Senin, 05 Oktober 2009

Sajak Hujan


SAJAK HUJAN

Masih terasa bekas hujan sore itu
Kita asyik bercengkerama dengan butir-butir air
Hingga matahari mulai meredup
Membiarkan kita ditemani malam yang mulai pekat

Jangan lagi kau risaukan cerita lama itu
Tapi cobalah pahami kenapa pelangi
Selalu muncul belakangan setelah tetes hujan bercucuran?

Sambil merapal doa, anyamlah cita-cita
Tentang rumah-rumah penuh tawa
Sebelum petir datang kembali menyambar-nyambar
Jalinan harap yang telah kita pintal berabad-abad

Tungkop, 30 Agustus 2009
saat hujan airmata menitik-nitik membasah jiwa yang gersang..
di tengah-tengah One Stop Writing FLP Aceh, bukankah hujan adalah rahmat-Nya?

6 komentar:

  1. Kau benar. Sebab, ketika yang diguyur mengutuk hadirnya karena tak bisa beranjak, di tempat lain berjuta orang merindu kedatangannya yang sudah mulai hilang.

    BalasHapus
  2. subhanallah...bagus pisan puisinya...^^
    (penggemar puisi yang belum mampu membuat puisi sendiri...^^)

    BalasHapus
  3. terimakasih. tapi saya sendiripun masih sedang belajar untuk itu. yuk, mari sama2 belajar! ^_^

    BalasHapus
  4. puisinya baguuus...sukaaa... :)

    BalasHapus
  5. makasi sudah menyukai. hujan memang rahmat-Nya kan?

    BalasHapus