DI BAWAH RINDANG FILICIUM
Aku masih ingat betul cerita itu
Saat kita duduk-duduk di bawah rindang filicium
Seekor kupu-kupu datang menghampiri
Setelah kau undang angin-angin
Yang membuatnya menari tanpa henti
Lantas kitapun mulai tenggelam dalam diam
Ketika tiba-tiba hujan muncul menghimpun desis gerimis
Kucoba menganyam pelepah jadi cangkang cinta
Dan kupetik sekuntum mawar untuk meredakan tangis
Yang tak terduga menyirami oval wajahmu
Tapi kau masih saja membuhul riwayat jadi surat
Sebab katamu pujangga itu tak pernah khianat
Tungkop, 30 Agustus 2009
di kediaman Nyak Loet yang malu-malu
melewati gugusan sawah yang indah dan jalan "terjal nan mendaki"
Kayanya ngga asing dengan kata filicium..pohon apa ya awamnya??
BalasHapussaya suka puisi ini...
BalasHapussalah satu jenis palem. klo udah baca tetralogi LP pasti pernah dengar :)
BalasHapusalhamdulillah..
BalasHapusterima kasih..
ini cuma puisi orang yang sedang belajar menulis..
Sedang belajar saja begini, apalagi kalo sudah belajar... Mantap! terus menulis!
BalasHapusalhamdulillah,, amiin..
BalasHapus