Kemarin satu sudah luka dan entah kapan sembuhnya. Kali ini setelah chat dengan seorang ukhti, kabarnya ada lagi yang pernah luka gara-gara kebiasaanku: mengkritik secara pedas, habis-habisan dan, katanya, hobi nge-judge. Lantas, sesudah itu ia merasa tak nyaman berkomunikasi denganku, padahal ada banyak hal urgen yang harus didiskusikan. Oh, tolong, jangan lagi airmata!
saling menasehatilah dgn kata2 yg baik dan cara yg baik
BalasHapusBukan saya...
BalasHapusya mbak. saya memang harus lebih banyak belajar.
BalasHapus*bete (butuh tausiyah) mode:on"
Syukurlah mbak..
BalasHapusTidak bertambah satu lagi..
Nisa pny jg tu,tmn yg hobiƱ bkn nang9is akhwat2..
BalasHapusSaran nisa siy,lbh ati2 lg klu ngmg ma akhwat..pilih kata2 terbaik n ttap tegas..
Ya diskusinya ma ikhwan aja klw begitu, biar ga ada air mata :-P
BalasHapushmm.. bukan begitu. ini masalahnya berbeda. sesuatu yang sebenarnya sederhana.
BalasHapusdalam konteks ini, orangnya memang harus dia, tak bisa ke ikhwan lain. ini benar-benar urgen.
bukan soalan-soalan pribadi yang seolah-olah dibuat menjadi urgen.
ngga ngerti
BalasHapusSatu sudah luka, lalu ada lagi. Rutin dapat laporan ada yang merasa jadi 'korban' kah? Muhasabah. Lalu minta maaf lah, dan perkuat kokang tunggangan kata-kata agar tak terlalu lepas berlari. Ingat, seorang muslim yang baik indikasinya adalah bahwa orang-orang di sekitarnya bebas dari bahaya lisan dan tangannya (satunya lagi lupa atau cuma dua? Kau lebih paham, aku percaya).
BalasHapusAlhamdulillah Ima belum "kena" :-)
BalasHapusApa gara2 belum pernah chating ya mas ...
terkadang, memang tak semua masalah orang harus kita mengerti.
BalasHapusOh, tidak, Rin. Jangan terlalu berlebihan pula. Na'udzubillah kalau sampai rutin.
BalasHapusJazakillah atas semua petuah-petuahmu.
Lama-lama aku merasa semakin menjadi sampah di muka bumi. Lantas, dengan wajah sebopeng ini, mengapa masih saja ada orang yang menaruh harap dan memikulkan amanah di pundakku? Ah, mungkin mereka khilaf ya.
Ingin sedikit meluruskan: ini yang "luka" bukan gara-gara chatting, tapi dalam kerja2 nyata amal jama'i. Baru ketahuannya tadi, ketika chat dengan seorang akhwat. dia melaporkan kronologisnya. dan ini sudah lama terjadi. astaghfirullah..
BalasHapusKarna bopeng adalah fitrah kita; bukankah tak ada manusia yang sempurna? Jika memang masih ada amanah yang dipercayakan pada kita, maka mungkin - atau yakinlah saja bahwa - Allah masih ingin kita belajar dan sadar, bahwa selain 'bopeng', kita juga dianugerahi (lihat, ada namamu) potensi tertentu. Ah, cakap apa aku. *teringat QS Ash-shaf ayat 2 dan 3 lagi*
BalasHapusYang jelas ibnu Adam memang khatta' kan? Kita memang terprogram untuk memiliki salah, agar selalu punya penyebab untuk evaluasi diri lalu perbaikinya. Allah Mahamelihat usaha kita insya Allah. Wallahu a'lam.
BalasHapusmakasi atas pencerahannya
BalasHapusmungkin, ini sesuatu yang semua orang sudah paham
cuma, kalau belum ada kejadian, tak ada yang sadar..
hmm..
*tak tau mau bilang apa lagi*
makasi atas pencerahannya
BalasHapusmungkin, ini sesuatu yang semua orang sudah paham
cuma, kalau belum ada kejadian, tak ada yang sadar..
hmm..
*tak tau mau bilang apa lagi*
Ya. Dan sebaik2 khatta' adalah orang2 yang bertaubat.
BalasHapus*ingin rasanya menghukum diri*
ya, afwan, mestinya juga sy tak perlu kasih koment,,
BalasHapusOh, tidak, mbak gak ada salah kok..
BalasHapustak perlu minta maaf untuk itu.
harusnya saya yang berterimakasih mbak sudah memberi sumbang saran.. ^_^
ternyata perasaanmu sama dengan perasaanku kawan, aku pun tak tahu harus berkata apa, terkadang rasionalitas kita tidak bisa memhami lembutnya perasaan mereka..kita perlu banyak belajar kawan..
BalasHapuskau juga sama?
BalasHapusingat rifqan bil qawarir?
*teringat Kaca Yang Berdebu*
mungkin maksudnya betul, hanya management bicara yang perlu diatur...
BalasHapusgunanya kita belajar publik speaking untuk hal2 seperti ini. maksud baik kalo pnyampaian kurang pas terdengar saru.
saya juga punya pak Ketua yang seperti ini gaya bicaranya bossy dan cenderung menyalahkan, akhwat menangis, ikhwan pun jengah, akhirnya dia bekerja sendiri karena hampir semua teman2 kader menarik diri.. (maaf sekedar sharing dan semoga antum tidak seperti beliau)
Teruslah memberi masukan yang berguna demi kemaslahatan ummat. Katakanlah kebenaran walaupun itu pahit..
Insya Allah ini terus belajar memenej bicara mbak.. syukran..
BalasHapusNaudzubillah..
BalasHapussemoga Dia masih memberi kesempatan utk berubah..
INsya Allah pasti bisa...
BalasHapusYakin Usaha Sampai... ^_^
BalasHapus*HMI banget, padahal anak KAMMI :)*
ga pa pa kan hanya seperti...
BalasHapusmau apapun ga masalah, yang penting tarbiyah ^_^
BalasHapus