Minggu, 10 Oktober 2010
PKS dan Harapan yang Tersisa untuk Indonesia
PKS dan Harapan yang Tersisa untuk Indonesia
Oleh: Anugrah Roby Syahputra
Jika mendengar nama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) disebut, kita akan langsung terbayang pada sosok anak-anak muda berjenggot rapi dan kaum perempuan berbusana rapi dengan jilbab besar yang rajin berdemonstrasi. Ya, partai yang cikal bakalnya disebut Ali Said Damanik (Fenomena Partai Keadilan, 2002) berakar dari Gerakan Tarbiyah yang marak di kampus-kampus pada dekade 80-an itu kini melaksanakan Musyawarah Wilayah ke-2 untuk wilayah Sumatera Utara yang berlangsung di Medan pada tanggal 7-10 Oktober 2010. Ini merupakan momentum yang tepat untuk merumuskan perbaikan bagi tanah bertuah yang berbudi luhur ini.
Banyak hal yang telah ditorehkan oleh partai berlambang dua bulan sabit kembar mengapit padi ini. Sejak awal mula pendiriannya saja, partai yang dulunya bernama Partai Keadilan (PK) ini telah mencengangkan publik Indonesia. Deklarasi pendiriannya di halaman Masjid Al-Azhar, Jakarta dihadiri lima puluh ribu kader. Ini mengagetkan banyak pihak bagaimana mungkin sebuah partai baru bisa menghadirkan massa sebanyak itu. Terlebih lagi setelah mengetahui hasil Pemilu 1999 di mana PK berhasil merebut 7 kursi DPR RI, 26 kursi DPRD Propinisi, 163 kursi DPRD Kabupaten/Kota dan 1,4 juta suara pemilih atau 1,6 % dukungan rakyat. Ini sebuah debut perdana yang mengagumkan. Cuma PK satu-satunya partai baru yang bisa mendapat raihan suara sebanyak itu.
Lalu keajaiban kembali terjadi di 2004. Electoral treshold yang saat itu menjegal banyak kekuatan politik reformasi, tidak menjadi penghalang bagi partai dakwah ini untuk terus bekerja. Mereka memilih baju baru PKS untuk mewarisi dan melanjutkan cita-cita perjuangan PK. Dan hasilnya PKS (bersama Partai Demokrat) menjadi rising star dalam percaturan politik nasional. Capaian suaranya melejit tajam hingga 7,34% (8.325.020) dari jumlah total pemilih dan mendapatkan 45 kursi dari total 550 kursi di DPR. Sementara di Pemilu 2009 sebenarnya PKS mengalami “kekalahan” di beberapa kota besar yang menjadi basis mereka seperti Jakarta, Bandung dan Medan setelah disapu oleh tsunami iklan SBY dan Demokrat, meskipun syukurnya PKS bisa melakukan ekstensifikasi konstituen yang kini semakin melebar tidak hanya di wilayah urban.
Namun, hal yang amat patut diapresiasi adalah semangat PKS yang tak pernah pupus untuk berbuat kebaikan bagi bangsa. Program-program sosial mereka tetap dijalankan, meski tidak diekspos besar-besaran oleh media massa. Dalam penanggulangan bencana, PKS tetap menurukan relawan dan bantuan dana yang tidak pernah sedikit. Termasuk ketika membantu korban musibah gempa Sumatera Barat, Situ Gintung, dan banjir di beberapa daerah. Aksi-aksi solidaritas tetap mereka jalankan meskipun sering difitnah menjadikan kepedihan saudara sendiri di Palestina sebagai komoditas politik. Tulus atau tidak, sedikitnya sudah lebih dari 22 milyar rupiah yang berhasil dihimpun dan disalurkan PKS untuk perjuangan kemerdekaan dan misi kemanusiaan di bumi Al-Quds sana. Begitu pula para anggota legislatifnya yang sampai saat ini Insya Allah masih amanah dan tetap menolak budaya suap walaupun tak jarang dicemooh sebagai orang munafik. Seperti yang dilansir berbagai media, PKS masih tetap menjadi partai terdepan dalam perlawanan terhadap kultur koruptif di pemerintahan. Hal ini dibuktikan dengan data KPK yang menunjukkan bahwa PKS adalah partai yang paling tinggi angka pengembalian gratifikasinya dan tingkat kepatuhan dalam melaporkan kekayaan.
Di samping itu, sejauh ini partai yang kini dipimpin Luthfi Hassan Ishak itu mau tak mau harus diakui telah berhasil melakukan strategi political marketing yang jitu. Terbukti slogan Bersih, Peduli dan Profesional yang didengung-dengungkan telah melekat di benak masyarakat. Hal ini bukanlah semata karena faktor keunggulan konsultan politik sebagaimana yang dilakoni parpol lain, melainkan lebih disebabkan oleh kesantunan sikap berpolitiknya yang tetap mengedepankan prilaku jujur dan bersih, kepekaan pengurus dan kadernya terhadap masalah sosial dan isu-isu kerakyatan serta keberhasilan kader-kadernya yang didaulat menjadi pejabat publik. Kementerian Pertanian yang telah dua kabinet dipegang oleh kader PKS misalnya telah mencatatkan prestasi memperoleh swasembada pangan. Selain itu, kader PKS yang menjad kepala daerah pun juga tak kalah prestasinya. Misalnya, Nurmahmudi Ismail yang mendapat amanah sebagai walikota Depok mendapatkan penghargaan dari KPK sebagai kota yang paling bersih dan tranparan proses pengadaan barang dan jasanya.
Membaca Jalan Moderat PKS
Sejak Mukernasnya pada 2008 di Denpasar, wacana perubahan PKS menjadi partai terbuka menggema di mana-mana. Partai yang selama ini dicap ekslusif ini menyatakan kesiapannya untuk membersamai seluruh komponen bangsa tanpa membeda-bedakan latar belakang suku, agama dan ras. Apalagi setelah Munas ke-2 PKS di Hotel Ritz Carlton, Jakarta yang semakin meneguhkan komitmen mereka menghargai pluralitas dan kebhinekaan Indonesia dengan mengundang tokoh-tokoh Amerika dan negara Eropa untuk duduk bersama membincangkan masa depan bangsa. Hal tersebut, ungkap J. Kristiadi, menunjukkan bahwa PKS adalah partai yang percaya diri dan bukan harus inferior terhadap negara adidaya. Ditambah lagi iklan-iklan yang menampilkan sosok-sosok beragam mulai dari kyai sampai anak punk, mulai dari Natsir sampai Soekarno dengan merahnya yang menyala. Barangkali pencitraan keberagaman yang ditampilkan tersebut adalah dalam kerangka mewujudkan visi dan misi PKS sebagai “Partai Dakwah Penegak Keadilan dan Kesejahteraan dalam Bingkai Persatuan Ummat dan Bangsa” sebagaimana tercantum dalam AD/ART partai. Partai ini kemudian ingin bisa dikategorikan sebagai kelompok “moderat” (Collins, 2004; ICG, 2005), dalam pengertian menerima demokrasi dan bekerja dalam kerangka konstitusional dan non-kekerasan demi memperoleh simpati masyarakat. Sebab, beberapa waktu sebelumnya, santer tuduhan bahwa PKS membawa hidden agenda untuk menegakkan negara Islam yang dikhawatirkan sebagian kalangan akan merugikan kelompok minoritas. Kekhawatiran itu setidaknya terungkap dalam buku Ilusi Negara Islam yang diterbitkan oleh Ma’arif Institute dan LibforAll Foundation. PKS mendapat fitnahan keji sebagai agen kelompok transnasional garis keras yang akan merongrong kedaulatan NKRI. Begitupun, rakyat jualah yang akan menilai siapa yang santun dan siapa yang bersikap kasar layaknya teroris.
PKS dan Harapan yang Tersisa
Jujur saja, mungkin polah politik otoriter orde baru yang koruptif telah membuat sebagian besar masyarakat republik ini mengimani kepercayaan Machiavelli bahwa politik itu kotor. Wajar saja kalau kepercayaan rakyat terhadap parpol rendah. Hal itu tercermin dari semakin rendahnya tingkat partisipasi pemilih di berbagai Pemilu dan Pilkada. Hingga kemudian datang PKS yang menggabungkan dua unsur kebaikan: semangat anak muda (hamasatusy-syabab) dan kebijaksanaan para ulama (hikmatusy-syuyukh). Inilah jawaban akan penantian masyarakat akan perbaikan negeri ini. Satu-satunya harapan yang masih tersisa setelah berbagai perilaku amoral dipertontonkan oleh pejabat pemerintahan dan kader partai lain. Maka, sisa harap itu tertumpu di pundak PKS yang menasbihkan diri sebagai agent of change.
Oleh karenanya, PKS tak boleh membuat rakyat kecewa. PKS harus terus berikhtiar untuk kebaikan Indonesia. Dan, tentunya partai ini bukanlah kumpulan malaikat tanpa noda dan dosa. Ada beberapa hal yang perlu dibenahi dalam tubuh partai ini. Pertama, menjaga orisinalitas (ashalah) gerakan. Menjadi partai terbuka memanglah tuntutan konstitusi dan agama. Sebab ini adalah sarana untuk menyebarkan kebaikan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Namun yang harus digarisbawahi adalah jangan sampai karena kepentingan taktis seperti ini PKS kehilangan ruhnya sebagai sebuah gerakan dakwah. Core aktivitasnya sebagai pemikul amanah dakwah tak boleh terlupakan. Para pemimpinnya juga harus mengingat bahwa PKS bukanlah partai yang besar karena popularitas atau kharisma pemimpinnya, namun ia besar karena loyalitas dan militansi kadernya yang terbangun dari proses kaderisasi yang matang. Itulah mengapa aspek pembinaan internal dengan mensolidkan struktur dan terus-menerus meng-up-grade kader menjadi prioritas penting.
Kedua, memelihara keteladanan tokoh dan kader. Kasus yang menimpa Misbakhun sudah semestinya menjadi pelajaran bagi pengurus PKS. Meski aleg PKS tersebut belum terbukti bersalah, namun tak pelak kejadian itu telah mencoreng nama baik PKS yang telah lama dibangun. Ibarat kata pepatah, gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Profil kader PKS yang kokoh dan mandiri, dinamiis dan kreatif, spesialis dan berwawasan global dan lainnya itu haruslah terejawantahkan dalam laku sehari-hari kadernya sehingga kalau bisa akan terbit lagi seri-seri berikutnya dari buku Bukan di Negeri Dongeng (Kisah Para Pejuang Keadilan). Karena rakyat kita merindukan sosok yang sederhana dan bersahaja layaknya KH Rahmat Abdullah atau DR. Hidayat Nur Wahid yang bisa mereka teladani, yang sama antara tutur dan lakunya.
Ketiga, mengeluarkan kebijakan dan sikap politik yang populis. Sejarah adalah guru yang paling jujur. Maka PKS wajib bercermin pada gonjang-ganjing akibat iklan Soeharto dan tokoh-tokoh ormas Islam yang dicatut. PKS juga harus mengevaluasi statement kontroversial yang sering disampaikan oleh kadernya seperti Fahri Hamzah dan Anis Matta. Tak ada salahnya memang melakukan manuver politik. Apalagi untuk sebuah strategi agar dapat menjadi headline media massa. Namun ijtihad itu perlu dikaji ulang jika kemudian justru menimbulkan keresahan di masyarakat atau bahkan tubuh internal partai sendiri. Ada baiknya PKS berhati-hati dalam menyampaikan sikap politik ini khususnya yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak semisal harga BMM dan tarif dasar listrik.
Termasuk bagaimana PKS harus mencari posisi aman atas dua tuntutan kelompok yang berseberangan: pendukung formalisasi syariat Islam yang kaffah dan pembela kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia yang berideologi liberal bahkan cenderung fobia terhadap Islam. Untuk hal ini, PKS dapat belajar dari merosotnya suara PAS di Malaysia setelah mereka mengeluarkan buku yang berjudul Negara Islam, sebuah buku yang secara tegas memuat platform dan visi PAS untuk menerapkan Islam dalam hukum positif di negara jiran itu. Sebaliknya, partai AKP di Turki bisa menggapai kemenangan besar di sana dan menguasai 100% kabinet pemerintahan dengan “perngorbanan” merelakan sebagian nilai-nilai sekuler tetap bersemi dan saling berebut posisi dengan nilai Islam di tengah masyarakatnya.
Keempat, menyiapkan SDM yang mumpuni untuk mengelola negara. Sudah bukan rahasia lagi kalau PKS dihuni oleh kader-kader muda yang berpendidikan dan punya latar belakang sebagai aktivis mahasiswa di kampusnya. Ini membuat idealisme dan cita-cita mereka menemukan muara yang tepat. Hal seperti inilah yang perlu terus dimatangkan oleh PKS agar ketika kelak masyarakat memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada PKS, tidak ada lagi keterkejutan. Mengelola negara bukanlah pekerjaan sepele yang semudah membalikkan telapak tangan. Sebab untuk menyusun kembali puing reruntuhan yang terserak ini tak cuma dibutuhkan orang shalih dan jujur, namun juga harus cakap dan kapabel.
Akhirnya, kita harus terus berikhtiar, berdo’a dan memupuk harapan itu agar mindset masyarakat tak lagi berbunyi, “Ah, buat apa nyontreng, siapapun yang terpilih, tetap juganya awak hidup susah.” Alangkah indahnya kalau kemudian yang terdengar dari mereka adalah optimisme menyongsong kebangkitan kembali kejayaan zamrud khatulistiwa ini bersama PKS. Semoga.
Tulisan ini memenangkan Juara Pertama dalam Lomba Penulisan Opini Muswil ke-2 PKS Sumut 2010
Selasa, 21 September 2010
Cinta Tak Berakhir di Ajibata
Oleh: Yolanda Sari
(Pemimpin Redaksi Majalah 99 Percent)
*ditulis selepas rihlah ba'da lebaran*
kau tau bahwa
saat kita berlabuh di Ajibata
hatimu kubaca
lewat binar mata
pada canda tawa
pun nada suara
dan apa?
kutemukan pancaran rasa
yang kutebak itu cinta
maka Toba pun turut bahagia
mengayun kapal dengan ceria
membawa kita pada suatu cerita
bahwa kau pun tau
cinta itu juga dihatiku
lalu tak ada lagi ragu
tuk kita satukan di Samosir yang berliku
hari itupaling mesra dalam hidupku
bersamamukita ukir jejak di batu
melewati pohon-pohon yang cemburu
dibisiki angin yang merayu
hingga kemesraan itu harus kita sudahi
di senja yang beranjak pergi
melambai pada sedih yang menggelayuti
seolah takkan terulangi
wajahmu kupandangi
o,haruskah sampai di sini?
Toba pun menjunjung kapal kita lagi
tanpa riak berseri kali ini
dan langit turut menangisi
membiarkan hujan ucapkan ‘sampai bertemu kembali’
di tepi dermaga
Ajibata menyalami kita
mengucapkan salam terakhirnya
sambil berbisik ia berkata
Cinta tak berakhir di Ajibata…
Samosir, 18 September 2010
To 99ers with love,,
Minggu, 05 September 2010
Senin, 30 Agustus 2010
Provokasi Tiada Henti
Provokasi Tiada Henti
Scene 1
Sebuah halaqah pekanan. Para mutarabbi khusyu’ mendengar taujih dari sang ustadz. Kali ini cerita khusus refleksi perjalanan tarbiyah anak-anak muda ini. Juga mutaba’ah pencapaian muwashafat. Sampailah kemudian pada tips dan triks membentengi diri maksiat. Lalu bahasan ngalor-ngidul menjauh. Hingga ikhwan A diserbu dengan pertanyaan menukik, “Jadi antum sudah siap menikah kan, Akh? Gimana? Mau dengan akhawat dari Univeritas S atau Institut A? Biar nanti ana sodorkan sama antum..”
Scene 2
Mentari sudah mulai beranjak perlahan. Membiarkan senja menyapa manusia yang hiruk-pikuk menantinya. Di sebuah restoran yang cukup besar dan terkenal di kota B, sekelompok aktivis dakwah mengadakan acara ifthar jama’i sekaligus konsolidasi strategis untuk pengembangan dakwah di kecamatan L. Sesudah menyantap ta’jil, seorang panitia mengajak ikhwan A bercerita, “Eh, akhi, gimana pembicaraan kita yang kemarin?” Si A terbengong-bengong. Yang kemarin? Yang mana ya? Lalu sang panitia melanjutkan ucapannya, “Antum benar-benar udah siap? Serius nih. Udah ada nih orangnya yang siap Insya Allah. Tuh akhwatnya yang duduk di sebelah istri Ustadz D.”
Scene 3
Menjelang tengah malam. Angin berhembus semilir membelai mesra janggutnya yang tak begitu tebal. Di sebuah wisma pinggiran kota B, ikhwan A diamanahkan murabbinya untuk menggantikan beliau mengisi sebuah daurah pemandu (murabbi) untuk sebuah organisasi mahasiswa yang fokus gerakannya di sayap siyasi. Materinya tergolong berat –Manhaj Tarbiyah indal Ikhwanul Muslimin-, sehingga si ikhwan agak grogi juga menyampaikannya. Namun, setelah diyakinkan sang ustadz, ia memcoba percaya diri dan memberikan materi dengan lugas dengan bumbu joke-joke haraki. Esoknya, di agenda ifthar jama’i, sang ustadz bertanya pada ikhwan A, “Gimana antum ngisi kemarin, Akhi? Mantap, kan?” Sang aktivis muda itu menjawab sekenanya, “Insya Allah, Ustadz. Sudah semaksimal mungkin.” Lalu sang ustadz meyambung tanyanya lagi, “Jadi gimana? Ada di antara pesertanya yang bisa ana kenalin sama antum?” *GUBRAK!*
Begitulah. Tak ubahnya seperti iklan salah satu produk sepeda motor Jepang, selalu saja di kalangan aktivis dakwah itu ada inovasi. Eh, salah, maksud saya PROVOKASI yang tiada henti. Sedikit-sedikit bicaranya nikah. Sedikit-sedikit ngomong walimah. Tidak di kampus, di kantor, di kajian pekanan, pelatihan bahkan aksi turun ke jalanan, selalu saja tema ini tak lekang. Dan beginilah nasib para bujang, selalu jadi korban sindiran…
Meskipun topik utama perbincangan bercerita tentang masalah agenda dakwah, isu politik atau tugas kuliah dan semacamnya, tetap saja nanti selalu UUJ. Ujung-ujungnya Jodoh. Ibarat iklan sebuah produk minuman kebanggaan Indonesia, “Apapun pembicaraannya, ujungnya masalah nikah.”
Memang, tak salah membicarakan topik ini. Juga tak salah memprovokasi para bujang untuk menyegerakan diri menjemput penyempurna agamanya. Namun, jika provokasi hanya sekedar basa-basi penghangat diskusi yang hanya memanas-manasi tanpa solusi, bukankah ini sebuah jebakan yang bisa membuat si lajang larut bermimpi imajinasi yang bisa menenggelamkannya dalam angan yang menumpuk-numpuk alpa diri? Naudzubillah…
Mudah-mudahan ini bisa jadi cermin untuk berkaca diri agar bila memprovokasi juga baiknya tanggungjawab menyertai supaya insya Allah pahala kebaikan dan barakahNya turut mengiringi.
Minggu, 22 Agustus 2010
Tenang (Catatan Seorang Teman)
Tenang, aku hanya sedang memberi jarak, agar cinta itu terus memberontak.
Tenang, aku hanya sedang memberi ruang, agar indah itu mampu kau pandang.
Aku kira, untuk melihat keindahan butuh beberapa hasta.
Sebab aku tahu, untuk hangatkan cinta butuh sedikit rindu
Rabu, 18 Agustus 2010
Ditipu Cinta Ibu
Ibu. Dialah manusia yang cintanya tak putus. Kata lagu-lagu yang kuhafal semasa SD dulu, kasih ibu sepanjang masa seperti matahari, sementara kasih ayah sepanjang galah yang pasti ada ujungnya.
Ibu. Kata ini sungguh menggetarkan hati. Pengorbanannya tak terhingga. Sepanjang hayat tak kan mampu kita membayar jerih ketelatenannya mengasuh dan mendidik kita, anak-anaknya, hingga menuju puncak kesuksesan. Mulai dari mengandung selama sembilan bulan, melahirkan yang mempertaruhkan nyawa, menyusui dengan ASI eksklusif selama dua tahun, menyekolahkan kita, memberi kita uang jajan sampai meminangkan seorang gadis beriman untuk kita (bagi lelaki, atau menerima pinangan seorang lelaki berakhlak menawan buat perempuan).
Ibu. Surga berada di bawah telapak kakinya. Setiap anak pasti mencintai ibunya. Alangkah janggal jika ada yang tidak menaruh hormat dan kasih mendalam kepada insan yang telah menjadi asbab kehidupannya.
Tapi tulisan ini tidak sedang ingin mengkaji lebih dalam hadits di atas. Juga tak hendak menjabarkan faedah-faedah dan cara-cara birrul walidain (berbakti pada orang tua).
Namun tulisan ini juga bukan merupakan sebuah kisah pengkhianatan. Mungkin dari judulnya, ada yang menduga bahwa goresan pena ini akan bercerita tentang kekecewaan. Bukan. Sungguh bukan. Tulisan ini hanya ingin membagi pengalaman saya yang sederhana sekaligus agak menggelikan.
Dua pekan yang lalu saya pulang kampung ke Binjai, Sumatera Utara. Tujuan utamanya sebenarnya adalah untuk mengikuti ujian seleksi Program D3 Khusus STAN. Namun, seperti biasa, misi sampingan tentu tak boleh dilewatkan. Prinsipnya, jangan sampai ada kesempatan yang disia-siakan.
Kepulangan ini juga melepas rindu saya yang tak terbendung pada keluarga: ibu, ayah (yang berdomisili di Mandailing Natal dan kebetulan sedang pulang juga) serta adik-adik (salah satunya baru saja pulang dari perantauan di bumi Sriwijaya).
Entah memang saya yang terlalu mencintai ibu saya. Entah karena keinginan untuk berbakti yang begitu kuat. Rasionalitas saya seketika hilang ketika menerima sebuah sms yang berbunyi:
"Belikan dulu Mama pulsa As 20rb di nomor baru mama. Ini nomornya 08521067xxxx. Cepat ya. Soalnya Mama ada masalah penting."
Pengirim: 08524230xxxx
Saya langsung panik. Ingin segera memenuhi seruan sederhana untuk berbakti ini. Entah karena saya yang kelelahan sebab baru saja tiba dari Banda Aceh setelah melalui perjalanan darat selama 10 jam. Saya langsung keluar. Men-starter Beat. Mencari kios pulsa terdekat.
Oh, tidak!
Semuanya tutup!
Saya harus gegas. Jangan sampai Mama kecewa.
Lalu saya menelepon Bang Rajab, seorang ikhwan yang bisnis wartel dan pulsa. Diawali dengan sedikit basa-basi menanyakan kabar, saya langsung to the point, "Bang, kirimkan pulsa 20 ribu ke nomer 08521067xxxx ya! Ntar uangnya ana ganti. Ba'da zuhur insya Allah ana silaturahim ke rumah Abang."
Lalu pulsapun terkirim.
Saya buru-buru menelepon Mama untuk memastikan pulsanya sudah masuk.
"Gimana, Ma? Udah masuk pulsanya, khan?"
"Pulsa? Pulsa apa maksudnya, By?" jawab Mama heran.
"Loh? Tadi kan Mama yang minta dikirimin pulsa di nomor baru?" saya menjawab lebih heran lagi.
Usut punya usut. Saya telah menjadi korban penipuan. Ya, penipuan yang bisa dituntut dengan Pasal 378 KUHP. Meski nominalnya cuma 20 ribu, tapi saya tertipu. Si penipu memanfaatkan kecintaan si korban kepada ibunya untuk mengeruk keuntungan. Ini modus operandi baru (setidaknya bagi saya). Walaupun mungkin juga ini hanya ulah iseng teman saya yang usil. Ckck...
Huffhh...
Mungkin saya yang terlalu ceroboh. Nomor si pengirim jelas-jelas nomor asing, bukan nomor ibu saya (baik yang Telkomsel maupun IM3), tapi saya dengan begitu mudahnya mempercayai dan meresponnya. Ah, sudahlah. Lebih baik ambil pelajaran saja. Supaya kita tidak ditipu (gara-gara) cinta ibu..
Selasa, 17 Agustus 2010
Penerjemahan Indonesia-Malaysia
INDONESIA : Kementerian Agama
MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa (...Oh please...!!)
INDONESIA : Angkatan Darat
MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi (Kalo Laut hentak2 aer kali ya..??)
INDONESIA : Angkatan Udara
MALAYSIA : Laskar Angin Angin
INDONESIA : 'Pasukaaan bubar jalan !!
MALAYSIA : 'Pasukaaan cerai berai !!
INDONESIA : Merayap
MALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi (bagaimana coba ?)
INDONESIA : Rumah sakit bersalin
MALAYSIA : Hospital korban lelaki (bener juga sih...)
INDONESIA : Belok kiri, belok kanan
MALAYSIA : Pusing kiri, pusing kanan (kalo breakdance apaan?)
INDONESIA : Departemen Pertanian
MALAYSIA : Departemen Cucuk Tanam (yuu marie)
INDONESIA : Gratis bicara 30 menit
MALAYSIA : Percuma berbual 30 minit
INDONESIA : Satpam/sekuriti
MALAYSIA : Penunggu Maling (ngarep banget dimalingin ya ampe ditunggu)
INDONESIA : Joystick
MALAYSIA : Batang senang (maksud loe..??)
INDONESIA : Tidur siang
MALAYSIA : Petang telentang (kalo gitu, tidur malem "gelap tengkurep" donk)
INDONESIA : Tank
MALAYSIA : Kereta kebal (suntik kale..???)
INDONESIA : Kedatangan
MALAYSIA : Ketibaan (untung bukan ketiban)
INDONESIA : Rumah sakit jiwa
MALAYSIA : Gubuk gila
INDONESIA : Dokter ahli jiwa
MALAYSIA : Dokter gila (lu gilaaaaaaaaaaa)
INDONESIA : Hantu pocong
MALAYSIA : Hantu Bungkus (pesen atu donk bang...!! hehehehe)
INDONESIA : telepon selular
MALAYSIA: talipon bimbit
INDONESIA: toilet
MALAYSIA:bilik termenung
INDONESIA : Pasukan terjung payung
MALAYSIA : Aska begayut
INDONESIA: ES Campur
MALAYSIA: ABC(Air Batu Campur)
INDONESIA : buldozer
MALINGSIA : setrika bumi
INDONESIA : chatting
MALAYSIA : bilik berbual
INDONESIA : rusak
MALAYSIA : tak sihat
INDONESIA : keliling kota
MALAYSIA : pusing pusing bandar
INDONESIA : bioskop
MALAYSIA : panggung wayang
INDONESIA : narkoba
MALAYSIA : dadah
INDONESIA : pintu darurat
MALAYSIA : Pintu kecemasan
INDONESIA : Sepeda
MALAYSIA : Basikal
INDONESIA : "OK lah, gw mo tidur sebentar"
MALAYSIA : "K larr, aku nak tido sekejap"
INDONESIA : penghapus
MALAYSIA : pemadam
INDONESIA : Polisi
MALAYSIA : Pak Rela
INDONESIA : "lo jangan kejar dia"
MALAYSIA : "tak boleh kau memburu dia"
INDONESIA : Jalan-jalan
MALAYSIA : Makan angin
INDONESIA : Helm
MALAYSIA : Topi Keledar
INDONESIA : Sabuk pengaman
MALAYSIA : Tali ikat pinggang keledar
INDONESIA : Sepatu
MALAYSIA : Kasut
INDONESIA : Kementerian kehutanan
MALAYSIA : Kementerian semak belukar
MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa (...Oh please...!!)
INDONESIA : Angkatan Darat
MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi (Kalo Laut hentak2 aer kali ya..??)
INDONESIA : Angkatan Udara
MALAYSIA : Laskar Angin Angin
INDONESIA : 'Pasukaaan bubar jalan !!
MALAYSIA : 'Pasukaaan cerai berai !!
INDONESIA : Merayap
MALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi (bagaimana coba ?)
INDONESIA : Rumah sakit bersalin
MALAYSIA : Hospital korban lelaki (bener juga sih...)
INDONESIA : Belok kiri, belok kanan
MALAYSIA : Pusing kiri, pusing kanan (kalo breakdance apaan?)
INDONESIA : Departemen Pertanian
MALAYSIA : Departemen Cucuk Tanam (yuu marie)
INDONESIA : Gratis bicara 30 menit
MALAYSIA : Percuma berbual 30 minit
INDONESIA : Satpam/sekuriti
MALAYSIA : Penunggu Maling (ngarep banget dimalingin ya ampe ditunggu)
INDONESIA : Joystick
MALAYSIA : Batang senang (maksud loe..??)
INDONESIA : Tidur siang
MALAYSIA : Petang telentang (kalo gitu, tidur malem "gelap tengkurep" donk)
INDONESIA : Tank
MALAYSIA : Kereta kebal (suntik kale..???)
INDONESIA : Kedatangan
MALAYSIA : Ketibaan (untung bukan ketiban)
INDONESIA : Rumah sakit jiwa
MALAYSIA : Gubuk gila
INDONESIA : Dokter ahli jiwa
MALAYSIA : Dokter gila (lu gilaaaaaaaaaaa)
INDONESIA : Hantu pocong
MALAYSIA : Hantu Bungkus (pesen atu donk bang...!! hehehehe)
INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh
INDONESIA : telepon selular
MALAYSIA: talipon bimbit
INDONESIA: toilet
MALAYSIA:bilik termenung
INDONESIA : Pasukan terjung payung
MALAYSIA : Aska begayut
INDONESIA: ES Campur
MALAYSIA: ABC(Air Batu Campur)
INDONESIA : buldozer
MALINGSIA : setrika bumi
INDONESIA : Imut-imut
MALAYSIA : Comel benar
INDONESIA : pejabat negara
MALAYSIA : kaki tangan negara
INDONESIA : Pencopet
MALAYSIA : Penyeluk Saku
INDONESIA : remote
MALAYSIA : kawalan jauh
MALAYSIA : Comel benar
INDONESIA : pejabat negara
MALAYSIA : kaki tangan negara
INDONESIA : Pencopet
MALAYSIA : Penyeluk Saku
INDONESIA : remote
MALAYSIA : kawalan jauh
INDONESIA : kulkas
MALAYSIA : peti sejuk
MALAYSIA : peti sejuk
INDONESIA : chatting
MALAYSIA : bilik berbual
INDONESIA : rusak
MALAYSIA : tak sihat
INDONESIA : keliling kota
MALAYSIA : pusing pusing bandar
INDONESIA : bioskop
MALAYSIA : panggung wayang
INDONESIA : narkoba
MALAYSIA : dadah
INDONESIA : pintu darurat
MALAYSIA : Pintu kecemasan
INDONESIA : Sepeda
MALAYSIA : Basikal
INDONESIA : "OK lah, gw mo tidur sebentar"
MALAYSIA : "K larr, aku nak tido sekejap"
INDONESIA : penghapus
MALAYSIA : pemadam
INDONESIA : Polisi
MALAYSIA : Pak Rela
INDONESIA : "lo jangan kejar dia"
MALAYSIA : "tak boleh kau memburu dia"
INDONESIA : selang air
MALAYSIA : karet
MALAYSIA : karet
INDONESIA : Jalan-jalan
MALAYSIA : Makan angin
INDONESIA : Helm
MALAYSIA : Topi Keledar
INDONESIA : Sabuk pengaman
MALAYSIA : Tali ikat pinggang keledar
INDONESIA : Sepatu
MALAYSIA : Kasut
INDONESIA : Kementerian kehutanan
MALAYSIA : Kementerian semak belukar
INDONESIA: Pensiunan ABRI
MALAYSIA: Laskar Tak Begune
Langganan:
Postingan (Atom)