Jumat, 23 Oktober 2009

Kemarin satu sudah luka dan entah kapan sembuhnya. Kali ini setelah chat dengan seorang ukhti, kabarnya ada lagi yang pernah luka gara-gara kebiasaanku: mengkritik secara pedas, habis-habisan dan, katanya, hobi nge-judge. Lantas, sesudah itu ia merasa tak nyaman berkomunikasi denganku, padahal ada banyak hal urgen yang harus didiskusikan. Oh, tolong, jangan lagi airmata!

29 komentar:

  1. saling menasehatilah dgn kata2 yg baik dan cara yg baik

    BalasHapus
  2. ya mbak. saya memang harus lebih banyak belajar.

    *bete (butuh tausiyah) mode:on"

    BalasHapus
  3. Syukurlah mbak..
    Tidak bertambah satu lagi..

    BalasHapus
  4. Nisa pny jg tu,tmn yg hobiƱ bkn nang9is akhwat2..

    Saran nisa siy,lbh ati2 lg klu ngmg ma akhwat..pilih kata2 terbaik n ttap tegas..

    BalasHapus
  5. Ya diskusinya ma ikhwan aja klw begitu, biar ga ada air mata :-P

    BalasHapus
  6. hmm.. bukan begitu. ini masalahnya berbeda. sesuatu yang sebenarnya sederhana.
    dalam konteks ini, orangnya memang harus dia, tak bisa ke ikhwan lain. ini benar-benar urgen.
    bukan soalan-soalan pribadi yang seolah-olah dibuat menjadi urgen.

    BalasHapus
  7. Satu sudah luka, lalu ada lagi. Rutin dapat laporan ada yang merasa jadi 'korban' kah? Muhasabah. Lalu minta maaf lah, dan perkuat kokang tunggangan kata-kata agar tak terlalu lepas berlari. Ingat, seorang muslim yang baik indikasinya adalah bahwa orang-orang di sekitarnya bebas dari bahaya lisan dan tangannya (satunya lagi lupa atau cuma dua? Kau lebih paham, aku percaya).

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah Ima belum "kena" :-)
    Apa gara2 belum pernah chating ya mas ...

    BalasHapus
  9. terkadang, memang tak semua masalah orang harus kita mengerti.

    BalasHapus
  10. Oh, tidak, Rin. Jangan terlalu berlebihan pula. Na'udzubillah kalau sampai rutin.
    Jazakillah atas semua petuah-petuahmu.
    Lama-lama aku merasa semakin menjadi sampah di muka bumi. Lantas, dengan wajah sebopeng ini, mengapa masih saja ada orang yang menaruh harap dan memikulkan amanah di pundakku? Ah, mungkin mereka khilaf ya.

    BalasHapus
  11. Ingin sedikit meluruskan: ini yang "luka" bukan gara-gara chatting, tapi dalam kerja2 nyata amal jama'i. Baru ketahuannya tadi, ketika chat dengan seorang akhwat. dia melaporkan kronologisnya. dan ini sudah lama terjadi. astaghfirullah..

    BalasHapus
  12. Karna bopeng adalah fitrah kita; bukankah tak ada manusia yang sempurna? Jika memang masih ada amanah yang dipercayakan pada kita, maka mungkin - atau yakinlah saja bahwa - Allah masih ingin kita belajar dan sadar, bahwa selain 'bopeng', kita juga dianugerahi (lihat, ada namamu) potensi tertentu. Ah, cakap apa aku. *teringat QS Ash-shaf ayat 2 dan 3 lagi*

    BalasHapus
  13. Yang jelas ibnu Adam memang khatta' kan? Kita memang terprogram untuk memiliki salah, agar selalu punya penyebab untuk evaluasi diri lalu perbaikinya. Allah Mahamelihat usaha kita insya Allah. Wallahu a'lam.

    BalasHapus
  14. makasi atas pencerahannya
    mungkin, ini sesuatu yang semua orang sudah paham
    cuma, kalau belum ada kejadian, tak ada yang sadar..

    hmm..
    *tak tau mau bilang apa lagi*

    BalasHapus
  15. makasi atas pencerahannya
    mungkin, ini sesuatu yang semua orang sudah paham
    cuma, kalau belum ada kejadian, tak ada yang sadar..

    hmm..
    *tak tau mau bilang apa lagi*

    BalasHapus
  16. Ya. Dan sebaik2 khatta' adalah orang2 yang bertaubat.
    *ingin rasanya menghukum diri*

    BalasHapus
  17. ya, afwan, mestinya juga sy tak perlu kasih koment,,

    BalasHapus
  18. Oh, tidak, mbak gak ada salah kok..
    tak perlu minta maaf untuk itu.
    harusnya saya yang berterimakasih mbak sudah memberi sumbang saran.. ^_^

    BalasHapus
  19. ternyata perasaanmu sama dengan perasaanku kawan, aku pun tak tahu harus berkata apa, terkadang rasionalitas kita tidak bisa memhami lembutnya perasaan mereka..kita perlu banyak belajar kawan..

    BalasHapus
  20. kau juga sama?
    ingat rifqan bil qawarir?

    *teringat Kaca Yang Berdebu*

    BalasHapus
  21. mungkin maksudnya betul, hanya management bicara yang perlu diatur...

    gunanya kita belajar publik speaking untuk hal2 seperti ini. maksud baik kalo pnyampaian kurang pas terdengar saru.

    saya juga punya pak Ketua yang seperti ini gaya bicaranya bossy dan cenderung menyalahkan, akhwat menangis, ikhwan pun jengah, akhirnya dia bekerja sendiri karena hampir semua teman2 kader menarik diri.. (maaf sekedar sharing dan semoga antum tidak seperti beliau)

    Teruslah memberi masukan yang berguna demi kemaslahatan ummat. Katakanlah kebenaran walaupun itu pahit..

    BalasHapus
  22. Insya Allah ini terus belajar memenej bicara mbak.. syukran..

    BalasHapus
  23. Naudzubillah..

    semoga Dia masih memberi kesempatan utk berubah..

    BalasHapus
  24. Yakin Usaha Sampai... ^_^

    *HMI banget, padahal anak KAMMI :)*

    BalasHapus
  25. mau apapun ga masalah, yang penting tarbiyah ^_^

    BalasHapus