Provokasi Tiada Henti
Scene 1
Sebuah halaqah pekanan. Para mutarabbi khusyu’ mendengar taujih dari sang ustadz. Kali ini cerita khusus refleksi perjalanan tarbiyah anak-anak muda ini. Juga mutaba’ah pencapaian muwashafat. Sampailah kemudian pada tips dan triks membentengi diri maksiat. Lalu bahasan ngalor-ngidul menjauh. Hingga ikhwan A diserbu dengan pertanyaan menukik, “Jadi antum sudah siap menikah kan, Akh? Gimana? Mau dengan akhawat dari Univeritas S atau Institut A? Biar nanti ana sodorkan sama antum..”
Scene 2
Mentari sudah mulai beranjak perlahan. Membiarkan senja menyapa manusia yang hiruk-pikuk menantinya. Di sebuah restoran yang cukup besar dan terkenal di kota B, sekelompok aktivis dakwah mengadakan acara ifthar jama’i sekaligus konsolidasi strategis untuk pengembangan dakwah di kecamatan L. Sesudah menyantap ta’jil, seorang panitia mengajak ikhwan A bercerita, “Eh, akhi, gimana pembicaraan kita yang kemarin?” Si A terbengong-bengong. Yang kemarin? Yang mana ya? Lalu sang panitia melanjutkan ucapannya, “Antum benar-benar udah siap? Serius nih. Udah ada nih orangnya yang siap Insya Allah. Tuh akhwatnya yang duduk di sebelah istri Ustadz D.”
Scene 3
Menjelang tengah malam. Angin berhembus semilir membelai mesra janggutnya yang tak begitu tebal. Di sebuah wisma pinggiran kota B, ikhwan A diamanahkan murabbinya untuk menggantikan beliau mengisi sebuah daurah pemandu (murabbi) untuk sebuah organisasi mahasiswa yang fokus gerakannya di sayap siyasi. Materinya tergolong berat –Manhaj Tarbiyah indal Ikhwanul Muslimin-, sehingga si ikhwan agak grogi juga menyampaikannya. Namun, setelah diyakinkan sang ustadz, ia memcoba percaya diri dan memberikan materi dengan lugas dengan bumbu joke-joke haraki. Esoknya, di agenda ifthar jama’i, sang ustadz bertanya pada ikhwan A, “Gimana antum ngisi kemarin, Akhi? Mantap, kan?” Sang aktivis muda itu menjawab sekenanya, “Insya Allah, Ustadz. Sudah semaksimal mungkin.” Lalu sang ustadz meyambung tanyanya lagi, “Jadi gimana? Ada di antara pesertanya yang bisa ana kenalin sama antum?” *GUBRAK!*
Begitulah. Tak ubahnya seperti iklan salah satu produk sepeda motor Jepang, selalu saja di kalangan aktivis dakwah itu ada inovasi. Eh, salah, maksud saya PROVOKASI yang tiada henti. Sedikit-sedikit bicaranya nikah. Sedikit-sedikit ngomong walimah. Tidak di kampus, di kantor, di kajian pekanan, pelatihan bahkan aksi turun ke jalanan, selalu saja tema ini tak lekang. Dan beginilah nasib para bujang, selalu jadi korban sindiran…
Meskipun topik utama perbincangan bercerita tentang masalah agenda dakwah, isu politik atau tugas kuliah dan semacamnya, tetap saja nanti selalu UUJ. Ujung-ujungnya Jodoh. Ibarat iklan sebuah produk minuman kebanggaan Indonesia, “Apapun pembicaraannya, ujungnya masalah nikah.”
Memang, tak salah membicarakan topik ini. Juga tak salah memprovokasi para bujang untuk menyegerakan diri menjemput penyempurna agamanya. Namun, jika provokasi hanya sekedar basa-basi penghangat diskusi yang hanya memanas-manasi tanpa solusi, bukankah ini sebuah jebakan yang bisa membuat si lajang larut bermimpi imajinasi yang bisa menenggelamkannya dalam angan yang menumpuk-numpuk alpa diri? Naudzubillah…
Mudah-mudahan ini bisa jadi cermin untuk berkaca diri agar bila memprovokasi juga baiknya tanggungjawab menyertai supaya insya Allah pahala kebaikan dan barakahNya turut mengiringi.