Rabu, 28 Juli 2010

Muhasabah Merah Jambu

Oleh: Ust. Abdul Latif Khan


Siapa yang mengajarkan padamu bahwa cuma melalui Chat akhirnya kau dapat mengetahui bahwa dia adalah lelaki atau perempuan sholih/ah? Dan kemudian kau memutuskan bahwa dialah jodoh dambaanmu? Kemudian saat akhirnya kau terhenyak. Bahwa ternyata semua adalah mimpimu. Kau menangisi lemahnya realita itu. Kenapa saat itu kau tidak memahami bahwa kau tidak memilih agamanya, tapi kau memilih angan-anganmu tentangnya?

Sebenarnya secara halus, syetan meninabobokanmu dengan alunan nasyid kecintaan. Kau tetap di jalan dakwah. Kaulah sejatinya pelaku dakwah. Tapi secara dini ia telah menghancurkan masa depan rumah dakwahmu, di mana ia mengajakmu menghalalkan "pemberontakan kecilmu" pada saudaramu. Dalih yang selalu diajarkan padamu adalah "Apakah yang dilakukan adalah kesalahan?", "Kenapa harus selalu dibatasi?"

Keluhanmu dan kekhawatiranmu tentang jodohmu menandakan bahwa engkau belum mengamalkan keimananmu pada taqdir Tuhanmu. Saat secara teori kau telah tahu bahwa itu rahasia Tuhanmu, lantas kenapa kau berkeluh kesah sembari membocorkan rahasia itu pada makhluq-Nya? 

Janganlah menuduh saudaramu saat ia sebenarnya menginginkan agar kau tidak mendirikan sekedar sebuah rumah tangga, tapi rumah dakwah, rumah tarbiyah, rumah ibadah, rumah cintamu kau bangun di atas cintamu pada Rabbmu. Walau saudaramu sebenarnya hanya harus membantumu untuk memilih mereka yang berkarakter Islam shalih, tidak lebih.
Wallahu a'lam


Selasa, 27 Juli 2010

Puasa, Ujian dan Sebuah Keputusan Besar

Ayyamul Bidh kali ini memang terasa berbeda. Angin Sya’ban yang ikut menghantar hawa Ramadhan menjadikannya kian syahdu. Benarlah jika disebut puasa ini sebagai ujian yang sulit. Bahkan ada yang menganggapnya jihad akbar (walaupun hadits tentang ini didhaifkan sebagian besar ulama). Ah, yang jelas puasa memang merupakan ibadah yang sangat privat, hanya sang ahli puasa dan Rabb-nya yang mengetahui. Sebab jika manusia, tentu saja sangat mudah dikibuli. Aku jadi teringat sebuah hadits Nabi yang menohokku sangat dalam, menukik tajam, “Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor. “ (HR. Ibnu Khuzaimah)

Puasa di pertengahan Sya’ban kali ini memberi kesan tersendiri. Sahur sendiri dengan lauk apa adanya cukup membuat semangat mereda, namun panorama langit Santan yang didandani terang rembulan membuat romantisme subuh berpadu. Namun yang membuatku terus berpacu melawan ragu dan pilu adalah karena ujian-ujian yang harus kuhadapi. Baik itu ujian dalam denotasi, maupun dalam makna yang lebih luas.

Untuk yang zhahir saja, di sela-sela kesibukan kantor yang eight to five, aku harus membagi waktu untuk “tugas dinas” lainnya (ini saja sudah menjadi tanya: halalkah take home pay-ku jika masih sering curi-curi waktu membolos dengan alasan demi dakwah (baca: menghadiri syura-syura dan pekerjaan teknis lain?).

Pertama, menjadi koordinator tempat dan perlengkapan untuk agenda Tarhib Ramadhan DPW yang rencananya akan digelar di Taman Sari, Banda Aceh menghadirkan Ust. Anis Matta. Kedua, menyiapkan seminar motivasi menulis “Untold Stories of Writer”. Di sini saya hanya kebagian tugas untuk bantuin jualan tiket (semua panitia juga punya kewajiban sama, jadi ini biasa saja) dan memesan backdrop (termasuk mendesainnya, walaupun yang ngerjain tetap orang lain), serta secara khilaf panitia memercaya saya sebagai salah satu penyampai materi (tentu karenanya saya harus siapkan slide presentasi).

Ketiga, Selasa malam depan saya harus betolak ke Medan karena akan mengikuti Ujian Saringan Masuk Program DIII Khusus STAN pada hari Kamisnya. Saya sangat serius di sini sebab berharap bisa melanjutkan pendidikan saya yang masih tingkat rendah ini. Dan, tentu saja, jika lulus nanti (Amiin), sepulangnya dari perkuliahan di Bintaro nanti akan menjadi auditor dan punya peluang sangat besar untuk mutasi. Oh, cerita tentang mutasi tiba-tiba membuat saya geli dan agak feeling guilty jika mengingat jawaban saya atas pertanyaan teman-teman di kampung halaman. “Gimana, By? Betah di Aceh?” Dan saya menjawab, “Alhamdulillah betah. Di Aceh ini termasuk dekat disbanding teman-teman alumni STAN lain yang ditempatkan di Karimun, Kalimantan atau bahkan Flores. Di sini juga dapat rumah dinas, bla..bla..”. Duh… padahal mungkin jawaban terjujur nurani saya sesungguhnya adalah, “Ya, dibetah-betahkanlah..” Entah kenapa belakangan saya merasa semakin menemukan alasan-alasan atas jawaban yang terakhir itu.

Selain itu, sebenarnya saya punya amanah untuk pembinaan dua kampus yang berada di kecamatan saya. Untuk yang inipun, rasa berdosa seperti bertumpuk-tumpuk membebani pundak. Betapa selama ini saya sudah membiarkannya berada di urutan ke sekian prioritas hidup saya, padahal jika ditimbang-timbang dengan kalkulasi apapun (dunia-akhirat) justru di sinilah ladang amal saya. Ini amanah yang kusia-siakan. Menzalimi anak-anak muda itu dengan tidak menunaikan hak-hak tarbiyahnya. Astaghfirullah. Ampuni aku duhai Rabb..

Entahlah. Entah apa yang membuat kegelisahan membuncah memecah resah. Susah rasanya jika gundah ini terus dilestarikan tanpa arah. Mau jadi apa jiwa yang manja ini? Kapan dia mengecap muthmainnah? Kapan dia hendak menggapai maghfirah?  O, Allah, izinkan aku menempuhi jalan ini dengan segenap ketegaran yang kucerap dari Kitab-Mu dengan mencontoh teladan para Rasul-Mu dan sahabatnya.

Detik ini aku sudah memancang tekad. Sebuah keputusan (yang bagiku) besar akan kuambil. Segera. Tanpa tunda-tunda. Kalaupun aku mengatur masa. Itu hanya untuk menemukan momentum yang tepat saja. Ini serius. Bukan gaya-gaya. Apalagi sekedar basa-basi untuk mengelak dari provokasi. Tidak, itu nakal sekali.

Setelah menyelesaikan tulisan ini, aku akan menuliskan surat itu di selembar kertas, memasukkannya ke dalam amplop dan mencari waktu yang pas untuk menyampaikannya kepada “dia yang berwenang”. Kujamin tak kan lama. Sebelum Ramadhan ini. Agar pribadi yang egois ini bisa segera menginsyafi diri.

Aku bermohon pada-Nya agar meneguhkan pilihanku atas keputusan (yang bagiku) besar ini. Aku mohon petunjuk-Nya. Aku mohon ridha-Nya. Bismillah…

Ruang Staf Kepala Kanwil, menunggu dimulainya Bakti Sosial Donor Darah di lantai bawah
28 Juli 2010

(Puisi) Sepi di Juli, dkk

Ini dia puisi yang ditagih-tagih sama Mbak Suly dan Mbak "Biru"..
Puisi (kalau boleh disebut begitu) yang ditulis awal April 2006, saat baru mulai belajar menulis puisi. Saat saya masih mengutamakan etika (idealisme) ketimbang (bahkan meminggirkan) estetika. Namun ajaibnya, puisi ini dimuat di bulan Juli 2010. Empat tahun sesudahnya . Ah, sungguh saya malu membaca karya baheula ini sekarang..  

Sepi di Juli  

Juli ini disapa sepi
Sunyi tak berbunyi
Meski cuma dendang kecapi  

Teman-teman semua pergi
Ke kampung halaman kembali
Meninggalkanku sendiri  

Di sini, pintu selalu terkunci
Agar hatiku bisa meresapi
Pesan bijak abi dan ummi
Dalam menit-menit semedi

Elegi Akhir Hayat

Ketika kulihat matahari
Bersinar terang di langit September
Kutahu Kau ada  

Ketika kudengar nyanyian pipit
Di atas hijau pepohonan
Kutahu Kau ada  

Ketika kurasa gurihnya ayam bakar
Di restoran pinggir jalan
Kutahu Kau ada  

Ketika kuhirup udara segar terakhir
Di penghujung biografiku
Aku juga tahu bahwa Kau ada  

Tapi mengapa aku tak faham
Menutup kisah dengan cemerlang
Aku tak pernah ingat
Tentang satu kata ajaib itu : taubat!  

Di Balik Diorama  

Di balik diorama
Yang tersangkut dekat jendela
Terdengar alunan irama
Tentang cerita-cerita lama  

Kisah-kisah kita
Satu per satu berbuah duka
Membulirkan air mata
Yang terurai tanpa kata  

Ibarat laut enggan berombak
Akibat penuh dengan keladak  

Di balik diorama
Hanya tinggal sebuah nama
Yang kan kukenang selamanya  

Purnama di Jembatan Rindu  

Lorong-lorong jiwa
Berhias seribu purnama
Bermimpi tentang bidadari
Yang tak henti membayang diri  

Lalu aku mengatur rencana
Menyeret langkah nurani
Menyusuri pintu hati  

Siapa sangka ada wajah sendu
Duduk termangu di jembatan rindu
Menyanyikan sajak pilu  

Istana Tanpa Zikir  

Ada suara dari dalamnya
Terasa lebih mesra dari rayap yang
Lalu tenggelam dalam kubangan dosa  

Setiap setan diundang ke sana
Naik ke lantai tiga
Menyanyikan lagu neraka  

Aku ke sana dengan berani
Menawarkan sebiji sawi
Kehidupan yang hakiki
Tapi aku diusri pergi
:  jangan ceramah di sini!  

Senin, 26 Juli 2010

Gelap Tapi Hangat (bocoran Epilog Dalam Dekapan Ukhuwah-nya Salim A. Fillah)

Blog entry ini murni saya copas dari note fb Bang Salim (demikian saya menyapanya) yang di-tag ke saya. Tulisan ini adalah bagian akhir dari buku terbarunya yang akan segera terbit Ramadhan ini: "DALAM DEKAPAN UKHUWWAH"

Keraton Kadariyah di Kampung Dalam Bugis, Pontianak, yang didirikan Sultan Syarif ’Abdurrahman Al-Kadri pada tahun 1771 itu, menyimpan dua buah benda berpasangan yang sangat indah. Keduanya adalah cermin besar buatan Perancis dari abad kedelapan belas. Keduanya begitu menjulang, lebih dari dua meter. Bingkainya cantik, penuh ornamen berkilauan. Meja rias yang menyatu dengannya berkaki logam penuh ukiran. Tetapi yang paling menarik adalah bahwa kedua cermin ini dipasang berhadapan.

Maka apa?

Keduanya saling menampakkan bayangan kawannya, berbolak-balik pantul memantul, kian dalam makin kecil hingga titik jauh yang seakan tak terhingga. Di dalam bayangan, ada bayangan. Ada lagi dan lagi. Sepertinya mereka saling mengaca, terus menerus tanpa henti hingga jumlah bayangnya tak lagi bisa dihitung. Orang-orang menyebut mereka berdua sebagai ‘Kaca Seribu.’

Mungkin begitulah seharusnya kita dalam dekapan ukhuwah. Kita terus saling bercermin tanpa lelah. Kita menampilkan bayangan terindah yang akan berlipat-lipat tanpa henti sebab hati kita dan orang yang kita cintai terus saling belajar dan saling memahami. Lalu kita menjadi sepasang saudara yang tak hanya bernilai dua, melainkan seribu atau bahkan tak terhingga.

***

Sebuah sore yang lengang dan matahari lamat-lamat. Kami sedang menyimak sebuah hadits, dan mencoba mengukur diri sampai di mana peran kami ketika datang petunjuk dan ilmu dari Sang Nabi. Adakah kami Naqiyah, atau sekedar Ajaadib? Atau jangan-jangan kami bahkan lebih jelek dibanding Qii’an?

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang aku dapatkan dari Allah,” demikian Rasulullah bersabda, “Adalah seperti permisalan air hujan yang deras menimpa bumi. Ada di antara tanah bumi itu Naqiyah, menerima air lalu menumbuhkan rumput yang rimbun dan tumbuhan yang lebat. Ada juga Ajaadib, ia menampung air lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia dengannya. Mereka minum, mengambilnya, member minum ternaknya, dan bercocok tanam. Air hujan ini juga menimpa sejenis tanah lain yaitu Qii’aan yang sekedar dilewati saja. Ia tidak menerima air dan tidak menumbuhkan rumputan.”

Seusai mengkaji dan mengangguk setengah mengerti, seorang kawan menatap dalam-dalam ke mata saya dan bertanya. “Jika seorang buta berkata padamu bahwa matahari itu gelap,” ujarnya, “Apa yang akan kau katakan padanya?”

Saya tersenyum. Saya menunduk sejenak, memejamkan mata, menghela nafas dan merasakan tiap butir udara mencurahkan kenyamanan dalam dada. Lalu saya angkat dagu, menjawab sembari tersenyum lagi. “Akan kukatakan padanya: ‘Ya. Engkau benar, Saudaraku. Tapi bukankah ia hangat? Dan kita sama-sama merasakannya.’”

Kawan saya tersenyum. Tulus, saya tahu. Rigi-rigi otot di pertemuan kelopak atas dan bawahnya menegas. “Terima kasih,” katanya. “Engkau mengajariku perkara yang sangat berharga.” Dia tersenyum lagi. Saya tak mengerti, lalu takjub menanya, “Apa itu?” Saya tak merasa sedang mengajarkan apapun. Saya hanya menjawab sebuah umpama.

“Engkau pasti tahu. Dan belajarlah untuk mengetahui bahwa engkau tahu.” Dia berlalu pergi.

Dia pergi meninggalkan perenungan untuk saya. Saya harus banyak belajar darinya. Dalam dekapan ukhuwah, meninggalkan renungan untuk saudara adalah sebuah karya dan keterampilan yang penuh makna.

“Engkau pasti tahu,” katanya. Saya hanya bisa meraba dan menduga. Bahwa agar terasa bagi sesama, dalam dekapan ukhuwah kita harus belajar menghadirkan rasa terbaik kita. Bukan gemerlap cahaya. Bahwa dalam dekapan ukhuwah yang berharga adalah apa yang bisa kita nikmati bersama, bukan sesuatu yang secara egois kita sesap sendiri. Inilah asas agung bagi buku ini, Dalam Dekapan Ukhuwah. Maka untuk meraihnya, kita telah diajari menelusur beberapa butir pokok:

Pertama; dalam dekapan ukhuwah, iman kita diukur dengan mutu hubungan yang kita jalin. Seorang mukmin adalah seorang yang sesama aman dari gangguannya, merasakan ramah dan akhlaknya, serta menikmati kemanfaatan harta dan jiwanya.

Kedua; seiring itu, sebuah hubungan dalam dekapan ukhuwah harus didasarkan pada iman. Sebab segala jalinan yang jauh dari iman pasti sia-sia di sisiNya. Atau dia menjadi penyesalan yang tak putus-putus. Atau menjadi permusuhan di hadapan pengadilan akhirat; saling tuduh, saling tuntut, dan saling menyalahkan. “Aduhai celaka aku,” keluh sang kekasih tanpa iman, “Anda saja tak kujadikan si Fulan sebagai kawan mesraku!”

Ketiga; bahwa baik iman maupun ukhuwah bukanlah hal yang semula jadi dan bisa muncul sendiri. Hubungan antara keduanya juga bukanlah kaidah sebab-akibat. Keduanya adalah pemahaman sekaligus keterampilan. Keduanya perlu ikhtiar dan kerja-kerja. Keduanya dihadirkan dalam diri dengan upaya. Kita harus mempelajari ilmunya, memahami makna-makna, memperhatikan kaidahnya, melatih dan mengamalkannya di alam pergaulan.

***

“Dan belajarlah untuk mengetahui bahwa engkau tahu,” kata kawan saya tadi.

Ah, barangkali ini sindiran terindah yang pernah saya terima. Biar saya tebak: belajar mengetahui bahwa saya ini tahu berarti saya tak boleh berhenti dalam kata. Saya tak boleh selesai sekedar berkalimat. Lembar-lembar buku Dalam Dekapan Ukhuwah ini menanti untuk diukirkan dalam diri melalui amal shalih di tiap bilangan hari.

Tulisan saya berlembar-lembar lalu mungkin menjadi bukti baginya bahwa “saya sedikit tahu”, meski ilmu saya sesungguhnya dangkal dan kering. Penyampaian yang meloncat-loncat adalah bukti betapa tak eloknya buku ini hendak menuntun pembaca. Pembacanya pasti merasa bukan digandeng mesra meniti makna, melainkan diajak meliuk, melompat, terbang, menukik, bahkan kadang terjerembab namun bangkit dan berlari lagi.

Juga, tak ada yang baru dari buku ini, kecuali mungkin komposisi dan cara menyajikannya. Dan sungguh ini buku yang tak selesai, tak final, tak hendak putus. Selalu masih ada benih terlewat yang akan berkembang jadi bunga-bunga penuh cinta di antara kita.

Adapun “belajar mengetahui bahwa saya tahu” adalah dengan mengerjakan segala yang tertulis. Sebelum begitu, maka buku ini hanya jasad mati. Sebab ruhnya ada di sini; dalam amal-amal yang saya harus berjuang untuk tahan dan teguh menjalani. Sebab itu saya mohon doa. Saya mohon doa agar mendapat karunia seperti disebut Sayyid Quthb ketika menutup tafsirnya tentang pohon yang baik di Surat Ibrahim. Karunia itu adalah keteguhan.

“Allah,” tulis Sayyid, “Meneguhkan orang-orang yang beriman di kehidupan dunia dan di akhirat dengan kalimat iman yang mantap di dalam hati, yang kokoh di dalam fitrah, dan yang membuahkan amal shalih nan selalu baru dan abadi dalam kehidupan.” Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji...

Mari saling mendoa dan mengejanya dengan kerja, dalam dekapan ukhuwah.

Minggu, 25 Juli 2010

Tips Menulis dari Indra Jaya Piliang

Berikut saya kumpulkan tips menulis Indra J. Piliang dari twitternya. Indra J. Piliang adalah penulis artikel yang produktif (400-an lebih artikel di media massa), jurnal, dan beberapa buku. Beberapa tips tersebut adalah: 

1.Kalau mau jadi penulis, pelajari terlebih dahulu tulisan orang lain. 
2.Jangan segan-segan mencorat-coret pinggiran buku yang Anda baca, sehebat apapun buku itu.
3.Kritik isi buku atau artikel yang Anda baca, ungkapkan pikiran Anda..
4.Kalau perlu, anda tulis tebal-tebal "kalimat bodoh!" "pikiran usang!" atas apapun yang Anda baca.
5.Sebelum punya "nama-besar", kuasai atau ahli satu spesialisasi isu. Koran butuh para spesialis.
6.Kalau belum percaya diri, print tulisan anda, baca keras-keras. Remas & buang ke tong sampah kalau terasa "biasa" & bilang "sampah!"
7.Minta beberapa teman anda membaca artikel atau tulisan anda. Dengar komentar mereka. "Gue baru tahu. Ini genuine!" Kirim!
8.Hilangkan tips lama: kirim 100 artikel ke koran besar, mosok satupun tak dimuat? Keliru. Yang bener, perbaiki artikel yg ditolak
9.Perhatikan tajuk rencana dan headline media. Tajuk rencana kadang berisi: "Undangan menulis!" Headline itu angle.
10.Jangan kutip Kompas, kalau Anda ingin kirim ke KoranTempo atau Sindo, kecuali Anda sudah punya nama.
11.Kalau tulisan Anda dimuat oleh satu koran, jangan pindah dulu ke koran lain. Bertahan saja, walau harus makan Indomie terus. Setialah.
12.Ketika menulis, bayangkan siapa pembaca anda: mahasiswa? policy maker? government? public? civil society?
13.Satu artikel pendek tak mungkin ditujukan ke semua kalangan pembaca. Jadikan pembaca anda spesialis juga, tapi itu ada di pikiran. 
14.Kalau anda tak berani mengirim ke media, simpan di laptop anda. Jadikan sbg bank naskah. Nanti berguna
15.Sediakan satu buku khusus untuk nulisi data-data apapun yang mungkin Anda tulis.
16.Artikel itu hanya terbagi 3: pembuka, isi, penutup. Anda bisa tempatkan isi di atas, tengah, bawah.
17.Ada orang yg biasa nulis subuh atau pagi. Ada jg pas tengah malam. Kalau saya: bisa pas lg meeting-ngetwit.
18.Bagi penulis, semua orang bisa jadi inspirasinya. Sopir taksi, mslnya. Atau syair2 lagu anak jalanan. Catat di notes anda.
19.Artikel itu punya "organisasi". Nah, ini butuh lebih dari sekadar tweet. Ada yg spiral, ada yg bulat, ada yg bentuk gitar spanyol.
20.Ada tulisan org yang mudah diedit, tp ada yg hanya penulisnya bisa mengedit. Sy masuk kategori ke-2.
21.Hindari sebut nama-nama orang atau perusahaan atau sesuatu yang berbau tuduhan. Koran tak berani bertaruh dengan polemik, kecuali terbatas
22.Ingat, setiap koran menyediakan dua halaman kosong buat penulis luar. Isi itu. Itu hak yang diberikan kepada publik.
23.Kalau tak yakin-yakin amat anda bisa "membagi-pikiran-perasaan", hindari jd Ghost writer, walau banyak duitnya. Anda bisa split!
24.Kalau tulisan pertama anda dimuat, bolehlah dilampiaskan dengan nyebur ke laut atau lari keliling Monas. Kasih diri anda semangat!
25.Penulis itu adalah orang yang berjarak dengan keadaan. Naluri penulis adalah kekasih sunyi. Di keramaian sekalipun. Siapkan mentalitas itu.
26.Tahan rasa lapar anda ketika menulis, walaupun sudah waktunya makan. Selesaikan dulu, karena bisa-bisa anda lupa.
27.Siapa orang pertama yang paling bisa menyelami tulisan anda? Ya, orang terdekat anda: ayah, ibu, istri, suami, kekasih. Minta mereka baca.
28.Sesekali, bolehlah ketemu atau telpon-telponan dengan redaktur opini media massa. Tapi ingat, mereka rada-rada sensitif, karena anda harus independen.
29.Kemana tulisan anda dikirim? Bgmn karakter media? Nah, ini butuh lbh dari sekadar twit, ya.
30.Media punya agenda-setting, framing, tipologi pembaca, bahkan: ideologi.
31.Ada orang bisa langsung nulis pakai komputer. Ada yang bisa hanya pakai tulisan tangan.
32.Dulu, saya nulis pakai tulisan tangan. Terasa mengalirnya tinta ke kertas putih. Baru diketik. Diprint. Dicorat-coret. Diedit. Baru dikirim
33.Kitab suci itu ditulis, batu nisan itu ditulis: jadilah penulis! 

Petugas Bea dan Cukai Aceh Tangkap Pemasok Sabu dari Malaysia

BANDA ACEH--MI: Petugas Bea dan Cukai Aceh menangkap seorang pemasok sabu (methampetamine) dari Malaysia melalui Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar. 

Penangkapan kurir sabu dengan inisial HBS, 26, warga Banda Aceh, tejadi sesaat setelah tersangka turun pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan AK-305 dari Kuala Lumpur, Malaysia, pada hari Jumat (23/7) pukul 12.20 WIB. 

Menurut Kepala Seksi Penindakan dan penyidikan Bea dan Cukai Aceh Edy Safutra, petugas berhasil menyita sabu-sabu seberat 158 gram yang disembunyikan dalam botol sabun cair. 

"Hasil temuan itu kemudian dibuktikan dengan hasil uji laboratorium di Medan. Setelah terbuktimethampetamine, petugas langsung berkoordinasi dengan Direktorat Narkoba Polda Aceh untuk menangkap pemilik sabu tersebut," kata Edy Safutra di Kantor Bea dan Cukai Banda Aceh, Sabtu (24/7). 

Menurut pengakuan tersangka, sabun cair berisi enam paket sabu diterima di Kuala Lumpur dari seorang pria berinisial D. Atas jasanya membawakan paket itu ia mendapat imbalan Rp3 juta yang akan di berikan oleh M selaku penerima yang telah menunggu di Banda Aceh. 

Atas perbuatannya, tersangka HBS, telah melanggar Undang-Undang No 35 tahun 2009, tentang Narkotika dangan ancaman pidana mati atau hukuman penjara seumur hidup. 

Selama dua tahun terakhir, petugas Bea dan Cukai Aceh telah tiga kali menangkap pelaku penyeludupan sabu dari Malaysia melalui Bandara Sultan Iskandar Muda. Sebelumnya, hampir satu kilogram sabu disita petugas dari tiga orang pelaku yang berhasil ditangkap petugas. (HP/OL-01)

"Tak inginkah engkau menjabat tanganku dan mengantarku ke daun pintu, sambil tersenyum dan membisik lembut, "Selamat berjuang, Bang!" *tertular virus dari blog Syaikhul Bujang*

Jumat, 23 Juli 2010

Asal Usul Sistem Matrilineal di Minangkabau

Dulu, ketika SD dan SMP, saya menelan mentah-mentah saja “keanehan” sistem nasab di dataran Minangkabau yang matrilineal. Ketika SMA, saya mulai bertanya-tanya, “Mengapa di daerah yang katanya adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah menerapkan sistem keturunan dan waris yang tak sesuai syariah? Namun saya tak juga mendapat jawaban. Hingga akhirnya, saya menemui jawabnya dalam sebuah novel berjudul “Negara Kelima” karya ES Ito.

Novel ini sebenarnya bergenre thriller sejarah yang –menurut saya- sangat mengasyikkan. Cerita tentang satu Kelompok Patriotik Radikal (KePaRad) yang dicap sebagai “teroris kiri” oleh pihak kepolisian khususnya Detasemen Khusus Anti Teror. Gerakan KePaRad yang menggunakan sistem sel ini bercita-cita memproklamasikan Negara Nusantara dan menggulingkan pemerintah NKRI yang sah dengan dasar ideologi kenangan romantis kejayaan Atlantis di masa lalu yang tak lain terletak di Indonesia. But, soal isi novel keseluruhan dapat kita ulas di lain waktu.

Dalam salah satu babnya, melalui narasi dan dialog yang disampaikan Malin Saidi, seorang tukang kaba menjelaskan akar sejarah perubahan sistem patrilineal menjadi matrilineal. Berikut informasi dari potongan novel tersebut yang saya gubah seperlunya:

Masa abad kemudian berganti. Pemimpin silih berganti tapi tetap dengan gelar Datuk Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Hingga datang masanya kejayaan Majapahit, kerajaan besar di daerah Jawa. Dengan panglimanya, Adityawarman, kerajaan itu bersiap menyerang dan menguasai Minangkabau. Minangkabau adalah kerajaan yang dikenal sebagai nagari tanpa polisi. Kerajaan yang tak pernah menyiapkan angkatan perang karena mengutamakan kedamaian bahkan untuk daerah rantau dan pengaruh.

Dicarilah runding dan mufakat bagaimana menghadapi tentara Majapahit pimpinan Adityawarman. Demi kemaslahatan rakyat, perang harus dihindari tapi muslihat perlu untuk dicari. Datuk Parpatiah Nan Sabatang menyadari semua kelemahan itu. Dalam musyawarah, ia memaparkan rencananya untuk tidak menyambut tentara Adityawarman dengan senjata tetapi dengan kebesaran. Adityawarman akan dipinangkan untuk Puteri Jamilan saudara dari Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatiah Nan Sabatang. Tentara Jawa itu akan disambut dengan adat dan lembaga. Tidak aka nada perang yang hanya akan menimbulkan kesengsaraan rakyat.

Akhirnya Adityawarman sampai di ranah Minangkabau. Tentara Jawa itu terkejut karena mereka disambut dengan kebesaran bukan perlawanan perang. Utusan dari Pagaruyung datang menemuinya. Menyampaikan keinginan Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatiah Nan Sabatang, pucuk pimpinan alam Minangkabau untuk meminang Adityawarman untuk Puteri Jamilan. Adityawarman bingung. Ia tidak mungkin mengobarkan perang untuk menghadapi rakyat Minangkabau. Tawaran itu juga bisa langsung membuatnya menjadi raja Minangkabau. Datuak Katumanggungan bersedia memberikan jabatan pucuk alam Minangkabau pada Adityawarman sepanjang ia tidak memerangi rakyat Minangkabau dan harus mau menikah dengan Puteri Jamilan.

Menyadari gelagat Adityawarman akan menerima tawaran itu, Datuk Parpatiah Nan Sabatang mencari siasat agar raja-raja berikutnya tetap dianggap menerima warisan kerajaan dari Datuak Katumanggungan bukan dari Adityawarman. Ditetapkanlah adat Batali Bacambua yang langsung merubah struktur masyarakat Minangkabau.

Nan dikatokan adat nan batali cambua, iyolah hubungan mamak dengan bapak, dalam susunan rumah tango, sarato dalam korong kampuang. Dek Datuak Parpatiah nan Sabatang, didirikan duo kakuasaan, balaku diateh rumah tango, iyolah tungganai jo rajonyo, nan korong kampuang barajo mamak, rumah tango barajo kali, di rumah gadang batungganai…Dicambua tali malakek”

Adat batali bacambua mengatur hubungan antara bapak dan mamak. Intinya, di dalam rumah tangga terdapat dua kekuasaan, pertama kekuasaan bapak, kedua kekuasaan Mamak, yaitu saudara laki-laki dari pihak ibu. Pemikiran itu dibawa Datuk Parpatiah Nan Sabatang pada musyawarah dengan cerdik pandai di balairung sari. Menyadari penting perubahan mufakat didapatkan.

Sejak saat itu susunan aturan masyarakat berubah. Dahulu bapak mewariskan kepada anak sekarang harus kepada kemenakan. Dahulu suku didapat dari bapak, sekarang dari ibu. Ini tidak lebih dari kecerdikan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Dengan datangnya Adityawarman, ia tetap menginginkan agar kekuasaan tetap berasal dari Datuak Katumanggungan. Dengan waris turun dari mamak, bukan dari bapak ini, nantinya akan memosisikan Aditywarman tidak lebih dari raja transisi bukan raja sebenarnya dari alam Minangkabau. Sebab Datuak Katumanggungan yang menyerahkan kekuasaan padanya, dengan sistem adat yang baru, terkesan hanya menitip kekuasaan. Hingga datang masanya nanti kemenakannya akan lahir dari perkawinan Puteri Jamilan, adiknya dengan Adityawarman.

Dengan adat batali bacambua, waris diterima oleh anak Adityawarman bukan dari bapaknya, tapi dari mamaknya yaitu Datuak Katumanggungan. Adityawarman tidak pernah dianggap raja Minangkabau dalam Tambo. Ia hanya raja transisi, menunggu anaknya lahir dan menerima waris dari mamaknya, Datuak Katumanggungan. So, ini jelas murni disebabkan strategi politik belaka di zaman itu.

NB: Saya mempercayai cerita versi ini, karena sependek ini belum menemukan referensi ilmiah yang bisa menjawab tanya saya selama ini. Jika banyak terjadi kesalahan dalam catatan ini, mohon diluruskan. Wallahua'lam.

Rabu, 21 Juli 2010

(Puisi) Janji Lelaki Sunyi

Janji Lelaki Sunyi

Oleh: Anugrah Roby Syahputra

di rak buku tua itu dulu
tatapan mata kita yang syahdu berpagut
jadi nafas satu denyut

lalu bincang-bincang kita mengalir
dari soal harga cabe yang naik
sampai pilkada yang kabarnya dimeriahkan money politics

dan tiba-tiba hujan merintik meningkahi percakapan kita
aku diam sejenak. begitupun kau.

tapi tak cuma sampai di situ
kau lalu tuangkan secangkir kopi panas
yang kauracik dari bubuk yang kubawa sebagai oleh-oleh dari Simpang Tujuh Ulee Kareng
harumnya yang sedap membuat kita kembali bersemangat
dan pembicaraan kita semakin hangat

namun aku harus jujur
bahwa tak semua yang kauminta slalu bisa aku penuhi
hatiku seolah tak sudi
lidahku pun kelu untuk bersaksi
bukan tipeku mudah ingkari

ah, biarlah kau kecewa padaku semenit-dua menit
asal kau tahu bahwa janji itu pasti kutepati


Banda Aceh, 4 Juni 2010

Puisi ini kutulis sebagai ganti keterlambatanku menyampaikan selamat atas hari lahir seorang sahabatku yang kebetulan adalah jurnalis. Alhamdulillah, dia tak lagi kesal setelah menerima puisi ini. Dia bahagia. Begitupun aku. 


Minggu, 18 Juli 2010

Dalam sunyi ia berbisik lirih, "Mengenalmu adalah ujian bagiku."

Ramadhan, Dagelan dan Harapan Perbaikan

Bulan suci yang dinantikan kini telah tiba
Ramadhan kembali hadir dengan rahmat-Nya
Rindu hati terasa menanti bulan nan Indah
Yang berhias amaliah indah dan ceria
(Ramadhan Kembali, Justice Voice)

Entah sudah berapa kali Ramadhan kita lalui sepanjang hidup.Sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun atau bahkan lebih dari itu? Mungkin saja. Sepanjang Ramadhan yang telah dilalui itu tentunya penuh dengan kenangan tersendiri. Mungkin banyak dari kita yang tersenyum simpul saat mengingatnya, tertawa, terharu, menangis, marah, menyesal, atau malah biasa saja.

Ya. Ramadhan memang bulan istimewa. Satu dari bulan-bulan haram yang di dalamnya berhimpun pelabagai keutamaan. Kitab suci umat Islam pertama kali diturunkan di bulan ini. Sehingga spirit perbaikan untuk kembali kepada tuntunan Al-Qur’an terasa begitu menggebu. Selama satu bulan penuh pula, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Bahkan, Allah Subhanahu wa ta’ala menghadiahkan bonus satu lailatul qadar yang khairum min alfi syahrin (lebih baik dari seribu bulan) bagi hamba-hambaNya yang sungguh-sungguh ingin menggapainya.

Karenanya, tak heran jika kita melihat gairah keberagamaan umat meningkat tajam di bulan-bulan ini. Orang-orang yang biasanya nyaris tak pernah menjejak masjid, tiba-tiba jadi rajin shalat berjamaah. Perempuan yang biasanya berpakaian sesuka hati membiarkan auratnya dipamerkan mendadak mengenakan kerudung muslimah. Acara-acara pengajian atau majelis ta’lim yang biasanya sepi menjadi ramai dikunjungi. Seminar, bedah buku dan pelatihan keislaman semakin menjamur dan diminati banyak orang. Para pedagang yang menjual berbagai ‘atribut simbolis’ keIslaman seakan mendapat durian runtuh dengan banjirnya order.

Bahkan televisi yang sehari-harinya kita lihat didominasi tayangan tak bermanfaat semacam ‘ghibah-tainment’, komedi berbumbu seks, hiburan musik dengan dengan lirik dan klip tidak senonoh serta sinetron yang mengangkat keglamouran, kekerasan dan pergaulan bebas secara drastis berubah 180 derajat. Berbagai acara berbungkus “spesial Ramadhan” bak cendawan di musim hujan. Ceramah agama yang biasanya hanya mendapat jatah singkat di kala subuh kini bertaburan di jam-jam prime time.Sinetron –yang katanya- bernafas religi setiap hari berjejalan di kotak Pandora itu, meski konten utamanyamasih tetap di romantisme picisan dan sebagainya. Tayangan nasyid yang di bulan lain tidak kebagian tempat kini juga berlomba-lomba ditayangkan. Jika saja nuansa seperti ini terus bertahan di sebelas bulan berikutnya, tentu akan menjadi tradisi yang mengagumkan. Subhanallah.

Kesalehan Temporal, Dagelan dan Hipokrisisme

Sayangnya, semua rutinitas yang berlangsung di bulan Ramadhan itu tak akan bertahan lama. Selepas lebaran Idul Fitri nanti, seperti tahun-tahun sebelumnya, umat akan kembali ke habitatnya lagi. Majelis-majelis ilmu akan ditinggalkan, tradisi tadarusan juga menghilang, jamaah shalat di masjid kembali menjadi sunyi. Hanya menyisakan beberapa kakek lanjut usia dan musafir yang numpang buangair di kamar mandinya. Apalagi subuh, persis seperti lirik nasyid Peristiwa Subuh-nya Raihan, mata yang celik dipejam lagi, hatinya penuh benci, berdengkurlah kembali. Astaghfirullah. Padahal, sebagaimana dinukil Dr. Raghib As-Sirjani dalam salah satu kitabnya, seorang penguasa Yahudi pernah mengingatkan, “Kami hanya takut pada umat Islam jika jamaah shalat subuhnya sama banyak dengan jamaah shalat jumatnya.

Lalu bagaimana dengan para perempuan muslimah? Jilbab yang sudah begitu anggun menutupi aurat para muslimah di bulan pengampunan itu kembali ditanggalkan. “Yang penting kan hatinya yang dijilbabin, “demikian mereka berdalih. Naudzubillah min dzalik. Tak tahukan mereka bahwa dengan aurat yang mereka umbar kepada lawan jenisnya itu menjadi fitnah yang mengkhawatirkan. Inilah penyebab kemerosotan moral di abad akhir zaman. Ketika dorongan syahwat dinomorsatukan dan iman disingkirkan di dalam mimbar dan mihrab.

Para pejabat yang selama bulan suci senantiasa terlihat menegakkan tarawih berjamaah dan tersedu-sedan bermuhasabah diri di majelis zikir yang disiarkan televisi kini kembali pada watak asli. Wajah memang masih dibasuh wudhu’, kening memang masih terus menyentuh lantai dalam sujud-sujud syahdu dhuha dan qiyamullail, namun soal perut dan di bawahnya adalah hal berbeda. Sebagaimana “guru” mereka, sang televisi yang menampakkan wujud aslinya, menuhankan rating dan iklan demi menyuapi keserakahan kapitalis. Masya Allah.Bukankah seharusnya Ramadhan menghasilkan alumni yangmuttaqin(bertaqwa)?

Jika masyarakat kembali lagi dalam budaya konsumtif materialistiknya yang cenderung permisif dan hedonis, maka bukankah segala performa kesalehan selama Ramadhan hanyalah dagelan belaka? Ini hanya akan menjadi pelanjut kultut hipokritisme (kemunafikan) di republik ini. Semoga kita dapat melalui Ramadhan dengan penuh makna dan diwisuda dengan nilai cum laude agar mampu men-sibghah Indonesia dengan semangat perbaikan.

NB: Ditulis khusus untuk buletin JPRMI Wilayah Sumatera Utara

Sabtu, 17 Juli 2010

Pena, Tinta dan Secangkir Semangat Perlawanan

Pena, Tinta dan Secangkir Semangat Perlawanan

Oleh: Anugrah Roby Syahputra

"
Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah. Ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tak terarah" (Qatadah dalam Tafsir Al-Qurthubi, 2002)

Tak seorangpun yang memungkiri bahwa menulis adalah nikmat. Berbagai penelitian telah membuktikan hal tersebut. Fatima Mernissi, seorang penulis wanita tersohor, menyebutkan bahwa setiap satu goresan tulisan dapat menghilangkan satu keriput di kantong mata. Kemudian diketahui pula seorang psikolog peneliti, Dr. James W. Pennebaker, mengamini keyakinan Mernissi itu dengan membuktikan bahwa menulis dapat meningkatkan kekebalan tubuh seseorang. Dari  mahasiswa yang dia teliti didapatkan kunjungan ke klinik kesehatan menurun dengan cukup signifikan setelah mereka menulis. Pemeriksaan darah yang dilakukan setelah mereka menulis pun menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih.

Fakta itu dia tuliskan dalam bukunya 
Opening Up: The Healing Power of Expressing Emmotions. Sampai-sampai menulis bisa menyembuhkan gangguan kejiwaan yang dialami oleh John Mulligan, seorang veteran perang Vietnam. Belum lagi cerita-cerita orang yang berhasil bebas dari belenggu kegelisahannya dengan menulis diary. Ya, menulis itu memang nikmat. Tapi bukan untuk itu saja kita diperintahkan menulis. Nikmat menulis itu seyogianya bukan untuk pribadi saja, melainkan juga untuk kemanfaatan sebanyak-banyak orang agar kita bisa menjadi sebaik-baik manusia (khairun-naas).

Berbagai literatur menunjukkan pada kita tentang keutamaan menulis dalam perspektif Islam. Menulis juga merupakan sebuah ibadah yang mulia. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT bersumpah, “
Nuun. Demi pena dan apa yang ia tulis”. Ini adalah cara Allah memuji para penulis. Dalam ilmu tafsir, jika Allah sudah bersumpah dengan nama mahluk, itu menandakan bahwa mahluk itu dimuliakan sebab ia memiliki arti penting bagi kehidupan sebagaimana Allah pernah bersumpah demi waktu, bulan, matahari, fajar dan sebagainya.

Demikianlah Allah memuliakan para penulis. Ini artinya menulis bukanlah amalan sembarangan yang tidak berharga. Menulis adalah alat perjuangan dalam arti yang sangat luas. Tidakkah kita ingat bahwa Imam Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, “
Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”?

Tradisi Kepenulisan dalam Sejarah Islam

Sejarah Islam, kata tokoh jihad Afghanistan Asy-Syahid DR. Abdullah Azzam, hanya dapat ditulis dengan tinta emas para ulama dan darah merah para syuhada. Maka tak heran jika kita mengorek kembali keping mozaik kehidupan generasi awal umat ini selalu menyertakan para penulis di balik kejayaannya. Hampir semua ulama yang menjadi –meminjam istilah Anis Matta- arsitek peradaban adalah para penulis ulung dengan karya-karya fenomenal yang sampai sekarang masih dijadikan referensi berbagai macam disiplin ilmu di seluruh dunia.

Dunia Barat pun ikut tercengang menyaksikan kegemilangan Islam yang dibangun dengan budaya literasi yang kokoh itu. Salah seorang ilmuwan mereka sendiri secara tulus mengakuinya,”
Sepanjang masa kekhalifahan Islam, para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya; menyediakan peluang kepada siapapun yang membutuhkan; memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah mereka; menjadikan pendidikan menyebar luas hingga ilmu, sastra, filsafat dan seni mengalami kejayaan luar biasa yang membuat Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.”(Will Durrant, Story of Civillization).

Dalam catatan emas itu, kita akan temukan torehan-torehan luar biasa para tokoh termasyhur dari kalangan ilmuwan Islam. Di bidang kedokteran, Ibnu Sina –atau Avicenna- menulis kitab-kitab tentang obat dan jamu-jamuan seperti
Al-Qanun Fi Ath-Thibbi dan Asy-Syifa’. Kemudian ada Al-Khawarizmi, peletak dasar ilmu matematika yang menulis kajian awal tentang aljabar dalam Al Jabru Wal Mughabala. Selain itu, ada Ibnu Rusyd yang mematahkan argumen sesat para filosof Yunani yang diagung-agungkan dunia semacam Aristoteles dalam Bidayatul Mujtahid dan Fasli Al- Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syariat. Ditambah lagi sederetan nama lain seperti Al-Haitsam si “Bapak Optik” dan penemu kamera analog. Al-Idrisi bapak kartografi dari pulau Sisilia, Italia. Ibnu Khaldun, Al-Kindi, Al-Biruni dan masih banyak lagi.

Tak ketinggalan para ulama pewaris Nabi mentradisikan menulis dalam hidupnya. Kapasitas dan produktivitasnya diakui. Mereka sadar betul bahwa ini adalah sarana pengikatan dan pewarisan ilmu. Muhammad bin Idris atau yang lebih dikenal sebagai Imam Syafi’i menulis karya masterpiece-nya kitab
Al-Umm yang terdiri dari 4 jilid dan 128 masalah dan Ar-Risalah Al-Jadidah. Bahkan konon kabarnya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bisa menyelesaikan sebuah kitab dalam sekali duduk. Tak kalah hebat dengannya, Ibnu Katsir pun tidak berpuas diri hanya menulis tafsir, tapi juga kitab lainnya semisal Al-Bidayah Wan Nihayah. Lalu Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dengan karangan spektakulernya Raudhatul Muhibbin.

Di kalangan khalaf, kita bisa mendapati hal serupa. Sayyid Quthb menulis tafsir
Fii Zhilalil Qur’an sebagian besarnya di balik jeruji penjara Mesir. Buku ini kemudian menjadi inspirasi bagi banyak gerakan Islam di seluruh dunia. Hal serupa juga dilakukan oleh ideolog sekaligus pendiri organisasi Ikhwanul Muslimin, Hassan Al-Banna. Wasiat-wasiatnya untuk generasi penerus estafet dakwah ia tuliskan di berbagai media. Kumpulan tulisan beliau tersebut akhirnya dikompilasi dalam sebuah kitab berjudul Majmu’atur Rasail yang hingga kini menjadi pemantik gelora jihad para aktivis di segenap penjuru untuk membangkitkan kembali kejayaan yang telah lama pergi.

Di samping itu, salah satu yang paling anyar adalah Dr. Aidh Al-Qarni. Ulama muda yang hafal ribuan hadits dan puluhan ribu bait syair ini telah berhasil menggugah kesadaran spiritual ummat Islam dengan karya-karya beliau seperti
La Tahzan. Sementara itu di bidang pemikiran dan fiqih, kita mengenal nama ulama kontemporer asal Qatar Dr. Yusuf Al-Qaradhawy yang menulis puluhan buku yang mengulas berbagai problema kekinian seperti Al Halal wa Al-Haram fi Al-Islam, Fiqh Zakat, Fiqh Al-Thaharah, Fiqh Al-Ghina’ wa Al-Musiqa dan yang terbaru: Fiqh Jihad. Buah tangan beliau ini menjadi rujukan di berbagai perguruan tinggi dan institusi pengkajian Islam lainnya.

Begitulah para ulama mencontohkan. Karya-karya mereka abadi dan dikenang sepanjang masa. Kontribusinya berlanjut tanpa pernah terputus. Inilah amalan yang terus berlanjut meski nyawa telah berpisah dari jasad. Rasulullah SAW bersabda, “
Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara : shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya”. Mereka percaya bahwa menulis adalah bagian dari cara untuk mentransfer ilmu dan semangat mereka. Pekerjaan menulis adalah ibadah yang dianjurkan. Ada sebuah keyakinan mendalam bahwa menulis adalah ladang amal tempat kita berinvestasi agar memiliki tempat yang nyaman di kampung akhirat. Dengan menulis, ilmu-ilmu itu dapat dikonsumsi manusia dari berbagai zaman meski penulisnya telah mati sebagaimana sebuah pepatah yang berbunyi scripta manent verba volant (yang tertulis akan abadi, yang terucap akan berlalu bersama angin). Dengan begitu, jika kita mau menghitung-hitung kalkulasi pahala yang kita peroleh dari amalan menulis ini akan dengan sangat cepat berlipat ganda. Belum lagi bonus-bonus tambahan yang dijanjikan-Nya jika kita menjadi fasilitator hidayah bagi orang lain. Bukankah Sang Nabi pernah menyampaikan bila kita menjadi perantara hidayah, maka itu lebih baik bagi kita daripada dunia dan seisinya. Dalam riwayat yang lain disebutkan lebih baik dari unta merah, kendaraan termewah masa itu.

Itulah sebabnya Helvy Tiana Rosa menuliskan
Ketika Mas Gagah Pergi dan tergerak mendirikan komunitas penulis Forum Lingkar Pena yang berasaskan Islam. Banyak sekali muslimah yang tergugah kesadarannya untuk berhijab secara sempurna setelah membaca kumpulan cerita pendek karangan beliau tersebut. Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El-Shirazy pun tak kalah daya dobraknya. Novel-novel tersebut mampu secara apik dan estetik menyadarkan banyak orang bahwa agama ini ternyata mengatur etika komunikasi dengan lawan jenis. Publik disuguhkan pemahaman yang membuat mereka tersadar bahwa selama ini ada norma yang dilanggar. Orang-orang menjadi tahu bahwa pacaran adalah bentuk lain dari zina yang diharamkan. Mereka diajari tanpa merasa digurui. Ini baru karya sastra, yang fiktif dan dikemas dengan gaya pop.

Belum lagi yang serius dan ilmiah. Lihatlah bagaimana
Ma’alim Fith Thariq­-nya Sayyid Quthb dan Ayaturrahman fii Jihadil Afghan-nya Abdullah Azzam telah sukses memompa gelora jihad di tengah ummat yang sempat kehilangan ghirah dan kepercayaan diri. Hal ini pula yang kemudian “diimani” Pramoedya Ananta Toer –tentu dengan akidah kirinya-,”Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Hingga ia menulis tetralogi Buru yang terus menjadi perbincangan hangat di berbagai forum itu.

Menulis, Instrumen Perlawanan

Alvin Toffler, seorang futurolog dan pakar ilmu sosial menyatakan bahwa abad ini adalah era informasi global sehingga dakwah konvensional yang dilakukan para ulama selama ini sudah tidak relevan lagi. Sebab, mayoritas umat manusia sudah tak peduli lagi terhadap nasehat lisan para syaikh dan ustadz. Mereka kini lebih percaya kepada media massa yang telah memberikan mereka kepuasan. Sampai-sampai ada ungkapan seperti
mass media is our second god. Na’udzubillah min dzalik. Tak tahukah mereka bahwa dengan mendewakan media massa, mereka telah berbuat kemusyrikan. Ada thagut, sesuatu selain Allah yang mereka jadikan sesembahan. Betapa miris memang nasib umat Islam hari ini yang telah jauh dari tuntunan Qur’an dan Sunnah. Banyak dari mereka yang telah menjadi korban ghazwul fikr (invasi pemikiran) yang dilancarkan oleh musuh-musuh Allah SWT.

Hari ini dunia kita adalah dunia yang berbeda. Kapitalisme secara keji telah melakukan penindasan terhadap dunia ketiga dan ummat Islam. Kejahatan Zionis Internasional dengan berbagai lembaga dan organisasi mereka semacam Freemasonry, Illuminati dan klub-klub berkedok sosial semakin menggurita. Kemaksiatan merajalela gara-gara mayoritas kaum muslimin kesulitan keluar dari jerat kemiskinan. Fakta-fakta ini merupakan sebuah tantangan bagi para dai yang mengaku telah mewakafkan jiwanya di jalan penuh onak dan duri ini.

Oleh karena itu, mantan Mursyid Aam Ikhwanul Muslimun, Syaikh Umar At-Tilmisani mengingatkan para penggiat dakwah, “
Kami telah belajar banyak dari pemimpin kami Imam Hasan Al-Banna bahwa sarana-sarana dakwah hari ini berbeda dengan apa yang berlaku kemarin. Menjadi kewajiban seluruh da’i untuk menguasai dengan baik seluruh alat-alat informasi dan sarananya.” Di sinilah peran karya tulis. Ia adalah senjata perlawanan yang paling efektif dalam as-shira’ul wujud (pertempuran eksistensi) antara Al-Haq dan Al-Bathil. Kita telah menyaksikan dalam perjalanan peradaban manusia, peristiwa-peristiwa besar selalu saja diiringi oleh karya-karya hebat yang mampu memengaruhi publik.

Sebut saja salah satunya Adam Smith. Orang-orang mengenalnya sebagai “Bapak Ekonomi Liberal”. Gagasannya tentang ekonomi terangkum dalam buku
An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth Nations (Suatu Penyelidikan tentang Sebab-Musabab Kemakmuran Bangsa-bangsa). Karyanya yang pertama kali terbit tahun 1776 itu telah dicetak ulang puluhan kali dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pemikirannya –yang pro pasar bebas- kemudian mengakibatkan terjadinya kesenjangan antara negara maju dan modern (developed countries) dan negara-negara terbelakang (underdeveloped countries). Hal itu semakin diperkuat oleh David Ricardo dengan bukunya Principles of Political Economy and Taxation. Akibatnya terasa hingga kini. Kapitalisme dan Liberalisme menghegemoni bumi. Dunia ketiga pun menjadi korban sistem yang tak adil ini.

Di keping sejarah yang lain dunia juga mengenal seorang pengkritik ajaran Smith. Ia menuliskannya dalam satu buku tebal berjudul
Das Kapital. Ya, dia adalah Karl Marx (1818-1883). Hidupnya yang berkubang kemelaratan membuat ia membenci kapitalisme yang hanya melahirkan segelintir orang kaya dan memarginalkan lebih banyak orang. Marx mengkritik kebijakan kapitalis soal uang dan komoditas serta pemerasan tenaga kerja demi keuntungan pemilik modal. Semua ini baginya hanya akan menciptakan kolonisasi baru. Hingga akhirnya karya masterpiece-nya ini pun menjadi “kitab suci” bagi gerakan kiri di seluruh dunia sampai saat ini. Termasuk di sini, di zamrud khatulistiwa ini.

Beranjak ke negeri tirai bambu, membaca lintasan-lintasan waktu yang lalu, kita akan menemukan figur “Bapak Revolusi” Sun Yat Sen (1844-1925) yang menelurkan
Fundamentals of National Reconstructions (1923). Lelaki itu memang cuma dua tahun memimpin Republik Cina, namun pemikirannya abadi. Bahkan diadopsi oleh founding father kita, Soekarno. Tiga prinsip revolusi Sun Yat Sen –nasionalis, demokrasi dan kesejahteraan- diubah menjadi Pancasila.Nasionalisme Cina itu lantas berubah sejak Mao Tse Tung memproklamirkan komunisme sebagai ideologi Negara pada tanggal 1 Oktober 1949. Mao sempat menuliskan esai dan puisi yang dibukukan. Salah satunya berjudul On Guerilla Warfare. Tampaknya buku itu memicu logika Jenderal Abdul Haris Nasution –tokoh penting militer Indonesia masa itu- untuk menyiasati strategi pertempuran menghadapi komunis di tahun 1965. Sang jenderal popular dengan buku rujukan Pokok-pokok Perang Gerilya.

Sungguh dari berbagai kisah tersebut, saya hanya ingin menarik satu benang merah. Bahwa perubahan dan perlawanan tak bisa dipisahkan dari peranan sebuah karya tulis sebagai produk dari kerja kreatif menulis. Apapun peristiwa besar yang terjadi, pasti selalu ada buku-buku yang mengiringi perjalanan suksesnya. Terlepas apakah itu baik atau tidak. Semua sepakat bahwa pena adalah senjata untuk melakukan perlawanan.

Pena adalah alat untuk mendesain perubahan.Kegiatan menulis (buku) kemudian menjadi salah satu prasyarat dalam mengubah dunia. Adolf Hitler pun berbuat serupa. Selama Sembilan bulan mendekam di penjara, ia menulis
Mein Kampf. Buku yang mengagungkan ras Aria dan menyebar kebencian terhadap Yahudi itu laris manis. Dalam waktu tak begitu lama bukunya terjual 5 juta kopi. Buku itu pula yang menyulut Perang Dunia II yang membantai 16 juta orang. Pena memang memiliki kekuatan dahsyat. Wajar saja bila jagoan perang Prancis, Napoleon Bonaparte pun berujar, “Saya lebih takut pada sebuah pena ketimbang seribu pedang.

Jadi, jika ingin berjuang menulis buku memang sebuah keharusan. Meski terkadang, aral yang melintang terasa sangat pahit. Wiji Thukul menghilang pada 27 Juli 1996 akibat puisi-puisinya yang dinilai subversive oleh rezim represif Orde Baru. Di belahan dunia lain, Nikolai Vaptsarop mati dieksekusi regu tembak penguasa fasis Bulgaria gara-gara buku sajaknya.

Persoalannya sekarang, relakah kita membiarkan orang-orang kafir dan musyrik yang menata kehidupan kita sesuai gaya hidup hedonis permisif mereka? Atau menjadi boneka dalam permainan yang mereka dalangi untuk mencipta
the new world order yang mereka cita-citakan?Al Islam mahjubun bil muslimun. Kemuliaan Islam terhijabi oleh kebodohan-kebodohan sikap dan perangai ummatnya. Serbuan pemikiran semakin tajam. Sementara dari internal umat ini, telah muncul duri dalam daging yang hendak menggembosi kekuatan Islam dengan pemikiran sekuler-liberalnya. Sudah saatnya kita mengambil peran untuk merebut kemenangan yang sudah dijanjikan-Nya. Sudah tiba masanya kita bergegas menjemput dan mengakselerasi terwujudnya peradaban mulia di bawah naungan Khilafah ala Minhajin Nubuwwah dengan melahirkan karya-karya tulis yang mampu membebaskan ummat dari belenggu kejahiliyyahan modern, mengarahkan mereka agar memiliki afiliasi, partisipasi dan kontribusi tehadap perjuangan dakwah.

Mudah-mudahan tidak ada alasan lagi untuk menuliskan kebaikan jika kita benar-benar mukmin yang meyakini adanya Hari Akhir dan balasan kebaikan di syurga-Nya yang dipenuhi bidadari dan mengalir sungai-sungai di bawahnya. Tidakkah kita malu jika mendengar bahwa Imam Malik bisa mengerjakan kitab
Al-Muwaththa’-nya di dalam perjalanan safar beliau? Atau kisah Buya Hamka yang menyelesaikan Tafsir Al-Azhar di dalam kurungan hotel prodeo? Sekaranglah saatnya. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

nb: naskah ini awalnya diikutsertakan dalam seleksi naskah untuk antologi esai "Islam Mengajarkan Tradisi Menulis" yang digagas oleh Edo Segara. Namun naskah ini "belum beruntung" . Buku itu sendiri kabarnya akan diterbitkan oleh Muda Cendikia.

 

Kopi dan Kehidupan

Suatu hari beberapa alumni Universitas California Berkeley yang sudah bekerja & mapan dalam karir mendatangi profesor kampus mereka yang kini sdh lanjut usia. Mereka membicarakan banyak hal menyangkut pekerjaan maupun kehidupan mereka.

Sang profesor lalu ke dapur  dan kembali dengan membawa setéko kopi panas. Di sebuah nampan ia membawa bermacam-macam cangkir. Ada yang terbuat dari kaca, kristal, melamin, beling dan plastik. Beberapa cangkir nampak indah dan mahal, tetapi ada juga yg bentuknya biasa-biasa saja dan terbuat dari bahan yang murah. "Silahkan masing-masing mengambil cangkir & menuang kopinya sendiri," sang Profesor mempersilahkan tamu-tamunya.

Setelah masing-masing sudah memegang cangkir berisi kopi, profesor itu berkata, "Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir-cangkir yang bagus & yang tertinggal kini hanya cangkir murah & tidak begitu menarik. Memilih yang terbaik adalah hal yang normal. Tetapi sebenarnya justru disitulah persoalanya. Ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus, perasaan kalian menjadi terganggu. Kalian mulai melihat cangkir-cangkir yang dipegang orang lain & membandingkannya dengan cangkir yang kalian pegang. Pikiran kalian terfokus kepada cangkir,padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya, melainkan kopinya."

Sesungguhnya kopi itu adalah kehidupan kita, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, uang & posisi yang kita miliki. Jangan pernah membiarkan wadah dari kopi mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Orang boleh saja menaruh kopi ke dalam gelas kristal yang sangat mahal & indah, tetapi belum tentu mereka dapat merasakan nikmat dari kopi tersebut. Artinya, ada sebagian orang yang menurut penglihatan jasmaniah kita mereka begitu beruntung dan berbahagia, tetapi belum tentu mereka dapat menikmati indahnya karunia kehidupan yang Allah berikan.

Yuk kita belajar bersyukur dengan kreativitas menapaki hidup. Karena, kata Maidany, orang beriman itu unik.

Sabtu, 03 Juli 2010

beres-beres rumah plus siap2 menuju Pantai Ujong Batee. It's FLP Aceh Fun Day.. ^_^

Komite Pengingat Janji (Catatan Ngayal Seorang Pelupa)

Komite Pengingat Janji

(Catatan Ngayal Seorang Pelupa)

Oleh: Anugrah Roby Syahputra

Indonesia. Negeri gemah ripah loh jinawi. Syaikh Ath-Thantawi pernah menyebutnya sebagai sepenggal firdaus di muka bumi. Sementara Max Havelaar menjulukinya zamrud khatulistiwa. Yah, intinya republik ini adalah tanah yang kaya. Bumi dan lautnya bisa lebih dari cukup untuk menyejahterakan rakyatnya. Tapi memang harapan belum berjodoh dengan realitas. Lalu apa yang salah pada negeri yang kecintaanku padanya lebih dalam daripada Samudra Hindia ini?

Ah, entahlah. Andai aku jadi presiden seperti Pak SBY, kurasa banyak hal yang akan segera kulakukan. Sekarang saja kepalaku hampir pecah menampung uneg-uneg yang tak kunjung tersalur itu.

Andai aku jadi SBY, hal pertama yang kulakukan adalah memanggil para wartawan yang dulu bertugas melakukan liputan selama Pilpres untuk kumintai data-data mereka tentang apa saja yang sudah pernah aku janjikan dalam kampanye. Paling tidak dari kliping pemberitaan mereka, aku bisa melihat semacam daftar janji yang di samping kanannya ada kolom check list apakah poin itu sudah terlaksana atau belum. Dan di sebelah kanannya ada kolom keterangan lagi supaya aku bisa tahu mengapa program yang aku janjikan itu belum juga mewujud nyata.

Tak lupa, aku juga akan menjumpai semua elemen yang dulu sudah pernah membuat kontrak politik menjelang pemilihan denganku. Baik dari kalangan organisasi mahasiswa maupun lembaga swadaya masyarakat serta pihak partai koalisi. Biar mereka bisa mengingatkanku jika lupa pada naskah kontrak yang dulu kuteken tanpa sempat kubaca betul-betul itu.

Bahkan jika mereka setuju, aku akan buat jadwal khusus bagi mereka untuk bertemu denganku secara rutin untuk bersama-sama mengevaluasi target-target pemerintah. Nanti akan kuminta sekretaris kabinet untuk mengagendakan majelis ini. Soal tempat, terserah mereka saja. Bisa di Istana Kepresidenan, namun bila hendak duduk lesehan di bawah rerindang pohon taman kota juga tak mengapa. Sesekali mengganti setting rapat seperti ini tentu mengasyikkan. Hitung-hitung juga sekalian refreshing, agar staf ahliku tak bosan berkelahi terus dengan data dan angka.

Andai aku jadi SBY, aku akan menumbuhkan kepercayaan (trust) masyarakat terlebih dahulu. Masih jelas terngiang dalam ingatanku nasehat Pak Kyai bahwa pemimpin yang baik adalah yang mencintai rakyat dan rakyatpun mencintainya. Tapi yang kumaksud ini bukan soal politik pencitraan belaka loh. Aku tentu tak mau menghambur-hamburkan anggaran yang diperas dari keringat dan darah rakyat hanya untuk beberapa spot iklan televisi.

Tapi aku ingin seperti Umar dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah yang pernah kubaca. Aku ingin meniru lakon Umar bin Khattab yang tak bisa tidur nyenyak dan makan enak sebelum memastikan seluruh warganya telah mengepul asap dapurnya. Kupikir itulah yang semestinya aku dan bawahanku (baca: gubernur/walikota/bupati) lakukan jika benar-benar bertekad menjadi pelayan ummat. Sungguh indah sekali rasanya, jika kami –aku dan para menteri serta kepala daerah- secara sukarela melakukan ronda keliling untuk mengecek kondisi rakyat. Minimal di kampung kediaman sendirilah. Seperti Umar yang menyamar dengan pakaian lusuh dan mengendap-endap. Ia betul-betul menjaga keikhlasan amalnya.

Memang itu tak mudah. Namun kedekatan dengan rakyat harus dibangun. Dan satu lagi yang insya Allah akan cukup efektif adalah dengan shalat jama’ah lima waktu berpindah-pindah masjid. Setidaknya di setiap lokasi shalat aka nada curhat dan keluh kesah warga yang bisa kudengar langsung. Kan sekalian memangkas prosedur birokrasi yang berbelit-belit untuk menyampaikan aspirasi. Cara inipun bisa juga dicontoh oleh teman-teman anggota legislatif agar tidak hanya mengandalkan masa reses baru bisa menyerap aspirasi konstituen.

Kemudian, masa libur dan cutikupun tak akan kusia-siakan untuk bercengkerama dengan rakyat. Aku tetap akan berlibur, namun tetap dengan misi menyambangi orang-orang yang kupimpin. Meski tanpa prosesi protokoler kenegaraan, tugas-tugas ini akan menjadi nikmat, apalagi jika rakyat tak lagi canggung untuk berbagi suka-dukanya serta sesekali bercanda dan tertawa lepas bersamaku. Tak perlu acara formal. Di teras masjid atau serambi rumah penduduk pun tak masalah. Yang penting tak ada lagi buruk sangka rakyat kepada pemimpinnya. Dan untuk kunjungan-kunjungan seperti ini, aku akan memprioritaskan kawasan Indonesia Timur dan daerah-daerah terpencil yang jarang atau –bahkan- tak pernah didatangi pejabat-pejabat publik sebelumnya.

Oya, untuk mengatasi masalah ekonomi, aku sudah betul-betul bertekad untuk mengumpulkan putra-putri terbaik ibu pertiwi untuk dimasukkan dalam tim ekonomi yang akan mencampakkan jauh-jauh sistem ribawi. Mungkin kapitalisme tak akan mudah digeser, namun jika serius dan semua pihak turut mendukung maka ia akan mudah kita gusur dan gantikan dengan sistem kerakyatan yang adil dan menenteramkan seperti yang dahulu pernah dipraktikkan Nabi Muhammad dalam bermuamalah. Yang jelas, kelompok mafia Berkeley yang masih bersarang di pemerintahan kupastikan akan segera hengkang. Sumpah! Aku tak akan pernah ikut-ikutan mengemis mengharap utang dari luar negeri lagi. Sungguh! Dan aku akan mempercepat pelunasan utang yang sudah terlanjur dinikmati oleh para koruptor sejak empat dekade sebelumnya. Aku tak ingin bayi-bayi baru lahir memikul beban utang di pundak mereka.

Andai aku jadi SBY, zakat akan kuwajibkan. Tentu saja setelah berkonsultasi dan berkoordinasi dengan para ulama, pakar hukum dan tim ekonomiku. Sementara pajak akan dimimalisir. Pajak hanya akan diminta jika penerimaan zakat tidak bisa meng-cover total pengeluaran negara. Dan untuk melipatgandakan revenue, aku akan membuat kebijakan untuk menasionalisasi asset-aset penting yang dulu secara tolol telah diprivatisasi atau diserahkan secara cuma-cuma kepada asing termasuk perusahaan telekomunikasi dan pertambangan seperti Exxon, Inalum, Caltex, Freeport dan Newmont.Satu hal lagi yang ingin kulakukan untuk menghemat anggaran adalah dengan mengefisiensi biaya perjalanan dinas. Tidak ada lagi yang ke luar negeri kecuali dengan izinku untuk keperluan yang benar-benar urgen. Selama ini aku sudah tahu kalau kunjungan kerja, studi banding dan sejenisnya itu hanyalah ajang pelesir belaka.

Masalah republik ini memang terlalu banyak. Tekadku, andai aku jadi SBY, di mata hukum semua akan kuperlakukan sama. Tak peduli jika yang salah adalah kerabat atau besanku sendiri sebagaimana Rasulullah menegaskan komitmennya untuk memotong tangan Fatimah ra. jika putrinya tersebut mencuri. Walaupun dia anak seorang jenderal, menantu pimpinan parpol atau pengusaha kelas kakap akan kuperlakukan dengan sama. Tak ada beda.

Soalan Lapindo belum kelar. Pe-er lain masih menanti: pengangguran, kemiskinan, kriminalitas, kualitas pendidikan dan layanan kesehatan, kelengkapan persenjataan militer dan seabreg problem lainnya. Jika bergerak sendiri tentu aku tak mampu. Maka mungkin aku akan mengundang para pakar multidisiplin ilmu untuk curah gagasan pada kabinetku secara rutin setiap bulan. Dan agar cita-cita mulia ini tetap terjaga serta istiqamah tampaknya kegiatan pembinaan mental kerohanian butuh dilaksanakan secara rutin setiap pekan agar kami bisa mengingat janji-janji yang harus kami pertanggungjawabkan nanti baik kepada rakyat maupun kepada Dzat yang Maha Memiliki Kekuasaan.

Besar harapanku rencana ini diberikan jalan kemudahan. Akupun akan segera merampingkan banyak Lembaga Non Struktural yang tak ada kerja dan hanya membuang-buang duit rakyat saja serta membentuk satu lembaga baru yang diisi orang-orang terpilih yang teruji integritas dan konsistensinya: Komite Pengingat Janji. Sebab aku dan para pemimpin pendahuluku, baik di negeriku maupun di seberang samudera sana, seringkali mudah lupa pada janji-janjinya.