Lalu, akupun merasakan kehangatan membersamai saudara-saudara dalam barisan ini. Menikmati kelelahan yang mengasyikkan. Menikmati peluh yang bercucuran, kehujanan ketika mengantar proposal, mendorong sepeda motor yang bannya bocor, membersihkan mushalla ditemani alunan Izzis atau Raihan, memasang spanduk di perempatan jalan protokol dan hal-hal menarik lain yang -mungkin- baiknya aku kenang sendiri saja dalam alam pikirku. Terlalu manis untuk dilupakan.
Lalu, banyak fragmen lalu lalang. Hilir mudik. Ada saja yang silih berganti. Yang dulu qowwiy, kini pudar. Yang dulu bersama, kini menempuh jalan berbeda.
“Dan (Allahlah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 8: 63)
Ada saja yang kemudian memutar haluan. Takdir-Nya terkadang tak bisa ditebak. Tapi aku yakin, takdir masih bisa diupayakan. Selalu ada pilihan-pilihan. Hanya saja, bening selalu menitik jika mesti mengingat-ingat masa lalu itu. Begitupun aku.
“Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, yang telah saling mengenal maka ia (bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka akan saling berselisih (dan saling mengingkari)”
(HR. Muslim)
"Dek, kau sudah berubah! Kau tak seperti yang dulu lagi!"
Matahari mulai bermetamorfosa menjadi lilin.
Lantas, berpuluh-puluh taujih dari belasan nama yang pernah mampir ke ponselku kubuka kembali.
Entahlah, riwayatku memang berliku. Bahkan, sampai di mana kembaraku pun aku tak tahu, alpa ilmu. Aku kehilangan peta, bekal semakin menipis. Sementara, kelana ini baru bermula. Ujung jalan belum lagi tampak. Cuma rembulan yang mengintip malu-malu, bersembunyi di balik awan, namun aku tahu, dia sedang mengejekku: "Hey, kau tertimbun kata-kata! Kaupikir kau punya kuasa? "
Ini cukup sulit. Oh, maaf, saya ralat: ini sangat rumit! Hingga kemudian saya menemukan sejumlah puisi ini. Puisi karya seorang saudari yang pena-nya sempat tumpul. Dia minta saya membantunya. Lalu saya kirimkan sejumlah kata-kata dan wajibkan dia menumpahkan tinta dengan memakai kata-kata itu. Awalnya, dia lunglai, tak yakin. Namun akhirnya ia berhasil. Ia selesaikan semuanya malam itu juga dan esoknya saya dihadiahi puisi ini. Puisi yang mulanya saya anggap biasa, tapi kemudian terasa sangat bermakna. Tatkala, kajian tentang mind illusion belum saya tuntaskan, belum saya selesaikan hingga purna.
MASIH ANGIN
Angin itu yang menyeret-nyeret kabar tentangmu
dipikulnya sendiri
duka yang telah lama memecah pundakmu
tentang perih,
tentang jerih,
yang tak pernah alpa dari harimu
lantas, ia mengantarkannya
pada kaki para menteri
berharap nanti
akan ada janji yang diingat kembali
tapi angin masih juga angin
ia hanya mampu mengusap-usap jendela
istananya…
RINTIH EDELWEISS
Dan kini aku tinggal mengeja waktu
hilang kasihmu,
tersudutlah nyawaku…
mungkin kau sudah lupa
cerita keabadian,
yang baru kemarin
kau dengung-dengungkan
toh, sejenak lagi
kau gulingkan juga tubuh rapuhku
ke dalam tong sampah itu!
ALAMAT RINDU
Padaku,
kau tanyakan alamat rindu
tempat dulu kau pernah menumpang teduh?
baiklah, sekarang ikut aku!
jangan banyak bertanya,
sebentar lagi kau akan berjumpa dengannya
sedikit lagi,
bersabarlah
itu
di balik ilalang itu,
Nah, ini dia kuburannya!
***
Aku benar-benar tersentak. Seolah palu godam menghantam tubuhku.
Terimakasih saudari, atas puisi-puisi ini.
Terimakasih untuk semua yang pernah membersamai, yang pernah berinteraksi, yang pernah saling mengingatkan untuk teguh di jalan ini. Terkadang, ada saja yang mengajak untuk berbelok arah.
Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan sebaik-baik balasan.
"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat sekelompok orang yang mereka ini bukan para nabi dan bukan pula orang yang mati syahid, namun posisi mereka di sisi Allah membuat para nabi dan orang yang mati syahid menjadi iri. Para sahabat bertanya, 'Beritahukan kepada kami, siapakah mereka itu ya Rasulullah ?' Beliau menjawab, 'Mereka adalah sekelompok orang yang saling mencintai karena Allah SWT, meskipun diantara mereka tiada ikatan persaudaraan dan tiada pula kepentingan materi yang memotivasi mereka. Demi Allah, wajah mereka bercahaya, dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak takut manakala manusia takut, dan mereka tidak bersedih hati manakala manusia bersdih hati.’ Lalu Rasulullah SAW membacakan ayat ‘Sesungguhnya wali-wali Allah itu, mereka tidak takut dan tidak pula bersedih hati.” (HR. Abu Daud)
Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu,
telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu,
telah berpadu dalam membela syari’atMu.
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya.
Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya..
Pagar Air, 1 November 2009
dalam kamar pengap ditemani Dua Wajah-nya Maidany
lihatlah lebih dekat saudara kita agar tidak menerka isi hatinya,
bila tiada dapat menjadi teman baiknya, jadilah saudara yang selalu mendo'akannya..