Rabu, 28 Juli 2010

Muhasabah Merah Jambu

Oleh: Ust. Abdul Latif Khan


Siapa yang mengajarkan padamu bahwa cuma melalui Chat akhirnya kau dapat mengetahui bahwa dia adalah lelaki atau perempuan sholih/ah? Dan kemudian kau memutuskan bahwa dialah jodoh dambaanmu? Kemudian saat akhirnya kau terhenyak. Bahwa ternyata semua adalah mimpimu. Kau menangisi lemahnya realita itu. Kenapa saat itu kau tidak memahami bahwa kau tidak memilih agamanya, tapi kau memilih angan-anganmu tentangnya?

Sebenarnya secara halus, syetan meninabobokanmu dengan alunan nasyid kecintaan. Kau tetap di jalan dakwah. Kaulah sejatinya pelaku dakwah. Tapi secara dini ia telah menghancurkan masa depan rumah dakwahmu, di mana ia mengajakmu menghalalkan "pemberontakan kecilmu" pada saudaramu. Dalih yang selalu diajarkan padamu adalah "Apakah yang dilakukan adalah kesalahan?", "Kenapa harus selalu dibatasi?"

Keluhanmu dan kekhawatiranmu tentang jodohmu menandakan bahwa engkau belum mengamalkan keimananmu pada taqdir Tuhanmu. Saat secara teori kau telah tahu bahwa itu rahasia Tuhanmu, lantas kenapa kau berkeluh kesah sembari membocorkan rahasia itu pada makhluq-Nya? 

Janganlah menuduh saudaramu saat ia sebenarnya menginginkan agar kau tidak mendirikan sekedar sebuah rumah tangga, tapi rumah dakwah, rumah tarbiyah, rumah ibadah, rumah cintamu kau bangun di atas cintamu pada Rabbmu. Walau saudaramu sebenarnya hanya harus membantumu untuk memilih mereka yang berkarakter Islam shalih, tidak lebih.
Wallahu a'lam


Selasa, 27 Juli 2010

Puasa, Ujian dan Sebuah Keputusan Besar

Ayyamul Bidh kali ini memang terasa berbeda. Angin Sya’ban yang ikut menghantar hawa Ramadhan menjadikannya kian syahdu. Benarlah jika disebut puasa ini sebagai ujian yang sulit. Bahkan ada yang menganggapnya jihad akbar (walaupun hadits tentang ini didhaifkan sebagian besar ulama). Ah, yang jelas puasa memang merupakan ibadah yang sangat privat, hanya sang ahli puasa dan Rabb-nya yang mengetahui. Sebab jika manusia, tentu saja sangat mudah dikibuli. Aku jadi teringat sebuah hadits Nabi yang menohokku sangat dalam, menukik tajam, “Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor. “ (HR. Ibnu Khuzaimah)

Puasa di pertengahan Sya’ban kali ini memberi kesan tersendiri. Sahur sendiri dengan lauk apa adanya cukup membuat semangat mereda, namun panorama langit Santan yang didandani terang rembulan membuat romantisme subuh berpadu. Namun yang membuatku terus berpacu melawan ragu dan pilu adalah karena ujian-ujian yang harus kuhadapi. Baik itu ujian dalam denotasi, maupun dalam makna yang lebih luas.

Untuk yang zhahir saja, di sela-sela kesibukan kantor yang eight to five, aku harus membagi waktu untuk “tugas dinas” lainnya (ini saja sudah menjadi tanya: halalkah take home pay-ku jika masih sering curi-curi waktu membolos dengan alasan demi dakwah (baca: menghadiri syura-syura dan pekerjaan teknis lain?).

Pertama, menjadi koordinator tempat dan perlengkapan untuk agenda Tarhib Ramadhan DPW yang rencananya akan digelar di Taman Sari, Banda Aceh menghadirkan Ust. Anis Matta. Kedua, menyiapkan seminar motivasi menulis “Untold Stories of Writer”. Di sini saya hanya kebagian tugas untuk bantuin jualan tiket (semua panitia juga punya kewajiban sama, jadi ini biasa saja) dan memesan backdrop (termasuk mendesainnya, walaupun yang ngerjain tetap orang lain), serta secara khilaf panitia memercaya saya sebagai salah satu penyampai materi (tentu karenanya saya harus siapkan slide presentasi).

Ketiga, Selasa malam depan saya harus betolak ke Medan karena akan mengikuti Ujian Saringan Masuk Program DIII Khusus STAN pada hari Kamisnya. Saya sangat serius di sini sebab berharap bisa melanjutkan pendidikan saya yang masih tingkat rendah ini. Dan, tentu saja, jika lulus nanti (Amiin), sepulangnya dari perkuliahan di Bintaro nanti akan menjadi auditor dan punya peluang sangat besar untuk mutasi. Oh, cerita tentang mutasi tiba-tiba membuat saya geli dan agak feeling guilty jika mengingat jawaban saya atas pertanyaan teman-teman di kampung halaman. “Gimana, By? Betah di Aceh?” Dan saya menjawab, “Alhamdulillah betah. Di Aceh ini termasuk dekat disbanding teman-teman alumni STAN lain yang ditempatkan di Karimun, Kalimantan atau bahkan Flores. Di sini juga dapat rumah dinas, bla..bla..”. Duh… padahal mungkin jawaban terjujur nurani saya sesungguhnya adalah, “Ya, dibetah-betahkanlah..” Entah kenapa belakangan saya merasa semakin menemukan alasan-alasan atas jawaban yang terakhir itu.

Selain itu, sebenarnya saya punya amanah untuk pembinaan dua kampus yang berada di kecamatan saya. Untuk yang inipun, rasa berdosa seperti bertumpuk-tumpuk membebani pundak. Betapa selama ini saya sudah membiarkannya berada di urutan ke sekian prioritas hidup saya, padahal jika ditimbang-timbang dengan kalkulasi apapun (dunia-akhirat) justru di sinilah ladang amal saya. Ini amanah yang kusia-siakan. Menzalimi anak-anak muda itu dengan tidak menunaikan hak-hak tarbiyahnya. Astaghfirullah. Ampuni aku duhai Rabb..

Entahlah. Entah apa yang membuat kegelisahan membuncah memecah resah. Susah rasanya jika gundah ini terus dilestarikan tanpa arah. Mau jadi apa jiwa yang manja ini? Kapan dia mengecap muthmainnah? Kapan dia hendak menggapai maghfirah?  O, Allah, izinkan aku menempuhi jalan ini dengan segenap ketegaran yang kucerap dari Kitab-Mu dengan mencontoh teladan para Rasul-Mu dan sahabatnya.

Detik ini aku sudah memancang tekad. Sebuah keputusan (yang bagiku) besar akan kuambil. Segera. Tanpa tunda-tunda. Kalaupun aku mengatur masa. Itu hanya untuk menemukan momentum yang tepat saja. Ini serius. Bukan gaya-gaya. Apalagi sekedar basa-basi untuk mengelak dari provokasi. Tidak, itu nakal sekali.

Setelah menyelesaikan tulisan ini, aku akan menuliskan surat itu di selembar kertas, memasukkannya ke dalam amplop dan mencari waktu yang pas untuk menyampaikannya kepada “dia yang berwenang”. Kujamin tak kan lama. Sebelum Ramadhan ini. Agar pribadi yang egois ini bisa segera menginsyafi diri.

Aku bermohon pada-Nya agar meneguhkan pilihanku atas keputusan (yang bagiku) besar ini. Aku mohon petunjuk-Nya. Aku mohon ridha-Nya. Bismillah…

Ruang Staf Kepala Kanwil, menunggu dimulainya Bakti Sosial Donor Darah di lantai bawah
28 Juli 2010

(Puisi) Sepi di Juli, dkk

Ini dia puisi yang ditagih-tagih sama Mbak Suly dan Mbak "Biru"..
Puisi (kalau boleh disebut begitu) yang ditulis awal April 2006, saat baru mulai belajar menulis puisi. Saat saya masih mengutamakan etika (idealisme) ketimbang (bahkan meminggirkan) estetika. Namun ajaibnya, puisi ini dimuat di bulan Juli 2010. Empat tahun sesudahnya . Ah, sungguh saya malu membaca karya baheula ini sekarang..  

Sepi di Juli  

Juli ini disapa sepi
Sunyi tak berbunyi
Meski cuma dendang kecapi  

Teman-teman semua pergi
Ke kampung halaman kembali
Meninggalkanku sendiri  

Di sini, pintu selalu terkunci
Agar hatiku bisa meresapi
Pesan bijak abi dan ummi
Dalam menit-menit semedi

Elegi Akhir Hayat

Ketika kulihat matahari
Bersinar terang di langit September
Kutahu Kau ada  

Ketika kudengar nyanyian pipit
Di atas hijau pepohonan
Kutahu Kau ada  

Ketika kurasa gurihnya ayam bakar
Di restoran pinggir jalan
Kutahu Kau ada  

Ketika kuhirup udara segar terakhir
Di penghujung biografiku
Aku juga tahu bahwa Kau ada  

Tapi mengapa aku tak faham
Menutup kisah dengan cemerlang
Aku tak pernah ingat
Tentang satu kata ajaib itu : taubat!  

Di Balik Diorama  

Di balik diorama
Yang tersangkut dekat jendela
Terdengar alunan irama
Tentang cerita-cerita lama  

Kisah-kisah kita
Satu per satu berbuah duka
Membulirkan air mata
Yang terurai tanpa kata  

Ibarat laut enggan berombak
Akibat penuh dengan keladak  

Di balik diorama
Hanya tinggal sebuah nama
Yang kan kukenang selamanya  

Purnama di Jembatan Rindu  

Lorong-lorong jiwa
Berhias seribu purnama
Bermimpi tentang bidadari
Yang tak henti membayang diri  

Lalu aku mengatur rencana
Menyeret langkah nurani
Menyusuri pintu hati  

Siapa sangka ada wajah sendu
Duduk termangu di jembatan rindu
Menyanyikan sajak pilu  

Istana Tanpa Zikir  

Ada suara dari dalamnya
Terasa lebih mesra dari rayap yang
Lalu tenggelam dalam kubangan dosa  

Setiap setan diundang ke sana
Naik ke lantai tiga
Menyanyikan lagu neraka  

Aku ke sana dengan berani
Menawarkan sebiji sawi
Kehidupan yang hakiki
Tapi aku diusri pergi
:  jangan ceramah di sini!  

Senin, 26 Juli 2010

Gelap Tapi Hangat (bocoran Epilog Dalam Dekapan Ukhuwah-nya Salim A. Fillah)

Blog entry ini murni saya copas dari note fb Bang Salim (demikian saya menyapanya) yang di-tag ke saya. Tulisan ini adalah bagian akhir dari buku terbarunya yang akan segera terbit Ramadhan ini: "DALAM DEKAPAN UKHUWWAH"

Keraton Kadariyah di Kampung Dalam Bugis, Pontianak, yang didirikan Sultan Syarif ’Abdurrahman Al-Kadri pada tahun 1771 itu, menyimpan dua buah benda berpasangan yang sangat indah. Keduanya adalah cermin besar buatan Perancis dari abad kedelapan belas. Keduanya begitu menjulang, lebih dari dua meter. Bingkainya cantik, penuh ornamen berkilauan. Meja rias yang menyatu dengannya berkaki logam penuh ukiran. Tetapi yang paling menarik adalah bahwa kedua cermin ini dipasang berhadapan.

Maka apa?

Keduanya saling menampakkan bayangan kawannya, berbolak-balik pantul memantul, kian dalam makin kecil hingga titik jauh yang seakan tak terhingga. Di dalam bayangan, ada bayangan. Ada lagi dan lagi. Sepertinya mereka saling mengaca, terus menerus tanpa henti hingga jumlah bayangnya tak lagi bisa dihitung. Orang-orang menyebut mereka berdua sebagai ‘Kaca Seribu.’

Mungkin begitulah seharusnya kita dalam dekapan ukhuwah. Kita terus saling bercermin tanpa lelah. Kita menampilkan bayangan terindah yang akan berlipat-lipat tanpa henti sebab hati kita dan orang yang kita cintai terus saling belajar dan saling memahami. Lalu kita menjadi sepasang saudara yang tak hanya bernilai dua, melainkan seribu atau bahkan tak terhingga.

***

Sebuah sore yang lengang dan matahari lamat-lamat. Kami sedang menyimak sebuah hadits, dan mencoba mengukur diri sampai di mana peran kami ketika datang petunjuk dan ilmu dari Sang Nabi. Adakah kami Naqiyah, atau sekedar Ajaadib? Atau jangan-jangan kami bahkan lebih jelek dibanding Qii’an?

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang aku dapatkan dari Allah,” demikian Rasulullah bersabda, “Adalah seperti permisalan air hujan yang deras menimpa bumi. Ada di antara tanah bumi itu Naqiyah, menerima air lalu menumbuhkan rumput yang rimbun dan tumbuhan yang lebat. Ada juga Ajaadib, ia menampung air lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia dengannya. Mereka minum, mengambilnya, member minum ternaknya, dan bercocok tanam. Air hujan ini juga menimpa sejenis tanah lain yaitu Qii’aan yang sekedar dilewati saja. Ia tidak menerima air dan tidak menumbuhkan rumputan.”

Seusai mengkaji dan mengangguk setengah mengerti, seorang kawan menatap dalam-dalam ke mata saya dan bertanya. “Jika seorang buta berkata padamu bahwa matahari itu gelap,” ujarnya, “Apa yang akan kau katakan padanya?”

Saya tersenyum. Saya menunduk sejenak, memejamkan mata, menghela nafas dan merasakan tiap butir udara mencurahkan kenyamanan dalam dada. Lalu saya angkat dagu, menjawab sembari tersenyum lagi. “Akan kukatakan padanya: ‘Ya. Engkau benar, Saudaraku. Tapi bukankah ia hangat? Dan kita sama-sama merasakannya.’”

Kawan saya tersenyum. Tulus, saya tahu. Rigi-rigi otot di pertemuan kelopak atas dan bawahnya menegas. “Terima kasih,” katanya. “Engkau mengajariku perkara yang sangat berharga.” Dia tersenyum lagi. Saya tak mengerti, lalu takjub menanya, “Apa itu?” Saya tak merasa sedang mengajarkan apapun. Saya hanya menjawab sebuah umpama.

“Engkau pasti tahu. Dan belajarlah untuk mengetahui bahwa engkau tahu.” Dia berlalu pergi.

Dia pergi meninggalkan perenungan untuk saya. Saya harus banyak belajar darinya. Dalam dekapan ukhuwah, meninggalkan renungan untuk saudara adalah sebuah karya dan keterampilan yang penuh makna.

“Engkau pasti tahu,” katanya. Saya hanya bisa meraba dan menduga. Bahwa agar terasa bagi sesama, dalam dekapan ukhuwah kita harus belajar menghadirkan rasa terbaik kita. Bukan gemerlap cahaya. Bahwa dalam dekapan ukhuwah yang berharga adalah apa yang bisa kita nikmati bersama, bukan sesuatu yang secara egois kita sesap sendiri. Inilah asas agung bagi buku ini, Dalam Dekapan Ukhuwah. Maka untuk meraihnya, kita telah diajari menelusur beberapa butir pokok:

Pertama; dalam dekapan ukhuwah, iman kita diukur dengan mutu hubungan yang kita jalin. Seorang mukmin adalah seorang yang sesama aman dari gangguannya, merasakan ramah dan akhlaknya, serta menikmati kemanfaatan harta dan jiwanya.

Kedua; seiring itu, sebuah hubungan dalam dekapan ukhuwah harus didasarkan pada iman. Sebab segala jalinan yang jauh dari iman pasti sia-sia di sisiNya. Atau dia menjadi penyesalan yang tak putus-putus. Atau menjadi permusuhan di hadapan pengadilan akhirat; saling tuduh, saling tuntut, dan saling menyalahkan. “Aduhai celaka aku,” keluh sang kekasih tanpa iman, “Anda saja tak kujadikan si Fulan sebagai kawan mesraku!”

Ketiga; bahwa baik iman maupun ukhuwah bukanlah hal yang semula jadi dan bisa muncul sendiri. Hubungan antara keduanya juga bukanlah kaidah sebab-akibat. Keduanya adalah pemahaman sekaligus keterampilan. Keduanya perlu ikhtiar dan kerja-kerja. Keduanya dihadirkan dalam diri dengan upaya. Kita harus mempelajari ilmunya, memahami makna-makna, memperhatikan kaidahnya, melatih dan mengamalkannya di alam pergaulan.

***

“Dan belajarlah untuk mengetahui bahwa engkau tahu,” kata kawan saya tadi.

Ah, barangkali ini sindiran terindah yang pernah saya terima. Biar saya tebak: belajar mengetahui bahwa saya ini tahu berarti saya tak boleh berhenti dalam kata. Saya tak boleh selesai sekedar berkalimat. Lembar-lembar buku Dalam Dekapan Ukhuwah ini menanti untuk diukirkan dalam diri melalui amal shalih di tiap bilangan hari.

Tulisan saya berlembar-lembar lalu mungkin menjadi bukti baginya bahwa “saya sedikit tahu”, meski ilmu saya sesungguhnya dangkal dan kering. Penyampaian yang meloncat-loncat adalah bukti betapa tak eloknya buku ini hendak menuntun pembaca. Pembacanya pasti merasa bukan digandeng mesra meniti makna, melainkan diajak meliuk, melompat, terbang, menukik, bahkan kadang terjerembab namun bangkit dan berlari lagi.

Juga, tak ada yang baru dari buku ini, kecuali mungkin komposisi dan cara menyajikannya. Dan sungguh ini buku yang tak selesai, tak final, tak hendak putus. Selalu masih ada benih terlewat yang akan berkembang jadi bunga-bunga penuh cinta di antara kita.

Adapun “belajar mengetahui bahwa saya tahu” adalah dengan mengerjakan segala yang tertulis. Sebelum begitu, maka buku ini hanya jasad mati. Sebab ruhnya ada di sini; dalam amal-amal yang saya harus berjuang untuk tahan dan teguh menjalani. Sebab itu saya mohon doa. Saya mohon doa agar mendapat karunia seperti disebut Sayyid Quthb ketika menutup tafsirnya tentang pohon yang baik di Surat Ibrahim. Karunia itu adalah keteguhan.

“Allah,” tulis Sayyid, “Meneguhkan orang-orang yang beriman di kehidupan dunia dan di akhirat dengan kalimat iman yang mantap di dalam hati, yang kokoh di dalam fitrah, dan yang membuahkan amal shalih nan selalu baru dan abadi dalam kehidupan.” Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji...

Mari saling mendoa dan mengejanya dengan kerja, dalam dekapan ukhuwah.

Minggu, 25 Juli 2010

Tips Menulis dari Indra Jaya Piliang

Berikut saya kumpulkan tips menulis Indra J. Piliang dari twitternya. Indra J. Piliang adalah penulis artikel yang produktif (400-an lebih artikel di media massa), jurnal, dan beberapa buku. Beberapa tips tersebut adalah: 

1.Kalau mau jadi penulis, pelajari terlebih dahulu tulisan orang lain. 
2.Jangan segan-segan mencorat-coret pinggiran buku yang Anda baca, sehebat apapun buku itu.
3.Kritik isi buku atau artikel yang Anda baca, ungkapkan pikiran Anda..
4.Kalau perlu, anda tulis tebal-tebal "kalimat bodoh!" "pikiran usang!" atas apapun yang Anda baca.
5.Sebelum punya "nama-besar", kuasai atau ahli satu spesialisasi isu. Koran butuh para spesialis.
6.Kalau belum percaya diri, print tulisan anda, baca keras-keras. Remas & buang ke tong sampah kalau terasa "biasa" & bilang "sampah!"
7.Minta beberapa teman anda membaca artikel atau tulisan anda. Dengar komentar mereka. "Gue baru tahu. Ini genuine!" Kirim!
8.Hilangkan tips lama: kirim 100 artikel ke koran besar, mosok satupun tak dimuat? Keliru. Yang bener, perbaiki artikel yg ditolak
9.Perhatikan tajuk rencana dan headline media. Tajuk rencana kadang berisi: "Undangan menulis!" Headline itu angle.
10.Jangan kutip Kompas, kalau Anda ingin kirim ke KoranTempo atau Sindo, kecuali Anda sudah punya nama.
11.Kalau tulisan Anda dimuat oleh satu koran, jangan pindah dulu ke koran lain. Bertahan saja, walau harus makan Indomie terus. Setialah.
12.Ketika menulis, bayangkan siapa pembaca anda: mahasiswa? policy maker? government? public? civil society?
13.Satu artikel pendek tak mungkin ditujukan ke semua kalangan pembaca. Jadikan pembaca anda spesialis juga, tapi itu ada di pikiran. 
14.Kalau anda tak berani mengirim ke media, simpan di laptop anda. Jadikan sbg bank naskah. Nanti berguna
15.Sediakan satu buku khusus untuk nulisi data-data apapun yang mungkin Anda tulis.
16.Artikel itu hanya terbagi 3: pembuka, isi, penutup. Anda bisa tempatkan isi di atas, tengah, bawah.
17.Ada orang yg biasa nulis subuh atau pagi. Ada jg pas tengah malam. Kalau saya: bisa pas lg meeting-ngetwit.
18.Bagi penulis, semua orang bisa jadi inspirasinya. Sopir taksi, mslnya. Atau syair2 lagu anak jalanan. Catat di notes anda.
19.Artikel itu punya "organisasi". Nah, ini butuh lebih dari sekadar tweet. Ada yg spiral, ada yg bulat, ada yg bentuk gitar spanyol.
20.Ada tulisan org yang mudah diedit, tp ada yg hanya penulisnya bisa mengedit. Sy masuk kategori ke-2.
21.Hindari sebut nama-nama orang atau perusahaan atau sesuatu yang berbau tuduhan. Koran tak berani bertaruh dengan polemik, kecuali terbatas
22.Ingat, setiap koran menyediakan dua halaman kosong buat penulis luar. Isi itu. Itu hak yang diberikan kepada publik.
23.Kalau tak yakin-yakin amat anda bisa "membagi-pikiran-perasaan", hindari jd Ghost writer, walau banyak duitnya. Anda bisa split!
24.Kalau tulisan pertama anda dimuat, bolehlah dilampiaskan dengan nyebur ke laut atau lari keliling Monas. Kasih diri anda semangat!
25.Penulis itu adalah orang yang berjarak dengan keadaan. Naluri penulis adalah kekasih sunyi. Di keramaian sekalipun. Siapkan mentalitas itu.
26.Tahan rasa lapar anda ketika menulis, walaupun sudah waktunya makan. Selesaikan dulu, karena bisa-bisa anda lupa.
27.Siapa orang pertama yang paling bisa menyelami tulisan anda? Ya, orang terdekat anda: ayah, ibu, istri, suami, kekasih. Minta mereka baca.
28.Sesekali, bolehlah ketemu atau telpon-telponan dengan redaktur opini media massa. Tapi ingat, mereka rada-rada sensitif, karena anda harus independen.
29.Kemana tulisan anda dikirim? Bgmn karakter media? Nah, ini butuh lbh dari sekadar twit, ya.
30.Media punya agenda-setting, framing, tipologi pembaca, bahkan: ideologi.
31.Ada orang bisa langsung nulis pakai komputer. Ada yang bisa hanya pakai tulisan tangan.
32.Dulu, saya nulis pakai tulisan tangan. Terasa mengalirnya tinta ke kertas putih. Baru diketik. Diprint. Dicorat-coret. Diedit. Baru dikirim
33.Kitab suci itu ditulis, batu nisan itu ditulis: jadilah penulis! 

Petugas Bea dan Cukai Aceh Tangkap Pemasok Sabu dari Malaysia

BANDA ACEH--MI: Petugas Bea dan Cukai Aceh menangkap seorang pemasok sabu (methampetamine) dari Malaysia melalui Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar. 

Penangkapan kurir sabu dengan inisial HBS, 26, warga Banda Aceh, tejadi sesaat setelah tersangka turun pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan AK-305 dari Kuala Lumpur, Malaysia, pada hari Jumat (23/7) pukul 12.20 WIB. 

Menurut Kepala Seksi Penindakan dan penyidikan Bea dan Cukai Aceh Edy Safutra, petugas berhasil menyita sabu-sabu seberat 158 gram yang disembunyikan dalam botol sabun cair. 

"Hasil temuan itu kemudian dibuktikan dengan hasil uji laboratorium di Medan. Setelah terbuktimethampetamine, petugas langsung berkoordinasi dengan Direktorat Narkoba Polda Aceh untuk menangkap pemilik sabu tersebut," kata Edy Safutra di Kantor Bea dan Cukai Banda Aceh, Sabtu (24/7). 

Menurut pengakuan tersangka, sabun cair berisi enam paket sabu diterima di Kuala Lumpur dari seorang pria berinisial D. Atas jasanya membawakan paket itu ia mendapat imbalan Rp3 juta yang akan di berikan oleh M selaku penerima yang telah menunggu di Banda Aceh. 

Atas perbuatannya, tersangka HBS, telah melanggar Undang-Undang No 35 tahun 2009, tentang Narkotika dangan ancaman pidana mati atau hukuman penjara seumur hidup. 

Selama dua tahun terakhir, petugas Bea dan Cukai Aceh telah tiga kali menangkap pelaku penyeludupan sabu dari Malaysia melalui Bandara Sultan Iskandar Muda. Sebelumnya, hampir satu kilogram sabu disita petugas dari tiga orang pelaku yang berhasil ditangkap petugas. (HP/OL-01)

"Tak inginkah engkau menjabat tanganku dan mengantarku ke daun pintu, sambil tersenyum dan membisik lembut, "Selamat berjuang, Bang!" *tertular virus dari blog Syaikhul Bujang*