Selasa, 01 November 2011
Selasa, 20 September 2011
Ini Tentang Pertanyaanmu
Saya yang kebetulan waktu itu sedang tidak sibuk langsung saja meneleponnya. Maklum saja, ini memanfaatkan fasilitas nelpon seribu sejam oleh sebuah operator. Begitu mengucap salam dan saling bertanya kabar, dia kembali bertanya apa saya sibuk. Saya bilang tidak, lalu ada apa? Dia menjawab, "Ada yang mau ana tanya, mau minta pendapat antum, tapi via sms aja, ana agak gugup soalnya bicara ini."
Berselang beberapa menit kemudian, tibalah sms yang dijanjikan. Bunyi detailnya begini:
Ini untuk ke sekian kali dimintai nasehat dan pertimbangan dari teman sebaya, adik-adik maupun mereka yang lebih tua. Seolah saya sudah begitu expert dan pengalaman. Padahal saya baru sembilan bulan menikah. Belum benar-benar merasa asam garamnya pernikahan.
Lapor komandan! Dari batalyon infantri Brawijaya bla..bla... menyampaikan ada sms masuk. Segera dibaca! Laporan selesai.
Hmm... Saya mulai memutar otak. Menimbang-nimbang. Baru dua hari setelahnya -sesudah diskusi dengan istri juga- saya mengirim jawaban padanya melalui message di facebook. Jawabannya saya buat dalams sebuah tulisan berjudul "Ini Tentang Pertanyaanmu". Begini isinya:
Assalamu'alaikum
Ukhti X yang dimuliakanNya karena telah bertetap hati memilih jalanNya,
Menjawab pertanyaanmu itu sungguh berat. Seberat selusin karung beras membebani pundak. Sebab ini bukan remeh temeh. Sebab ini menyangkut masa depan. Kata seorang bijak, "Salah memilih pasangan hidup akan membuat kita menyesal seumur hidup." Sebab karena memang kita meniatkannya hanya sekali seumur hidup, hatta bagi seorang lelaki sekalipun akan berpikir ribuan kali untuk menikah kedua kali.
Namun, aku harus tetap menjawab pertanyaanmu. Yah, mungkin ini tak bisa menyelesaikan semua gundahmu. Tapi setidaknya aku harus memenuhi kewajiban sebagai saudara seiman. Bukankah ini adalah tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa?
Tetapi aku harus ingatkan, bahwa meskipun aku berupaya seobjektif mungkin, tetap saja pendapat ku ini dipenuhi dengan subjektivitas. Semuanya menurutku. Sependek yang aku tahu dan alami dari pengalaman empiris membersamai mereka. Bahkan kau sebenarnya lebih mengenal mereka. Karena kau mengenal mereka sebelum aku mengenal mereka.
Begini saja. Aku akan langsung utarakan pendapatku. Menerima proposal dari dua ikhwan sekaligus adalah "kemewahan" bagi seorang akhwat. Karena di luar sana ada banyak akhwat yang sudah kelelahan menunggu. Bahkan sampai usia kepala empat. Hingga kemudian mereka "mengikhlaskan" suami mereka bukan "tempaan tarbiyah". Asalkan hanif, asalkan shalat, asalkan bisa baca Qur'an sampai di ujung klimaksnya bagi yang tak sanggup bersabar: asalkan dia muslim dan mau. Sebagian lain memilih menempuh jalan sunyi: melajang untuk sementara sembari tetap mengikhtiarkan upaya dan doa agar lekas menemukan teman bersanding di pelaminan. Jadi, pertama kali syukurilah kedua proposal itu.
Nah, sekarang mari bicara soal fitnah yang kau khawatirkan. Pernyataanmu kemarin yang mengingatkan soal ini seolah ingin mengeliminasi Akhi Y. Padahal, jikapun jadi dengan Akhi Z, bukankah peluang timbulnya fitnah tetap ada? Karena kita semua satu tim dalam organisasi XYZ. Itu sudah cukup untuk setan melakukan propaganda bejatnya: aktivis dakwah pun pacaran di balik mihrab wajihahnya. Menurutku, dalam hal ini, mereka berdua sama saja. Meskipun Y sebenarnya sudah jamak diketahui publik (yang mengenal kalian berdua) bahwa dia menaruh hati padamu.Tapi itu semua bisa dijawab. Syariat tak mengharamkan cinta pranikah. Dia fitrah yang tak boleh dibunuh, tapi ia harus dipelihara sesuai tuntunannya. Dan menikah adalah jawabannya.
Saudariku yang shalihah,
Berikutnya, lihatlah maisyahnya. Yang penting tetap bekerja, tak harus berpekerjaan tetap. Begitu kata para asatidz. Tapi ini smua adalah pilihan. Tak ada salahnya memastikan nominal penghasilan mereka dengan kebutuhan primermu. Sebab menafkahi adalah kewajiban suami. Bahkan, masak dan mencuci adalah kewajiban suami. Jika istri tetap mengerjakan hal itu, maka ia berhak untuk digaji. Begitulah para imam madzhab memfatwakan.
Selanjutnya, kita bicara kesiapan. Sebab menikah bukan soal kemauan. Tapi kesiapan dan tanggungjawab.
Oya, mungkin perlu pula kau tanya keingian keluargamu: menantu seperti apa yang mereka mau?
Saudariku, maafkan aku jika terkesan mengguruimu. Padahal ilmuku dangkal, sementara pengalamanmu melampaui pengalamanku. Memang pendapatku ini masih mengambang. Sederhananya, berdasarkan sedikit informasi yang kuketahui tentang mereka, aku cenderung menganggap Akhi Y lebih baik. Tapi kau jangan mudah percaya pada penilaianku. Manfaatkanlah ta'aruf untuk memastikan. Silakan kau memilih satu di antara mereka jika itu baik bagimu. Namun hakmu pula untuk menolak keduanya. Doaku, semoga Allah pilihkan yang terbaik untukmu. Dan semoga kau bisa seoptimal mungkin mensyukuri kemewahan ini.
Wallahu a'lamu bish-showab.
Saudaramu yang jauh,
Anugrah Roby Syahputra
Sabtu, 13 Agustus 2011
Aceh dan Syariat Peduli Lingkungan
Aceh dan Syariat Peduli Lingkungan
Oleh: Anugrah Roby Syahputra
Agama samawi (monoteis) seringkali dikritik sebagai keyakinan yang kurang memiliki kepekaan terhadap alam dan lingkungan hidup. Penyebabnya, dalam ajaran agama monoteis, manusia diposisikan lebih unggul daripada alam. Manusia adalah subjek, sementara alam adalah objek yang pasif. Superioritas manusia itu ditegaskan dengan konsep imago dei (manusia sebagai citra Tuhan) dalam ajaran Kristen dan Yahudi serta konsep khalifah fil ardh dalam Islam. Doktrin inilah yang sering dijadikan legitimasi bagi manusia untuk melakukan segala bentuk tindakan terhadap alam, termasuk mengeksploitasinya tanpa batas. Akan tetapi, benarkah konsep khalifah fil ardh adalah stempel bagi kaum muslimin untuk memperlakukan alam seenak perutnya? Bagaimanakah sebenarnya Islam memandang relasi manusia dan alam?
Kewajiban Syariat Menjaga Lingkungan
Dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyampaikan banyak ayat yang menunjukkan pentingnya menjaga lingkungan hidup. Bahkan, dalam beberapa ayat lainnya Allah SWT secara terang menegaskan larangan melakukan kerusakan di muka bumi sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Qashas ayat 77, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Sementara dalam Surat Al Baqarah ayat 30 yang menjelaskan definisi khalifah fil ardh, para mufassir (ahli tafsir) sepakat bahwa Allah memberikan amanah untuk menjaga bumi. Artinya, ini adalah sebuah kewajiban untuk setiap orang beriman untuk mengelola lingkungan tanpa merusaknya. Kita memang membutuhkan alam untuk menyambung hidup, namun cara pemanfaatannya tentulah tidak harus berlebihan. Sebisa mungkin kita juga melakukan penyiapan Sumber Daya Alam pelanjut ketika kita mengeruk sebagian dari alam. Misalnya dengan melakukan replantasi dan reboisasi hutan.
Sahabat Nabi Abu Darda ra. menceritakan bahwa dalam suatu majelis ilmu yang diasul ooleh Rasulullah SAW, telah diajarkan tentang pentingnya bercocok tanam, menanam pohon dan urgensi mengubah lahan tandus menjadi tanah subur yang produktif. Perbuatan tersebut akan mendatangkan pahala yang besar dari sisi Allah dan bekerja memelihara lingkungan adalah termasuk ibadah kepada Allah SWT.
Dalam kesempatan lain Sang Nabi yang mulia bersabda, “Barangsiapa yang memotong pohon sidrah maka Allah akan meluruskan kepalanya tepat ke dalam neraka.” (HR. Abu Daud, dalam Sunan-nya). Riwayat lain oleh Muslim menjelaskan bahwa Rasulullah juga pernah mengancam bahwa barangsiapa yang membunuh burung pipit atau binatang lain yang lebih besar daripadanya tanpa ada kepentingan yang jelas, maka kelak Allah akan memintai pertanggungjawabannnya. Ini sebuah seruan dari lisan Al Amin agar melakukan penghijauan dan melestarikan kekayaan hayati dan hewani.
Semua perintah dan larangan ini sesungguhnya ditujukan agar terciptanya keseimbangan ekosistem. Sebab lingkungan hidup adalah suatu kesatuan integral antara semua benda, daya, keadaan dan mahluk hidup termasuk manusia. Jika manusia berperilaku merusak, maka ekosistem akan menjadi labil dan mengancam kelangsungan hidup setiap komponen di dalamnya. Itulah sebabnya ajaran ini sebenarnya sangat humanis, peduli terhadap manusia namun juga tak melupakan alam untuk dijaga. Jadi, Islam adalah agama yang ramah lingkungan dan mewajibkan merawatnya dengan seafdhal-afdhal cara. Keliru besar orang yang menjadikan Islam sebagai cap untuk membenarkan tindakannya mengeksploitasi alam.
Aceh dan Lingkungan yang Tercancam
Aceh dikenal sebagai tanah serambi mekkah. Kehidupannya kental dengan nuansa Islam yang damai. Sejak dahulu, rakyat Aceh sudah memegang teguh Islam sebagai pegangan hidup. Sebuah hadih maja yang terkenal mengatakan bahwa agama ngon adat lagee zat ngon sifeut. Ajaran Islam dan tradisi Aceh adalah bagai dua sisi mata uang. Keduanya tak bisa dipisahkan. Oleh karenanya, bila Islam sudah menegaskan wajibnya menjaga lingkungan maka kultur Aceh-pun menyatakan hal yang sama. KeIslaman dan keAcehan kita menuntut untuk memperlakukan alam dengan sebaik-baiknya.
Tetapi apa lacur, harapan selalu membentang jarak dengan realitas. Pemandangan ironis bisa kita sasksikan di sekujur tubuh Aceh yang seksi. Mencolok sekali kita lihat penebangan hutan (legal maupun ilegal) untuk kegiatan ekspor tanpa adanya peremajaan yang memadai. Hal ini menyebabkan rusaknya tanah perbukitan sehingga memancing datangnya bencana longsor dan banjir bandang seperti yang pernah menimpa Tangse baru-baru ini. Ditambah lagi dengan maraknya kebakaran hutan. Padahal keberadaan hutan sangat berguna bagi keseimbangan hidrologik dan klimatologik, termasuk pula tempat berlindungnya binatang semacam harimau dan gajah yang bisa keluar mengganggu warga bila tempat tinggalnya dirusak
Di sisi lain, perluasan kota yang melebar turut mencaplok tanah-tanah subur pedesaan. Polis berkembang menjadi metropolis untuk kemudian –mungkin mengikuti Jabodetabek- menjadi megapolis (beberapa kota luluh jadi satu) dan ecumenopolis (negara kota). Akhirnya, salah satunya nanti menjadi necropolis (kota mayat). Dalam konteks Aceh, wacana perluasan kota Banda Aceh dan pembangunan jalan lintas Banda Aceh-Meulaboh merupakan hal penting yang harus menjadi perhatian. Pepohonan dan hutan mangrove telah menjadi korban proyek yang katanya untuk kesejahteraan manusia itu.
Sungguh sedih rasanya mengetahui bahwa Aceh memiliki pesisir pantai terpanjang di pulau Sumatera yaitu sepanjang 2.666,27 km, namun dari jumlah itu 75% kawasan mangrovenya telah rusak. Begitu juga dengan terumbu karang yang banyak hancur akibat jaring trawl. Hal ini menyebabkan kian sulitnya perekonomian para nelayan.
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh bahkan menyatakan bahwa Aceh sudah berada dalam status darurat ekologis. Mereka mendesak Pemerintah Aceh untuk menetapkan status itu mengingat kerusakan lingkungan di Aceh sudah pada tahap mengkhawatirkan (Serambi, 15 Juni 2011). Berdasarkan data yang dihimpun Walhi, dalam kurun empat tahun dari 2007-2010 telah terjadi 2.850 kali bencana di Aceh. Yang paling banyak adalah kebakaran hutan 1.116 kali, banjir 679 kali, konflik satwa dengan manusia 425 kali dan abrasi 212 kali. Selain itu, pengurangan luas hutan amat sangat drastis. Angkanya mencapai 23 hektar per tahun. Awalnya hutan Aceh memiliki luas 3.316.132 ha, kini yang tersisa tinggal 3.223.635 ha lagi.
Dengan Islam, Sejahtera Tanpa Merusak
Miris sekali menatap lingkungan Aceh yang rusak. Padahal Aceh sangat kental dengan nilai Islam, namun masih saja syariat menjaga lingkungan hidup ini belum terlaksana dengan baik. Memanfaatkan alam adalah sah, namun tentu tak boleh sampai merusak. Ini adalah tanggungjawab bersama semua pihak: pemerintah, ulama, mahasiswa, LSM, perusahaan swasta dan masyarakat umum. Apalagi kita punya visi besar Aceh Green.
Penegakan syariat Islam di Aceh harus benar-benar kaffah (menyeluruh). Eksekutif dan legislatif jangan hanya sibuk dengan formalisasi hukum pidana Islam yang berkaitan dengan perkara kelamin saja. Jangan hanya mengurus pakaian perempuan sementara kantor-kantor pemerintahan digerogoti tikus berdasi. Memang betul, menjaga moral itu penting dan tak boleh dikesampingkan. Akan tetapi, menjaga lingkungan yang merupakan sumber kehidupan kita juga sama pentingnya. Dan itu semua tidak cukup hanya dengan sebuah qanun, sebab yang terpenting adalah komitmen kolektif kita. Insya Allah, dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah, kita dapat mengelola kekayaan alam nanggroe endatu untuk kesejahteraan bersama tanpa merusaknya.
Selasa, 05 Juli 2011
Rabu, 29 Juni 2011
Menyingkap Proyek Rekayasa Genetika Pewaris Solomon

Dua belas agen National Security Agency (NSA) membelot dari pimpinannya. Dalam hitungan jam, mereka berubah menjadi orang yang paling dicari di seluruh Amerika. Mereka menculik Duta Besar Israel untuk AS, Gubernur Federal Reserve Bank dan sejumlah tokoh penting negeri Paman Sam itu. Mereka juga mengobok-obok sistem keamanan Pentagon hingga menguasai markas utama NSA di Maryland. Mereka yang pada awalnya pahlawan kini menjadi musuh negara yang wajib dilenyapkan.
Sementara itu, di Fasilitas Nuklir Negev, Israel tengah menyiapkan pasukan terbaiknya pasca kekalahan dalam Operasi Cash Lead II di Jalur Gaza. Balas dendam kepada “teroris” HAMAS adalah harga mati. Prajurit-prajurit tangguh dengan kekuatan supercanggih tiada banding telah siap menyambut kemenangan untuk tata-dunia baru.
Cerita di atas memang fiksi, namun bukan berarti sepenuhnya dongengan belaka. Sebab ada beberapa fakta-fakta tersembunyi yang diungkap. Begitulah yang ditulis Rh. Fitriadi, novelis asal Aceh dalam The Messiah Project (TMP). Buku ini adalah sekuel kedua dalam tetralogi The Chronicle of Holywars. Sebelumnya, sekuel pertama berjudul The Gate of Heaven berkisah tentang pertempuran Israel dan HAMAS di Jalur Gaza.
Novel tebal terbitan Pro-U Media ini benar-benar memukau. 523 halaman isi novel ini hanya menceritakan rangkaian peristiwa yang terjadi dalam waktu 12 jam saja. Kita disuguhi sajian yang membuat mata tak ingin melepas pandang ke aktivitas lain. Detail-detail nama tempat, jalan, lembaga negara dan senjata membuat kita serasa ikut di dalam cerita. Ada CIA, pasukan elit SWAT, Delta Force, National Intelligence, NSA dan lainnya. Seperti menonton film-film Holywood di bioskop, cuma beda perspektif saja. Maka, jika Anda suka film Hollywood, namun sering mengeluhkan sudut pandangnya yang selalu pro-Amerika dan memojokkan Islam, buku ini adalah solusi tepat. Bahkan, alangkah lebih baik lagi apabila ada produser layar lebar yang berkenan memfilmkan buku ini . Sungguh karya ini begitu layak. Saya yakin Anda akan sependapat jika sudah membacanya.
Selain itu, kelebihan buku ini yang membuat ia layak dibaca adalah karena ia menyampaikan informasi yang selama ini tak diungkap. Bahwa di balik kebengisan dan standar ganda negeri adidaya seperti AS ada konspirasi jahat yang mengontrolnya di belakang layar. Ada invisible hand di balik setiap kebijakan yang diambil. Di sinilah kemudian menariknya, ada kejutan di setiap chapter-nya yang membuat kita tak berhenti menebak-nebak.
Hebatnya lagi, saya menemukan beberapa istilah menarik semacam “kiamat digital” yang dapat mengacaukan kondisi dunia serta beberapa wawasan tentang dunia hacker. Dan tentunya, yang paling utama adalah proyek rahasia rekayasa genetika pewaris keturunan Solomon yang terpilih dengan menggunakan medium rahim perempuan Palestina.
Buku ini, menurut saya sebagai pembaca,nyaris tanpa cacat. Kecuali pada sedikit kasus salah ketik. Dan satu lagi, jika penulis mengklaim beberapa konten dalam novel adalah nyata, maka sebaiknya mencontoh novel-novel Dan Brown yang di bagian pembukanya selalu menerangkan bagian-bagian mana yang merupakan fakta. Kalau perlu dicantumkan sumber referensinya. Supaya bisa menjadi pertanggungjawaban ilmiah.
Begitupun, buku ini SANGAT LAYAK untuk dibaca dan dikoleksi. Anda akan ketagihan dan tak sabar menanti sekuel ketiganya, The Secret of New Medina. Saya garansi!
Kamis, 23 Juni 2011
Selasa, 15 Februari 2011
Mulailah untuk Memulai
Oleh: Anugrah Roby Syahputra
Gelisah di hati saya membuncah melihat pohon-pohon besar di seputaran Kopelma Darussalam Kampus Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Pohon-pohon tersebut secara ikhlas dikorbankan pemerintah demi proyek drainase di tahun 2011 yang disebut-sebut sebagai Visit Banda Aceh Year.
Lain waktu, saya terkejut membaca berita sebuah harian lokal di kampung halaman saya bahwa kerusakan bumi di Sumatera Utara sudah begitu terasa. Di wilayah pesisir, hutan bakau (mangrove) rusak parah. Hampir seluruh kawasan bakau baik di Pantai Timur maupun Pantai Barat provinsi ini hancur karena eksploitasi dan konversi tanpa mengindahkan kaidah-kaidah lingkungan.
Kondisi tak jauh berbeda juga menimpa hutan tropisnya. Luas hutan alami, sebagiannya merupakan hutan lindung, terus berkurang. Pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit disinyalir menjadi penyebab utamanya. Belum lagi sampah yang menggunung khususnya di kota Medan.
Sampai-sampai kota yang didirikan Guru Patimpus tersebut pernah dijuluki lautan sampah akibat tumpukan sampah hasil aktivitasnya yang tidak terangkut. Sungai Deli dan Babura yang dulu menjadi ikon kebanggaan pun sekarang malahan menjadi tempat pembuangan limbah cair. Bukan saja oleh masyarakat dan industri, tapi juga oleh instansi pemerintah seperti rumah sakit. Alhasil, setiap tahun wilayah pemukiman di bantaran kedua sungai tersebut menjadi daerah langganan banjir. Dampak lain yang cukup terasa adalah meningkatnya suhu udara yang bisa mencapai hampir 40 derajat celcius.
Masya Allah. Bagi saya Banda Aceh dan Medan adalah kampung halaman. Alangkah sedihnya mendapati fakta yang sedemikian memprihatinkan tersebut. Apakah penduduk kedua kota tersebut tak lagi punya segenggam peduli? Tidakkah mereka takut dengan hasil penelitian Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) bahwa pada rentang 1990-2005 saja rata-rata peningkatan suhu di seluruh bagian bumi antara 0,15-0,30 derajat Celcius. Dan jika peningkatan itu terus berlanjut, maka diperkirakan pada tahun 2040, lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Bahkan jika pemanasan bumi tetap kontinyu, maka 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga akan terjadi kelaparan di seantero jagad raya.
Membangun Kesadaran
Sungguh mengerikan. Tak bisa dibayangkan bagaimana masa depan kehidupan minus air tawar akibat kejahilan tangan-tangan kita sekarang. Untuk itu, kita harus mengedepankan etika lingkungan daripada egoisme kita. Pinggirkan dulu kepentingan pribadi dan kelompok yang sesaat. Karena, tulis A Sony Keraf (2002:27),” Etika lingkungan hidup tidak hanya berbicara perilaku manusia terhadap alam. Etika lingkungan hidup juga berbicara mengenai relasi antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan mahluk hidup lain atau alam secara keseluruhan. Termasuk di dalamnya, berbagai kebijakan politik dan ekonomi yang mempunyai dampak langsung atau tidak langsung terhadap alam.”
Kita mungkin tak perlu langsung muluk-muluk mau merubah kebijakan politik dunia maupun republik yang kini diset oleh kartel dan rezim kapitalis. Sederhana saja. Seperti Sabda Nabi Muhammad SAW, “Ibda’ binafsik.” Dalam istilah lain KH Abdullah Gymnastiar menyebutnya sebagai 3M: mulai dari hal terkecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang.
Contohnya gampang saja. Mulailah untuk tidak asal tebang pohon. Mulailah untuk tidak membuang sampah bekas jajanan sembarangan sesuka hati. Jangan sampai kunyahan permen karet kita campakkan sembarangan. Mulailah pula untuk gemar menanam pohon. Mulailah untuk menghemat penggunaan plastik, kertas dan tissue. Dan yang terpenting, mulailah berhenti untuk berpuas sampai sekedar mengetahui dan membaca tulisan ini. Mulailah untuk memulai.Sebab, ujar Mahatma Gandhi, bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun ia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan segelintir orang yang tamak.
Jangan Sampai Menjadi Nauru Kedua
Oleh: Anugrah Roby Syahputra
Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Airmatanya berlinang
Mas intan yang kau kenang
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa
Petikan lagu di atas mungkin sudah cukup merepresentasikan kepedihan ibu pertiwi melihat realitas republik dan orang-orang yang hidup di atas tanahnya. Pedih karena hutan-hutan dibalak tanpa ampun. Air pun sulit untuk menemukan yang jernih. Udara segar semakin langka. Asap menyebar di mana-mana, dari pabrik dan knalpot kendaraan. Lantas langit menghitam, menunjukkan kegarangannya. Tanah berubah kerontang tandus. Unsur hara menghilang membuat enggan benih tanaman bertumbuh. Laut dan sungai tercemar limbah. Flora dan fauna kehilangan tempat tinggal. Sebagiannya punah ditelan penindasan berkedok pembangunan. Habislah sudah ekosistem kita. Lalu siapa lagi yang harus disalahkan? Toh kita akan selalu berapologi ala fatalis, “Bukankah ini memang takdir Tuhan?”
Beginilah nasib lingkungan kita. Dibiar tak peduli oleh manusia. Padahal ia memegang peran penting untuk kelangsungan kehidupan. Namun semua tetap saja melakukan aktivitas-aktivitas yang -secara sadar maupun tidak- merusak lingkungan. Parahnya, pemerintah sebagai pemegang kendali kekuasaan pun ikut-ikutan apatis. Atau mungkin, tangan yang sudah digerakkan dollar untuk menandatangani perjanjian palsu pemusnah alam? Atau mulut kritis yang kini dibungkam pundi-pundi pemasok rezeki duniawi? Ah, betapa ironi zamrud khatulistiwa ini.
Mafia Lingkungan Sang Arsitek Bencana
Sesungguhnya mafia bukan hanya ada di Direktorat Pajak seperti Gayus Tambunan.Tapi ada mafia yang tak kalah dahsyat efek negatifnya. Merekalah mafia lingkungan. Mereka menggolkan proyek-proyek pemanfaatan Sumber Daya Alam yang tidak berwawasan lingkungan serta tidak menjaga keseimbangan ekosistem. Perkara semacam ini jelas-jelas merugikan negara dan merenggut hak-hak publik sebagaimana diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Akibat ulah mafia lingkungan. Apa yang mereka sebut sebagai pembangunan menjadi weapon mass destruction alias senjata pemusnah massal. Bagaimana tidak? Sesungguhnya puluhan peristiwa bencana alam yang terjadi di Indonesia adalah hasil rancangan para mafia lingkungan. Merekalah arsitek bencana. Mulai dari pencemaran sungai akibat limbah industri, banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan. Tak bisa dipungkiri bahwa mayoritas musibah yang menimpa jejeran kepulauan Nusantara ini adalah penurunan kualitas lingkungan seperti kritisnya kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS), berkurangnya daya serap tanah dan kapasitas tampung lapisan tanah terhadap air juga buruknya kondisi sungai akibat sedimentasi sampah dan limbah buangan baik industri maupun penduduk.
Dan sektor industri yang perizinannya diurus oleh para mafia lingkunganlah yang merupakan kontributor terbesar kerusakan lingkungan. Sudah tak terhitung lagi jumlah kasus pencemaran lingkungan oleh industri. Ini tentu bukan main-main. Sebab skalanya juga besar. Lihat saja kasus PT Exxon Mobile di Aceh, PT Newmont di Teluk Buyat dan beberapa kasus lainnya yang rata-rata dilakoni oleh perusahaan multinasional. Bahkan PT Freeport di Papua bisa membuang limbah padatan tersuspensi ke estuari sungai Ajkwa sebelum mengantongi izin dari Kementerian Lingkungan Hidup sejak tahun 2006 (www.walhi.or.id)
Belajar dari Nauru
Nauru adalah negara kecil berbentuk republik yang terletak di sebelah timur Papua. Luasnya hanya 21 kilometer persegi. Negeri mungil ini hancur akibat penambangan fosfat tanpa henti selama 70 tahun. Mereka sempat menikmati daging lezat fosfat berupa pendapatan per kapita mencapai USD 17.000 pada tahun 1981.
Saat itu Nauru termasuk salah satu negara terkaya di dunia. Namun pesta akhirnya harus berakhir. Dan kenikmataan itu hanya sesaat. Nauru hancur menjadi seperti bekas tambang timah di Bangka atau batubara di daratan Borneo. Nauru akhirnya hanya meninggalkan padang tandus yang tak bisa berproduksi lagi. Bahkan air dan bahan pangan pun harus diimpor dari luar negeri.
Peristiwa yang menimpa Nauru selayaknya menjadi pelajaran bagi kita semua khususnya pemerintah, aktivis pecinta lingkungan dan generasi muda. Jika mafia lingkungan dibiarkan terus bernafas dan mengarsiteki bencana berikutnya. Maka bisa saja satu demi satu pulau kita akan menyusul jejak Nauru yang tragis.Tidakkah kalian ingin bersenandung syahdu:
Kulihat ibu pertiwi
Kami datang berbakti
Lihatlah putera-puterimu
Menggembirakan ibu
Ibu kami tetap cinta
Puteramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa
Jumat, 21 Januari 2011
Gara-Gara Facebook (Kisah-Kisah Seru Para Facebooker)
| Rating: | ★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Nonfiction |
| Author: | Facebooker |
Pengguna facebook semakin membludak sebab mereka diberi kemudahan untuk mengaksesnya. Tidak perlu harus punya laptop atau pc untuk menikmati fasilitas-fasilitasnya, tapi cukup dengan ponsel saja pun sudah bisa. Akhirnya, tak hanya anak muda perkotaan saja yang asyik berfacebook ria namun juga anak-anak yang tinggal di daerah pedesaan. Efeknya, sekarang facebook telah berpenghuni lebih dari 200 juta jiwa.
Facebook kemudian menjadi lahan bisnis sebab ia tempat promosi yang massif. Facebook juga menjadi tempat orang mencari pekerjaan, mencari jodoh, mendapatkan hikmah dari status atau catatan yang berisi perenungan atau nasehat spiritual. Dan yang pasti, facebook merupakan sarana untuk mencari teman lama yang sudah sekian tahun tidak bersua. Sungguh facebook membawa berkah.
Akan tetapi, teknologi memang ibarat pisau. Ia bermata dua. Ada yang tajam, ada yang tumpul. Bagian yang tajamnya bisa digunakan untuk memotong sayuran atau daging untuk makanan, namun bisa juga untuk menodong atau membunuh manusia. Facebook pun demikian. Orang-orang yang lemah iman lantas menyalahgunakannya. Berbagai tindak kriminal terjadi.
Ada pula yang mengganggap facebook bak buah simalakama, senjata makan tuan. Ada murid yang dipecat dari sekolah, ada karyawan yang dipecat dari perusahaan, ada napi buronan yang kembali tertangkap, ada suami yang ketahuan selingkuh dan macam-macam lagi.
Nah, buku “Gara-Gara Facebook” terbitan Leutika ini menyingkap tabirnya. Bermacam akibat, baik positif maupun negatif, terangkum dalam buku yang ditulis hampir 30 kontributor ini. Mulai yang lucu-lucu sampai yang mempengaruhi kehidupan sosial-politik ada di buku ini. Buku yang sampulnya berwarna biru dan bergambar tampak belakang seorang bayi yang mengikat kepalanya ini telah memasuki cetakan keduanya pada Maret 2010.
Secara umum, buku ini sangat recommended untuk dibaca dan dimiliki. Sayangnya, ada beberapa hal yang menurut saya membuat ini belum menjadi perfect. Pertama, kurangnya pengeditan tulisan yang rata-rata ditulis oleh penulis pemula. Dan kedua, adanya tulisan yang diambil bulat-bulat dari situs dan blog berita di internet seperti detik.com, kompas.com dan kilasberita.com.
Begitupun, ini sudah merupakan sumbangsih bagi penyadaran masyarakat untuk berinternet secara sehat dan cerdas. Bacalah dan milikilah. Agar kita khususnya pengguna facebook menyadari baik-buruknya jejaring sosial ini. Bahwa selain ada peluang kebaikan, ada pula bahaya yang mengancam.
Judul Buku : Gara-Gara Facebook
Penulis : Adrian A. Pradana, dkk
Penerbit : Leutika Publisher
Cetakan : ke-2, Maret 2010
Peresensi adalah Koordinator Leutika Reading Society Banda Aceh
Oyako No Hanashi (Mom vs Kids @Japan)
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Biographies & Memoirs |
| Author: | Aan Wulandari |
“Oh ya?” kata Mama senang.
“Tahu nggak kenapa?”
“Nggak ….”
“Karena nggak ada yang marah-marah.”
***
“Enak mana, kereta Indonesia atau kereta Jepang?”
“Enak kereta Indonesia. Yang jualan banyak. Syafiq bisa jajan deh ….”
***
Oyako no Hanashi, sebuah kalimat bahasa Jepang yang mempunyai arti cerita antara orang tua dan anak-anaknya. Dan, cerita seperti itulah yang terdapat dalam buku ini. Kisah antara ibu dan anak yang terjadi ketika keluarga ini tinggal di Jepang selama tiga tahun dan ketika mereka telah kembali lagi ke Indonesia.
Banyak kisah seru, inspiratif, juga lucu, di antara Aan Wulandari-sang penulis- dan kedua anaknya. Terutama, celotehan mereka yang sangat polos, lucu, dan kadang menyentil kita sebagai orang tua.
Kisah ini bermula dengan rencana Abah mau berangkat ke Jepang, Mama yang Heboh, Syafiq yang lugu dan polos, serta Sofie yang suka ngikutin abangnya. Ada saja tingkahnya yang bikin kita tertawa geli.
"Ituuu buat percobaan, perawan apa enggak..."
Hah? Syafiq yang anak SD mau bikin percobaan perawan apa enggak?
Gubraks banget kan?
Atau Sofie yang seragam sholatnya meliputi juga kain popok! Hehe..
Atau Mama yang suka panik sendiri...
Atau Abah yang ngasih trivia buat anaknya yang SD "Berapa besar masa proton?"
Buku ini, bagi saya, sungguh mengasyikkan. Apalagi bagi yang pernah tinggal di Jepang atau –setidaknya- bercita-cita menetap atau jalan-jalan ke sana. Buku ini segar dan menghibur, Dan yang membuat kita benar-benar mencerap hikmah adalah karena kelucuannya itu natural, alami, tanpa dibuat-buat.
Meskipun beberapa cerita sungguh-sungguh meledakkan tawa, jarang sekali kita temukan kata -hihihi atau -hahaha di akhir kalimat/alinea/cerita yang mengesankan si penulis menertawakan leluconnya sendiri dan tidak menyisakan untuk pembaca yang dapat berpotensi mengerutkan kening.
Selain itu, kita juga dapat mengambil banyak pelajaran dari kisah Mbak Aan ini. Salah satunya adalah agar belajar menjaga lisan agar kelak tak asal bicara saja ketika sudah menjadi orangtua (mempunyai anak). Kalau sekarang masih bujangan, atau sudah menikah namun belum dikaruniai buah hati, mulailah belajar hal-hal kecil dan sederhana. Saya betul-betul ngakak karena ucapan Syafiq, "Nambah EMPAT KALI lho, Ma." Mudah-mudahan kita nanti tak asal memberi nasehat buat anak kita.
Secara pribadi, saya memberi empat bintang untuk buku ini. Bahkan rencananya lima bintang. Namun, karena saya menemukan sedikit yang mengganjal, nggak jadi deh :D. Yang mengganjal itu sepele saja mungkin, yaitu sub judul yang ada di cover. Mom vs Kids @ Japan. Pertama, kesannya buku ini bercerita tentang “pertarungan” antara ibu dan anak gara-gara adanya kata “versus”. Kedua, kesannya semua kisah terjadi di Jepang karena ada @Japan. Padahal kisah yang benar-benar terjadi di Jepang sangat sedikit sekali dari keseluruhan konten, jadi pembaca bisa-bisa agak terkecoh. Sebab yang lebih banyak ditampilkan adalah culture-shock¬-nya Syafiq dan Sofie saat kembali ke Indonesia. Namun, hal itu tidak mengurang taste buku ini, karena ke-Jepang-annya sesungguhnya tetap terjaga dan terasa hingga halaman terakhir. Selamat membaca! ^_^
Judul Buku : Oyako No Hanashi
Penulis : Aan Wulandari
Penerbit : Leutika Publisher
Cetakan : Pertama, Juli 2010
*NB: Sebagian konten review ini dikutip dari http://orinkeren.multiply.com/reviews/item/16/ dan goodreads-nya Mbak Rinurbad yang juga memberi endorsement di buku ini.
Peresensi adalah Koordinator Leutika Reading Society Banda Aceh
Senin, 03 Januari 2011
INFORMASI DPO PENIPUAN: DICARI ARIS KRISTIANTO!
URGENT & PENTING !
Informasi ini HARUS saya SEBAR untuk MENGHENTIKAN/MENGURANGI KORBAN Penipuan dari Oknum yang TIDAK BERTANGGUNG JAWAB DAN TELAH MERUGIKAN Puluhan Orang, MERUSAK KELUARGA ORANG, MENGHANCURKAN DAN MEMBUAT MALU KELUARGA dengan Nilai Ratusan Juta Rupiah, termasuk saya....
DPO karena Menipu/Manipulasi/Menjual Nama Saya Orang yang bernama ARIS KRISTIANTO (profil ada di fesbuknya), asal : Aceh, domisili medan..... dengan modus :
1. investasi usaha dengan margin yg besar dan menguntungkan,
2. orang tua sakit,
3. anak/istri sakit,
4. menjual nama saya (syahrul komara) atau bisnis saya,
5. menjual nama partai da'wah/mengaku kader
6. dana awal tender/proyek ...
Orang berpenampilan menarik,usia 23-25 th, tinggi 178-180 cm, hitam manis,wajah arab/aceh, rambut ikal pendek,dan mampu meyakinkan org. Saat ini istri & anaknya (yang berumur 2 bulanan) serta ibunya yang sudah tua dan tinggal sendiri ditinggalkan dan menanggung semua akibat perbuatannya. AGAR REKAN-REKAN & SAUDARAKU TIDAK TERTIPU & MENJADI KORBAN SELANJUTNYA..
MOHON AGAR BERHATI-HATI TDK LANGSUNG IBA & PERCAYA (karena yang bersangkutan sendiri telah TEGA MENJUAL IBUnya, Berbohong pada Orang Tua Angkat yang telah Mengangkat dan membesarkan serta membiayai kehidupannya, meninggalkan Anak & Istrinya, Membohongi Mertuanya,dan merusak ikhwan/akhwat yg lugu, ikhlas dan telah memberikan / berniat membantu MALAH diZHALIMI)
Mohon dapat diinformasikan bila ada yang melihat keberadaannya karena sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dan pencarian orang-orang terzhalimi serta sudah diserahkan keluarganya untuk diproses secara hukum. Semoga bermanfaat. Astagfirullah.
Cp. syahrul komara 081397242401
Sumber: Note FB Syahrul Komara http://www.facebook.com/profile.php?id=1415617729#!/note.php?note_id=475470273402
NB: Saya sendiri merupakan korban, dengan nilai 25 juta rupiah ketika saya akan menikah dan memulai hidup berumahtangga. Malangnya, 20 jutanya adalah uang teman-teman yang saya ajak ikut. Dan saya tetap harus mengganti semuanya.
Buronan ini pernah dua kali ditangkap tapi dua kali kabur/melarikan diri. Dia pernah aktif di Moslem Youth Club Medan, Rumah Zakat Indonesia di Batam, Arminareka (Biro Haji) dan manager tim nasyid Maidany. Berhati-hatilah, sebab ia memanfaat semua predikat ini untuk menipu. Bahkan ada yang sampai ditipu 300 juta rupiah.
Foto ybs (Aris Kristianto) yang berdiri paling depan.