ikut-ikutan mengemis mengharap utang dari luar negeri lagi. Sungguh! Dan aku akan mempercepat pelunasan utang yang sudah terlanjur dinikmati oleh para koruptor sejak empat dekade sebelumnya. Aku tak ingin bayi-bayi baru lahir memikul beban utang di pundak mereka.

Andai aku jadi SBY, zakat akan kuwajibkan. Tentu saja setelah berkonsultasi dan berkoordinasi dengan para ulama, pakar hukum dan tim ekonomiku. Sementara pajak akan dimimalisir. Pajak hanya akan diminta jika penerimaan zakat tidak bisa meng-cover total pengeluaran negara. Dan untuk melipatgandakan revenue, aku akan membuat kebijakan untuk menasionalisasi asset-aset penting yang dulu secara tolol telah diprivatisasi atau diserahkan secara cuma-cuma kepada asing termasuk perusahaan telekomunikasi dan pertambangan seperti Exxon, Inalum, Caltex, Freeport dan Newmont.Satu hal lagi yang ingin kulakukan untuk menghemat anggaran adalah dengan mengefisiensi biaya perjalanan dinas. Tidak ada lagi yang ke luar negeri kecuali dengan izinku untuk keperluan yang benar-benar urgen. Selama ini aku sudah tahu kalau kunjungan kerja, studi banding dan sejenisnya itu hanyalah ajang pelesir belaka.

Masalah republik ini memang terlalu banyak. Tekadku, andai aku jadi SBY, di mata hukum semua akan kuperlakukan sama. Tak peduli jika yang salah adalah kerabat atau besanku sendiri sebagaimana Rasulullah menegaskan komitmennya untuk memotong tangan Fatimah ra. jika putrinya tersebut mencuri. Walaupun dia anak seorang jenderal, menantu pimpinan parpol atau pengusaha kelas kakap akan kuperlakukan dengan sama. Tak ada beda.

Soalan Lapindo belum kelar. Pe-er lain masih menanti: pengangguran, kemiskinan, kriminalitas, kualitas pendidikan dan layanan kesehatan, kelengkapan persenjataan militer dan seabreg problem lainnya. Jika bergerak sendiri tentu aku tak mampu. Maka mungkin aku akan mengundang para pakar multidisiplin ilmu untuk curah gagasan pada kabinetku secara rutin setiap bulan. Dan agar cita-cita mulia ini tetap terjaga serta istiqamah tampaknya kegiatan pembinaan mental kerohanian butuh dilaksanakan secara rutin setiap pekan agar kami bisa mengingat janji-janji yang harus kami pertanggungjawabkan nanti baik kepada rakyat maupun kepada Dzat yang Maha Memiliki Kekuasaan.

Besar harapanku rencana ini diberikan jalan kemudahan. Akupun akan segera merampingkan banyak Lembaga Non Struktural yang tak ada kerja dan hanya membuang-buang duit rakyat saja serta membentuk satu lembaga baru yang diisi orang-orang terpilih yang teruji integritas dan konsistensinya: Komite Pengingat Janji. Sebab aku dan para pemimpin pendahuluku, baik di negeriku maupun di seberang samudera sana, seringkali mudah lupa pada janji-janjinya.

12 komentar:

  1. dan cukuplah pd diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabat yg mulia suri tauladan bg yg mengaku dirinya pemimpin negara

    BalasHapus
  2. Ini dimuat di mana gitu atau blog entry aja? After all, semoga ada org yg dapat memforward tulisan ini pada SBY dan (bukannya disomasi atau dijatuhi tuduhan pencemaran nama baik) dapat segera menangkap pesan perbaikan yg disampaikan dalam tulisan ini :)

    BalasHapus
  3. ikut gk antologi SBY di FB kemaren. lupa yang adain sapa. kayae tulisan ini cocok deh

    BalasHapus
  4. analisa yg keren....semoga pemimpin bangsa bisa berkaca diri pada siroh nabawiyah dan para sahabat dalam menjalankan amanah kepemimpinannya

    BalasHapus
  5. Insya Allah. Dia Shallallahu alailihi wasallam adalah negarawan terbaik di muka bumi..

    BalasHapus
  6. Ini cuma diposting di sini aja. Awalnya diikutkan proyek antologi "tertentu", tp sayang proyek itu akhirnya batal..

    BalasHapus
  7. Iya. Tulisan ini memang diikutkan di proyek "Andai Aku Jadi SBY" yg diinisiasi Syamsuddin Kadir, anak PP KAMMI yg jg editor Muda Cendikia yg id fb-nya Pena Menari. Tapi terakhir, eh katanya proyeknya dibatalkan. Nggak tau kenapa alasannya..

    BalasHapus
  8. Amiin..
    Semoga 2014 nanti rakyat Indonesia bisa lebih cerdas memilih.. dan tokoh-tokoh terbaik ummat juga diberikan kebijaksanaan untuk melakukan strategi pen-sibghah-an wilayah politik.

    BalasHapus