Sabtu, 31 Oktober 2009

Antara Bumerang, Cermin dan Mind Illusion

Konon, persaudaraan teramat mahal harganya. Ia tak bisa dibeli dengan berkarung-karung rupiah dan bermayam-mayam emas. Sejak mengenal seni "memadu kasih dalam lingkaran" ketika SMA kelas satu, aku sudah berulangkali mendapatkan materi itu. Tentang ta'aruf, tafahum, ta'awun, takaful, ta'liful qulub dan semacamnya. Mulai level terendah salamatus sadr hingga puncak tertinggi: itsar.

Lalu, akupun merasakan kehangatan membersamai saudara-saudara dalam barisan ini. Menikmati kelelahan yang mengasyikkan. Menikmati peluh yang bercucuran, kehujanan ketika mengantar proposal, mendorong sepeda motor yang bannya bocor, membersihkan mushalla ditemani alunan Izzis atau Raihan, memasang spanduk di perempatan jalan protokol dan hal-hal menarik lain yang -mungkin- baiknya aku kenang sendiri saja dalam alam pikirku. Terlalu manis untuk dilupakan.

Lalu, banyak fragmen lalu lalang. Hilir mudik. Ada saja yang silih berganti. Yang dulu qowwiy, kini pudar. Yang dulu bersama, kini menempuh jalan berbeda.

“Dan (Allahlah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 8: 63)

Ada saja yang kemudian memutar haluan. Takdir-Nya terkadang tak bisa ditebak. Tapi aku yakin, takdir masih bisa diupayakan. Selalu ada pilihan-pilihan. Hanya saja, bening selalu menitik jika mesti mengingat-ingat masa lalu itu. Begitupun aku.

“Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, yang telah saling mengenal maka ia (bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka akan saling berselisih (dan saling mengingkari)”
(HR. Muslim)

"Dek, kau sudah berubah! Kau tak seperti yang dulu lagi!"
Matahari mulai bermetamorfosa menjadi lilin.

Lantas, berpuluh-puluh taujih dari belasan nama yang pernah mampir ke ponselku kubuka kembali.
Entahlah, riwayatku memang berliku. Bahkan, sampai di mana kembaraku pun aku tak tahu, alpa ilmu. Aku kehilangan peta, bekal semakin menipis. Sementara, kelana ini baru bermula. Ujung jalan belum lagi tampak. Cuma rembulan yang mengintip malu-malu, bersembunyi di balik awan, namun aku tahu, dia sedang mengejekku: "Hey, kau tertimbun kata-kata! Kaupikir kau punya kuasa? "

Ini cukup sulit. Oh, maaf, saya ralat: ini sangat rumit! Hingga kemudian saya menemukan sejumlah puisi ini. Puisi karya seorang saudari yang pena-nya sempat tumpul. Dia minta saya membantunya. Lalu saya kirimkan sejumlah kata-kata dan wajibkan dia menumpahkan tinta dengan memakai kata-kata itu. Awalnya, dia lunglai, tak yakin. Namun akhirnya ia berhasil. Ia selesaikan semuanya malam itu juga dan esoknya saya dihadiahi puisi ini. Puisi yang mulanya saya anggap biasa, tapi kemudian terasa sangat bermakna. Tatkala, kajian tentang mind illusion belum saya tuntaskan, belum saya selesaikan hingga purna.

MASIH ANGIN

Angin itu yang menyeret-nyeret kabar tentangmu
dipikulnya sendiri
duka yang telah lama memecah pundakmu
tentang perih,
tentang jerih,
yang tak pernah alpa dari harimu
lantas, ia mengantarkannya
pada kaki para menteri
berharap nanti
akan ada janji yang diingat kembali

tapi angin masih juga angin
ia hanya mampu mengusap-usap jendela
istananya…


RINTIH EDELWEISS

Dan kini aku tinggal mengeja waktu
hilang kasihmu,
tersudutlah nyawaku…

mungkin kau sudah lupa
cerita keabadian,
yang baru kemarin
kau dengung-dengungkan
toh, sejenak lagi
kau gulingkan juga tubuh rapuhku
ke dalam tong sampah itu!


ALAMAT RINDU

Padaku,
kau tanyakan alamat rindu
tempat dulu kau pernah menumpang teduh?
baiklah, sekarang ikut aku!

jangan banyak bertanya,
sebentar lagi kau akan berjumpa dengannya

sedikit lagi,
bersabarlah
itu
di balik ilalang itu,

Nah, ini dia kuburannya!

***

Aku benar-benar tersentak. Seolah palu godam menghantam tubuhku.
Terimakasih saudari, atas puisi-puisi ini.
Terimakasih untuk semua yang pernah membersamai, yang pernah berinteraksi, yang pernah saling mengingatkan untuk teguh di jalan ini. Terkadang, ada saja yang mengajak untuk berbelok arah.
Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan sebaik-baik balasan.

"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat sekelompok orang yang mereka ini bukan para nabi dan bukan pula orang yang mati syahid, namun posisi mereka di sisi Allah membuat para nabi dan orang yang mati syahid menjadi iri. Para sahabat bertanya, 'Beritahukan kepada kami, siapakah mereka itu ya Rasulullah ?' Beliau menjawab, 'Mereka adalah sekelompok orang yang saling mencintai karena Allah SWT, meskipun diantara mereka tiada ikatan persaudaraan dan tiada pula kepentingan materi yang memotivasi mereka. Demi Allah, wajah mereka bercahaya, dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak takut manakala manusia takut, dan mereka tidak bersedih hati manakala manusia bersdih hati.’ Lalu Rasulullah SAW membacakan ayat ‘Sesungguhnya wali-wali Allah itu, mereka tidak takut dan tidak pula bersedih hati.” (HR. Abu Daud)

Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu,
telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu,
telah berpadu dalam membela syari’atMu.
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya.
Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya..

Pagar Air, 1 November 2009
dalam kamar pengap ditemani Dua Wajah-nya Maidany
lihatlah lebih dekat saudara kita agar tidak menerka isi hatinya,
bila tiada dapat menjadi teman baiknya, jadilah saudara yang selalu mendo'akannya..

Sabtu, 24 Oktober 2009

(kopipaste) Sebuah Ta'aruf yang Indah

Sebuah Ta'aruf yang Indah

semuanya berawal dari kedua mata
ketika aku hanya berani mencuri pandang wajahmu di sana
dengan pakaian rapat tak kau biarkan auratmu terbuka
karena memang tak selayaknya bisa dipandang oleh sembarang mata
maka seiring perjalanan masa
kumulai beranikan diri tuk bertanya
tuk selanjutnya berbagi cerita

telah kukatakan kepada semenjak awal mula
bahwa aku adalah lelaki ibuku sepanjang masa
sebagai wujud bakti sebagaimana rasul telah bersabda
"ibumu, ibumu, ibumu!" begitulah dalam sebuah hadits yang pernah kubaca
"lalu ayahmu!" sebagai kelanjutan ucapan dari lidah yang mulia

sebuah jawaban darimu membuatku begitu lega
kau berkata bahwa lebih baik memiliki suami yang berbakti daripada yang durhaka
kau berkata bahwa lebih baik memilki suami yang dermawan daripada yang bakhil harta
dan kau pun berharap bahwa pendampingmu kelak bisa membuatmu bahagia

kau pernah berkata ingin segera menikah sebagai suatu rencana
bila kelak Allah mempertemukanmu dengan jodoh pilihan-Nya
agar mampu menjaga kemurnian dan kesucian niatmu dalam mewujudkan berbagai cita
serta menjadikanmu lebih kuat kala cobaan dan ujian datang menerpa
karena akan ada seseorang yang insya Allah akan mendampingi senantiasa
namun yang harus kau tahu adalah bahwa aku lelaki biasa
segala kelebihan dan kelemahan pastilah kupunya

senanglah hati ketika mengetahui dirimu rutin dalam sebuah tarbiyah
tidak seperti aku yang hanya pernah masuk madrasah
mulai ibtidaiyah, tsanawiyah namun tidak lanjut ke aliyah
namun sekarang aku sudah lulus kuliah
saat ini pun aku sudah memiliki ma'isyah
teman-temanku berkata, bahwa sudah waktunya bagiku mencari 'aisyah
mungkin dengan simpanan yang ada cukuplah untuk sebuah walimah
tentu saja yang sederhana dan bukan yang meriah
dan akupun belum sanggup untuk menyediakanmu sebuah rumah
karena itu kuberpikir untuk mengontrak dulu sajalah

suatu ketika ketika kau bertanya tentang poligami
kujawab bahwa itu adalah ketentuan Ilahi
tentu saja aku menyetujui
lantas kau bertanya apakah aku akan melakukannya suatu saat nanti
kujawab apa mungkin bila adil sebagai syarat utama tak mampu kumiliki
engkau tersenyum di mulut atau mungkin sampai ke hati
sambil mengakui bahwa dirimu belum bisa menerima bila hal itu terjadi
dan dirimu juga tak bisa menyamai saudah binti zam'ah istri sang nabi
yang tulus ikhlas kepada 'aisyah dalam berbagi

suatu ketika giliran aku bertanya tentang kemampuanmu bertilawah
kau menjawab bisa walau tak mau dibandingkan dengan para qoriah
karena kau merasa masih banyak berbuat salah
dalam mengucap hukum tajwid dan huruf-huruf hijaiyah
insya Allah kita kan bersama-sama belajar bila kelak kita menikah
untuk mewujudkan keinginanmu agar bisa menerangi setiap ruang rumah
dengan alunan suara al-quran yang merupakan ayat-ayat qauliyah
dari situ mungkin kita bisa membaca ayat-ayat kauniyah

untuk memastikan keyakinanku untuk menikah
kau pun mengundangku ke tempat temanmu seorang murabbiyah
dan tak lupa kau undang aku tuk datang ke rumah
sebagai awal perkenalan dengan bunda dan ayah
dan sebuah titik temu tercapailah
istikharah mencari jawaban tuk menggapai alhub fillah wa lillah

dalam doa kubersimpuh pasrah
memohon datangnya jawaban kepada Sang Pemberi Hidayah
bila jawaban itu masih menggantung di langit, maka turunkanlah
bila jawaban itu masih terpendam di perut bumi, maka keluarkanlah
bila jawaban itu sulit kuraih, maka mudahkanlah
bila jawaban itu masih jauh, maka dekatkanlah

NB: ini penggalan dari sebuah tulisannya Bang Jampang di sebuah e-book yang beredar di intranet DJP.

Senin, 19 Oktober 2009

Izinkan Kami Menata Ulang Peradaban

Sejarah telah mengubur dalam-dalam puing reruntuhan Sosialisme-Komunisme. Ideologi yang diusung Karl Marx, Lenin, Stalin dan kawan-kawannya itu telah terbukti gagal menyejahterakan manusia bersamaan dengan bubarnya adidaya Uni Soviet yang pecah menjadi serpihan tak bernilai. Dan sepertinya wajar saja jika ide-ide mereka tak lagi diminati sebab memang tak bisa memberi solusi. Kalaupun ada geliat bangkitnya paham kiri ini, maka itu tak lain hanyalah riak kecil saja.

Lantas, dengan sistem apakah dunia menapaki hari-harinya? Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History menyatakan bahwa sejarah telah berakhir. Dan demokrasi dengan kapitalisme-nyalah yang menjadi pemenang. Namun, benarkah tesisnya itu? Yang jelas, Jeremy Seabrook menampik hal tersebut. Ia menganggap kapitalisme yang merupakan saudara dekat liberalisme itu sebagai biang kerok kemiskinan global. “Apakah ekonomi melayani umat manusia, ataukah kemanusiaan telah ditindas untuk melayani ekonomi?” demikian tulisnya dalam Kemiskinan Global; Kegagalan Ekonomi Model Neoliberalisme.

Pernyataannya itupun didukung begitu banyak fakta yang mengindikasikan semakin dekatnya kehancuran kapitalisme. Lihat saja begitu jauhnya jurang kesenjangan kaya-miskin. Menurut Hammer (1994: 16), pada saat ini 20% penduduk dunia (The Club of Rich) menguasai 83% kekayaan dunia, mengendalikan 81% perdagangan dunia dan mendapat 81% hasil investasi, sembari menikmati 70% energi, 85% persediaan kayu dunia dan 60% pangan. Perbandingan kekayaan 20% penduduk terkaya dunia dengan 20% penduduk termiskin dunia adalah 60 berbanding 1. Data lain mengemukakan bahwa tren kemiskinan semakin memburuk. Jumlah orang miskin yang hidupnya kurang dari 1 dolar per hari meningkat menjadi 1,214 miliar jiwa (20% penduduk dunia). Selain itu, 1,6 miliar jiwa (25% penduduk dunia) lainnya hidup antara 1-2 dolar sehari.(The United Nations Human Development Report, 1999).

Indonesia pun tak jauh beda. Walaupun mengaku bermazhab ekonomi Pancasila, tetap saja kiblatnya adalah kapitalisme. Konglomerat tak beradab dan pihak asing dilayani dengan istimewa oleh pemerintah. Aset-aset strategis diobral murah. Termasuk yang jelas-jelas menguasai hajat hidup orang banyak-yang notabene harus dikelola negara berdasarkan UUD 1945- diprivatisasi tanpa merasa berdosa. Mungkin sebentar lagi, pemerintah juga akan menjual pulau-pulau di nusantara untuk melunasi utang berbunga ‘lunak’ dari IMF. Data Susenas yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik pada Maret 2005 menunjukkan jumlah orang miskin mencapai 39,05 juta orang atau 17,5% penduduk Indonesia. Ya wajar saja, lha wong harga-harga pada membumbung tinggi, upah nggak naik juga, celetuk seorang ibu.

Belum lagi jika kita melihat tingkat pengangguran yang selalu meningkat tajam, kelaparan yang menjadi tradisi rutin dan pendidikan yang selalu diagungkan tapi tak pernah dipedulikan. Masalah buruh belum selesai, lebih sedih lagi menyapa generasi muda yang terkena bias budaya ekstravaganza. Sikap hedonis yang didesain pemahaman liberal membuat mereka menjadi free thinker dan telah menuai hasil. Hasil penelitian LSCK PUSBIH di Yogyakarta memperlihatkan bahwa 97,05% mahasiswi di kota pelajar itu telah melakukan hubungan seks pra-nikah. Parahnya, semua responden mengaku semua itu dilakukan tanpa ada paksaan alias atas dasar suka sama suka. So, have fun aja. Begitu mungkin pikir mereka. Dalam sebuah seminar yang diadakan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur di FISIP Universitas Airlangga, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ketika itu Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan angka aborsi saat ini mencapai 2,3 juta dan setiap tahun ada trend meningkat. Tetapi peningkatan itu bukan disebabkan oleh pemerkosaan melainkan karena suka sama suka alias free sex. Bahkan di Surabaya ada 6 dari 10 gadis yang sudah tidak perawan lagi.

Peredaran narkoba pun tak terbendung. Pada tahun 2000 lalu, tercatat ada 4 juta pengguna narkoba di seantero Indonesia. Dari jumlah itu, 70% di antaranya adalah anak usia sekolah, 14-20 tahun. Na’udzubillah.

Islam, Sebuah Solusi

Kalau Anda seorang muslim, maka tak perlu pusing mencari solusi. Sebab, dien ini sudah sempurna dan mengatur segenap aspek hidup. Tak percaya? Simak saja surah Al-Maidah ayat 3, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Masalahnya, kita belum konsisten melaksanakan syariah. Mayoritas umat Islam hanya mau mengambil Islam setengah-setengah. Yang mahdhah (ritual) saja, tidak yang muamalah (sosial). Mereka mengikuti langkah syaithan dengan tidak menjalankan Islam dengan kaffah (menyeluruh) sebagaimana diinstruksikan Allah Swt dalam QS. Al-Baqarah:208. Padahal Rasulullah Muhammad Saw. telah membuktikan bagaimana ia membangun kegemilangan peradaban dengan tuntunan wahyu (Al-Qur’an). Mendirikan sebuah Imperium besar tak tertandingi yang diteruskan khulafa al rasyidin hingga akhirnya diruntuhkan dengan kepicikan Mustafa Kemal Pasha di masa Daulah Utsmaniyyah pada tahun 1924.

Lihatlah sistem ekonomi non-ribawi yang menentramkan dan memberdayakan. Semuanya untuk kemaslahatan rakyat. Mulai dari konsep zakat, infaq, shadaqah, fidyah, dam, wakaf dan sejenisnya. Sampai-sampai di masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, amil-amil zakat berkeliling benua Afrika untuk mencari fakir miskin yang berhak menerima zakat, namun tak ditemukan. Sistem politik Islam juga begitu mengagumkan. Sistem yang jujur tak pernah menipu seperti demokrasi lipstiknya barat. Demokrasi barat tak pernah meridhai kemenangan kelompok Islam meskipun demokratis seperti FIS di Aljazair dan HAMAS di Palestina karena dianggap akan menghancurkan demokrasi itu sendiri, tetapi Islam sesungguhnya tak pernah memusingkan bentuk negara. Yang penting, apakah negara tersebut dapat berperan sebagai instrumen penegak syariah Allah atau tidak. Demikian Anis Matta dalam pandangan Suherman, M.Si (Rekonstruksi Politik Kaum Muslim: Studi Interpretatif atas Pemikiran H.M. Anis Matta).

Bukti lain jayanya Islam di masa lampau adalah berkembang pesatnya ilmu pengetahuan. Pencapaian prestasi gemilang itu tercermin dari lahirnya par ilmuwan semisal Al Biruni (fisika, kedokteran), Jabir Haiyan (kimia), Al-Khawarizmi (matematika), Al Kindi (filsafat), Ibnu Khaldun (politik, sosiologi), Ibnu Sina (kedokteran), Ibnu Rusyd (filsafat) dan masih banyak nama lain lagi. Bahkan bangsa Eropa mengenal kebiasaan mandi dan membuat jamban setelah belajar dari umat Islam yang kala itu persebarannya sudah sampai ke Andalusia.

Ilmuwan barat sendiri mengakui secara jujur kebenaran hal itu. “Sepanjang masa kekhalifahan Islam, para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya; menyediakan peluang kepada siapapun yang membutuhkan; memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah mereka; menjadikan pendidikan menyebar luas hingga ilmi, sastra, filsafat dan seni mengalami kejayaan luar biasa yang membuat Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durrant, Story of Civillization). Sekarang, tinggal kita ubah paradigma berpikir. Kita harus kaffah berIslam. Juga meninggalkan hukum thagut yang menjauhkan umat ini dari rahmat Allah dan menggantinya dengan Islam yang jelas-jelas merupakan rahmat bagi semesta. “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumya selain Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al-Maidah:50)

Al-Ghuraba’, Generasi Perubah

Saat mayoritas anak muda shopping di mall atau mejeng di jalanan, mereka asyik beraktivitas di sudut-sudut masjid. Ketika sudah banyak muda-mudi yang terjerumus ke lembah hitam seks bebas, mereka bahkan mengharamkan pacaran, karena merupakan bentuk lain dari mendekati zina. Di kala kaum hawa zaman kiwari ini berbusana begitu terbuka tanpa batas, mereka menutup rapat-rapat auratnya dengan jilbab rapi hingga seluruh tubuh. Kalau kebanyakan anak lelaki sudah biasa nyabu, maka mereka merokok pun tidak.

Muhammad Fathi menuliskan, “Merekalah generasi yang keislamannya tidak hanya sebatas shalat, shaum dan dzikir. Namun, generasi yang dadanya bergejolak saat kesucian agama dihinakan. Hatinya meleleh, bersedih dengan setiap kelemahan jiwa padahal ia masih bisa bernafas. Generasi yang tidak menyia-nyiakan usianya begitu saja, namun mengubahnya menjadi kekuatan dahsyat untuk sebuah karya.”(The Power of Youth)

Merekalah yang Allah janjikan dalam QS. Al-Maidah:54, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” Merekalah generasi baru (jiilun jadid) yang dinubuwatkan Rasulullah, “Islam itu bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti permulaanya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing (ghuraba’). Merekalah orang-orang yang berbuat baik selagi manusia berbuat kerusakan.”(HR. Ahmad)

Merekalah yang akan mengubah dunia dengan tuntunan wahyu, berakidah salim, beribadah shahih, berakhlak kokoh. Dengan tarbiyah (pembinaan) dan tashfiyah (pemurnian) mereka akan memimpin peradaban dan menyelamatkan manusia dari adzab ketika berpaling dari syariah, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha:124).

Kalian tidak percaya? Silahkan engkau tertawa sepuas hatimu, ku tak akan berpaling karena hinaan itu. (Untuk Para Pengabdi, Virgiawan Listanto)

****
Ini sebenarnya tulisan lama, pertama ditulis untuk menghiasi mading-mading kampus hijau Unimed, lalu "dirampas" untuk dipublikasikan di blog2 orang (secara waktu itu awak gak ngerti nge-blog :p), dan akhirnya nampang situs eramuslim.com

11 Perbedaan Unik Wanita dan Lelaki

1) Pria berburu dan melindungi, wanita mengasuh dan menyatukan. Sehingga wanita yang mengasuh dan menyusui anaknya tentunya lebih utama dari pada wanita yang meninggalkan anaknya kepada pembantunya yang belum tentu mengerti akhlak mulia. Kecuali ia adalah wanita karir, terlebih lagi suaminya hanya memiliki penghasilan pas-pasan, semoga Allah memaafkannya.

2) Pria objektif, wanita intuitif (menganalisa lewat nada suara dan tatapan mata). Sehingga wajar saja jika pria merasa kesulitan jika berdusta di hadapan wanita secara berhadapan langsung, sebab wanita seperti memiki mesin pendeteksi kebohongan, biasanya pria - klo mau bo'ong - paling aman menggunakan SMS atau paling berani by phone.

3) Sudut pandang mata pria sempit, kerucut di retina mata pria kurang lebar, tidak seperti wanita, sehingga wajar jika pria lebih fokus tapi kurang kreatif melihat wacana lain sekitarnya. sehingga pula sering gagal jika diminta menemukan sesuatu, seperti menemukan gula yang terletak dengan sangat jelas di antara bumbu dapur.

Selain itu, karena sudut pandang mata pria sempit, maka tatkala melihat wanita lain yang menggoda, maka kepala pria turut berputar mengikuti arah wanita tersebut. Tapi bukan berarti pria tersebut jatuh cinta, naluriah saja, tidak berbahaya selama pria tersebut memiliki iman yang kuat, tapi menundukkan pandangan mata jauh lebih utama.

Namun demikian bukannya berarti wanita tidak pernah melihat pria yang tampan, tetapi karena sudut pandang wanita luas melebar, relatif hampir 180 derajat, maka wanita jarang kepergok basah sedang memandangi seorang pria yang tampan. Dan tentunya wanita ketika berniat belanja mentega di supermarket, karena sudut pandang matanya yang luas, maka seringkali yang terbeli bukan hanya mentega, melainkan hal-hal menarik lainnya.

4) Otak wanita memiliki koneksi antara otak kiri dan kanan sekitar 30% lebih aktif dari pria, tak heran jika wanita bisa berjalan, bicara, dan pakai lipstik sekaligus. Sedangkan pria hanya bisa berkonsentrasi pada satu pekerjaan di satu waktu. Maka tak heran jika pria jarang berbicara ketika sedang bercinta dengan istrinya. Fokus sih.

5) Wanita suka bicara, pria seperlunya. Maka tak heran jika 2 orang wanita bisa saling menelpon selama 1 jam, padahal mereka berdua baru pulang berlibur bersama selama satu minggu. Dan tentunya wajar saja, jika kata “gosip” lebih melekat pada diri wanita dibandingkan pria.

6) Wanita bicara dengan perasaan, sehingga kadang terkesan hiperbolik bagi pria. Jadi kalau ada wanita yang berkata, “Apapun yang aku lakukan dan katakan selalu salah di matamu!” Jika Anda pria mendengarkan hal itu, tenang saja, tak perlu dibantah, sabarlah, sepertinya tidak hanya Anda yang mengalaminya.

7) Pria menyukai SEKS (wanita adalah perhiasan terindah bagi pria), sedangkan kebetulan wanita suka diperhatikan (begitulah karakter perhiasan). Wanita berpikir SEKS adalah konsekuensi dari menikah, sedangkan pria tidak sedikit yang berpikir MENIKAH adalah konsekuensi dari menginginkan seks.

8) Pria suka dipercaya, sedangkan wanita suka diberi perhatian khusus.Untuk wanita : bukan karena cantik engkau diperhatikan, tapi karena diperhatikanlah engkau menjadi cantik. Untuk pria : kalau Anda hari ini merasa istri Anda kurang cantik, berarti Anda kurang memperhatikannya.

9) Pria mengutamakan keahlian, dan wanita mengutamakan kebersamaan. Makanya wanita itu kalau ke toilet biasa "berjama'ah". hmm... beda dengan pria,,,sendirian aja bisa karena pipis tidak menuntut keahlian khusus. Apakah Anda pernah mendengar ada pria ngajak temennya, "Don, pipis yuk"

10) Pria yang humoris adalah yang pandai melontarkan humor, wanita humoris adalah yang tertawa ketika pria melontarkan humor. Nah bagi para istri, kalau suami Anda melontarkan humor tolonglah tertwa, betapapun garingnya humor tersebut. Insya Allah karn Anda menghargai humor2 suami Anda, maka suami Anda tambah cintanya kepada Anda. Jangan sekali2 ketika suami Anda sedang humor Anda mengatakan, "Garing Amat sih".


11) Tugas istri adalah memberikan kehangatan kepada suaminya, dan tugas suami adalah memibiarkan sang istri memberikan kehangatan terbaik kepadanya. Peace... :)

Ehm..serius nih...

Intinya pria menginginkan kekuasaan, prestasi, dan seks, dan wanita menginginkan hubungan, stabilitas, dan cinta.


---dari Kang Zen, Guru Maya saya

Senin, 05 Oktober 2009

Dari Belawan Hingga Koetaradja




Opera Sang Penggoda

Opera Sang Penggoda

Oleh: Anugrah Roby Syahputra

Siang itu lengang. Angin berhembus tenang, tidak kencang. Di satu sudut kota, dua insan berlainan jenis berada dalam satu ruang. Mereka saling melempar pandang. Mata menerawang. Pintu terkunci. Jendela tertutup rapat. Sementara di luar, mentari kian garang memuntahkan teriknya pada orang-orang. Udara kering menawarkan kegerahan bukan kepalang. Wajar, kalau di sana terasa amat sepi. Bahkan simfoni angin berhembus pun tak mampu mengusir keheningan.

“Kemarilah!” sayup-sayup terdengar bisikan lembut seorang perempuan. Asalnya tentu dari kamar sunyi tadi. “Sekarang aku milikmu, sambutlah cintaku, sayang!” lagi-lagi sang wanita merengek manja. Sangat erotis memang. Lelaki mana yang tahan untuk tidak segera membeli, mengecap dan melumat habis cinta tadi, jika inisiatif itu datang dari sang wanita. Apalagi bila ternyata si perempuan berwajah pualam nan melankoli seperti Angelina Jolie, betisnya seindah Cleopatra, mahkotanya hitam mengkilap bak mayang terurai, giginya tersusun rapi laksana berlian pilihan dan dari bibirnya yang merah merekah tercium aroma harum kesturi putih. Ah, betapa indah dunia.

Lelaki itu terkejut. Sungguh ia tak menyangka akan berhadapan dengan situasi ini. Dadanya berdebar. Jantungnya berdegub kencang. Ingin rasanya ia lepaskan hasrat yang membuncah. Namun, apa yang terjadi kemudian? Di luar dugaan, sang lelaki melakukan tindakan yang sangat berbeda dengan apa yang kita prediksikan. Dengan tegas ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah. Aku tidak akan mengkhianati kepercayaan dan perlakuan baik suamimu.” Olala, ternyata mereka bukan pasutri (pasangan suami istri). Gawatnya lagi, si perempuan telah bersuami. Lantas, ngapain si lelaki mengurung diri berdua-duaan dengan istri orang di dalam kamar? Trus, pake bawa-bawa nama Allah segala lagi!

Ups, tunggu dulu, mereka berdua bukan orang sembarang. Cerita tadi pun bukan rekaan pengarang, melainkan peristiwa sejarah yang nyata-nyata pernah terjadi. Bahkan kisahnya diabadikan dalam kitab suci. Al-Qur’an tak menyebut nama sang perempuan secara eksplisit. Ia cuma disebut Imraatul Aziz. Yap, dialah Zulaikha, istri bangsawan Mesir. Sedang si lelaki adalah sosok mulia Yusuf alaihissalam, sang nabi utusan Tuhan. Sudah sepatutnya ia berlindung pada Allah saat terjebak pada opera terlarang yang didalangi sang penggoda.

Yusuf muda memang memiliki segudang keistimewaan. Tak hanya cerdas untuk me-manage urusan finansial negara, dari gurat wajahnya pun terpancar seberkas cahaya kejujuran. Selain itu, ia juga dianugerahkan rupa yang sangat menawan, tubuh atletis dan tutur kata serta senyuman yang menggetarkan Sosoknya nyaris sempurna.

Wajar saja banyak gadis perawan menaruh hati padanya. Terpukau akan pesona wajahnya yang tampan. Sampai-sampai mereka mengiris jari sendiri saat sedang bekerja. Bahkan, istri orang pun tergila-gila dan bertekuk lutut mengiba cintanya. Zulaikha adalah pemain utama dalam opera ini. Pandangan pertama pada Yusuf membuat darah di sekujur raganya berdesir kencang. Nafasnya tersengal-sengal memburu nafsu. Bulu romanya berdiri memberi arti.

Benih kasih yang ditebar pun kuncupnya mulai mekar, tumbuh kekar bersama wewangi mawar. Bunga-bunga cinta itu tampak indah sekali. Lantas, seribu satu rencana disusun Zulaikha untuk memuluskan ambisinya, mereguk madu dambaan jiwa. Ia mulai bekerja, melempar canda nakal menggoda sambil mengerlingkan mata. Rayuan maut ia keluarkan. Tetapi, Yusuf tetap diam, tak bergeming. Perempuan itu tak menyerah. Ia peragakan pula akrobat cinta yang sensual sembari merengek manja, berharap Yusuf berubah pikiran, tergoda dan memagut cinta bersama dengannya. Namun, lagi-lagi Yusuf diam, enggan menyentuhnya dan memberi pelayanan.

Akhirnya, Zulaikha kalap. Hati kian gelap. Dunia serasa pengap jika si pemuda tak dikecap. Cintanya membabi buta. Sudah babi, buta lagi, kata Salim A. Fillah. Gejolak syahwatnya yang lindap sampai di ubun-ubun. Ia benar-benar hilang kesadaran jiwa! Matanya gulita. Lalu, ia bangkit dan dengan terengah-engah mengejar sang pemuda yang mencoba keluar dari perangkap setan itu.
“Kreeek…” tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Seorang lelaki muncul, hadir menjadi orang ketiga. Seketika mereka semua terkejut. Saling tatap. Tak yakin pada panorama yang disajikan mata. Di sisi lain, angan si perempuan kini tinggal impian. Tanpa rasa berdosa, ia melanjutkan opera cintanya dengan improvisasi dialog. Ia mengaku hendak diperkosa si pemuda. Satu adegan yang tak direncanakan dalam naskah skenario. Akibatnya, Yusuf menjadi tertuduh, disangka melakukan tindakan kriminal. Tragis. Sadis.

Ibarat sinetron, kisah tadi belum berakhir. Ia masih bersambung ke episode berikut dengan latar waktu dan tempat serta tokoh yang berbeda. Ia hanya akan tamat hingga nanti ditiupkannya sangkakala di Yaumil Akhir. Oleh karenanya, tak usah heran kalau hari ini kita masih banyak menemukan wanita-wanita yang memainkan lakon mirip Zulaikha di atas panggung sandiwara dunia ini. Mereka semakin memeriahkan pentas kemungkaran yang menjadi pertanda sudah dekatnya hari perpisahan itu. Bukankah salah satu ciri-ciri akhir zaman adalah dicabutnya rasa malu dari kaum Hawa?

Kita bukan ingin menuduh bahwa wanita terlahir sebagai penggoda. Tidak. Mereka juga bukan dicipta sebagai objek. Bukan. Tapi, Allah menghadirkannya dari tulang rusuk kiri lelaki untuk menjadi subjek, saling melengkapi dalam memikul tugas sejarah. Menjadi abdullah dan khalifah di muka bumi.
Namun, realita punya kesah berbeda. Faktanya jauh dari harapan kita yang mendamba peradaban mulia nan agung di bawah bendera tauhid. Bagaimana tidak? Di republik yang katanya relijius ini saja, aturan Tuhan terabaikan. Lihatlah perempuan-perempuan dengan lantang melenggang memamerkan keindahan tubuhnya yang menantang. Pakaian full-pressed body. Gaya busana moderat (modal dengkul, buka aurat) menjadi tren di mana-mana. Tidak saja di sudut kota, tapi juga di pelosok desa. Bukan hanya di mal dan pusat perbelanjaan, namun sampai ke kampus, sekolah, perkantoran hingga instansi pemerintahan. Naudzubillah

Parahnya, mereka sudah tertular penyakit jiwa Zulaikha. Tiada detik yang dibiarkan tersia, kecuali untuk urusan menggoda pria. Segala tipu daya dilancarkan. Kedipan mata yang liar, baju tipis menerawang, jeans ketat yang membentuk lekuk-lekuk menusuk sampai aroma tubuh yang tak karuan (dari deodorant, shampoo, body lotion, make-up dan wewangian).

Sesekali mereka menyapa nakal, “Cowok, godain kita, dong!” Meski, tak selalu diungkapkan secara verbal. Oh, sebagai lelaki, hasratku tentu ingin menyambutnya. Tapi, wahyu yang mendiami relung ini mengetuk-ngetuk nurani. Aku, kau dan kita harus bisa bertahan. Tapi, aku khawatir, suatu waktu mereka berujar lebih vulgar, “Cowok, perkosa kita dong!”. Rabb, lindungi kami!

Binjai, 13 April 2008
Terinspirasi dari surat seorang ikhwan dan keluh kesah orang-orang yang curhat.

Tulisan ini kemudian dimuat pula di Majalah SABILI Edisi 25/2009

Sajak Hujan


SAJAK HUJAN

Masih terasa bekas hujan sore itu
Kita asyik bercengkerama dengan butir-butir air
Hingga matahari mulai meredup
Membiarkan kita ditemani malam yang mulai pekat

Jangan lagi kau risaukan cerita lama itu
Tapi cobalah pahami kenapa pelangi
Selalu muncul belakangan setelah tetes hujan bercucuran?

Sambil merapal doa, anyamlah cita-cita
Tentang rumah-rumah penuh tawa
Sebelum petir datang kembali menyambar-nyambar
Jalinan harap yang telah kita pintal berabad-abad

Tungkop, 30 Agustus 2009
saat hujan airmata menitik-nitik membasah jiwa yang gersang..
di tengah-tengah One Stop Writing FLP Aceh, bukankah hujan adalah rahmat-Nya?

Di Bawah Rindang Filicium


DI BAWAH RINDANG FILICIUM


Aku masih ingat betul cerita itu
Saat kita duduk-duduk di bawah rindang filicium
Seekor kupu-kupu datang menghampiri
Setelah kau undang angin-angin
Yang membuatnya menari tanpa henti

Lantas kitapun mulai tenggelam dalam diam
Ketika tiba-tiba hujan muncul menghimpun desis gerimis
Kucoba menganyam pelepah jadi cangkang cinta
Dan kupetik sekuntum mawar untuk meredakan tangis
Yang tak terduga menyirami oval wajahmu
Tapi kau masih saja membuhul riwayat jadi surat
Sebab katamu pujangga itu tak pernah khianat

Tungkop, 30 Agustus 2009
di kediaman Nyak Loet yang malu-malu
melewati gugusan sawah yang indah dan jalan "terjal nan mendaki"

Di Puncak Seulawah

Di Puncak Seulawah
Kuajak awan bercakap-cakap
Tentang cerita lama yang berselimut lara

Tentang dia yang hilang dalam rerimbun daun
Di tepian Ulee Lheue saat amuk gelombang menggarang

Tentang dia yang melukiskan nada-nada rindu
Pada grafiti di lekuk-lekuk Kuta Alam hingga terpejam matawaktu

Di Puncak Seulawah
Bidadari malam mengurungku dalam sunyi
Masih kuingat kala dulu ia mengajar alifbata
Mengeja cinta di meunasah tua
Meski sejarah melupakannya

Tungkop, 30 Agustus 2009