Sabtu, 24 Oktober 2009

(kopipaste) Sebuah Ta'aruf yang Indah

Sebuah Ta'aruf yang Indah

semuanya berawal dari kedua mata
ketika aku hanya berani mencuri pandang wajahmu di sana
dengan pakaian rapat tak kau biarkan auratmu terbuka
karena memang tak selayaknya bisa dipandang oleh sembarang mata
maka seiring perjalanan masa
kumulai beranikan diri tuk bertanya
tuk selanjutnya berbagi cerita

telah kukatakan kepada semenjak awal mula
bahwa aku adalah lelaki ibuku sepanjang masa
sebagai wujud bakti sebagaimana rasul telah bersabda
"ibumu, ibumu, ibumu!" begitulah dalam sebuah hadits yang pernah kubaca
"lalu ayahmu!" sebagai kelanjutan ucapan dari lidah yang mulia

sebuah jawaban darimu membuatku begitu lega
kau berkata bahwa lebih baik memiliki suami yang berbakti daripada yang durhaka
kau berkata bahwa lebih baik memilki suami yang dermawan daripada yang bakhil harta
dan kau pun berharap bahwa pendampingmu kelak bisa membuatmu bahagia

kau pernah berkata ingin segera menikah sebagai suatu rencana
bila kelak Allah mempertemukanmu dengan jodoh pilihan-Nya
agar mampu menjaga kemurnian dan kesucian niatmu dalam mewujudkan berbagai cita
serta menjadikanmu lebih kuat kala cobaan dan ujian datang menerpa
karena akan ada seseorang yang insya Allah akan mendampingi senantiasa
namun yang harus kau tahu adalah bahwa aku lelaki biasa
segala kelebihan dan kelemahan pastilah kupunya

senanglah hati ketika mengetahui dirimu rutin dalam sebuah tarbiyah
tidak seperti aku yang hanya pernah masuk madrasah
mulai ibtidaiyah, tsanawiyah namun tidak lanjut ke aliyah
namun sekarang aku sudah lulus kuliah
saat ini pun aku sudah memiliki ma'isyah
teman-temanku berkata, bahwa sudah waktunya bagiku mencari 'aisyah
mungkin dengan simpanan yang ada cukuplah untuk sebuah walimah
tentu saja yang sederhana dan bukan yang meriah
dan akupun belum sanggup untuk menyediakanmu sebuah rumah
karena itu kuberpikir untuk mengontrak dulu sajalah

suatu ketika ketika kau bertanya tentang poligami
kujawab bahwa itu adalah ketentuan Ilahi
tentu saja aku menyetujui
lantas kau bertanya apakah aku akan melakukannya suatu saat nanti
kujawab apa mungkin bila adil sebagai syarat utama tak mampu kumiliki
engkau tersenyum di mulut atau mungkin sampai ke hati
sambil mengakui bahwa dirimu belum bisa menerima bila hal itu terjadi
dan dirimu juga tak bisa menyamai saudah binti zam'ah istri sang nabi
yang tulus ikhlas kepada 'aisyah dalam berbagi

suatu ketika giliran aku bertanya tentang kemampuanmu bertilawah
kau menjawab bisa walau tak mau dibandingkan dengan para qoriah
karena kau merasa masih banyak berbuat salah
dalam mengucap hukum tajwid dan huruf-huruf hijaiyah
insya Allah kita kan bersama-sama belajar bila kelak kita menikah
untuk mewujudkan keinginanmu agar bisa menerangi setiap ruang rumah
dengan alunan suara al-quran yang merupakan ayat-ayat qauliyah
dari situ mungkin kita bisa membaca ayat-ayat kauniyah

untuk memastikan keyakinanku untuk menikah
kau pun mengundangku ke tempat temanmu seorang murabbiyah
dan tak lupa kau undang aku tuk datang ke rumah
sebagai awal perkenalan dengan bunda dan ayah
dan sebuah titik temu tercapailah
istikharah mencari jawaban tuk menggapai alhub fillah wa lillah

dalam doa kubersimpuh pasrah
memohon datangnya jawaban kepada Sang Pemberi Hidayah
bila jawaban itu masih menggantung di langit, maka turunkanlah
bila jawaban itu masih terpendam di perut bumi, maka keluarkanlah
bila jawaban itu sulit kuraih, maka mudahkanlah
bila jawaban itu masih jauh, maka dekatkanlah

NB: ini penggalan dari sebuah tulisannya Bang Jampang di sebuah e-book yang beredar di intranet DJP.

56 komentar:

  1. laaahh
    jadinya akhirnya menikah??
    alhamdulillah...
    hahahah...

    *ah ah ah semua*

    BalasHapus
  2. like this bro...walaupun dah baca dulunya, enak kali bacanya lagi, berharap jadi sang tokoh..hi3x

    BalasHapus
  3. Yang terakhir penggalan doa selepas soal dhuha, bukan??

    BalasHapus
  4. Kalo ga tu...tinggal di Pondok Mertua Indah... :-)

    Nice posting ....

    BalasHapus
  5. gak tau juga.
    tapi kayaknya jadi.
    haha.. :D

    *emang rima ah ah kayaknya menarik*

    BalasHapus
  6. sama.
    tapi gak usah pake curi2 pandang-lah.. :D

    BalasHapus
  7. sepertinya iya, ketika kita memohon rizki-Nya..

    BalasHapus
  8. kalo saya, alhamdulillah, udah "punya" rumah, lumayanlah bisa numpang tinggal di rumah punya negara, jd gak mesti di PMI lagi..

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah Wasyukurillah.... :)

    BalasHapus
  10. subhanallah postingannya, bagus

    semoga dimudahkan

    BalasHapus
  11. do'a semoga dimudahkan ini utk siapa, ya? :D

    BalasHapus
  12. berarti untuk saya juga termasuk ya?
    kalau gitu aminin deh.. :D

    BalasHapus
  13. Ngebacanya jadi pengen ketawa. Bukan karena isinya. Cuman, katakanlah ini benar-benar curahan pikiran seseorang tentang ta'arufnya beneran, benarlah, kalau baru kepincut mahabbah, kata-kata pun - kaya - dipaksain demi berima sama, ya, efek gejolak diri yg rada2 ga stabil saking senangnya. Alahweu..

    BalasHapus
  14. Ya, silakan. jangan cuma pengen, ketawa aja beneran.. :D

    BalasHapus
  15. hmm... mungkin banar semua ada teorinya, tapi tidak semua teori ada benarnya..

    ingat perkataan oleh seseorng ini?

    BalasHapus
  16. apa artinya ini?
    perjudian diksi (meminjam istilah Liar) lagi?

    BalasHapus
  17. Hehe. Udah ketawa memang... ;))

    Kata2 ttg kebenaran teori itu dari Si Liar kah? Ingat, tapi lupa siapa yang cakap.

    Alahweu nyan basa nanggroe chit hai bang, cie neujak u meunasah, soe teu'oh na nyang teupeu. *katanya ga boleh sepele kan, tuh, ga disepelein :D*

    BalasHapus
  18. Baru nyadar. Fasilitas quote Multiply benar-benar memaksimalkan kegemaran orang-orang tertentu untuk menganalisa kata.

    BalasHapus
  19. baguslah. itu lebih lebih baik daripada cemberut. :)

    BalasHapus
  20. ya. itu perkataannya (atau lebih tepat tulisannya) di status fb-mu ttg kuliah mind illusion di Lesehan Mbak Moel..

    BalasHapus
  21. hana meuphom..

    *mengibarkan bendera putih*

    BalasHapus
  22. terimakasih multiply..
    analisa kata2 ini beralih rumah dr tempat lain berawalan y.. ^_^

    BalasHapus
  23. sebenarnya tidak ingin membayangkan, lebih baik melakukan.. :D

    BalasHapus
  24. *mengambil bendera putihmu lalu merobeknya di depan hidungmu*

    menyerah begitu saja? ayolah... cari, cari, keluarkan ksatria penerjemahmu selama ini, di mana dia?? :P

    BalasHapus
  25. kejam..hiks..hiks.. :(

    hey, aku tak selalu dengan ksatria penerjemah..
    ada yg memang aku bisa..
    aku akui kadang pake translater, bisa jadi ksatria, bisa jadi srikandi..
    kalo tak ada "dia" di sampingku, maka siapapun yang ol akan kumnitai bantuan, selama dia belum membuat koalisi pragmatis dgn ******

    BalasHapus
  26. Koalisi pragmatis dengan sesuatu berbintang enam..hm...

    BalasHapus
  27. hmm...aku jg lupa, kmrn yg kubuat jadi enam bintang itu apa ya.. ?

    *penyakitdatangsebelummasanya*

    BalasHapus
  28. berharap jadi objek dlm tulisan inikah? hehe.. :D

    BalasHapus
  29. hey...jangan sembarang berucap, ukhti..
    duh..duh..berdo'alah yang baik..
    *teringat ceritamu ttg tremor*

    BalasHapus
  30. Oh afwan, aku hanya bercanda :(

    tapi tentang tremor itu, aku, tanpa niat menakuti dan semacamnya, tetap keukeuh dgn saran yang kuucap itu.

    BalasHapus
  31. baiklah, terimakasih, akan kuturuti saranmu itu..

    BalasHapus
  32. ^_^

    yang bilang nice, biasanya sedang dalam harap :)

    BalasHapus
  33. hmm..apanya yg cantik ya?

    *berpikir*

    BalasHapus
  34. renungannya. content tulisannya. cantik.

    BalasHapus
  35. hoho..
    biasanya, yg bilang indah, berharap menjadi tokoh dalam tulisan di atas..sebab, klo cm dibayangkan sbg sesuatu yg indah bisa berabe..lebih baik dilaksanakan.. ^_^

    *sambilmenunjukcermin*

    BalasHapus
  36. oow.... kayaknya dah ketahuan ni perlu mayang berapa :)

    BalasHapus
  37. mayam..bukan mayang kak.. :)
    ck.ck..ck..
    percuma udah pernah tinggal di Aceh..hehe..

    BalasHapus
  38. ow, mayam ya? Maklumlah... bukan tanah kelahiran... tapi tetap tanah air kok... secara dimanapun ada umat muslim tetap jadi tanah air kita:)

    BalasHapus
  39. hehe..nampaknya romantisme kampus masih membekas, kak? :)

    BalasHapus
  40. ada juga di sini rupanya tulisan saya...
    *malah lebih rame di sini... xixixixixixi*
    btw, PNS pajak juga :)
    di aceh, kenal gak yah?

    BalasHapus
  41. hohoho..
    si empunya datang rupanya..
    alhamdulillah..
    makasi udah mau mampir, Bang...
    ana bkn di pajak, ana di beacukai..
    di aceh emang knp, bang?

    BalasHapus