Sumber: Harian Medan Bisnis Edisi Minggu, 5 Desember 2010
Persembahan Istimewa untuk Istriku
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2010/12/05/10433/parade_puisi/
Kepada Perempuan Bermata Teduh
: Endhika Sri Syahfitri
Dulu aku tak pernah menyangka
bahwa rumah sederhanamulah yang kuketuk pintunya
untuk menjemput puterinya mengayuh biduk bersama
Siapa kira kita memagut janji sehidup semati
Bila perkenalan kita saja cuma sepuluh hari?
Dikarenakan pelangi yang memancar teduh dari matamu
Purnama pecah di dadaku
Sepertinya rindu sudah bertemu hulu
Kalau sudah begitu, buat apa lagi memintal ragu?
Bukankah degup cinta kini telah begitu syahdu?
Pada teduh matamu cahaya bening berpendar-pendar
Seolah mendesakku segera berlayar
Sebab samudera ini terlalu badai
Untuk kau lalui hingga sampai
Di tujuan paling damai
Banda Aceh, Awal November 2010
Dalam Sebuah Penantian
: Endhika Sri Syahfitri
Malam itu rembulan tersedu-sedu
Kupu-kupu pun ikut menemani piluku
yang menderaikan airmata rindu
Sayap-sayapnya berguguran
Bersama embun yang dirajut sendu
Di tepi doa, serunai rindu melompati momentum
Hingga sesungging senyum menguntum
Sambil menangis, kukutipi kamboja yang menguning
Untuk menggenapi hening
Lalu langit terjungkal, redupnya berganti cahaya
Sampai gulita diusir fajar
Di penghujung doa, jalan-jalan terbentang terang
Mungkin ini jawaban Tuhan
Banda Aceh, 17 November 2010
Mengeja Rindu
: Endhika Sri Syahfitri
Aku masih belajar mengeja rindu
yang kau lukis pada kanvas hatiku
pada detik-detik mengharubiru
kala itu purnama belum begitu purna kita tembangkan
tapi ketika kulayarkan perahu pada sungai matamu
kulihat ada gundah yang mengombak pilu
memercik-mercik hendak mendendang lagu syahdu
tentang pertautan dua kalbu
lalu kau datang membawa hujan di tangan
dan membalurinya pada jiwaku yang kesepian
seolah inilah muara dari resah perjalanan
di dedaunan yang beradu, pandangan kita bertemu
lalu kau menelusup di lesatan waktu
dan diam-diam setunas cinta tumbuh di hatiku
Banda Aceh, 10 November 2010
Riwayat Sepasang Pengantin
: Endhika Sri Syahfitri
Bagaimana hendak menceritakannya
Sementara kisah kita belum dimulai?
Halaman pertama saja belum lagi ditulis
Baiklah, kalau begitu kita ukir saja dulu bismillah
Setelah akad terucap nanti
Ada baiknya kita pahat prolog romantik
Di pinggiran kota yang agak sepi
Sambil sesekali menyeruput rosella pagi
Tentu saja leadnya harus menarik
Meski kau bukan pemuisi yang hobi bergulat syair
Tapi biarlah bab-bab awal ini jadi lebih eksentrik
Dalam bulan madu di putihnya pantai berpasir
Mungkin nanti di tengah cerita
Kita tetap harus menabur konflik
Kau cemburu, lalu aku curiga
Ditambah marah-marah dan sedikit buruk sangka
Supaya alurnya novel ini tetap terjaga
Sampai nanti kita menemukan klimaks
Rumah kita dirintiki sakinah
Karena di matamu sabar dan syukur menelaga
Hingga kisah kita berakhir seperti dongeng Cinderella
: dan merekapun hidup bahagia selamanya
Sampai kelak -- insya Allah - menginjak syurga
Selasa, 14 Desember 2010
Korupsi dan Masa Depan Indonesia
Korupsi dan Masa Depan Indonesia
Oleh: Anugrah Roby Syahputra
Sumber: Harian Serambi Indonesia, Edisi Selasa, 14 Desember 2010
http://serambinews.com/news/view/44675/korupsi-dan-masa-depan-indonesia
SENJA itu Khalifah Ali bin Abi Thalib didera kekhawatiran mendalam. Dia baru saja menerima laporan bahwa gubernurnya di Mesir, Malik Al Asytar, menghadiri jamuan yang hanya dihadiri oleh kalangan pengusaha. Sang khalifah takut kalau nanti pembantunya tersebut bisa terseret untuk berkolusi, tidak bisa berlaku adil dan bertindak tegas dalam memerangi penyelewengan.
Dalam suratnya Ali menulis, ‘’Tegakkanlah keadilan dalam pemerintahan Anda dan dalam diri Anda sendiri. Carilah kepuasan rakyat, karena ketidakpuasan rakyat memandulkan kepuasaan segelintir orang yang berkedudukan istimewa. Sedangkan ketidakpuasan segelintir orang itu hilang dalam kepuasan rakyat banyak. Ingatlah! Segelintir orang yang berkedudukan istimewa itu akan meninggalkan Anda bila Anda dalam kesulitan.’’
Demikianlah berbahayanya perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme bila sudah menggerogoti jiwa para elit dan pejabat publik. Sikap ini mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat. Sampai-sampai Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut pelakunya sebagai manusia tak bermoral dan tak beretika. Apalagi jika mengingat bahwa para pejabat tersebut dilantik dengan bersumpah atas nama Allah untuk tidak menerima pemberian apapun yang diperkirakan akan merugikan negara dan jabatannya.
Tak heran dalam sejarah, terekam kisah ketika Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang terkenal dengan keadilannya ketika oleh sejumlah pengusaha diberikan iming-iming hadiah, dengan tegas menolaknya. Ketika seorang dari mereka menyatakan bahwa Nabi mau menerima hadiah semacam itu, Umar menjawab, ‘’Tidak disangsikan lagi hadiah itu memang untuk Nabi. Tapi, kalau diberikan kepadaku itu penyuapan dan penyogokan.’’
Korupsi di Indonesia
Begitu idealnya bila kita melihat bagaimana Nabi Muhammad saw dan para khulafaur-rasyidin dalam mengelola “clean governance”. Namun jika kita menilik kondisi bangsa ini tentu saja berbalik seratus delapan puluh derajat. Penelitian Political & Economic Risk Consultancy (PERC) pada kalangan pelaku bisnis menunjukkan hasil yang mengejutkan. Lembaga yang berbasis di Hongkong ini menempatkan Indonesia, salah satu bintang emerging market tahun lalu, sebagai negara paling korup dari 16 negara Asia Pasifik yang menjadi tujuan investasi para pelaku bisnis.
Sementara itu, berdasarkan surveri Transparency International Indonesia (TII), Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2010 masih stagnan di skor 2,8 dan berada di peringkat 110 dari 178 jumlah negara, tidak berubah dibandingkan tahun 2009 lalu. Posisi ini jauh di bawah negeri jiran kita Singapura yang menjadi negara terbersih dengan angka 9,3 dan beberapa negara lain seperti Brunei Darussalam (38), Malaysia (56) dan Thailand (78). (vivanews.com, 25/09/10).
Di samping itu, ada fakta menyedihkan lainnya dari panggung politik republik ini. Tercatat, sejak adanya pemilihan umum kepala daerah secara langsung pada tahun 2005, sedikitnya sudah 150 bupati/walikota dan 17 gubernur masuk bui karena korupsi. Jumlah itu belum termasuk mereka yang sekarang tengah menjalani proses hukum, baik berstatus sebagai saksi maupun tersangka. Belum lagi mereka yang memang belum terendus ulah bejatnya karena masih mencengkeram kendali kekuasaan.
Fakta ini sekaligus memperlihatkan bahwa proses demokrasi kita gagal melahirkan pemimpin yang bersih dan berintegritas. Lebih berbahaya lagi jika pameo itu benar: sikap seorang pemimpin mencerminkan watak asli rakyat yang dipimpinnya. Jika seorang kepala daerah berperilaku koruptif, boleh jadi ini merupakan cerminan kultur yang membudaya di kalangan rakyat yang memilihnya. Na’udzubillah min dzalik.
Belum lagi jika kita mencermati berbagai kasus faktual penanganan tindak pidana korupsi yang sepertinya tidak bisa dijerat para penegak yustisi. Institusi penegak hukum terlihat mandul tak berdaya menggelandang para pemakan uang rakyat ke dalam bui. Ibarat jalan tol, negeri ini sudah dibayar para koruptor guna meluapkan syahwatnya menjarah harta negara. Ada anggota DPR bebas bayar tol, lalu kejaksaan, menyusul kepolisian dan bahkan partai politik (penguasa). Maka, para koruptorpun terus berjalan melenggang, menikmati fasilitas mewah di dalam tahanan, sesekali berpelesiran ke ke tempat wisata lalu tinggal menunggu manisnya vonis bebas dari hakim yang terhormat.
Memahami Korupsi
Wabah korupsi di Indonesia yang begitu dahsyat semakin mengafirmasi teori kejahatan negaranya Green and World (2004) bahwa di dalam negara ada potensi kejahatan. Namun, sejatinya “white collar crime” ini disebabkan oleh tiga hal. Pertama, justifikasi (pembenaran) karena hal itu dianggap lumrah dan sudah menjadi tradisi serta kebiasaan di hampir seluruh birokrasi sehingga justru bagi mereka yang tidak ikut-ikutan akan dianggap aneh dan asing.
Kedua, tekanan. Trigger atau pemicunya bisa bermacam-macam tergantung gaya hidup, lingkungan kerja, budaya organisasi serta sistem dan prosedur yang multi-interpretasi. Alasan paling umum di kalangan birokrat adalah “take home pay” yang dibawa pulang dianggap tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Ketiga, kesempatan. Berdasar teori hierarki kebutuhan manusianya Abraham Maslow, kebutuhan manusia itu tidak ada batasnya. Orang tidak cuma membutuhkan hal-hal fisik, tapi juga prestasi, pengakuan dan harga diri yang seringkali diartikan secara sempit sangat terkait dengan kepemilikan harta sebanyak mungkin. Mereka menganggap semakin banyak harta, orang lain akan semakin menghormati kita. Akhirnya amanah pun dianggap sebagai kesempatan (aji mumpung) untuk mencapai kebutuhan tak terbatasa itu.
Kembali ke Ketuhanan
Sudah saatnya para pemimpin bangsa ini bergegas menjawab persoalan korupsi yang kian menggurita. Masa depan republik akan terlihat suram jika para pengambil kebijakan hanya berleha-leha. Bahaya laten korupsi ini harus dibasmi dan dicerabut hingga ke akar-akarnya. Founding father kita telah menggariskan bahwa keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa-lah yang menjadi tumpuan untuk merebut kemerdekaan. Maka, untuk merdeka dari korupsipun kita juga harus kembali pada semangat dan nilai ketuhanan.
Artinya, penegakan hukum harus semakin tegas. Sebab menurut rational choice theory, korupsi akan terjadi jika manfaatnya lebih besar daripada risikonya. Oleh karenanya, untuk menahan laju penyakit ini, risikonya harus ditingkatkan. Syukur, perangkat hukum dan perundang-undangan telah lumayan memadai. Sekarang tinggal bagaimana aparat penegak hukum bisa meneladani ketegasan Ali bin Abi Thalib atau Umar bin Abdul Aziz dalam “law enforcement”. Atau mungkin seperti Cina di mana Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi dan Deputi Walikota Leshan, Li Yushu dihukum mati karena terbukti terlibat kasus suap.
Selain itu, upaya preventif juga wajib dilaksanakan dengan melakukan pembinaan karakter terhadap para pejabat, pegawai pemerintahan, masyarakat dan generasi muda karena kompetensi saja tidak cukup namun dibutuhkan kejujuran dan integritas dalam berkontribusi buat bangsa. Komitmen akan nilai-nilai tersebut jika dievaluasi dan terus-menerus diupgrade insya Allah akan menjadi cikal bakal Indonesia yang bersih dari praktik korupsi. Semoga.
* Penulis adalah staf Kepegawaian dan Kepatuhan Internal Kanwil Ditjen Bea dan Cukai Aceh.
Oleh: Anugrah Roby Syahputra
Sumber: Harian Serambi Indonesia, Edisi Selasa, 14 Desember 2010
http://serambinews.com/news/view/44675/korupsi-dan-masa-depan-indonesia
SENJA itu Khalifah Ali bin Abi Thalib didera kekhawatiran mendalam. Dia baru saja menerima laporan bahwa gubernurnya di Mesir, Malik Al Asytar, menghadiri jamuan yang hanya dihadiri oleh kalangan pengusaha. Sang khalifah takut kalau nanti pembantunya tersebut bisa terseret untuk berkolusi, tidak bisa berlaku adil dan bertindak tegas dalam memerangi penyelewengan.
Dalam suratnya Ali menulis, ‘’Tegakkanlah keadilan dalam pemerintahan Anda dan dalam diri Anda sendiri. Carilah kepuasan rakyat, karena ketidakpuasan rakyat memandulkan kepuasaan segelintir orang yang berkedudukan istimewa. Sedangkan ketidakpuasan segelintir orang itu hilang dalam kepuasan rakyat banyak. Ingatlah! Segelintir orang yang berkedudukan istimewa itu akan meninggalkan Anda bila Anda dalam kesulitan.’’
Demikianlah berbahayanya perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme bila sudah menggerogoti jiwa para elit dan pejabat publik. Sikap ini mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat. Sampai-sampai Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut pelakunya sebagai manusia tak bermoral dan tak beretika. Apalagi jika mengingat bahwa para pejabat tersebut dilantik dengan bersumpah atas nama Allah untuk tidak menerima pemberian apapun yang diperkirakan akan merugikan negara dan jabatannya.
Tak heran dalam sejarah, terekam kisah ketika Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang terkenal dengan keadilannya ketika oleh sejumlah pengusaha diberikan iming-iming hadiah, dengan tegas menolaknya. Ketika seorang dari mereka menyatakan bahwa Nabi mau menerima hadiah semacam itu, Umar menjawab, ‘’Tidak disangsikan lagi hadiah itu memang untuk Nabi. Tapi, kalau diberikan kepadaku itu penyuapan dan penyogokan.’’
Korupsi di Indonesia
Begitu idealnya bila kita melihat bagaimana Nabi Muhammad saw dan para khulafaur-rasyidin dalam mengelola “clean governance”. Namun jika kita menilik kondisi bangsa ini tentu saja berbalik seratus delapan puluh derajat. Penelitian Political & Economic Risk Consultancy (PERC) pada kalangan pelaku bisnis menunjukkan hasil yang mengejutkan. Lembaga yang berbasis di Hongkong ini menempatkan Indonesia, salah satu bintang emerging market tahun lalu, sebagai negara paling korup dari 16 negara Asia Pasifik yang menjadi tujuan investasi para pelaku bisnis.
Sementara itu, berdasarkan surveri Transparency International Indonesia (TII), Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2010 masih stagnan di skor 2,8 dan berada di peringkat 110 dari 178 jumlah negara, tidak berubah dibandingkan tahun 2009 lalu. Posisi ini jauh di bawah negeri jiran kita Singapura yang menjadi negara terbersih dengan angka 9,3 dan beberapa negara lain seperti Brunei Darussalam (38), Malaysia (56) dan Thailand (78). (vivanews.com, 25/09/10).
Di samping itu, ada fakta menyedihkan lainnya dari panggung politik republik ini. Tercatat, sejak adanya pemilihan umum kepala daerah secara langsung pada tahun 2005, sedikitnya sudah 150 bupati/walikota dan 17 gubernur masuk bui karena korupsi. Jumlah itu belum termasuk mereka yang sekarang tengah menjalani proses hukum, baik berstatus sebagai saksi maupun tersangka. Belum lagi mereka yang memang belum terendus ulah bejatnya karena masih mencengkeram kendali kekuasaan.
Fakta ini sekaligus memperlihatkan bahwa proses demokrasi kita gagal melahirkan pemimpin yang bersih dan berintegritas. Lebih berbahaya lagi jika pameo itu benar: sikap seorang pemimpin mencerminkan watak asli rakyat yang dipimpinnya. Jika seorang kepala daerah berperilaku koruptif, boleh jadi ini merupakan cerminan kultur yang membudaya di kalangan rakyat yang memilihnya. Na’udzubillah min dzalik.
Belum lagi jika kita mencermati berbagai kasus faktual penanganan tindak pidana korupsi yang sepertinya tidak bisa dijerat para penegak yustisi. Institusi penegak hukum terlihat mandul tak berdaya menggelandang para pemakan uang rakyat ke dalam bui. Ibarat jalan tol, negeri ini sudah dibayar para koruptor guna meluapkan syahwatnya menjarah harta negara. Ada anggota DPR bebas bayar tol, lalu kejaksaan, menyusul kepolisian dan bahkan partai politik (penguasa). Maka, para koruptorpun terus berjalan melenggang, menikmati fasilitas mewah di dalam tahanan, sesekali berpelesiran ke ke tempat wisata lalu tinggal menunggu manisnya vonis bebas dari hakim yang terhormat.
Memahami Korupsi
Wabah korupsi di Indonesia yang begitu dahsyat semakin mengafirmasi teori kejahatan negaranya Green and World (2004) bahwa di dalam negara ada potensi kejahatan. Namun, sejatinya “white collar crime” ini disebabkan oleh tiga hal. Pertama, justifikasi (pembenaran) karena hal itu dianggap lumrah dan sudah menjadi tradisi serta kebiasaan di hampir seluruh birokrasi sehingga justru bagi mereka yang tidak ikut-ikutan akan dianggap aneh dan asing.
Kedua, tekanan. Trigger atau pemicunya bisa bermacam-macam tergantung gaya hidup, lingkungan kerja, budaya organisasi serta sistem dan prosedur yang multi-interpretasi. Alasan paling umum di kalangan birokrat adalah “take home pay” yang dibawa pulang dianggap tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Ketiga, kesempatan. Berdasar teori hierarki kebutuhan manusianya Abraham Maslow, kebutuhan manusia itu tidak ada batasnya. Orang tidak cuma membutuhkan hal-hal fisik, tapi juga prestasi, pengakuan dan harga diri yang seringkali diartikan secara sempit sangat terkait dengan kepemilikan harta sebanyak mungkin. Mereka menganggap semakin banyak harta, orang lain akan semakin menghormati kita. Akhirnya amanah pun dianggap sebagai kesempatan (aji mumpung) untuk mencapai kebutuhan tak terbatasa itu.
Kembali ke Ketuhanan
Sudah saatnya para pemimpin bangsa ini bergegas menjawab persoalan korupsi yang kian menggurita. Masa depan republik akan terlihat suram jika para pengambil kebijakan hanya berleha-leha. Bahaya laten korupsi ini harus dibasmi dan dicerabut hingga ke akar-akarnya. Founding father kita telah menggariskan bahwa keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa-lah yang menjadi tumpuan untuk merebut kemerdekaan. Maka, untuk merdeka dari korupsipun kita juga harus kembali pada semangat dan nilai ketuhanan.
Artinya, penegakan hukum harus semakin tegas. Sebab menurut rational choice theory, korupsi akan terjadi jika manfaatnya lebih besar daripada risikonya. Oleh karenanya, untuk menahan laju penyakit ini, risikonya harus ditingkatkan. Syukur, perangkat hukum dan perundang-undangan telah lumayan memadai. Sekarang tinggal bagaimana aparat penegak hukum bisa meneladani ketegasan Ali bin Abi Thalib atau Umar bin Abdul Aziz dalam “law enforcement”. Atau mungkin seperti Cina di mana Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi dan Deputi Walikota Leshan, Li Yushu dihukum mati karena terbukti terlibat kasus suap.
Selain itu, upaya preventif juga wajib dilaksanakan dengan melakukan pembinaan karakter terhadap para pejabat, pegawai pemerintahan, masyarakat dan generasi muda karena kompetensi saja tidak cukup namun dibutuhkan kejujuran dan integritas dalam berkontribusi buat bangsa. Komitmen akan nilai-nilai tersebut jika dievaluasi dan terus-menerus diupgrade insya Allah akan menjadi cikal bakal Indonesia yang bersih dari praktik korupsi. Semoga.
* Penulis adalah staf Kepegawaian dan Kepatuhan Internal Kanwil Ditjen Bea dan Cukai Aceh.
Senin, 22 November 2010
Resepsi Pernikahan Anugrah Roby Syahputra & Endhika Sri Syahfitri
| Start: | Dec 4, '10 9:00p |
| Location: | Jl. Ketam Lk. IV Cengkeh Turi, Binjai, Sumatera Utara |
Dengan niat suci untuk beribadah kepada Allah SWT yang telah menciptakan mahluknya berpasang-pasangan, serta mengikuti sunnah Rasul dalam membina keluarga sakinah penuh mawaddah dan rahmah
Perkenankanlah putra-putri kami:
Endhika Sri Syahfitri, S.Farm, A.Pt
(Ika)
dengan
Anugrah Roby Syahputra
(Roby)
untuk meniti lembaran hidup baru dalam naungan ridha dan tuntunan-Nya.
Dalam rangka berbagi rasa syukur atas limpahan rahmat yang kuasa, kami mengharapkan Bapak/Ibu/Sdr/i pada Resepsi Pernikahan putra-putri kami tersebut yang insya Allah akan dilaksanakan pada:
Sabtu, 4 Desember 2010
Pukul 11.00 WIB s.d. selesai
di Jl. Ketam Lk. IV Cengkeh Turi, Binjai, Sumatera Utara
Kesan yang mendalam akan terukir di hati kami apabila Bapak/Ibu/Sdr/i sekalian berkenan hadir memberikan do'a restu kepada kedua mempelai
Wassalam.
Minggu, 21 November 2010
Mencintai Penanda Dosa
Kemarin pagi, Ustadz -atau saya biasa memanggilnya Bang (lebih nyumatra :D) Salim A. Fillah men-tag tulisan ini di fesbuk saya. Sangat menyentuh. Saya duplikasi di sini untuk menggandakan manfaatnya..
Mencintai Penanda Dosa
Oleh: Salim A. Fillah
Dalam hidup, Allah sering menjumpakan kita dengan orang-orang yang membuat hati bergumam lirih, “Ah, surga masih jauh.” Pada banyak kejadian, ia diwakili oleh orang-orang penuh cahaya yang kilau keshalihannya kadang membuat kita harus memejam mata.Dalam tugas sebagai Relawan Masjid di seputar Merapi hari-hari ini, saya juga bersua dengan mereka-mereka itu.
Ada suami-isteri niagawan kecil yang oleh tetangganya sering disebut si mabrur sebelum haji. Selidik saya menjawabkan, mereka yang menabung bertahun-tahun demi menjenguk rumah Allah itu, menarik uang simpanannya demi mencukupi kebutuhan pengungsi yang kelaparan dan kedinginan di pelupuk mata.“Kalau sudah rizqi kami”, ujar si suami dengan mata berkaca nan manusiawi, “Kami yakin insyaallah akan kesampaian juga jadi tamu Allah. Satu saat nanti. Satu saat nanti.” Saya memeluknya dengan hati gerimis. Surga terasa masih jauh di hadapan mereka yang mabrur sebelum berhaji.
Ada lagi pengantin surga. Keluarga yang hendak menikahkan dan menyelenggarakan walimah putra-putrinya itu bersepakat mengalihkan beras dan segala anggaran ke barak pengungsi. Nikah pemuda-pemudi itu tetap berlangsung. Khidmat sekali. Dan perayaannya penuh doa yang mungkin saja mengguncang ‘Arsyi. Sebab semua pengungsi yang makan hidangan di barak nan mereka dirikan berlinangan penuh; haru memohonkan keberkahan.Catatan indah ini tentu masih panjang.
Ada rumah bersahaja berkamar tiga yang menampung seratusan pelarian musibah. Untuk pemiliknya saya mendoa, semoga istana surganya megah gempita. Ada juru masak penginapan berbintang yang cutikan diri, membaktikan keahlian di dapur umum. Ada penjual nasi gudheg yang sedekahkan 2 pekan dagangannya bagi ransum para terdampak bencana. Semoga tiap butir nasi, serpih sayur, dan serat lelaukan bertasbih untuk mereka.Ada juga tukang pijit dan tukang cukur yang keliling cuma-cuma menyegarkan raga-raga letih, barak demi barak. Ada dokter-dokter yang rela tinggalkan kenyamanan ruang berpendingin untuk berdebu-debu dan berjijik-jijik. Ada lagi para mahasiswa dan muda-mudi yang kembali mengkanakkan diri, membersamai dan menceriakan bocah-bocah pengungsi. Semua kebermanfaatan surgawi itu, sungguh membuat iri.
***
“Ah, surga masih jauh.”
Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia?
Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.”Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.
Kini izinkan saya bercerita tentang seorang wanita yang selalu mengatakan; bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan; berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya.
Dan wanita dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mencintai penanda dosanya.“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan”, ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.
“Ah, surga masih jauh.”
Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.
Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri.
Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.
“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “
’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”
“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”
“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”
Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak.
“Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”
Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan.
“Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.
“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”
“Subhanallah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.
“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”
“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati.
Allah, jadikan wanita ini semulia Maryam. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Allah, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu dan di sisi orang-orang beriman.
Allah, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan shalihah ini ke dalam pengasuhanMu nan Maha Rahman dan Rahim.Allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”
NB: sahibatul hikayah berpesan agar kisah ini diceritakan untuk berbagi tentang betapa pentingnya menjaga iman, rasa taqwa, dan tiap detail syari’atNya di tiap langkah kehidupan. Juga agar ada pembelajaran untuk kita bisa memilih sikap terbaik menghadapi tiap uji kehidupan. Semoga Allah menyayanginya.
Mencintai Penanda Dosa
Oleh: Salim A. Fillah
Dalam hidup, Allah sering menjumpakan kita dengan orang-orang yang membuat hati bergumam lirih, “Ah, surga masih jauh.” Pada banyak kejadian, ia diwakili oleh orang-orang penuh cahaya yang kilau keshalihannya kadang membuat kita harus memejam mata.Dalam tugas sebagai Relawan Masjid di seputar Merapi hari-hari ini, saya juga bersua dengan mereka-mereka itu.
Ada suami-isteri niagawan kecil yang oleh tetangganya sering disebut si mabrur sebelum haji. Selidik saya menjawabkan, mereka yang menabung bertahun-tahun demi menjenguk rumah Allah itu, menarik uang simpanannya demi mencukupi kebutuhan pengungsi yang kelaparan dan kedinginan di pelupuk mata.“Kalau sudah rizqi kami”, ujar si suami dengan mata berkaca nan manusiawi, “Kami yakin insyaallah akan kesampaian juga jadi tamu Allah. Satu saat nanti. Satu saat nanti.” Saya memeluknya dengan hati gerimis. Surga terasa masih jauh di hadapan mereka yang mabrur sebelum berhaji.
Ada lagi pengantin surga. Keluarga yang hendak menikahkan dan menyelenggarakan walimah putra-putrinya itu bersepakat mengalihkan beras dan segala anggaran ke barak pengungsi. Nikah pemuda-pemudi itu tetap berlangsung. Khidmat sekali. Dan perayaannya penuh doa yang mungkin saja mengguncang ‘Arsyi. Sebab semua pengungsi yang makan hidangan di barak nan mereka dirikan berlinangan penuh; haru memohonkan keberkahan.Catatan indah ini tentu masih panjang.
Ada rumah bersahaja berkamar tiga yang menampung seratusan pelarian musibah. Untuk pemiliknya saya mendoa, semoga istana surganya megah gempita. Ada juru masak penginapan berbintang yang cutikan diri, membaktikan keahlian di dapur umum. Ada penjual nasi gudheg yang sedekahkan 2 pekan dagangannya bagi ransum para terdampak bencana. Semoga tiap butir nasi, serpih sayur, dan serat lelaukan bertasbih untuk mereka.Ada juga tukang pijit dan tukang cukur yang keliling cuma-cuma menyegarkan raga-raga letih, barak demi barak. Ada dokter-dokter yang rela tinggalkan kenyamanan ruang berpendingin untuk berdebu-debu dan berjijik-jijik. Ada lagi para mahasiswa dan muda-mudi yang kembali mengkanakkan diri, membersamai dan menceriakan bocah-bocah pengungsi. Semua kebermanfaatan surgawi itu, sungguh membuat iri.
***
“Ah, surga masih jauh.”
Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia?
Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.”Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.
Kini izinkan saya bercerita tentang seorang wanita yang selalu mengatakan; bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan; berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya.
Dan wanita dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mencintai penanda dosanya.“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan”, ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.
“Ah, surga masih jauh.”
Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.
Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri.
Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.
“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “
’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”
“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”
“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”
Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak.
“Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”
Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan.
“Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.
“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”
“Subhanallah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.
“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”
“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati.
Allah, jadikan wanita ini semulia Maryam. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Allah, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu dan di sisi orang-orang beriman.
Allah, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan shalihah ini ke dalam pengasuhanMu nan Maha Rahman dan Rahim.Allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”
NB: sahibatul hikayah berpesan agar kisah ini diceritakan untuk berbagi tentang betapa pentingnya menjaga iman, rasa taqwa, dan tiap detail syari’atNya di tiap langkah kehidupan. Juga agar ada pembelajaran untuk kita bisa memilih sikap terbaik menghadapi tiap uji kehidupan. Semoga Allah menyayanginya.
Senin, 08 November 2010
"Semakin dekat hubungan kita dengan seseorang, maka semakin dalam kita mengetahui aib-aibnya. Maka, jika engkau melihat keburukan2nya: tak usah kecewa, berbaiksangkalah, perpanjang kesabaran, doakan dan nasehati ia dengan sebaik-baik cara. Mudah-mudahan Allah karuniakan sikap serupa dalam dirinya kepada kita. Karena kita juga cuma manusia biasa" (LRdTS)
Rabu, 03 November 2010
Gelora Cinta Sang Hajar
Ia tak pernah mimpi menjadi istri seorang Habibullah. Awalnya ia hanya seorang jariyah, hadiah seorang raja bagi suaminya. Namun itu hanya pintu. Tuhan telah menetapkan taqdir dahsyat untuknya. Ia menjadi istri bagi suami yang dicintai Tuhannya. Ia menjadi ibu bagi generasi cinta.
Memang ia tak melahirkan Ismail di Makkah. Namun ia membesarkan generasi cinta di Makkah, tanah tandus bergunung batu. Namun, mendapat garansi Tuhannya bahwa penduduknya tidak akan lapar dan tidak akan takut di Tanah itu.
Awal hidupnya dimulai dengan sejarah ridho pada Tuhannya. Saat sang suami meninggalkannya, "Aku ridho, jika ini sudah ketetapan Tuhan kita, wahai suamiku!". Tanpa bekal yang cukup. Hanya cinta dan ridho pada Tuhannya. Saat Ismail as mulai gelisah dan haus. Ia meninggalkan Ismail di Hijr. Dan berlari antara shofa dan Marwa. Bukan pelarian, tapi ikhtiar menetapkan bahwa jejak-jejak yang tertinggal akan menjadi manasik para pejuang.
Bahwa bukan kalian yang membuat hasil, tapi Tuhan kalianlah. Akhirnya, melimpahlah zamzam. Bukan hanya untuk Ismail,tapi untuk semua pecinta Tuhannya, yang terus berlari membangun ikhtiar dan tahu bahwa hasil adalah urusan Tuhannya.
------------------------------
------------------------------
Suaminya adalah seorang Imam al Muttaqin, sang pembangun Ka'bah. Sementara anaknya adalah seorang anak sholih yang tak pernah berlaku durhaka. Walau sang suami sangat jarang bersamanya, ia mampu menjadi ibu yang shalihah bagi anaknya, sekaligus pengetua Makkah yang disegani.
Rumahnya dibangun dengan cinta. Makkah ia bangun dengan cinta sang suami bersama anaknya. Saat membangun Ka'bah menguntai doa cinta, harapan bagi kesejahteraan Makkah dan lahirnya "utusan" yang mengajarkan cinta bagi manusia, menjadi rahmat bagi semesta.
Saat Iblis berupaya merusak cinta, Iblis salah sangka. Ia kira Hajar as hanya mencintai suami dan anaknya. Tidak! Ia as mencintai Tuhannya. Kemelimpahan dari cinta pada Tuhannya itulah yang membuatnya pun mencintai suami dan anaknya.
Saat kematian datang, Hajar as tak selalu disebut. Suami dan anaknyalah yang selalu disebut. Sementara Hajar as., ia mendapat kedudukan khusus, pulang pada cinta, padaTuhannya. Terucap saat bicara tentang ketangguhan cinta Istri, ketangguhan cinta ibu, bagi generasinya.
Memang ia tak melahirkan Ismail di Makkah. Namun ia membesarkan generasi cinta di Makkah, tanah tandus bergunung batu. Namun, mendapat garansi Tuhannya bahwa penduduknya tidak akan lapar dan tidak akan takut di Tanah itu.
Awal hidupnya dimulai dengan sejarah ridho pada Tuhannya. Saat sang suami meninggalkannya, "Aku ridho, jika ini sudah ketetapan Tuhan kita, wahai suamiku!". Tanpa bekal yang cukup. Hanya cinta dan ridho pada Tuhannya. Saat Ismail as mulai gelisah dan haus. Ia meninggalkan Ismail di Hijr. Dan berlari antara shofa dan Marwa. Bukan pelarian, tapi ikhtiar menetapkan bahwa jejak-jejak yang tertinggal akan menjadi manasik para pejuang.
Bahwa bukan kalian yang membuat hasil, tapi Tuhan kalianlah. Akhirnya, melimpahlah zamzam. Bukan hanya untuk Ismail,tapi untuk semua pecinta Tuhannya, yang terus berlari membangun ikhtiar dan tahu bahwa hasil adalah urusan Tuhannya.
------------------------------
------------------------------
Suaminya adalah seorang Imam al Muttaqin, sang pembangun Ka'bah. Sementara anaknya adalah seorang anak sholih yang tak pernah berlaku durhaka. Walau sang suami sangat jarang bersamanya, ia mampu menjadi ibu yang shalihah bagi anaknya, sekaligus pengetua Makkah yang disegani.
Rumahnya dibangun dengan cinta. Makkah ia bangun dengan cinta sang suami bersama anaknya. Saat membangun Ka'bah menguntai doa cinta, harapan bagi kesejahteraan Makkah dan lahirnya "utusan" yang mengajarkan cinta bagi manusia, menjadi rahmat bagi semesta.
Saat Iblis berupaya merusak cinta, Iblis salah sangka. Ia kira Hajar as hanya mencintai suami dan anaknya. Tidak! Ia as mencintai Tuhannya. Kemelimpahan dari cinta pada Tuhannya itulah yang membuatnya pun mencintai suami dan anaknya.
Saat kematian datang, Hajar as tak selalu disebut. Suami dan anaknyalah yang selalu disebut. Sementara Hajar as., ia mendapat kedudukan khusus, pulang pada cinta, padaTuhannya. Terucap saat bicara tentang ketangguhan cinta Istri, ketangguhan cinta ibu, bagi generasinya.
Selasa, 26 Oktober 2010
"Canda, tawa, tangisan, sandaran adalah harta berharga dalam pernikahan. Bila engkau memberikannya sebelum menikah, sangat pantas kemudian yang menerima harta tersebut lebih memilih tidak menikahimu karena ia telah mendapatkan semuanya tanpa harus bersusah payah terlebih dahulu." (Engkong dalam Chapter How to Train Your Soul)*
Kamis, 21 Oktober 2010
Kopdar MP-ers Kota Medan Sekitarnya
| Start: | Oct 30, '10 1:00p |
| End: | Oct 30, '10 4:00p |
| Location: | Restoran Sari Raos, Jl. Dr. Mansur (Sebelah SMK 8/Kampus USU) |
Boleh juga kepada MP-ers asal kota dan provinsi laen yang kebetulan sedang jalan-jalan ke M...edan atau sengaja meniatkan diri datang ke Medan. Insya Allah dengan senang hati kami menerima ^_^
Boleh juga temen2 dari komunitas blogger lain, komunitas penulis, pers mahasiswa/pelajar, atau blogger independen, silakan datang..
Ingat ya, Sabtu, 30 Oktober 2010 di Restoran Sari Raos, Jl. Dr. Mansur
Jam 1 Siang On Time
dan berhubung ini acara perdana, dan kita belum menemukan donatur atau sponsor, maka diharapkan kepada temen2 untuk siap-siaga BMM (Bayar Masing-Masing). Diperkirakan saku kita bakal terogoh mulai dari Rp.20.000,-an
Oya, agendanya apa aja?
1. Makan Siang Bersama
2. Perkenalan
3. Bincang-bincang Hangat sekaligus diskusi wacana pembentukan Komunitas Multiply Medan (Sumatera Utara?)
Harap kepada teman2 agar segera mengkonfirmasi kehadiran paling lambat Jum'at, 29 Oktober 2010 kepada
Sdri. Fiqi (qeeasysyifa) : 085275031312
Eits, satu lagi, mohon invite-kan kawan2 mp-ers atau calon mp-ers laen yang belum kami undang. Terima kasih atas bantuannya ^_^
Hormat kami,
Panitia Pelaksana
Anugrah Roby (lelakirindu)
Lusia Seftie Arini (senjahatiasysyifa)
Sabtu, 16 Oktober 2010
Minggu, 10 Oktober 2010
PKS dan Harapan yang Tersisa untuk Indonesia
PKS dan Harapan yang Tersisa untuk Indonesia
Oleh: Anugrah Roby Syahputra
Jika mendengar nama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) disebut, kita akan langsung terbayang pada sosok anak-anak muda berjenggot rapi dan kaum perempuan berbusana rapi dengan jilbab besar yang rajin berdemonstrasi. Ya, partai yang cikal bakalnya disebut Ali Said Damanik (Fenomena Partai Keadilan, 2002) berakar dari Gerakan Tarbiyah yang marak di kampus-kampus pada dekade 80-an itu kini melaksanakan Musyawarah Wilayah ke-2 untuk wilayah Sumatera Utara yang berlangsung di Medan pada tanggal 7-10 Oktober 2010. Ini merupakan momentum yang tepat untuk merumuskan perbaikan bagi tanah bertuah yang berbudi luhur ini.
Banyak hal yang telah ditorehkan oleh partai berlambang dua bulan sabit kembar mengapit padi ini. Sejak awal mula pendiriannya saja, partai yang dulunya bernama Partai Keadilan (PK) ini telah mencengangkan publik Indonesia. Deklarasi pendiriannya di halaman Masjid Al-Azhar, Jakarta dihadiri lima puluh ribu kader. Ini mengagetkan banyak pihak bagaimana mungkin sebuah partai baru bisa menghadirkan massa sebanyak itu. Terlebih lagi setelah mengetahui hasil Pemilu 1999 di mana PK berhasil merebut 7 kursi DPR RI, 26 kursi DPRD Propinisi, 163 kursi DPRD Kabupaten/Kota dan 1,4 juta suara pemilih atau 1,6 % dukungan rakyat. Ini sebuah debut perdana yang mengagumkan. Cuma PK satu-satunya partai baru yang bisa mendapat raihan suara sebanyak itu.
Lalu keajaiban kembali terjadi di 2004. Electoral treshold yang saat itu menjegal banyak kekuatan politik reformasi, tidak menjadi penghalang bagi partai dakwah ini untuk terus bekerja. Mereka memilih baju baru PKS untuk mewarisi dan melanjutkan cita-cita perjuangan PK. Dan hasilnya PKS (bersama Partai Demokrat) menjadi rising star dalam percaturan politik nasional. Capaian suaranya melejit tajam hingga 7,34% (8.325.020) dari jumlah total pemilih dan mendapatkan 45 kursi dari total 550 kursi di DPR. Sementara di Pemilu 2009 sebenarnya PKS mengalami “kekalahan” di beberapa kota besar yang menjadi basis mereka seperti Jakarta, Bandung dan Medan setelah disapu oleh tsunami iklan SBY dan Demokrat, meskipun syukurnya PKS bisa melakukan ekstensifikasi konstituen yang kini semakin melebar tidak hanya di wilayah urban.
Namun, hal yang amat patut diapresiasi adalah semangat PKS yang tak pernah pupus untuk berbuat kebaikan bagi bangsa. Program-program sosial mereka tetap dijalankan, meski tidak diekspos besar-besaran oleh media massa. Dalam penanggulangan bencana, PKS tetap menurukan relawan dan bantuan dana yang tidak pernah sedikit. Termasuk ketika membantu korban musibah gempa Sumatera Barat, Situ Gintung, dan banjir di beberapa daerah. Aksi-aksi solidaritas tetap mereka jalankan meskipun sering difitnah menjadikan kepedihan saudara sendiri di Palestina sebagai komoditas politik. Tulus atau tidak, sedikitnya sudah lebih dari 22 milyar rupiah yang berhasil dihimpun dan disalurkan PKS untuk perjuangan kemerdekaan dan misi kemanusiaan di bumi Al-Quds sana. Begitu pula para anggota legislatifnya yang sampai saat ini Insya Allah masih amanah dan tetap menolak budaya suap walaupun tak jarang dicemooh sebagai orang munafik. Seperti yang dilansir berbagai media, PKS masih tetap menjadi partai terdepan dalam perlawanan terhadap kultur koruptif di pemerintahan. Hal ini dibuktikan dengan data KPK yang menunjukkan bahwa PKS adalah partai yang paling tinggi angka pengembalian gratifikasinya dan tingkat kepatuhan dalam melaporkan kekayaan.
Di samping itu, sejauh ini partai yang kini dipimpin Luthfi Hassan Ishak itu mau tak mau harus diakui telah berhasil melakukan strategi political marketing yang jitu. Terbukti slogan Bersih, Peduli dan Profesional yang didengung-dengungkan telah melekat di benak masyarakat. Hal ini bukanlah semata karena faktor keunggulan konsultan politik sebagaimana yang dilakoni parpol lain, melainkan lebih disebabkan oleh kesantunan sikap berpolitiknya yang tetap mengedepankan prilaku jujur dan bersih, kepekaan pengurus dan kadernya terhadap masalah sosial dan isu-isu kerakyatan serta keberhasilan kader-kadernya yang didaulat menjadi pejabat publik. Kementerian Pertanian yang telah dua kabinet dipegang oleh kader PKS misalnya telah mencatatkan prestasi memperoleh swasembada pangan. Selain itu, kader PKS yang menjad kepala daerah pun juga tak kalah prestasinya. Misalnya, Nurmahmudi Ismail yang mendapat amanah sebagai walikota Depok mendapatkan penghargaan dari KPK sebagai kota yang paling bersih dan tranparan proses pengadaan barang dan jasanya.
Membaca Jalan Moderat PKS
Sejak Mukernasnya pada 2008 di Denpasar, wacana perubahan PKS menjadi partai terbuka menggema di mana-mana. Partai yang selama ini dicap ekslusif ini menyatakan kesiapannya untuk membersamai seluruh komponen bangsa tanpa membeda-bedakan latar belakang suku, agama dan ras. Apalagi setelah Munas ke-2 PKS di Hotel Ritz Carlton, Jakarta yang semakin meneguhkan komitmen mereka menghargai pluralitas dan kebhinekaan Indonesia dengan mengundang tokoh-tokoh Amerika dan negara Eropa untuk duduk bersama membincangkan masa depan bangsa. Hal tersebut, ungkap J. Kristiadi, menunjukkan bahwa PKS adalah partai yang percaya diri dan bukan harus inferior terhadap negara adidaya. Ditambah lagi iklan-iklan yang menampilkan sosok-sosok beragam mulai dari kyai sampai anak punk, mulai dari Natsir sampai Soekarno dengan merahnya yang menyala. Barangkali pencitraan keberagaman yang ditampilkan tersebut adalah dalam kerangka mewujudkan visi dan misi PKS sebagai “Partai Dakwah Penegak Keadilan dan Kesejahteraan dalam Bingkai Persatuan Ummat dan Bangsa” sebagaimana tercantum dalam AD/ART partai. Partai ini kemudian ingin bisa dikategorikan sebagai kelompok “moderat” (Collins, 2004; ICG, 2005), dalam pengertian menerima demokrasi dan bekerja dalam kerangka konstitusional dan non-kekerasan demi memperoleh simpati masyarakat. Sebab, beberapa waktu sebelumnya, santer tuduhan bahwa PKS membawa hidden agenda untuk menegakkan negara Islam yang dikhawatirkan sebagian kalangan akan merugikan kelompok minoritas. Kekhawatiran itu setidaknya terungkap dalam buku Ilusi Negara Islam yang diterbitkan oleh Ma’arif Institute dan LibforAll Foundation. PKS mendapat fitnahan keji sebagai agen kelompok transnasional garis keras yang akan merongrong kedaulatan NKRI. Begitupun, rakyat jualah yang akan menilai siapa yang santun dan siapa yang bersikap kasar layaknya teroris.
PKS dan Harapan yang Tersisa
Jujur saja, mungkin polah politik otoriter orde baru yang koruptif telah membuat sebagian besar masyarakat republik ini mengimani kepercayaan Machiavelli bahwa politik itu kotor. Wajar saja kalau kepercayaan rakyat terhadap parpol rendah. Hal itu tercermin dari semakin rendahnya tingkat partisipasi pemilih di berbagai Pemilu dan Pilkada. Hingga kemudian datang PKS yang menggabungkan dua unsur kebaikan: semangat anak muda (hamasatusy-syabab) dan kebijaksanaan para ulama (hikmatusy-syuyukh). Inilah jawaban akan penantian masyarakat akan perbaikan negeri ini. Satu-satunya harapan yang masih tersisa setelah berbagai perilaku amoral dipertontonkan oleh pejabat pemerintahan dan kader partai lain. Maka, sisa harap itu tertumpu di pundak PKS yang menasbihkan diri sebagai agent of change.
Oleh karenanya, PKS tak boleh membuat rakyat kecewa. PKS harus terus berikhtiar untuk kebaikan Indonesia. Dan, tentunya partai ini bukanlah kumpulan malaikat tanpa noda dan dosa. Ada beberapa hal yang perlu dibenahi dalam tubuh partai ini. Pertama, menjaga orisinalitas (ashalah) gerakan. Menjadi partai terbuka memanglah tuntutan konstitusi dan agama. Sebab ini adalah sarana untuk menyebarkan kebaikan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Namun yang harus digarisbawahi adalah jangan sampai karena kepentingan taktis seperti ini PKS kehilangan ruhnya sebagai sebuah gerakan dakwah. Core aktivitasnya sebagai pemikul amanah dakwah tak boleh terlupakan. Para pemimpinnya juga harus mengingat bahwa PKS bukanlah partai yang besar karena popularitas atau kharisma pemimpinnya, namun ia besar karena loyalitas dan militansi kadernya yang terbangun dari proses kaderisasi yang matang. Itulah mengapa aspek pembinaan internal dengan mensolidkan struktur dan terus-menerus meng-up-grade kader menjadi prioritas penting.
Kedua, memelihara keteladanan tokoh dan kader. Kasus yang menimpa Misbakhun sudah semestinya menjadi pelajaran bagi pengurus PKS. Meski aleg PKS tersebut belum terbukti bersalah, namun tak pelak kejadian itu telah mencoreng nama baik PKS yang telah lama dibangun. Ibarat kata pepatah, gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Profil kader PKS yang kokoh dan mandiri, dinamiis dan kreatif, spesialis dan berwawasan global dan lainnya itu haruslah terejawantahkan dalam laku sehari-hari kadernya sehingga kalau bisa akan terbit lagi seri-seri berikutnya dari buku Bukan di Negeri Dongeng (Kisah Para Pejuang Keadilan). Karena rakyat kita merindukan sosok yang sederhana dan bersahaja layaknya KH Rahmat Abdullah atau DR. Hidayat Nur Wahid yang bisa mereka teladani, yang sama antara tutur dan lakunya.
Ketiga, mengeluarkan kebijakan dan sikap politik yang populis. Sejarah adalah guru yang paling jujur. Maka PKS wajib bercermin pada gonjang-ganjing akibat iklan Soeharto dan tokoh-tokoh ormas Islam yang dicatut. PKS juga harus mengevaluasi statement kontroversial yang sering disampaikan oleh kadernya seperti Fahri Hamzah dan Anis Matta. Tak ada salahnya memang melakukan manuver politik. Apalagi untuk sebuah strategi agar dapat menjadi headline media massa. Namun ijtihad itu perlu dikaji ulang jika kemudian justru menimbulkan keresahan di masyarakat atau bahkan tubuh internal partai sendiri. Ada baiknya PKS berhati-hati dalam menyampaikan sikap politik ini khususnya yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak semisal harga BMM dan tarif dasar listrik.
Termasuk bagaimana PKS harus mencari posisi aman atas dua tuntutan kelompok yang berseberangan: pendukung formalisasi syariat Islam yang kaffah dan pembela kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia yang berideologi liberal bahkan cenderung fobia terhadap Islam. Untuk hal ini, PKS dapat belajar dari merosotnya suara PAS di Malaysia setelah mereka mengeluarkan buku yang berjudul Negara Islam, sebuah buku yang secara tegas memuat platform dan visi PAS untuk menerapkan Islam dalam hukum positif di negara jiran itu. Sebaliknya, partai AKP di Turki bisa menggapai kemenangan besar di sana dan menguasai 100% kabinet pemerintahan dengan “perngorbanan” merelakan sebagian nilai-nilai sekuler tetap bersemi dan saling berebut posisi dengan nilai Islam di tengah masyarakatnya.
Keempat, menyiapkan SDM yang mumpuni untuk mengelola negara. Sudah bukan rahasia lagi kalau PKS dihuni oleh kader-kader muda yang berpendidikan dan punya latar belakang sebagai aktivis mahasiswa di kampusnya. Ini membuat idealisme dan cita-cita mereka menemukan muara yang tepat. Hal seperti inilah yang perlu terus dimatangkan oleh PKS agar ketika kelak masyarakat memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada PKS, tidak ada lagi keterkejutan. Mengelola negara bukanlah pekerjaan sepele yang semudah membalikkan telapak tangan. Sebab untuk menyusun kembali puing reruntuhan yang terserak ini tak cuma dibutuhkan orang shalih dan jujur, namun juga harus cakap dan kapabel.
Akhirnya, kita harus terus berikhtiar, berdo’a dan memupuk harapan itu agar mindset masyarakat tak lagi berbunyi, “Ah, buat apa nyontreng, siapapun yang terpilih, tetap juganya awak hidup susah.” Alangkah indahnya kalau kemudian yang terdengar dari mereka adalah optimisme menyongsong kebangkitan kembali kejayaan zamrud khatulistiwa ini bersama PKS. Semoga.
Tulisan ini memenangkan Juara Pertama dalam Lomba Penulisan Opini Muswil ke-2 PKS Sumut 2010
Selasa, 21 September 2010
Cinta Tak Berakhir di Ajibata
Oleh: Yolanda Sari
(Pemimpin Redaksi Majalah 99 Percent)
*ditulis selepas rihlah ba'da lebaran*
kau tau bahwa
saat kita berlabuh di Ajibata
hatimu kubaca
lewat binar mata
pada canda tawa
pun nada suara
dan apa?
kutemukan pancaran rasa
yang kutebak itu cinta
maka Toba pun turut bahagia
mengayun kapal dengan ceria
membawa kita pada suatu cerita
bahwa kau pun tau
cinta itu juga dihatiku
lalu tak ada lagi ragu
tuk kita satukan di Samosir yang berliku
hari itupaling mesra dalam hidupku
bersamamukita ukir jejak di batu
melewati pohon-pohon yang cemburu
dibisiki angin yang merayu
hingga kemesraan itu harus kita sudahi
di senja yang beranjak pergi
melambai pada sedih yang menggelayuti
seolah takkan terulangi
wajahmu kupandangi
o,haruskah sampai di sini?
Toba pun menjunjung kapal kita lagi
tanpa riak berseri kali ini
dan langit turut menangisi
membiarkan hujan ucapkan ‘sampai bertemu kembali’
di tepi dermaga
Ajibata menyalami kita
mengucapkan salam terakhirnya
sambil berbisik ia berkata
Cinta tak berakhir di Ajibata…
Samosir, 18 September 2010
To 99ers with love,,
Minggu, 05 September 2010
Senin, 30 Agustus 2010
Provokasi Tiada Henti
Provokasi Tiada Henti
Scene 1
Sebuah halaqah pekanan. Para mutarabbi khusyu’ mendengar taujih dari sang ustadz. Kali ini cerita khusus refleksi perjalanan tarbiyah anak-anak muda ini. Juga mutaba’ah pencapaian muwashafat. Sampailah kemudian pada tips dan triks membentengi diri maksiat. Lalu bahasan ngalor-ngidul menjauh. Hingga ikhwan A diserbu dengan pertanyaan menukik, “Jadi antum sudah siap menikah kan, Akh? Gimana? Mau dengan akhawat dari Univeritas S atau Institut A? Biar nanti ana sodorkan sama antum..”
Scene 2
Mentari sudah mulai beranjak perlahan. Membiarkan senja menyapa manusia yang hiruk-pikuk menantinya. Di sebuah restoran yang cukup besar dan terkenal di kota B, sekelompok aktivis dakwah mengadakan acara ifthar jama’i sekaligus konsolidasi strategis untuk pengembangan dakwah di kecamatan L. Sesudah menyantap ta’jil, seorang panitia mengajak ikhwan A bercerita, “Eh, akhi, gimana pembicaraan kita yang kemarin?” Si A terbengong-bengong. Yang kemarin? Yang mana ya? Lalu sang panitia melanjutkan ucapannya, “Antum benar-benar udah siap? Serius nih. Udah ada nih orangnya yang siap Insya Allah. Tuh akhwatnya yang duduk di sebelah istri Ustadz D.”
Scene 3
Menjelang tengah malam. Angin berhembus semilir membelai mesra janggutnya yang tak begitu tebal. Di sebuah wisma pinggiran kota B, ikhwan A diamanahkan murabbinya untuk menggantikan beliau mengisi sebuah daurah pemandu (murabbi) untuk sebuah organisasi mahasiswa yang fokus gerakannya di sayap siyasi. Materinya tergolong berat –Manhaj Tarbiyah indal Ikhwanul Muslimin-, sehingga si ikhwan agak grogi juga menyampaikannya. Namun, setelah diyakinkan sang ustadz, ia memcoba percaya diri dan memberikan materi dengan lugas dengan bumbu joke-joke haraki. Esoknya, di agenda ifthar jama’i, sang ustadz bertanya pada ikhwan A, “Gimana antum ngisi kemarin, Akhi? Mantap, kan?” Sang aktivis muda itu menjawab sekenanya, “Insya Allah, Ustadz. Sudah semaksimal mungkin.” Lalu sang ustadz meyambung tanyanya lagi, “Jadi gimana? Ada di antara pesertanya yang bisa ana kenalin sama antum?” *GUBRAK!*
Begitulah. Tak ubahnya seperti iklan salah satu produk sepeda motor Jepang, selalu saja di kalangan aktivis dakwah itu ada inovasi. Eh, salah, maksud saya PROVOKASI yang tiada henti. Sedikit-sedikit bicaranya nikah. Sedikit-sedikit ngomong walimah. Tidak di kampus, di kantor, di kajian pekanan, pelatihan bahkan aksi turun ke jalanan, selalu saja tema ini tak lekang. Dan beginilah nasib para bujang, selalu jadi korban sindiran…
Meskipun topik utama perbincangan bercerita tentang masalah agenda dakwah, isu politik atau tugas kuliah dan semacamnya, tetap saja nanti selalu UUJ. Ujung-ujungnya Jodoh. Ibarat iklan sebuah produk minuman kebanggaan Indonesia, “Apapun pembicaraannya, ujungnya masalah nikah.”
Memang, tak salah membicarakan topik ini. Juga tak salah memprovokasi para bujang untuk menyegerakan diri menjemput penyempurna agamanya. Namun, jika provokasi hanya sekedar basa-basi penghangat diskusi yang hanya memanas-manasi tanpa solusi, bukankah ini sebuah jebakan yang bisa membuat si lajang larut bermimpi imajinasi yang bisa menenggelamkannya dalam angan yang menumpuk-numpuk alpa diri? Naudzubillah…
Mudah-mudahan ini bisa jadi cermin untuk berkaca diri agar bila memprovokasi juga baiknya tanggungjawab menyertai supaya insya Allah pahala kebaikan dan barakahNya turut mengiringi.
Minggu, 22 Agustus 2010
Tenang (Catatan Seorang Teman)
Tenang, aku hanya sedang memberi jarak, agar cinta itu terus memberontak.
Tenang, aku hanya sedang memberi ruang, agar indah itu mampu kau pandang.
Aku kira, untuk melihat keindahan butuh beberapa hasta.
Sebab aku tahu, untuk hangatkan cinta butuh sedikit rindu
Rabu, 18 Agustus 2010
Ditipu Cinta Ibu
Ibu. Dialah manusia yang cintanya tak putus. Kata lagu-lagu yang kuhafal semasa SD dulu, kasih ibu sepanjang masa seperti matahari, sementara kasih ayah sepanjang galah yang pasti ada ujungnya.
Ibu. Kata ini sungguh menggetarkan hati. Pengorbanannya tak terhingga. Sepanjang hayat tak kan mampu kita membayar jerih ketelatenannya mengasuh dan mendidik kita, anak-anaknya, hingga menuju puncak kesuksesan. Mulai dari mengandung selama sembilan bulan, melahirkan yang mempertaruhkan nyawa, menyusui dengan ASI eksklusif selama dua tahun, menyekolahkan kita, memberi kita uang jajan sampai meminangkan seorang gadis beriman untuk kita (bagi lelaki, atau menerima pinangan seorang lelaki berakhlak menawan buat perempuan).
Ibu. Surga berada di bawah telapak kakinya. Setiap anak pasti mencintai ibunya. Alangkah janggal jika ada yang tidak menaruh hormat dan kasih mendalam kepada insan yang telah menjadi asbab kehidupannya.
Tapi tulisan ini tidak sedang ingin mengkaji lebih dalam hadits di atas. Juga tak hendak menjabarkan faedah-faedah dan cara-cara birrul walidain (berbakti pada orang tua).
Namun tulisan ini juga bukan merupakan sebuah kisah pengkhianatan. Mungkin dari judulnya, ada yang menduga bahwa goresan pena ini akan bercerita tentang kekecewaan. Bukan. Sungguh bukan. Tulisan ini hanya ingin membagi pengalaman saya yang sederhana sekaligus agak menggelikan.
Dua pekan yang lalu saya pulang kampung ke Binjai, Sumatera Utara. Tujuan utamanya sebenarnya adalah untuk mengikuti ujian seleksi Program D3 Khusus STAN. Namun, seperti biasa, misi sampingan tentu tak boleh dilewatkan. Prinsipnya, jangan sampai ada kesempatan yang disia-siakan.
Kepulangan ini juga melepas rindu saya yang tak terbendung pada keluarga: ibu, ayah (yang berdomisili di Mandailing Natal dan kebetulan sedang pulang juga) serta adik-adik (salah satunya baru saja pulang dari perantauan di bumi Sriwijaya).
Entah memang saya yang terlalu mencintai ibu saya. Entah karena keinginan untuk berbakti yang begitu kuat. Rasionalitas saya seketika hilang ketika menerima sebuah sms yang berbunyi:
"Belikan dulu Mama pulsa As 20rb di nomor baru mama. Ini nomornya 08521067xxxx. Cepat ya. Soalnya Mama ada masalah penting."
Pengirim: 08524230xxxx
Saya langsung panik. Ingin segera memenuhi seruan sederhana untuk berbakti ini. Entah karena saya yang kelelahan sebab baru saja tiba dari Banda Aceh setelah melalui perjalanan darat selama 10 jam. Saya langsung keluar. Men-starter Beat. Mencari kios pulsa terdekat.
Oh, tidak!
Semuanya tutup!
Saya harus gegas. Jangan sampai Mama kecewa.
Lalu saya menelepon Bang Rajab, seorang ikhwan yang bisnis wartel dan pulsa. Diawali dengan sedikit basa-basi menanyakan kabar, saya langsung to the point, "Bang, kirimkan pulsa 20 ribu ke nomer 08521067xxxx ya! Ntar uangnya ana ganti. Ba'da zuhur insya Allah ana silaturahim ke rumah Abang."
Lalu pulsapun terkirim.
Saya buru-buru menelepon Mama untuk memastikan pulsanya sudah masuk.
"Gimana, Ma? Udah masuk pulsanya, khan?"
"Pulsa? Pulsa apa maksudnya, By?" jawab Mama heran.
"Loh? Tadi kan Mama yang minta dikirimin pulsa di nomor baru?" saya menjawab lebih heran lagi.
Usut punya usut. Saya telah menjadi korban penipuan. Ya, penipuan yang bisa dituntut dengan Pasal 378 KUHP. Meski nominalnya cuma 20 ribu, tapi saya tertipu. Si penipu memanfaatkan kecintaan si korban kepada ibunya untuk mengeruk keuntungan. Ini modus operandi baru (setidaknya bagi saya). Walaupun mungkin juga ini hanya ulah iseng teman saya yang usil. Ckck...
Huffhh...
Mungkin saya yang terlalu ceroboh. Nomor si pengirim jelas-jelas nomor asing, bukan nomor ibu saya (baik yang Telkomsel maupun IM3), tapi saya dengan begitu mudahnya mempercayai dan meresponnya. Ah, sudahlah. Lebih baik ambil pelajaran saja. Supaya kita tidak ditipu (gara-gara) cinta ibu..
Selasa, 17 Agustus 2010
Penerjemahan Indonesia-Malaysia
INDONESIA : Kementerian Agama
MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa (...Oh please...!!)
INDONESIA : Angkatan Darat
MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi (Kalo Laut hentak2 aer kali ya..??)
INDONESIA : Angkatan Udara
MALAYSIA : Laskar Angin Angin
INDONESIA : 'Pasukaaan bubar jalan !!
MALAYSIA : 'Pasukaaan cerai berai !!
INDONESIA : Merayap
MALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi (bagaimana coba ?)
INDONESIA : Rumah sakit bersalin
MALAYSIA : Hospital korban lelaki (bener juga sih...)
INDONESIA : Belok kiri, belok kanan
MALAYSIA : Pusing kiri, pusing kanan (kalo breakdance apaan?)
INDONESIA : Departemen Pertanian
MALAYSIA : Departemen Cucuk Tanam (yuu marie)
INDONESIA : Gratis bicara 30 menit
MALAYSIA : Percuma berbual 30 minit
INDONESIA : Satpam/sekuriti
MALAYSIA : Penunggu Maling (ngarep banget dimalingin ya ampe ditunggu)
INDONESIA : Joystick
MALAYSIA : Batang senang (maksud loe..??)
INDONESIA : Tidur siang
MALAYSIA : Petang telentang (kalo gitu, tidur malem "gelap tengkurep" donk)
INDONESIA : Tank
MALAYSIA : Kereta kebal (suntik kale..???)
INDONESIA : Kedatangan
MALAYSIA : Ketibaan (untung bukan ketiban)
INDONESIA : Rumah sakit jiwa
MALAYSIA : Gubuk gila
INDONESIA : Dokter ahli jiwa
MALAYSIA : Dokter gila (lu gilaaaaaaaaaaa)
INDONESIA : Hantu pocong
MALAYSIA : Hantu Bungkus (pesen atu donk bang...!! hehehehe)
INDONESIA : telepon selular
MALAYSIA: talipon bimbit
INDONESIA: toilet
MALAYSIA:bilik termenung
INDONESIA : Pasukan terjung payung
MALAYSIA : Aska begayut
INDONESIA: ES Campur
MALAYSIA: ABC(Air Batu Campur)
INDONESIA : buldozer
MALINGSIA : setrika bumi
INDONESIA : chatting
MALAYSIA : bilik berbual
INDONESIA : rusak
MALAYSIA : tak sihat
INDONESIA : keliling kota
MALAYSIA : pusing pusing bandar
INDONESIA : bioskop
MALAYSIA : panggung wayang
INDONESIA : narkoba
MALAYSIA : dadah
INDONESIA : pintu darurat
MALAYSIA : Pintu kecemasan
INDONESIA : Sepeda
MALAYSIA : Basikal
INDONESIA : "OK lah, gw mo tidur sebentar"
MALAYSIA : "K larr, aku nak tido sekejap"
INDONESIA : penghapus
MALAYSIA : pemadam
INDONESIA : Polisi
MALAYSIA : Pak Rela
INDONESIA : "lo jangan kejar dia"
MALAYSIA : "tak boleh kau memburu dia"
INDONESIA : Jalan-jalan
MALAYSIA : Makan angin
INDONESIA : Helm
MALAYSIA : Topi Keledar
INDONESIA : Sabuk pengaman
MALAYSIA : Tali ikat pinggang keledar
INDONESIA : Sepatu
MALAYSIA : Kasut
INDONESIA : Kementerian kehutanan
MALAYSIA : Kementerian semak belukar
MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa (...Oh please...!!)
INDONESIA : Angkatan Darat
MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi (Kalo Laut hentak2 aer kali ya..??)
INDONESIA : Angkatan Udara
MALAYSIA : Laskar Angin Angin
INDONESIA : 'Pasukaaan bubar jalan !!
MALAYSIA : 'Pasukaaan cerai berai !!
INDONESIA : Merayap
MALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi (bagaimana coba ?)
INDONESIA : Rumah sakit bersalin
MALAYSIA : Hospital korban lelaki (bener juga sih...)
INDONESIA : Belok kiri, belok kanan
MALAYSIA : Pusing kiri, pusing kanan (kalo breakdance apaan?)
INDONESIA : Departemen Pertanian
MALAYSIA : Departemen Cucuk Tanam (yuu marie)
INDONESIA : Gratis bicara 30 menit
MALAYSIA : Percuma berbual 30 minit
INDONESIA : Satpam/sekuriti
MALAYSIA : Penunggu Maling (ngarep banget dimalingin ya ampe ditunggu)
INDONESIA : Joystick
MALAYSIA : Batang senang (maksud loe..??)
INDONESIA : Tidur siang
MALAYSIA : Petang telentang (kalo gitu, tidur malem "gelap tengkurep" donk)
INDONESIA : Tank
MALAYSIA : Kereta kebal (suntik kale..???)
INDONESIA : Kedatangan
MALAYSIA : Ketibaan (untung bukan ketiban)
INDONESIA : Rumah sakit jiwa
MALAYSIA : Gubuk gila
INDONESIA : Dokter ahli jiwa
MALAYSIA : Dokter gila (lu gilaaaaaaaaaaa)
INDONESIA : Hantu pocong
MALAYSIA : Hantu Bungkus (pesen atu donk bang...!! hehehehe)
INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh
INDONESIA : telepon selular
MALAYSIA: talipon bimbit
INDONESIA: toilet
MALAYSIA:bilik termenung
INDONESIA : Pasukan terjung payung
MALAYSIA : Aska begayut
INDONESIA: ES Campur
MALAYSIA: ABC(Air Batu Campur)
INDONESIA : buldozer
MALINGSIA : setrika bumi
INDONESIA : Imut-imut
MALAYSIA : Comel benar
INDONESIA : pejabat negara
MALAYSIA : kaki tangan negara
INDONESIA : Pencopet
MALAYSIA : Penyeluk Saku
INDONESIA : remote
MALAYSIA : kawalan jauh
MALAYSIA : Comel benar
INDONESIA : pejabat negara
MALAYSIA : kaki tangan negara
INDONESIA : Pencopet
MALAYSIA : Penyeluk Saku
INDONESIA : remote
MALAYSIA : kawalan jauh
INDONESIA : kulkas
MALAYSIA : peti sejuk
MALAYSIA : peti sejuk
INDONESIA : chatting
MALAYSIA : bilik berbual
INDONESIA : rusak
MALAYSIA : tak sihat
INDONESIA : keliling kota
MALAYSIA : pusing pusing bandar
INDONESIA : bioskop
MALAYSIA : panggung wayang
INDONESIA : narkoba
MALAYSIA : dadah
INDONESIA : pintu darurat
MALAYSIA : Pintu kecemasan
INDONESIA : Sepeda
MALAYSIA : Basikal
INDONESIA : "OK lah, gw mo tidur sebentar"
MALAYSIA : "K larr, aku nak tido sekejap"
INDONESIA : penghapus
MALAYSIA : pemadam
INDONESIA : Polisi
MALAYSIA : Pak Rela
INDONESIA : "lo jangan kejar dia"
MALAYSIA : "tak boleh kau memburu dia"
INDONESIA : selang air
MALAYSIA : karet
MALAYSIA : karet
INDONESIA : Jalan-jalan
MALAYSIA : Makan angin
INDONESIA : Helm
MALAYSIA : Topi Keledar
INDONESIA : Sabuk pengaman
MALAYSIA : Tali ikat pinggang keledar
INDONESIA : Sepatu
MALAYSIA : Kasut
INDONESIA : Kementerian kehutanan
MALAYSIA : Kementerian semak belukar
INDONESIA: Pensiunan ABRI
MALAYSIA: Laskar Tak Begune
Rabu, 28 Juli 2010
Muhasabah Merah Jambu
Oleh: Ust. Abdul Latif Khan
Sebenarnya secara halus, syetan meninabobokanmu dengan alunan nasyid kecintaan. Kau tetap di jalan dakwah. Kaulah sejatinya pelaku dakwah. Tapi secara dini ia telah menghancurkan masa depan rumah dakwahmu, di mana ia mengajakmu menghalalkan "pemberontakan kecilmu" pada saudaramu. Dalih yang selalu diajarkan padamu adalah "Apakah yang dilakukan adalah kesalahan?", "Kenapa harus selalu dibatasi?"
Keluhanmu dan kekhawatiranmu tentang jodohmu menandakan bahwa engkau belum mengamalkan keimananmu pada taqdir Tuhanmu. Saat secara teori kau telah tahu bahwa itu rahasia Tuhanmu, lantas kenapa kau berkeluh kesah sembari membocorkan rahasia itu pada makhluq-Nya?
Janganlah menuduh saudaramu saat ia sebenarnya menginginkan agar kau tidak mendirikan sekedar sebuah rumah tangga, tapi rumah dakwah, rumah tarbiyah, rumah ibadah, rumah cintamu kau bangun di atas cintamu pada Rabbmu. Walau saudaramu sebenarnya hanya harus membantumu untuk memilih mereka yang berkarakter Islam shalih, tidak lebih.
Wallahu a'lam
Selasa, 27 Juli 2010
Puasa, Ujian dan Sebuah Keputusan Besar
Puasa di pertengahan Sya’ban kali ini memberi kesan tersendiri. Sahur sendiri dengan lauk apa adanya cukup membuat semangat mereda, namun panorama langit Santan yang didandani terang rembulan membuat romantisme subuh berpadu. Namun yang membuatku terus berpacu melawan ragu dan pilu adalah karena ujian-ujian yang harus kuhadapi. Baik itu ujian dalam denotasi, maupun dalam makna yang lebih luas.
Untuk yang zhahir saja, di sela-sela kesibukan kantor yang eight to five, aku harus membagi waktu untuk “tugas dinas” lainnya (ini saja sudah menjadi tanya: halalkah take home pay-ku jika masih sering curi-curi waktu membolos dengan alasan demi dakwah (baca: menghadiri syura-syura dan pekerjaan teknis lain?).
Pertama, menjadi koordinator tempat dan perlengkapan untuk agenda Tarhib Ramadhan DPW yang rencananya akan digelar di Taman Sari, Banda Aceh menghadirkan Ust. Anis Matta. Kedua, menyiapkan seminar motivasi menulis “Untold Stories of Writer”. Di sini saya hanya kebagian tugas untuk bantuin jualan tiket (semua panitia juga punya kewajiban sama, jadi ini biasa saja) dan memesan backdrop (termasuk mendesainnya, walaupun yang ngerjain tetap orang lain), serta secara khilaf panitia memercaya saya sebagai salah satu penyampai materi (tentu karenanya saya harus siapkan slide presentasi).
Ketiga, Selasa malam depan saya harus betolak ke Medan karena akan mengikuti Ujian Saringan Masuk Program DIII Khusus STAN pada hari Kamisnya. Saya sangat serius di sini sebab berharap bisa melanjutkan pendidikan saya yang masih tingkat rendah ini. Dan, tentu saja, jika lulus nanti (Amiin), sepulangnya dari perkuliahan di Bintaro nanti akan menjadi auditor dan punya peluang sangat besar untuk mutasi. Oh, cerita tentang mutasi tiba-tiba membuat saya geli dan agak feeling guilty jika mengingat jawaban saya atas pertanyaan teman-teman di kampung halaman. “Gimana, By? Betah di Aceh?” Dan saya menjawab, “Alhamdulillah betah. Di Aceh ini termasuk dekat disbanding teman-teman alumni STAN lain yang ditempatkan di Karimun, Kalimantan atau bahkan Flores. Di sini juga dapat rumah dinas, bla..bla..”. Duh… padahal mungkin jawaban terjujur nurani saya sesungguhnya adalah, “Ya, dibetah-betahkanlah..” Entah kenapa belakangan saya merasa semakin menemukan alasan-alasan atas jawaban yang terakhir itu.
Selain itu, sebenarnya saya punya amanah untuk pembinaan dua kampus yang berada di kecamatan saya. Untuk yang inipun, rasa berdosa seperti bertumpuk-tumpuk membebani pundak. Betapa selama ini saya sudah membiarkannya berada di urutan ke sekian prioritas hidup saya, padahal jika ditimbang-timbang dengan kalkulasi apapun (dunia-akhirat) justru di sinilah ladang amal saya. Ini amanah yang kusia-siakan. Menzalimi anak-anak muda itu dengan tidak menunaikan hak-hak tarbiyahnya. Astaghfirullah. Ampuni aku duhai Rabb..
Entahlah. Entah apa yang membuat kegelisahan membuncah memecah resah. Susah rasanya jika gundah ini terus dilestarikan tanpa arah. Mau jadi apa jiwa yang manja ini? Kapan dia mengecap muthmainnah? Kapan dia hendak menggapai maghfirah?
Detik ini aku sudah memancang tekad. Sebuah keputusan (yang bagiku) besar akan kuambil. Segera. Tanpa tunda-tunda. Kalaupun aku mengatur masa. Itu hanya untuk menemukan momentum yang tepat saja. Ini serius. Bukan gaya-gaya. Apalagi sekedar basa-basi untuk mengelak dari provokasi. Tidak, itu nakal sekali.
Setelah menyelesaikan tulisan ini, aku akan menuliskan surat itu di selembar kertas, memasukkannya ke dalam amplop dan mencari waktu yang pas untuk menyampaikannya kepada “dia yang berwenang”. Kujamin tak kan lama. Sebelum Ramadhan ini. Agar pribadi yang egois ini bisa segera menginsyafi diri.
Aku bermohon pada-Nya agar meneguhkan pilihanku atas keputusan (yang bagiku) besar ini. Aku mohon petunjuk-Nya. Aku mohon ridha-Nya. Bismillah…
Ruang Staf Kepala Kanwil, menunggu dimulainya Bakti Sosial Donor Darah di lantai bawah
28 Juli 2010
(Puisi) Sepi di Juli, dkk
Puisi (kalau boleh disebut begitu) yang ditulis awal April 2006, saat baru mulai belajar menulis puisi. Saat saya masih mengutamakan etika (idealisme) ketimbang (bahkan meminggirkan) estetika. Namun ajaibnya, puisi ini dimuat di bulan Juli 2010. Empat tahun sesudahnya
Sepi di Juli
Juli ini disapa sepi
Sunyi tak berbunyi
Meski cuma dendang kecapi
Teman-teman semua pergi
Ke kampung halaman kembali
Meninggalkanku sendiri
Di sini, pintu selalu terkunci
Agar hatiku bisa meresapi
Pesan bijak abi dan ummi
Dalam menit-menit semedi
Elegi Akhir Hayat
Ketika kulihat matahari
Bersinar terang di langit September
Kutahu Kau ada
Ketika kudengar nyanyian pipit
Di atas hijau pepohonan
Kutahu Kau ada
Ketika kurasa gurihnya ayam bakar
Di restoran pinggir jalan
Kutahu Kau ada
Ketika kuhirup udara segar terakhir
Di penghujung biografiku
Aku juga tahu bahwa Kau ada
Tapi mengapa aku tak faham
Menutup kisah dengan cemerlang
Aku tak pernah ingat
Tentang satu kata ajaib itu : taubat!
Di Balik Diorama
Di balik diorama
Yang tersangkut dekat jendela
Terdengar alunan irama
Tentang cerita-cerita lama
Kisah-kisah kita
Satu per satu berbuah duka
Membulirkan air mata
Yang terurai tanpa kata
Ibarat laut enggan berombak
Akibat penuh dengan keladak
Di balik diorama
Hanya tinggal sebuah nama
Yang kan kukenang selamanya
Purnama di Jembatan Rindu
Lorong-lorong jiwa
Berhias seribu purnama
Bermimpi tentang bidadari
Yang tak henti membayang diri
Lalu aku mengatur rencana
Menyeret langkah nurani
Menyusuri pintu hati
Siapa sangka ada wajah sendu
Duduk termangu di jembatan rindu
Menyanyikan sajak pilu
Istana Tanpa Zikir
Ada suara dari dalamnya
Terasa lebih mesra dari rayap yang
Lalu tenggelam dalam kubangan dosa
Setiap setan diundang ke sana
Naik ke lantai tiga
Menyanyikan lagu neraka
Aku ke sana dengan berani
Menawarkan sebiji sawi
Kehidupan yang hakiki
Tapi aku diusri pergi
: jangan ceramah di sini!
Langganan:
Komentar (Atom)