Senin, 30 Agustus 2010

Provokasi Tiada Henti












Provokasi Tiada Henti 

Scene 1
Sebuah halaqah pekanan. Para mutarabbi khusyu’ mendengar taujih dari sang ustadz. Kali ini cerita khusus refleksi perjalanan tarbiyah anak-anak muda ini. Juga mutaba’ah pencapaian muwashafat. Sampailah kemudian pada tips dan triks membentengi diri maksiat. Lalu bahasan ngalor-ngidul menjauh. Hingga ikhwan A diserbu dengan pertanyaan menukik, “Jadi antum sudah siap menikah kan, Akh? Gimana? Mau dengan akhawat dari Univeritas S atau Institut A? Biar nanti ana sodorkan sama antum..” 

Scene 2 
Mentari sudah mulai beranjak perlahan. Membiarkan senja menyapa manusia yang hiruk-pikuk menantinya. Di sebuah restoran yang cukup besar dan terkenal di kota B, sekelompok aktivis dakwah mengadakan acara ifthar jama’i sekaligus konsolidasi strategis untuk pengembangan dakwah di kecamatan L. Sesudah menyantap ta’jil, seorang panitia mengajak ikhwan A bercerita, “Eh, akhi, gimana pembicaraan kita yang kemarin?” Si A terbengong-bengong. Yang kemarin? Yang mana ya? Lalu sang panitia melanjutkan ucapannya, “Antum benar-benar udah siap? Serius nih. Udah ada nih orangnya yang siap Insya Allah. Tuh akhwatnya yang duduk di sebelah istri Ustadz D.” 

Scene 3 
Menjelang tengah malam. Angin berhembus semilir membelai mesra janggutnya yang tak begitu tebal. Di sebuah wisma pinggiran kota B, ikhwan A diamanahkan murabbinya untuk menggantikan beliau mengisi sebuah daurah pemandu (murabbi) untuk sebuah organisasi mahasiswa yang fokus gerakannya di sayap siyasi. Materinya tergolong berat –Manhaj Tarbiyah indal Ikhwanul Muslimin-, sehingga si ikhwan agak grogi juga menyampaikannya. Namun, setelah diyakinkan sang ustadz, ia memcoba percaya diri dan memberikan materi dengan lugas dengan bumbu joke-joke haraki. Esoknya, di agenda ifthar jama’i, sang ustadz bertanya pada ikhwan A, “Gimana antum ngisi kemarin, Akhi? Mantap, kan?” Sang aktivis muda itu menjawab sekenanya, “Insya Allah, Ustadz. Sudah semaksimal mungkin.” Lalu sang ustadz meyambung tanyanya lagi, “Jadi gimana? Ada di antara pesertanya yang bisa ana kenalin sama antum?” *GUBRAK!* 

Begitulah. Tak ubahnya seperti iklan salah satu produk sepeda motor Jepang, selalu saja di kalangan aktivis dakwah itu ada inovasi. Eh, salah, maksud saya PROVOKASI yang tiada henti. Sedikit-sedikit bicaranya nikah. Sedikit-sedikit ngomong walimah. Tidak di kampus, di kantor, di kajian pekanan, pelatihan bahkan aksi turun ke jalanan, selalu saja tema ini tak lekang. Dan beginilah nasib para bujang, selalu jadi korban sindiran… 

Meskipun topik utama perbincangan bercerita tentang masalah agenda dakwah, isu politik atau tugas kuliah dan semacamnya, tetap saja nanti selalu UUJ. Ujung-ujungnya Jodoh. Ibarat iklan sebuah produk minuman kebanggaan Indonesia, “Apapun pembicaraannya, ujungnya masalah nikah.” 

Memang, tak salah membicarakan topik ini. Juga tak salah memprovokasi para bujang untuk menyegerakan diri menjemput penyempurna agamanya. Namun, jika provokasi hanya sekedar basa-basi penghangat diskusi yang hanya memanas-manasi tanpa solusi, bukankah ini sebuah jebakan yang bisa membuat si lajang larut bermimpi imajinasi yang bisa menenggelamkannya dalam angan yang menumpuk-numpuk alpa diri? Naudzubillah…

Mudah-mudahan ini bisa jadi cermin untuk berkaca diri agar bila memprovokasi juga baiknya tanggungjawab menyertai supaya insya Allah pahala kebaikan dan barakahNya turut mengiringi.

Minggu, 22 Agustus 2010

Tenang (Catatan Seorang Teman)
















Tenang, aku hanya sedang memberi jarak, agar cinta itu terus memberontak.

Tenang, aku hanya sedang memberi ruang, agar indah itu mampu kau pandang.

Aku kira, untuk melihat keindahan butuh beberapa hasta.

Sebab aku tahu, untuk hangatkan cinta butuh sedikit rindu

Rabu, 18 Agustus 2010

Ditipu Cinta Ibu

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, seorang lelaki datang menemui Rasulullah dan bertanya kepada beliau, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku pergauli?". Beliau menjawab, "Ibumu," ia bertanya lagi, "Lalu siapa?" Rasul menjawab lagi, "Ibumu! Ia balik bertanya lagi, "Siapa lagi?" Rasul kembali menjawab, "Ibumu!" Ia kembali bertanya, "Lalu siapa lagi?" Beliau menjawab, "Bapakmu!" (Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani)

Ibu. Dialah manusia yang cintanya tak putus. Kata lagu-lagu yang kuhafal semasa SD dulu, kasih ibu sepanjang masa seperti matahari, sementara kasih ayah sepanjang galah yang pasti ada ujungnya. 

Ibu. Kata ini sungguh menggetarkan hati. Pengorbanannya tak terhingga. Sepanjang hayat tak kan mampu kita membayar jerih ketelatenannya mengasuh dan mendidik kita, anak-anaknya, hingga menuju puncak kesuksesan. Mulai dari mengandung selama sembilan bulan, melahirkan yang mempertaruhkan nyawa, menyusui dengan ASI eksklusif selama dua tahun, menyekolahkan kita, memberi kita uang jajan sampai meminangkan seorang gadis beriman untuk kita (bagi lelaki, atau menerima pinangan seorang lelaki berakhlak menawan buat perempuan).

Ibu. Surga berada di bawah telapak kakinya. Setiap anak pasti mencintai ibunya. Alangkah janggal jika ada yang tidak menaruh hormat dan kasih mendalam kepada insan yang telah menjadi asbab kehidupannya.

Tapi tulisan ini tidak sedang ingin mengkaji lebih dalam hadits di atas. Juga tak hendak menjabarkan faedah-faedah dan cara-cara birrul walidain (berbakti pada orang tua).

Namun tulisan ini juga bukan merupakan sebuah kisah pengkhianatan. Mungkin dari judulnya, ada yang menduga bahwa goresan pena ini akan bercerita tentang kekecewaan. Bukan. Sungguh bukan. Tulisan ini hanya ingin membagi pengalaman saya yang sederhana sekaligus agak menggelikan.

Dua pekan yang lalu saya pulang kampung ke Binjai, Sumatera Utara. Tujuan utamanya sebenarnya adalah untuk mengikuti ujian seleksi Program D3 Khusus STAN. Namun, seperti biasa, misi sampingan tentu tak boleh dilewatkan. Prinsipnya, jangan sampai ada kesempatan yang disia-siakan.

Kepulangan ini juga melepas rindu saya yang tak terbendung pada keluarga: ibu, ayah (yang berdomisili di Mandailing Natal dan kebetulan sedang pulang juga) serta adik-adik (salah satunya baru saja pulang dari perantauan di bumi Sriwijaya).

Entah memang saya yang terlalu mencintai ibu saya. Entah karena keinginan untuk berbakti yang begitu kuat. Rasionalitas saya seketika hilang ketika menerima sebuah sms yang berbunyi:

"Belikan dulu Mama pulsa As 20rb di nomor baru mama. Ini nomornya 08521067xxxx. Cepat ya. Soalnya Mama ada masalah penting."
Pengirim: 08524230xxxx

Saya langsung panik. Ingin segera memenuhi seruan sederhana untuk berbakti ini. Entah karena saya yang kelelahan sebab baru saja tiba dari Banda Aceh setelah melalui perjalanan darat selama 10 jam. Saya langsung keluar. Men-starter Beat. Mencari kios pulsa terdekat.

Oh, tidak!
Semuanya tutup!
Saya harus gegas. Jangan sampai Mama kecewa.
Lalu saya menelepon Bang Rajab, seorang ikhwan yang bisnis wartel dan pulsa. Diawali dengan sedikit basa-basi menanyakan kabar, saya langsung to the point, "Bang, kirimkan pulsa 20 ribu ke nomer 08521067xxxx ya! Ntar uangnya ana ganti. Ba'da zuhur insya Allah ana silaturahim ke rumah Abang."

Lalu pulsapun terkirim. 
Saya buru-buru menelepon Mama untuk memastikan pulsanya sudah masuk.
"Gimana, Ma? Udah masuk pulsanya, khan?"
"Pulsa? Pulsa apa maksudnya, By?" jawab Mama heran.
"Loh? Tadi kan Mama yang minta dikirimin pulsa di nomor baru?" saya menjawab lebih heran lagi.

Usut punya usut. Saya telah menjadi korban penipuan. Ya, penipuan yang bisa dituntut dengan Pasal 378 KUHP. Meski nominalnya cuma 20 ribu, tapi saya tertipu. Si penipu memanfaatkan kecintaan si korban kepada ibunya untuk mengeruk keuntungan. Ini modus operandi baru (setidaknya bagi saya). Walaupun mungkin juga ini hanya ulah iseng teman saya yang usil. Ckck...

Huffhh...
Mungkin saya yang terlalu ceroboh. Nomor si pengirim jelas-jelas nomor asing, bukan nomor ibu saya (baik yang Telkomsel maupun IM3), tapi saya dengan begitu mudahnya mempercayai dan meresponnya. Ah, sudahlah. Lebih baik ambil pelajaran saja. Supaya kita tidak ditipu (gara-gara) cinta ibu..

Selasa, 17 Agustus 2010

Penerjemahan Indonesia-Malaysia

INDONESIA : Kementerian Agama
MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa (...Oh please...!!)

INDONESIA : Angkatan Darat
MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi (Kalo Laut hentak2 aer kali ya..??)

INDONESIA : Angkatan Udara
MALAYSIA : Laskar Angin Angin

INDONESIA : 'Pasukaaan bubar jalan !!
MALAYSIA : 'Pasukaaan cerai berai !!

INDONESIA : Merayap
MALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi (bagaimana coba ?)

INDONESIA : Rumah sakit bersalin
MALAYSIA : Hospital korban lelaki (bener juga sih...)

INDONESIA : Belok kiri, belok kanan
MALAYSIA : Pusing kiri, pusing kanan (kalo breakdance apaan?)

INDONESIA : Departemen Pertanian
MALAYSIA : Departemen Cucuk Tanam (yuu marie)

INDONESIA : Gratis bicara 30 menit
MALAYSIA : Percuma berbual 30 minit

INDONESIA : Satpam/sekuriti
MALAYSIA : Penunggu Maling (ngarep banget dimalingin ya ampe ditunggu)

INDONESIA : Joystick
MALAYSIA : Batang senang (maksud loe..??)

INDONESIA : Tidur siang
MALAYSIA : Petang telentang (kalo gitu, tidur malem "gelap tengkurep" donk)

INDONESIA : Tank
MALAYSIA : Kereta kebal (suntik kale..???)

INDONESIA : Kedatangan
MALAYSIA : Ketibaan (untung bukan ketiban)

INDONESIA : Rumah sakit jiwa
MALAYSIA : Gubuk gila

INDONESIA : Dokter ahli jiwa
MALAYSIA : Dokter gila (lu gilaaaaaaaaaaa)

INDONESIA : Hantu pocong
MALAYSIA : Hantu Bungkus (pesen atu donk bang...!! hehehehe)

INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh

INDONESIA : telepon selular
MALAYSIA: talipon bimbit

INDONESIA: toilet
MALAYSIA:bilik termenung

INDONESIA : Pasukan terjung payung
MALAYSIA : Aska begayut

INDONESIA: ES Campur
MALAYSIA: ABC(Air Batu Campur)

INDONESIA : buldozer
MALINGSIA : setrika bumi

 
INDONESIA : Imut-imut
MALAYSIA : Comel benar 

INDONESIA : pejabat negara
MALAYSIA : kaki tangan negara

INDONESIA : Pencopet
MALAYSIA : Penyeluk Saku

INDONESIA : remote
MALAYSIA : kawalan jauh

INDONESIA : kulkas
MALAYSIA : peti sejuk

INDONESIA : chatting
MALAYSIA : bilik berbual

INDONESIA : rusak
MALAYSIA : tak sihat

INDONESIA : keliling kota
MALAYSIA : pusing pusing bandar

INDONESIA : bioskop
MALAYSIA : panggung wayang 

INDONESIA : narkoba
MALAYSIA : dadah

INDONESIA : pintu darurat
MALAYSIA : Pintu kecemasan

INDONESIA : Sepeda
MALAYSIA : Basikal

INDONESIA : "OK lah, gw mo tidur sebentar"
MALAYSIA : "K larr, aku nak tido sekejap"

INDONESIA : penghapus
MALAYSIA : pemadam

INDONESIA : Polisi
MALAYSIA : Pak Rela 

INDONESIA : "lo jangan kejar dia"
MALAYSIA : "tak boleh kau memburu dia"

INDONESIA : selang air
MALAYSIA : karet

INDONESIA : Jalan-jalan
MALAYSIA : Makan angin

INDONESIA : Helm
MALAYSIA : Topi Keledar

INDONESIA : Sabuk pengaman
MALAYSIA : Tali ikat pinggang keledar

INDONESIA : Sepatu
MALAYSIA : Kasut

INDONESIA : Kementerian kehutanan
MALAYSIA : Kementerian semak belukar

INDONESIA: Pensiunan ABRI
MALAYSIA: Laskar Tak Begune