Minggu, 18 Juli 2010

Ramadhan, Dagelan dan Harapan Perbaikan

Bulan suci yang dinantikan kini telah tiba
Ramadhan kembali hadir dengan rahmat-Nya
Rindu hati terasa menanti bulan nan Indah
Yang berhias amaliah indah dan ceria
(Ramadhan Kembali, Justice Voice)

Entah sudah berapa kali Ramadhan kita lalui sepanjang hidup.Sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun atau bahkan lebih dari itu? Mungkin saja. Sepanjang Ramadhan yang telah dilalui itu tentunya penuh dengan kenangan tersendiri. Mungkin banyak dari kita yang tersenyum simpul saat mengingatnya, tertawa, terharu, menangis, marah, menyesal, atau malah biasa saja.

Ya. Ramadhan memang bulan istimewa. Satu dari bulan-bulan haram yang di dalamnya berhimpun pelabagai keutamaan. Kitab suci umat Islam pertama kali diturunkan di bulan ini. Sehingga spirit perbaikan untuk kembali kepada tuntunan Al-Qur’an terasa begitu menggebu. Selama satu bulan penuh pula, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Bahkan, Allah Subhanahu wa ta’ala menghadiahkan bonus satu lailatul qadar yang khairum min alfi syahrin (lebih baik dari seribu bulan) bagi hamba-hambaNya yang sungguh-sungguh ingin menggapainya.

Karenanya, tak heran jika kita melihat gairah keberagamaan umat meningkat tajam di bulan-bulan ini. Orang-orang yang biasanya nyaris tak pernah menjejak masjid, tiba-tiba jadi rajin shalat berjamaah. Perempuan yang biasanya berpakaian sesuka hati membiarkan auratnya dipamerkan mendadak mengenakan kerudung muslimah. Acara-acara pengajian atau majelis ta’lim yang biasanya sepi menjadi ramai dikunjungi. Seminar, bedah buku dan pelatihan keislaman semakin menjamur dan diminati banyak orang. Para pedagang yang menjual berbagai ‘atribut simbolis’ keIslaman seakan mendapat durian runtuh dengan banjirnya order.

Bahkan televisi yang sehari-harinya kita lihat didominasi tayangan tak bermanfaat semacam ‘ghibah-tainment’, komedi berbumbu seks, hiburan musik dengan dengan lirik dan klip tidak senonoh serta sinetron yang mengangkat keglamouran, kekerasan dan pergaulan bebas secara drastis berubah 180 derajat. Berbagai acara berbungkus “spesial Ramadhan” bak cendawan di musim hujan. Ceramah agama yang biasanya hanya mendapat jatah singkat di kala subuh kini bertaburan di jam-jam prime time.Sinetron –yang katanya- bernafas religi setiap hari berjejalan di kotak Pandora itu, meski konten utamanyamasih tetap di romantisme picisan dan sebagainya. Tayangan nasyid yang di bulan lain tidak kebagian tempat kini juga berlomba-lomba ditayangkan. Jika saja nuansa seperti ini terus bertahan di sebelas bulan berikutnya, tentu akan menjadi tradisi yang mengagumkan. Subhanallah.

Kesalehan Temporal, Dagelan dan Hipokrisisme

Sayangnya, semua rutinitas yang berlangsung di bulan Ramadhan itu tak akan bertahan lama. Selepas lebaran Idul Fitri nanti, seperti tahun-tahun sebelumnya, umat akan kembali ke habitatnya lagi. Majelis-majelis ilmu akan ditinggalkan, tradisi tadarusan juga menghilang, jamaah shalat di masjid kembali menjadi sunyi. Hanya menyisakan beberapa kakek lanjut usia dan musafir yang numpang buangair di kamar mandinya. Apalagi subuh, persis seperti lirik nasyid Peristiwa Subuh-nya Raihan, mata yang celik dipejam lagi, hatinya penuh benci, berdengkurlah kembali. Astaghfirullah. Padahal, sebagaimana dinukil Dr. Raghib As-Sirjani dalam salah satu kitabnya, seorang penguasa Yahudi pernah mengingatkan, “Kami hanya takut pada umat Islam jika jamaah shalat subuhnya sama banyak dengan jamaah shalat jumatnya.

Lalu bagaimana dengan para perempuan muslimah? Jilbab yang sudah begitu anggun menutupi aurat para muslimah di bulan pengampunan itu kembali ditanggalkan. “Yang penting kan hatinya yang dijilbabin, “demikian mereka berdalih. Naudzubillah min dzalik. Tak tahukan mereka bahwa dengan aurat yang mereka umbar kepada lawan jenisnya itu menjadi fitnah yang mengkhawatirkan. Inilah penyebab kemerosotan moral di abad akhir zaman. Ketika dorongan syahwat dinomorsatukan dan iman disingkirkan di dalam mimbar dan mihrab.

Para pejabat yang selama bulan suci senantiasa terlihat menegakkan tarawih berjamaah dan tersedu-sedan bermuhasabah diri di majelis zikir yang disiarkan televisi kini kembali pada watak asli. Wajah memang masih dibasuh wudhu’, kening memang masih terus menyentuh lantai dalam sujud-sujud syahdu dhuha dan qiyamullail, namun soal perut dan di bawahnya adalah hal berbeda. Sebagaimana “guru” mereka, sang televisi yang menampakkan wujud aslinya, menuhankan rating dan iklan demi menyuapi keserakahan kapitalis. Masya Allah.Bukankah seharusnya Ramadhan menghasilkan alumni yangmuttaqin(bertaqwa)?

Jika masyarakat kembali lagi dalam budaya konsumtif materialistiknya yang cenderung permisif dan hedonis, maka bukankah segala performa kesalehan selama Ramadhan hanyalah dagelan belaka? Ini hanya akan menjadi pelanjut kultut hipokritisme (kemunafikan) di republik ini. Semoga kita dapat melalui Ramadhan dengan penuh makna dan diwisuda dengan nilai cum laude agar mampu men-sibghah Indonesia dengan semangat perbaikan.

NB: Ditulis khusus untuk buletin JPRMI Wilayah Sumatera Utara

8 komentar:

  1. Subhanallah, jazaakallah khair pak atas remaindernya. Semangat ramadhan dsetiap bulan...aamiin

    BalasHapus
  2. Pengingat yang baguss


    jzkllh pak..

    BalasHapus
  3. propaganda harus dilawan dengan propaganda...

    Serbu!!! :)

    BalasHapus
  4. Waiyyakum. Jazakillah khair. Semoga Allah karuniakan kita semangat Ramadhan sepanjang tahun... AMiin..

    BalasHapus
  5. utk mengingatkan diri sndiri jg, mbak...

    waiyyakum. jazakillah khair..

    BalasHapus
  6. izin copas boleh-kah?
    bwt (calon) mading kantor

    BalasHapus
  7. tafadhal mbak...
    sangat boleh, asal tidak lupa mencantumkan sumber.. :)
    tentu saya akan sangat senang.. ^_^

    BalasHapus