BANDA ACEH--MI: Petugas Bea dan Cukai Aceh menangkap seorang pemasok sabu (methampetamine) dari Malaysia melalui Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar.
Penangkapan kurir sabu dengan inisial HBS, 26, warga Banda Aceh, tejadi sesaat setelah tersangka turun pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan AK-305 dari Kuala Lumpur, Malaysia, pada hari Jumat (23/7) pukul 12.20 WIB.
Menurut Kepala Seksi Penindakan dan penyidikan Bea dan Cukai Aceh Edy Safutra, petugas berhasil menyita sabu-sabu seberat 158 gram yang disembunyikan dalam botol sabun cair.
"Hasil temuan itu kemudian dibuktikan dengan hasil uji laboratorium di Medan. Setelah terbuktimethampetamine, petugas langsung berkoordinasi dengan Direktorat Narkoba Polda Aceh untuk menangkap pemilik sabu tersebut," kata Edy Safutra di Kantor Bea dan Cukai Banda Aceh, Sabtu (24/7).
Menurut pengakuan tersangka, sabun cair berisi enam paket sabu diterima di Kuala Lumpur dari seorang pria berinisial D. Atas jasanya membawakan paket itu ia mendapat imbalan Rp3 juta yang akan di berikan oleh M selaku penerima yang telah menunggu di Banda Aceh.
Atas perbuatannya, tersangka HBS, telah melanggar Undang-Undang No 35 tahun 2009, tentang Narkotika dangan ancaman pidana mati atau hukuman penjara seumur hidup.
Selama dua tahun terakhir, petugas Bea dan Cukai Aceh telah tiga kali menangkap pelaku penyeludupan sabu dari Malaysia melalui Bandara Sultan Iskandar Muda. Sebelumnya, hampir satu kilogram sabu disita petugas dari tiga orang pelaku yang berhasil ditangkap petugas. (HP/OL-01)
Minggu, 25 Juli 2010
Sabtu, 24 Juli 2010
-:: inspirasihati.com ::- Segarkan Hati, Segarkan Jiwa
http://www.inspirasihati.com/
Yang asik buat "listen", "hear" dan "download"
Yang asik buat "listen", "hear" dan "download"
Jumat, 23 Juli 2010
Asal Usul Sistem Matrilineal di Minangkabau
Dulu, ketika SD dan SMP, saya menelan mentah-mentah saja “keanehan” sistem nasab di dataran Minangkabau yang matrilineal. Ketika SMA, saya mulai bertanya-tanya, “Mengapa di daerah yang katanya adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah menerapkan sistem keturunan dan waris yang tak sesuai syariah? Namun saya tak juga mendapat jawaban. Hingga akhirnya, saya menemui jawabnya dalam sebuah novel berjudul “Negara Kelima” karya ES Ito.
Novel ini sebenarnya bergenre thriller sejarah yang –menurut saya- sangat mengasyikkan. Cerita tentang satu Kelompok Patriotik Radikal (KePaRad) yang dicap sebagai “teroris kiri” oleh pihak kepolisian khususnya Detasemen Khusus Anti Teror. Gerakan KePaRad yang menggunakan sistem sel ini bercita-cita memproklamasikan Negara Nusantara dan menggulingkan pemerintah NKRI yang sah dengan dasar ideologi kenangan romantis kejayaan Atlantis di masa lalu yang tak lain terletak di Indonesia. But, soal isi novel keseluruhan dapat kita ulas di lain waktu.
Dalam salah satu babnya, melalui narasi dan dialog yang disampaikan Malin Saidi, seorang tukang kaba menjelaskan akar sejarah perubahan sistem patrilineal menjadi matrilineal. Berikut informasi dari potongan novel tersebut yang saya gubah seperlunya:
Masa abad kemudian berganti. Pemimpin silih berganti tapi tetap dengan gelar Datuk Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Hingga datang masanya kejayaan Majapahit, kerajaan besar di daerah Jawa. Dengan panglimanya, Adityawarman, kerajaan itu bersiap menyerang dan menguasai Minangkabau. Minangkabau adalah kerajaan yang dikenal sebagai nagari tanpa polisi. Kerajaan yang tak pernah menyiapkan angkatan perang karena mengutamakan kedamaian bahkan untuk daerah rantau dan pengaruh.
Dicarilah runding dan mufakat bagaimana menghadapi tentara Majapahit pimpinan Adityawarman. Demi kemaslahatan rakyat, perang harus dihindari tapi muslihat perlu untuk dicari. Datuk Parpatiah Nan Sabatang menyadari semua kelemahan itu. Dalam musyawarah, ia memaparkan rencananya untuk tidak menyambut tentara Adityawarman dengan senjata tetapi dengan kebesaran. Adityawarman akan dipinangkan untuk Puteri Jamilan saudara dari Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatiah Nan Sabatang. Tentara Jawa itu akan disambut dengan adat dan lembaga. Tidak aka nada perang yang hanya akan menimbulkan kesengsaraan rakyat.
Akhirnya Adityawarman sampai di ranah Minangkabau. Tentara Jawa itu terkejut karena mereka disambut dengan kebesaran bukan perlawanan perang. Utusan dari Pagaruyung datang menemuinya. Menyampaikan keinginan Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatiah Nan Sabatang, pucuk pimpinan alam Minangkabau untuk meminang Adityawarman untuk Puteri Jamilan. Adityawarman bingung. Ia tidak mungkin mengobarkan perang untuk menghadapi rakyat Minangkabau. Tawaran itu juga bisa langsung membuatnya menjadi raja Minangkabau. Datuak Katumanggungan bersedia memberikan jabatan pucuk alam Minangkabau pada Adityawarman sepanjang ia tidak memerangi rakyat Minangkabau dan harus mau menikah dengan Puteri Jamilan.
Menyadari gelagat Adityawarman akan menerima tawaran itu, Datuk Parpatiah Nan Sabatang mencari siasat agar raja-raja berikutnya tetap dianggap menerima warisan kerajaan dari Datuak Katumanggungan bukan dari Adityawarman. Ditetapkanlah adat Batali Bacambua yang langsung merubah struktur masyarakat Minangkabau.
“Nan dikatokan adat nan batali cambua, iyolah hubungan mamak dengan bapak, dalam susunan rumah tango, sarato dalam korong kampuang. Dek Datuak Parpatiah nan Sabatang, didirikan duo kakuasaan, balaku diateh rumah tango, iyolah tungganai jo rajonyo, nan korong kampuang barajo mamak, rumah tango barajo kali, di rumah gadang batungganai…Dicambua tali malakek”
Adat batali bacambua mengatur hubungan antara bapak dan mamak. Intinya, di dalam rumah tangga terdapat dua kekuasaan, pertama kekuasaan bapak, kedua kekuasaan Mamak, yaitu saudara laki-laki dari pihak ibu. Pemikiran itu dibawa Datuk Parpatiah Nan Sabatang pada musyawarah dengan cerdik pandai di balairung sari. Menyadari penting perubahan mufakat didapatkan.
Sejak saat itu susunan aturan masyarakat berubah. Dahulu bapak mewariskan kepada anak sekarang harus kepada kemenakan. Dahulu suku didapat dari bapak, sekarang dari ibu. Ini tidak lebih dari kecerdikan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Dengan datangnya Adityawarman, ia tetap menginginkan agar kekuasaan tetap berasal dari Datuak Katumanggungan. Dengan waris turun dari mamak, bukan dari bapak ini, nantinya akan memosisikan Aditywarman tidak lebih dari raja transisi bukan raja sebenarnya dari alam Minangkabau. Sebab Datuak Katumanggungan yang menyerahkan kekuasaan padanya, dengan sistem adat yang baru, terkesan hanya menitip kekuasaan. Hingga datang masanya nanti kemenakannya akan lahir dari perkawinan Puteri Jamilan, adiknya dengan Adityawarman.
Dengan adat batali bacambua, waris diterima oleh anak Adityawarman bukan dari bapaknya, tapi dari mamaknya yaitu Datuak Katumanggungan. Adityawarman tidak pernah dianggap raja Minangkabau dalam Tambo. Ia hanya raja transisi, menunggu anaknya lahir dan menerima waris dari mamaknya, Datuak Katumanggungan. So, ini jelas murni disebabkan strategi politik belaka di zaman itu.
NB: Saya mempercayai cerita versi ini, karena sependek ini belum menemukan referensi ilmiah yang bisa menjawab tanya saya selama ini. Jika banyak terjadi kesalahan dalam catatan ini, mohon diluruskan. Wallahua'lam.
Novel ini sebenarnya bergenre thriller sejarah yang –menurut saya- sangat mengasyikkan. Cerita tentang satu Kelompok Patriotik Radikal (KePaRad) yang dicap sebagai “teroris kiri” oleh pihak kepolisian khususnya Detasemen Khusus Anti Teror. Gerakan KePaRad yang menggunakan sistem sel ini bercita-cita memproklamasikan Negara Nusantara dan menggulingkan pemerintah NKRI yang sah dengan dasar ideologi kenangan romantis kejayaan Atlantis di masa lalu yang tak lain terletak di Indonesia. But, soal isi novel keseluruhan dapat kita ulas di lain waktu.
Dalam salah satu babnya, melalui narasi dan dialog yang disampaikan Malin Saidi, seorang tukang kaba menjelaskan akar sejarah perubahan sistem patrilineal menjadi matrilineal. Berikut informasi dari potongan novel tersebut yang saya gubah seperlunya:
Masa abad kemudian berganti. Pemimpin silih berganti tapi tetap dengan gelar Datuk Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Hingga datang masanya kejayaan Majapahit, kerajaan besar di daerah Jawa. Dengan panglimanya, Adityawarman, kerajaan itu bersiap menyerang dan menguasai Minangkabau. Minangkabau adalah kerajaan yang dikenal sebagai nagari tanpa polisi. Kerajaan yang tak pernah menyiapkan angkatan perang karena mengutamakan kedamaian bahkan untuk daerah rantau dan pengaruh.
Dicarilah runding dan mufakat bagaimana menghadapi tentara Majapahit pimpinan Adityawarman. Demi kemaslahatan rakyat, perang harus dihindari tapi muslihat perlu untuk dicari. Datuk Parpatiah Nan Sabatang menyadari semua kelemahan itu. Dalam musyawarah, ia memaparkan rencananya untuk tidak menyambut tentara Adityawarman dengan senjata tetapi dengan kebesaran. Adityawarman akan dipinangkan untuk Puteri Jamilan saudara dari Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatiah Nan Sabatang. Tentara Jawa itu akan disambut dengan adat dan lembaga. Tidak aka nada perang yang hanya akan menimbulkan kesengsaraan rakyat.
Akhirnya Adityawarman sampai di ranah Minangkabau. Tentara Jawa itu terkejut karena mereka disambut dengan kebesaran bukan perlawanan perang. Utusan dari Pagaruyung datang menemuinya. Menyampaikan keinginan Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatiah Nan Sabatang, pucuk pimpinan alam Minangkabau untuk meminang Adityawarman untuk Puteri Jamilan. Adityawarman bingung. Ia tidak mungkin mengobarkan perang untuk menghadapi rakyat Minangkabau. Tawaran itu juga bisa langsung membuatnya menjadi raja Minangkabau. Datuak Katumanggungan bersedia memberikan jabatan pucuk alam Minangkabau pada Adityawarman sepanjang ia tidak memerangi rakyat Minangkabau dan harus mau menikah dengan Puteri Jamilan.
Menyadari gelagat Adityawarman akan menerima tawaran itu, Datuk Parpatiah Nan Sabatang mencari siasat agar raja-raja berikutnya tetap dianggap menerima warisan kerajaan dari Datuak Katumanggungan bukan dari Adityawarman. Ditetapkanlah adat Batali Bacambua yang langsung merubah struktur masyarakat Minangkabau.
“Nan dikatokan adat nan batali cambua, iyolah hubungan mamak dengan bapak, dalam susunan rumah tango, sarato dalam korong kampuang. Dek Datuak Parpatiah nan Sabatang, didirikan duo kakuasaan, balaku diateh rumah tango, iyolah tungganai jo rajonyo, nan korong kampuang barajo mamak, rumah tango barajo kali, di rumah gadang batungganai…Dicambua tali malakek”
Adat batali bacambua mengatur hubungan antara bapak dan mamak. Intinya, di dalam rumah tangga terdapat dua kekuasaan, pertama kekuasaan bapak, kedua kekuasaan Mamak, yaitu saudara laki-laki dari pihak ibu. Pemikiran itu dibawa Datuk Parpatiah Nan Sabatang pada musyawarah dengan cerdik pandai di balairung sari. Menyadari penting perubahan mufakat didapatkan.
Sejak saat itu susunan aturan masyarakat berubah. Dahulu bapak mewariskan kepada anak sekarang harus kepada kemenakan. Dahulu suku didapat dari bapak, sekarang dari ibu. Ini tidak lebih dari kecerdikan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Dengan datangnya Adityawarman, ia tetap menginginkan agar kekuasaan tetap berasal dari Datuak Katumanggungan. Dengan waris turun dari mamak, bukan dari bapak ini, nantinya akan memosisikan Aditywarman tidak lebih dari raja transisi bukan raja sebenarnya dari alam Minangkabau. Sebab Datuak Katumanggungan yang menyerahkan kekuasaan padanya, dengan sistem adat yang baru, terkesan hanya menitip kekuasaan. Hingga datang masanya nanti kemenakannya akan lahir dari perkawinan Puteri Jamilan, adiknya dengan Adityawarman.
Dengan adat batali bacambua, waris diterima oleh anak Adityawarman bukan dari bapaknya, tapi dari mamaknya yaitu Datuak Katumanggungan. Adityawarman tidak pernah dianggap raja Minangkabau dalam Tambo. Ia hanya raja transisi, menunggu anaknya lahir dan menerima waris dari mamaknya, Datuak Katumanggungan. So, ini jelas murni disebabkan strategi politik belaka di zaman itu.
NB: Saya mempercayai cerita versi ini, karena sependek ini belum menemukan referensi ilmiah yang bisa menjawab tanya saya selama ini. Jika banyak terjadi kesalahan dalam catatan ini, mohon diluruskan. Wallahua'lam.
Rabu, 21 Juli 2010
(Puisi) Janji Lelaki Sunyi
Janji Lelaki Sunyi
Oleh: Anugrah Roby Syahputra
tatapan mata kita yang syahdu berpagut
jadi nafas satu denyut
lalu bincang-bincang kita mengalir
dari soal harga cabe yang naik
sampai pilkada yang kabarnya dimeriahkan money politics
dan tiba-tiba hujan merintik meningkahi percakapan kita
aku diam sejenak. begitupun kau.
tapi tak cuma sampai di situ
kau lalu tuangkan secangkir kopi panas
yang kauracik dari bubuk yang kubawa sebagai oleh-oleh dari Simpang Tujuh Ulee Kareng
harumnya yang sedap membuat kita kembali bersemangat
dan pembicaraan kita semakin hangat
namun aku harus jujur
bahwa tak semua yang kauminta slalu bisa aku penuhi
hatiku seolah tak sudi
lidahku pun kelu untuk bersaksi
bukan tipeku mudah ingkari
ah, biarlah kau kecewa padaku semenit-dua menit
asal kau tahu bahwa janji itu pasti kutepati
Minggu, 18 Juli 2010
Ramadhan, Dagelan dan Harapan Perbaikan
Bulan suci yang dinantikan kini telah tiba
Ramadhan kembali hadir dengan rahmat-Nya
Rindu hati terasa menanti bulan nan Indah
Yang berhias amaliah indah dan ceria
(Ramadhan Kembali, Justice Voice)
Entah sudah berapa kali Ramadhan kita lalui sepanjang hidup.Sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun atau bahkan lebih dari itu? Mungkin saja. Sepanjang Ramadhan yang telah dilalui itu tentunya penuh dengan kenangan tersendiri. Mungkin banyak dari kita yang tersenyum simpul saat mengingatnya, tertawa, terharu, menangis, marah, menyesal, atau malah biasa saja.
Ya. Ramadhan memang bulan istimewa. Satu dari bulan-bulan haram yang di dalamnya berhimpun pelabagai keutamaan. Kitab suci umat Islam pertama kali diturunkan di bulan ini. Sehingga spirit perbaikan untuk kembali kepada tuntunan Al-Qur’an terasa begitu menggebu. Selama satu bulan penuh pula, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Bahkan, Allah Subhanahu wa ta’ala menghadiahkan bonus satu lailatul qadar yang khairum min alfi syahrin (lebih baik dari seribu bulan) bagi hamba-hambaNya yang sungguh-sungguh ingin menggapainya.
Karenanya, tak heran jika kita melihat gairah keberagamaan umat meningkat tajam di bulan-bulan ini. Orang-orang yang biasanya nyaris tak pernah menjejak masjid, tiba-tiba jadi rajin shalat berjamaah. Perempuan yang biasanya berpakaian sesuka hati membiarkan auratnya dipamerkan mendadak mengenakan kerudung muslimah. Acara-acara pengajian atau majelis ta’lim yang biasanya sepi menjadi ramai dikunjungi. Seminar, bedah buku dan pelatihan keislaman semakin menjamur dan diminati banyak orang. Para pedagang yang menjual berbagai ‘atribut simbolis’ keIslaman seakan mendapat durian runtuh dengan banjirnya order.
Bahkan televisi yang sehari-harinya kita lihat didominasi tayangan tak bermanfaat semacam ‘ghibah-tainment’, komedi berbumbu seks, hiburan musik dengan dengan lirik dan klip tidak senonoh serta sinetron yang mengangkat keglamouran, kekerasan dan pergaulan bebas secara drastis berubah 180 derajat. Berbagai acara berbungkus “spesial Ramadhan” bak cendawan di musim hujan. Ceramah agama yang biasanya hanya mendapat jatah singkat di kala subuh kini bertaburan di jam-jam prime time.Sinetron –yang katanya- bernafas religi setiap hari berjejalan di kotak Pandora itu, meski konten utamanyamasih tetap di romantisme picisan dan sebagainya. Tayangan nasyid yang di bulan lain tidak kebagian tempat kini juga berlomba-lomba ditayangkan. Jika saja nuansa seperti ini terus bertahan di sebelas bulan berikutnya, tentu akan menjadi tradisi yang mengagumkan. Subhanallah.
Kesalehan Temporal, Dagelan dan Hipokrisisme
Sayangnya, semua rutinitas yang berlangsung di bulan Ramadhan itu tak akan bertahan lama. Selepas lebaran Idul Fitri nanti, seperti tahun-tahun sebelumnya, umat akan kembali ke habitatnya lagi. Majelis-majelis ilmu akan ditinggalkan, tradisi tadarusan juga menghilang, jamaah shalat di masjid kembali menjadi sunyi. Hanya menyisakan beberapa kakek lanjut usia dan musafir yang numpang buangair di kamar mandinya. Apalagi subuh, persis seperti lirik nasyid Peristiwa Subuh-nya Raihan, mata yang celik dipejam lagi, hatinya penuh benci, berdengkurlah kembali. Astaghfirullah. Padahal, sebagaimana dinukil Dr. Raghib As-Sirjani dalam salah satu kitabnya, seorang penguasa Yahudi pernah mengingatkan, “Kami hanya takut pada umat Islam jika jamaah shalat subuhnya sama banyak dengan jamaah shalat jumatnya.”
Lalu bagaimana dengan para perempuan muslimah? Jilbab yang sudah begitu anggun menutupi aurat para muslimah di bulan pengampunan itu kembali ditanggalkan. “Yang penting kan hatinya yang dijilbabin, “demikian mereka berdalih. Naudzubillah min dzalik. Tak tahukan mereka bahwa dengan aurat yang mereka umbar kepada lawan jenisnya itu menjadi fitnah yang mengkhawatirkan. Inilah penyebab kemerosotan moral di abad akhir zaman. Ketika dorongan syahwat dinomorsatukan dan iman disingkirkan di dalam mimbar dan mihrab.
Para pejabat yang selama bulan suci senantiasa terlihat menegakkan tarawih berjamaah dan tersedu-sedan bermuhasabah diri di majelis zikir yang disiarkan televisi kini kembali pada watak asli. Wajah memang masih dibasuh wudhu’, kening memang masih terus menyentuh lantai dalam sujud-sujud syahdu dhuha dan qiyamullail, namun soal perut dan di bawahnya adalah hal berbeda. Sebagaimana “guru” mereka, sang televisi yang menampakkan wujud aslinya, menuhankan rating dan iklan demi menyuapi keserakahan kapitalis. Masya Allah.Bukankah seharusnya Ramadhan menghasilkan alumni yangmuttaqin(bertaqwa)?
Jika masyarakat kembali lagi dalam budaya konsumtif materialistiknya yang cenderung permisif dan hedonis, maka bukankah segala performa kesalehan selama Ramadhan hanyalah dagelan belaka? Ini hanya akan menjadi pelanjut kultut hipokritisme (kemunafikan) di republik ini. Semoga kita dapat melalui Ramadhan dengan penuh makna dan diwisuda dengan nilai cum laude agar mampu men-sibghah Indonesia dengan semangat perbaikan.
NB: Ditulis khusus untuk buletin JPRMI Wilayah Sumatera Utara
Ramadhan kembali hadir dengan rahmat-Nya
Rindu hati terasa menanti bulan nan Indah
Yang berhias amaliah indah dan ceria
(Ramadhan Kembali, Justice Voice)
Entah sudah berapa kali Ramadhan kita lalui sepanjang hidup.Sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun atau bahkan lebih dari itu? Mungkin saja. Sepanjang Ramadhan yang telah dilalui itu tentunya penuh dengan kenangan tersendiri. Mungkin banyak dari kita yang tersenyum simpul saat mengingatnya, tertawa, terharu, menangis, marah, menyesal, atau malah biasa saja.
Ya. Ramadhan memang bulan istimewa. Satu dari bulan-bulan haram yang di dalamnya berhimpun pelabagai keutamaan. Kitab suci umat Islam pertama kali diturunkan di bulan ini. Sehingga spirit perbaikan untuk kembali kepada tuntunan Al-Qur’an terasa begitu menggebu. Selama satu bulan penuh pula, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Bahkan, Allah Subhanahu wa ta’ala menghadiahkan bonus satu lailatul qadar yang khairum min alfi syahrin (lebih baik dari seribu bulan) bagi hamba-hambaNya yang sungguh-sungguh ingin menggapainya.
Karenanya, tak heran jika kita melihat gairah keberagamaan umat meningkat tajam di bulan-bulan ini. Orang-orang yang biasanya nyaris tak pernah menjejak masjid, tiba-tiba jadi rajin shalat berjamaah. Perempuan yang biasanya berpakaian sesuka hati membiarkan auratnya dipamerkan mendadak mengenakan kerudung muslimah. Acara-acara pengajian atau majelis ta’lim yang biasanya sepi menjadi ramai dikunjungi. Seminar, bedah buku dan pelatihan keislaman semakin menjamur dan diminati banyak orang. Para pedagang yang menjual berbagai ‘atribut simbolis’ keIslaman seakan mendapat durian runtuh dengan banjirnya order.
Bahkan televisi yang sehari-harinya kita lihat didominasi tayangan tak bermanfaat semacam ‘ghibah-tainment’, komedi berbumbu seks, hiburan musik dengan dengan lirik dan klip tidak senonoh serta sinetron yang mengangkat keglamouran, kekerasan dan pergaulan bebas secara drastis berubah 180 derajat. Berbagai acara berbungkus “spesial Ramadhan” bak cendawan di musim hujan. Ceramah agama yang biasanya hanya mendapat jatah singkat di kala subuh kini bertaburan di jam-jam prime time.Sinetron –yang katanya- bernafas religi setiap hari berjejalan di kotak Pandora itu, meski konten utamanyamasih tetap di romantisme picisan dan sebagainya. Tayangan nasyid yang di bulan lain tidak kebagian tempat kini juga berlomba-lomba ditayangkan. Jika saja nuansa seperti ini terus bertahan di sebelas bulan berikutnya, tentu akan menjadi tradisi yang mengagumkan. Subhanallah.
Kesalehan Temporal, Dagelan dan Hipokrisisme
Sayangnya, semua rutinitas yang berlangsung di bulan Ramadhan itu tak akan bertahan lama. Selepas lebaran Idul Fitri nanti, seperti tahun-tahun sebelumnya, umat akan kembali ke habitatnya lagi. Majelis-majelis ilmu akan ditinggalkan, tradisi tadarusan juga menghilang, jamaah shalat di masjid kembali menjadi sunyi. Hanya menyisakan beberapa kakek lanjut usia dan musafir yang numpang buangair di kamar mandinya. Apalagi subuh, persis seperti lirik nasyid Peristiwa Subuh-nya Raihan, mata yang celik dipejam lagi, hatinya penuh benci, berdengkurlah kembali. Astaghfirullah. Padahal, sebagaimana dinukil Dr. Raghib As-Sirjani dalam salah satu kitabnya, seorang penguasa Yahudi pernah mengingatkan, “Kami hanya takut pada umat Islam jika jamaah shalat subuhnya sama banyak dengan jamaah shalat jumatnya.”
Lalu bagaimana dengan para perempuan muslimah? Jilbab yang sudah begitu anggun menutupi aurat para muslimah di bulan pengampunan itu kembali ditanggalkan. “Yang penting kan hatinya yang dijilbabin, “demikian mereka berdalih. Naudzubillah min dzalik. Tak tahukan mereka bahwa dengan aurat yang mereka umbar kepada lawan jenisnya itu menjadi fitnah yang mengkhawatirkan. Inilah penyebab kemerosotan moral di abad akhir zaman. Ketika dorongan syahwat dinomorsatukan dan iman disingkirkan di dalam mimbar dan mihrab.
Para pejabat yang selama bulan suci senantiasa terlihat menegakkan tarawih berjamaah dan tersedu-sedan bermuhasabah diri di majelis zikir yang disiarkan televisi kini kembali pada watak asli. Wajah memang masih dibasuh wudhu’, kening memang masih terus menyentuh lantai dalam sujud-sujud syahdu dhuha dan qiyamullail, namun soal perut dan di bawahnya adalah hal berbeda. Sebagaimana “guru” mereka, sang televisi yang menampakkan wujud aslinya, menuhankan rating dan iklan demi menyuapi keserakahan kapitalis. Masya Allah.Bukankah seharusnya Ramadhan menghasilkan alumni yangmuttaqin(bertaqwa)?
Jika masyarakat kembali lagi dalam budaya konsumtif materialistiknya yang cenderung permisif dan hedonis, maka bukankah segala performa kesalehan selama Ramadhan hanyalah dagelan belaka? Ini hanya akan menjadi pelanjut kultut hipokritisme (kemunafikan) di republik ini. Semoga kita dapat melalui Ramadhan dengan penuh makna dan diwisuda dengan nilai cum laude agar mampu men-sibghah Indonesia dengan semangat perbaikan.
NB: Ditulis khusus untuk buletin JPRMI Wilayah Sumatera Utara
Langganan:
Postingan (Atom)