Oleh: Anugrah Roby Syahputra
"Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah. Ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tak terarah" (Qatadah dalam Tafsir Al-Qurthubi, 2002)
Tak seorangpun yang memungkiri bahwa menulis adalah nikmat. Berbagai penelitian telah membuktikan hal tersebut. Fatima Mernissi, seorang penulis wanita tersohor, menyebutkan bahwa setiap satu goresan tulisan dapat menghilangkan satu keriput di kantong mata. Kemudian diketahui pula seorang psikolog peneliti, Dr. James W. Pennebaker, mengamini keyakinan Mernissi itu dengan membuktikan bahwa menulis dapat meningkatkan kekebalan tubuh seseorang. Dari mahasiswa yang dia teliti didapatkan kunjungan ke klinik kesehatan menurun dengan cukup signifikan setelah mereka menulis. Pemeriksaan darah yang dilakukan setelah mereka menulis pun menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih.
Fakta itu dia tuliskan dalam bukunya Opening Up: The Healing Power of Expressing Emmotions. Sampai-sampai menulis bisa menyembuhkan gangguan kejiwaan yang dialami oleh John Mulligan, seorang veteran perang Vietnam. Belum lagi cerita-cerita orang yang berhasil bebas dari belenggu kegelisahannya dengan menulis diary. Ya, menulis itu memang nikmat. Tapi bukan untuk itu saja kita diperintahkan menulis. Nikmat menulis itu seyogianya bukan untuk pribadi saja, melainkan juga untuk kemanfaatan sebanyak-banyak orang agar kita bisa menjadi sebaik-baik manusia (khairun-naas).
Berbagai literatur menunjukkan pada kita tentang keutamaan menulis dalam perspektif Islam. Menulis juga merupakan sebuah ibadah yang mulia. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT bersumpah, “Nuun. Demi pena dan apa yang ia tulis”. Ini adalah cara Allah memuji para penulis. Dalam ilmu tafsir, jika Allah sudah bersumpah dengan nama mahluk, itu menandakan bahwa mahluk itu dimuliakan sebab ia memiliki arti penting bagi kehidupan sebagaimana Allah pernah bersumpah demi waktu, bulan, matahari, fajar dan sebagainya.
Demikianlah Allah memuliakan para penulis. Ini artinya menulis bukanlah amalan sembarangan yang tidak berharga. Menulis adalah alat perjuangan dalam arti yang sangat luas. Tidakkah kita ingat bahwa Imam Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”?
Tradisi Kepenulisan dalam Sejarah Islam
Sejarah Islam, kata tokoh jihad Afghanistan Asy-Syahid DR. Abdullah Azzam, hanya dapat ditulis dengan tinta emas para ulama dan darah merah para syuhada. Maka tak heran jika kita mengorek kembali keping mozaik kehidupan generasi awal umat ini selalu menyertakan para penulis di balik kejayaannya. Hampir semua ulama yang menjadi –meminjam istilah Anis Matta- arsitek peradaban adalah para penulis ulung dengan karya-karya fenomenal yang sampai sekarang masih dijadikan referensi berbagai macam disiplin ilmu di seluruh dunia.
Dunia Barat pun ikut tercengang menyaksikan kegemilangan Islam yang dibangun dengan budaya literasi yang kokoh itu. Salah seorang ilmuwan mereka sendiri secara tulus mengakuinya,”Sepanjang masa kekhalifahan Islam, para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya; menyediakan peluang kepada siapapun yang membutuhkan; memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah mereka; menjadikan pendidikan menyebar luas hingga ilmu, sastra, filsafat dan seni mengalami kejayaan luar biasa yang membuat Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.”(Will Durrant, Story of Civillization).
Dalam catatan emas itu, kita akan temukan torehan-torehan luar biasa para tokoh termasyhur dari kalangan ilmuwan Islam. Di bidang kedokteran, Ibnu Sina –atau Avicenna- menulis kitab-kitab tentang obat dan jamu-jamuan seperti Al-Qanun Fi Ath-Thibbi dan Asy-Syifa’. Kemudian ada Al-Khawarizmi, peletak dasar ilmu matematika yang menulis kajian awal tentang aljabar dalam Al Jabru Wal Mughabala. Selain itu, ada Ibnu Rusyd yang mematahkan argumen sesat para filosof Yunani yang diagung-agungkan dunia semacam Aristoteles dalam Bidayatul Mujtahid dan Fasli Al- Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syariat. Ditambah lagi sederetan nama lain seperti Al-Haitsam si “Bapak Optik” dan penemu kamera analog. Al-Idrisi bapak kartografi dari pulau Sisilia, Italia. Ibnu Khaldun, Al-Kindi, Al-Biruni dan masih banyak lagi.
Tak ketinggalan para ulama pewaris Nabi mentradisikan menulis dalam hidupnya. Kapasitas dan produktivitasnya diakui. Mereka sadar betul bahwa ini adalah sarana pengikatan dan pewarisan ilmu. Muhammad bin Idris atau yang lebih dikenal sebagai Imam Syafi’i menulis karya masterpiece-nya kitab Al-Umm yang terdiri dari 4 jilid dan 128 masalah dan Ar-Risalah Al-Jadidah. Bahkan konon kabarnya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bisa menyelesaikan sebuah kitab dalam sekali duduk. Tak kalah hebat dengannya, Ibnu Katsir pun tidak berpuas diri hanya menulis tafsir, tapi juga kitab lainnya semisal Al-Bidayah Wan Nihayah. Lalu Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dengan karangan spektakulernya Raudhatul Muhibbin.
Di kalangan khalaf, kita bisa mendapati hal serupa. Sayyid Quthb menulis tafsir Fii Zhilalil Qur’an sebagian besarnya di balik jeruji penjara Mesir. Buku ini kemudian menjadi inspirasi bagi banyak gerakan Islam di seluruh dunia. Hal serupa juga dilakukan oleh ideolog sekaligus pendiri organisasi Ikhwanul Muslimin, Hassan Al-Banna. Wasiat-wasiatnya untuk generasi penerus estafet dakwah ia tuliskan di berbagai media. Kumpulan tulisan beliau tersebut akhirnya dikompilasi dalam sebuah kitab berjudul Majmu’atur Rasail yang hingga kini menjadi pemantik gelora jihad para aktivis di segenap penjuru untuk membangkitkan kembali kejayaan yang telah lama pergi.
Di samping itu, salah satu yang paling anyar adalah Dr. Aidh Al-Qarni. Ulama muda yang hafal ribuan hadits dan puluhan ribu bait syair ini telah berhasil menggugah kesadaran spiritual ummat Islam dengan karya-karya beliau seperti La Tahzan. Sementara itu di bidang pemikiran dan fiqih, kita mengenal nama ulama kontemporer asal Qatar Dr. Yusuf Al-Qaradhawy yang menulis puluhan buku yang mengulas berbagai problema kekinian seperti Al Halal wa Al-Haram fi Al-Islam, Fiqh Zakat, Fiqh Al-Thaharah, Fiqh Al-Ghina’ wa Al-Musiqa dan yang terbaru: Fiqh Jihad. Buah tangan beliau ini menjadi rujukan di berbagai perguruan tinggi dan institusi pengkajian Islam lainnya.
Begitulah para ulama mencontohkan. Karya-karya mereka abadi dan dikenang sepanjang masa. Kontribusinya berlanjut tanpa pernah terputus. Inilah amalan yang terus berlanjut meski nyawa telah berpisah dari jasad. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara : shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya”. Mereka percaya bahwa menulis adalah bagian dari cara untuk mentransfer ilmu dan semangat mereka. Pekerjaan menulis adalah ibadah yang dianjurkan. Ada sebuah keyakinan mendalam bahwa menulis adalah ladang amal tempat kita berinvestasi agar memiliki tempat yang nyaman di kampung akhirat. Dengan menulis, ilmu-ilmu itu dapat dikonsumsi manusia dari berbagai zaman meski penulisnya telah mati sebagaimana sebuah pepatah yang berbunyi scripta manent verba volant (yang tertulis akan abadi, yang terucap akan berlalu bersama angin). Dengan begitu, jika kita mau menghitung-hitung kalkulasi pahala yang kita peroleh dari amalan menulis ini akan dengan sangat cepat berlipat ganda. Belum lagi bonus-bonus tambahan yang dijanjikan-Nya jika kita menjadi fasilitator hidayah bagi orang lain. Bukankah Sang Nabi pernah menyampaikan bila kita menjadi perantara hidayah, maka itu lebih baik bagi kita daripada dunia dan seisinya. Dalam riwayat yang lain disebutkan lebih baik dari unta merah, kendaraan termewah masa itu.
Itulah sebabnya Helvy Tiana Rosa menuliskan Ketika Mas Gagah Pergi dan tergerak mendirikan komunitas penulis Forum Lingkar Pena yang berasaskan Islam. Banyak sekali muslimah yang tergugah kesadarannya untuk berhijab secara sempurna setelah membaca kumpulan cerita pendek karangan beliau tersebut. Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El-Shirazy pun tak kalah daya dobraknya. Novel-novel tersebut mampu secara apik dan estetik menyadarkan banyak orang bahwa agama ini ternyata mengatur etika komunikasi dengan lawan jenis. Publik disuguhkan pemahaman yang membuat mereka tersadar bahwa selama ini ada norma yang dilanggar. Orang-orang menjadi tahu bahwa pacaran adalah bentuk lain dari zina yang diharamkan. Mereka diajari tanpa merasa digurui. Ini baru karya sastra, yang fiktif dan dikemas dengan gaya pop.
Belum lagi yang serius dan ilmiah. Lihatlah bagaimana Ma’alim Fith Thariq-nya Sayyid Quthb dan Ayaturrahman fii Jihadil Afghan-nya Abdullah Azzam telah sukses memompa gelora jihad di tengah ummat yang sempat kehilangan ghirah dan kepercayaan diri. Hal ini pula yang kemudian “diimani” Pramoedya Ananta Toer –tentu dengan akidah kirinya-,”Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Hingga ia menulis tetralogi Buru yang terus menjadi perbincangan hangat di berbagai forum itu.
Menulis, Instrumen Perlawanan
Alvin Toffler, seorang futurolog dan pakar ilmu sosial menyatakan bahwa abad ini adalah era informasi global sehingga dakwah konvensional yang dilakukan para ulama selama ini sudah tidak relevan lagi. Sebab, mayoritas umat manusia sudah tak peduli lagi terhadap nasehat lisan para syaikh dan ustadz. Mereka kini lebih percaya kepada media massa yang telah memberikan mereka kepuasan. Sampai-sampai ada ungkapan seperti mass media is our second god. Na’udzubillah min dzalik. Tak tahukah mereka bahwa dengan mendewakan media massa, mereka telah berbuat kemusyrikan. Ada thagut, sesuatu selain Allah yang mereka jadikan sesembahan. Betapa miris memang nasib umat Islam hari ini yang telah jauh dari tuntunan Qur’an dan Sunnah. Banyak dari mereka yang telah menjadi korban ghazwul fikr (invasi pemikiran) yang dilancarkan oleh musuh-musuh Allah SWT.
Hari ini dunia kita adalah dunia yang berbeda. Kapitalisme secara keji telah melakukan penindasan terhadap dunia ketiga dan ummat Islam. Kejahatan Zionis Internasional dengan berbagai lembaga dan organisasi mereka semacam Freemasonry, Illuminati dan klub-klub berkedok sosial semakin menggurita. Kemaksiatan merajalela gara-gara mayoritas kaum muslimin kesulitan keluar dari jerat kemiskinan. Fakta-fakta ini merupakan sebuah tantangan bagi para dai yang mengaku telah mewakafkan jiwanya di jalan penuh onak dan duri ini.
Oleh karena itu, mantan Mursyid Aam Ikhwanul Muslimun, Syaikh Umar At-Tilmisani mengingatkan para penggiat dakwah, “Kami telah belajar banyak dari pemimpin kami Imam Hasan Al-Banna bahwa sarana-sarana dakwah hari ini berbeda dengan apa yang berlaku kemarin. Menjadi kewajiban seluruh da’i untuk menguasai dengan baik seluruh alat-alat informasi dan sarananya.” Di sinilah peran karya tulis. Ia adalah senjata perlawanan yang paling efektif dalam as-shira’ul wujud (pertempuran eksistensi) antara Al-Haq dan Al-Bathil. Kita telah menyaksikan dalam perjalanan peradaban manusia, peristiwa-peristiwa besar selalu saja diiringi oleh karya-karya hebat yang mampu memengaruhi publik.
Sebut saja salah satunya Adam Smith. Orang-orang mengenalnya sebagai “Bapak Ekonomi Liberal”. Gagasannya tentang ekonomi terangkum dalam buku An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth Nations (Suatu Penyelidikan tentang Sebab-Musabab Kemakmuran Bangsa-bangsa). Karyanya yang pertama kali terbit tahun 1776 itu telah dicetak ulang puluhan kali dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pemikirannya –yang pro pasar bebas- kemudian mengakibatkan terjadinya kesenjangan antara negara maju dan modern (developed countries) dan negara-negara terbelakang (underdeveloped countries). Hal itu semakin diperkuat oleh David Ricardo dengan bukunya Principles of Political Economy and Taxation. Akibatnya terasa hingga kini. Kapitalisme dan Liberalisme menghegemoni bumi. Dunia ketiga pun menjadi korban sistem yang tak adil ini.
Di keping sejarah yang lain dunia juga mengenal seorang pengkritik ajaran Smith. Ia menuliskannya dalam satu buku tebal berjudul Das Kapital. Ya, dia adalah Karl Marx (1818-1883). Hidupnya yang berkubang kemelaratan membuat ia membenci kapitalisme yang hanya melahirkan segelintir orang kaya dan memarginalkan lebih banyak orang. Marx mengkritik kebijakan kapitalis soal uang dan komoditas serta pemerasan tenaga kerja demi keuntungan pemilik modal. Semua ini baginya hanya akan menciptakan kolonisasi baru. Hingga akhirnya karya masterpiece-nya ini pun menjadi “kitab suci” bagi gerakan kiri di seluruh dunia sampai saat ini. Termasuk di sini, di zamrud khatulistiwa ini.
Beranjak ke negeri tirai bambu, membaca lintasan-lintasan waktu yang lalu, kita akan menemukan figur “Bapak Revolusi” Sun Yat Sen (1844-1925) yang menelurkan Fundamentals of National Reconstructions (1923). Lelaki itu memang cuma dua tahun memimpin Republik Cina, namun pemikirannya abadi. Bahkan diadopsi oleh founding father kita, Soekarno. Tiga prinsip revolusi Sun Yat Sen –nasionalis, demokrasi dan kesejahteraan- diubah menjadi Pancasila.Nasionalisme Cina itu lantas berubah sejak Mao Tse Tung memproklamirkan komunisme sebagai ideologi Negara pada tanggal 1 Oktober 1949. Mao sempat menuliskan esai dan puisi yang dibukukan. Salah satunya berjudul On Guerilla Warfare. Tampaknya buku itu memicu logika Jenderal Abdul Haris Nasution –tokoh penting militer Indonesia masa itu- untuk menyiasati strategi pertempuran menghadapi komunis di tahun 1965. Sang jenderal popular dengan buku rujukan Pokok-pokok Perang Gerilya.
Sungguh dari berbagai kisah tersebut, saya hanya ingin menarik satu benang merah. Bahwa perubahan dan perlawanan tak bisa dipisahkan dari peranan sebuah karya tulis sebagai produk dari kerja kreatif menulis. Apapun peristiwa besar yang terjadi, pasti selalu ada buku-buku yang mengiringi perjalanan suksesnya. Terlepas apakah itu baik atau tidak. Semua sepakat bahwa pena adalah senjata untuk melakukan perlawanan.
Pena adalah alat untuk mendesain perubahan.Kegiatan menulis (buku) kemudian menjadi salah satu prasyarat dalam mengubah dunia. Adolf Hitler pun berbuat serupa. Selama Sembilan bulan mendekam di penjara, ia menulis Mein Kampf. Buku yang mengagungkan ras Aria dan menyebar kebencian terhadap Yahudi itu laris manis. Dalam waktu tak begitu lama bukunya terjual 5 juta kopi. Buku itu pula yang menyulut Perang Dunia II yang membantai 16 juta orang. Pena memang memiliki kekuatan dahsyat. Wajar saja bila jagoan perang Prancis, Napoleon Bonaparte pun berujar, “Saya lebih takut pada sebuah pena ketimbang seribu pedang.”
Jadi, jika ingin berjuang menulis buku memang sebuah keharusan. Meski terkadang, aral yang melintang terasa sangat pahit. Wiji Thukul menghilang pada 27 Juli 1996 akibat puisi-puisinya yang dinilai subversive oleh rezim represif Orde Baru. Di belahan dunia lain, Nikolai Vaptsarop mati dieksekusi regu tembak penguasa fasis Bulgaria gara-gara buku sajaknya.
Persoalannya sekarang, relakah kita membiarkan orang-orang kafir dan musyrik yang menata kehidupan kita sesuai gaya hidup hedonis permisif mereka? Atau menjadi boneka dalam permainan yang mereka dalangi untuk mencipta the new world order yang mereka cita-citakan?Al Islam mahjubun bil muslimun. Kemuliaan Islam terhijabi oleh kebodohan-kebodohan sikap dan perangai ummatnya. Serbuan pemikiran semakin tajam. Sementara dari internal umat ini, telah muncul duri dalam daging yang hendak menggembosi kekuatan Islam dengan pemikiran sekuler-liberalnya. Sudah saatnya kita mengambil peran untuk merebut kemenangan yang sudah dijanjikan-Nya. Sudah tiba masanya kita bergegas menjemput dan mengakselerasi terwujudnya peradaban mulia di bawah naungan Khilafah ala Minhajin Nubuwwah dengan melahirkan karya-karya tulis yang mampu membebaskan ummat dari belenggu kejahiliyyahan modern, mengarahkan mereka agar memiliki afiliasi, partisipasi dan kontribusi tehadap perjuangan dakwah.
Mudah-mudahan tidak ada alasan lagi untuk menuliskan kebaikan jika kita benar-benar mukmin yang meyakini adanya Hari Akhir dan balasan kebaikan di syurga-Nya yang dipenuhi bidadari dan mengalir sungai-sungai di bawahnya. Tidakkah kita malu jika mendengar bahwa Imam Malik bisa mengerjakan kitab Al-Muwaththa’-nya di dalam perjalanan safar beliau? Atau kisah Buya Hamka yang menyelesaikan Tafsir Al-Azhar di dalam kurungan hotel prodeo? Sekaranglah saatnya. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
nb: naskah ini awalnya diikutsertakan dalam seleksi naskah untuk antologi esai "Islam Mengajarkan Tradisi Menulis" yang digagas oleh Edo Segara. Namun naskah ini "belum beruntung"
b'rob. tulisannya kecil2 kali..
BalasHapussakit mata bacanya.*_*
agak digede'in fontnya...biar enak mbacane..
ok ok..
tuh..udah digedein.. :)
BalasHapushehehe...
BalasHapusterimakasihhhhh;)