Kamis, 28 Januari 2010
Minggu, 17 Januari 2010
"Cari istri itu yang penghasilannya maksimal 2/3 take home pay kita aja. Kalau sama atau lebih besar bisa gawat. Nggak ada izzah kita sebagai qowwam dalam rumah tangga. Kan ada tuh kasus beberapa pasangan muda tarbiyah yang akhirnya bercerai gara-gara masalah ini." (hasil diskusi dengan seorang teman tentang tema "itu")
Minggu, 10 Januari 2010
Sabtu, 09 Januari 2010
Rabu, 06 Januari 2010
Hidup kita -menurut kita- mungkin biasa-biasa saja, datar-datar saja. Tapi, bisa jadi ada potongan-potongan tertentu dari hidup kita yang sangat berarti bagi orang lain. Meski hanya sepenggalan fragmen singkat, namun amat menentukan kehidupan orang lain. Bertumpuk hikmah, ibrah dan melenyap gundah. Atau sebaliknya, malah menjadi pemantik airmata. Entahlah. Kalian percaya?
Rintihan Setangkai Bunga
kulihat dirimu melukis nestapa di kanvas maya
gurat wajahmu siratkan rapuh yang kau bungkus selendang do'a
dalam diam, kuncupmu yang belum mekar semakin ragu
diterpa bayu dijamah kupu-kupu
bukankah bunga dicipta untuk peroleh madu?
dan kau semakin bimbang saat kumbang-kumbang datang bertandang
membawa mahar untuk bilang ingin meminang
apakah masa lalu selalu pahit untuk dikenang?
sebab kelopakmu yang semarak warna merah jingga
banyak mata jadi terpana terpesona
percayakah kau bahwa keindahan adalah nikmatNya?
barangkali orang-orang salah mengira
bahwa semerbakmu bukan karena putik semata
namun juga ada andil Sang Pemberi Cahaya
tapi, semua tetap berjalan apa adanya
helai demi helai lambat laun mulai gugur direnggut waktu
sebab fitrah bunga juga layu suatu waktu
Banda Aceh, 6 Januari 2010
Di Sepanjang Sei Deli
aku mencium aroma keringat para buruh
bertamorfosa menjadi kupu-kupu tangguh di tengah riuh penuh peluh
seindah gugusan debu-debu yang menyanyikan irama pasrah pada pesta ungkap keluh
Di sepanjang Sei Deli
aku membaca kumpulan surat tentang hakikat terhampar luas
di permukaannya yang tak jernih, ada nada-nada perih tersirat
dalam gemericik air yang bingung ke mana mereka hendak berujung
Di sepanjang Sei Deli
aku melihat sinar mentari pantulkan kezaliman yang tertata
hiasi wajah sombong yang membayang di tengah sana
Di sepanjang Sei Deli
sampah-sampah bertasbih mensucikan Dia Yang Maha Esa
sambil menegurku tajam, "Kaupikir kau mulia, sedang kami ini hina?"
Banda Aceh, 5 Januari 2010
Senin, 04 Januari 2010
Kepada Ragu yang Membumbung di Puncak Sinabung
serupa air dari wajan penuh luka-luka tertumpah
kau nyanyikan nada-nada sendu pada awal perjalanan kita yang merah
semerah darah kita yang gelegak gelora hendak bertanya tentang gundah
: di manakah letak muthmainnah?
lantas kitapun terus mendaki terjalnya bebukit
sudah kubilang ini Sinabung bukan sembarang gunung
tapi kau kukuh katakan tekad, kalau memang yakin, kenapa harus berhenti?
langkah-langkah kita lanjut tapaki bebatu
meski pedih terabas belukar dan gerumbul perdu
tapi niat semakin berpadu, biar ular gigit kakimu
hingga kemudian kecamuk hujan goda kita untuk pulang
percayakah kau pada bisik manis setan itu?
hanya seulas senyum terpampang demi mendengar tanya bodohku
lalu kau hunus pedang saktimu untuk bunuh ragu
yang terus merayu-rayu di puncak Sinabung
Banda Aceh, 4 Januari 2010
Inspirasi dari Sang Guru tentang Tema "Itu"
catatan ini saya peroleh dari motivator nasional -yang saya anggap sebagai guru-: Kang Zen
alasannya saya reproduksi tulisan ini: sebab mayoritas tulisan-tulisan yang di-tag ke saya selalu bertema "itu". Entah itu artikel, cerpen, puisi atau sebuah renungan sederhana. mudah-mudahan bermanfaat.
# 1
"Dahulu, sebelum ia berhasil menikahi wanita impiannya, ia sulit tertidur, sebab selalu teringat kata-kata kekasihnya tersebut. Kini, setelah ia berhasil menikahinya, ia bahkan sudah tertidur sebelum istrinya menyelesaikan kata-katanya. Tapi tidak semua lelaki begitu.... :D"
# 2
Banyak wanita yang ingin memilki suami yang sholih
lalu Allah hadirkan seorang pria sholih melamarnya
lha.. malah ditolak..
sebab katanya pria ini kurang sholih....
Apakah yang sungguh diminta wanita itu
Suami sholih versinya
atau suami sholih versi Tuhan...?
Begitupun..
Banyak pria yang ingin memiliki istri sholihah
lalu Allah berikan beberapa alternatif wanita sholihah yang siap dinikahi
lha.. malah dipilihnya wanita sholihah yang belum siap nikah....
sebab katanya kalau bukan dengan yang itu gak sreg...
Apakah yang sungguh diminta pria itu
Istri sholihah pilihan Tuhan
atau istri sholihah yang menggoncang eksistensi Tuhan di jiwanya?
Sahabat semua...
Tidak harus menunggu pasangan yang ideal baru engkau menikah,
tapi menikahlah, maka kehidupanmu akan semakin ideal...
# 3
KURANG PERHATIAN
Karena ini perkara perHATIan
pasti urusannya dengan HATI
tak perlu HATI-HATI
kalau sudah yakin sepenuh HATI
dan biarkan HATI ini bercahaya
sebab tunduk sepenuhnya ...
kepada yang Maha MemperHATIkan
Zat yang menguasai HATI
Mencari perHATIan itu boleh
Asalkan bukan untuk sekedar mendapatkannya
tapi untuk dikembalikan padaNya
dan dariNya kembali lagi kepada mereka
yang memperHATIkanmu...
Perlu diperHATIkan, bahwa
Mencari perHATIan bukanlah untuk diperHATIkan
Tapi sebagai bukti bahwa engkau memperHATIkan mereka
dan engkau memperHATIkan Yang MAHA MemperHATIkan
Dan tidak jarang,
Cara terbaik mendapatkan perHATIan adalah
dengan cara tidak memperHATIkannya
tapi fokus memperHATIkan-Nya
Wahai ukhti, bukan karena cantik engkau diperHATIkan
tapi karena diperHATIkan engkau menjadi Cantik
Wahai Ikhwan, kalau engkau merasa istrimu tak lagi cantik
berarti engkau kurang memperHATIkannya
Wahai manusia, bukan karena diperHATIkan
lalu engkau berbuat baik dan taqwa
Tapi, karena engkau berbuat baik dan taqwa
maka engkau layak diperHATIkan
Lagipula...
PerHATIan manusia itu fana
Tidak layak diperjuangkan
Tapi perHATIan dari Allah itu Adil dan Bijaksana
Sungguh layak diperHATIkan
Tak perlu lagi sibuk mencari perHATIan manusia
Dengan umbar kesedihan dimana-mana
Sakit ini, sakit itu, dan sakit HATI
Apakah Allah kurang memperHATIkanmu,
sehingga engkau sibuk mencari perhatian selain dari-Nya?
Bukankah Allah yang menguasai jagat HATI kita?
PerHATIkanlah dirimu,
PerHATIkanlah Tuhanmu,
PerHATIkanlah dengan sepenuh HATImu...
Sahabat, Mengapa selalu mencari yang di luar,
Bukankah yang di dalam sini lebih sempurna...?
Suatu Petang di Tepi Toba
seperti dikejar hantu dari setiap penjuru
tolong dengarkan ceritaku, katamu pilu
lalu aku mengangguk dan sanggupi pintamu
kitapun sama-sama berlari menuju dermaga
menatapi riak-riak Toba yang nakal
di permukaannya,
aku temukan wajahmu terapung
dipermainkan gelombang
ditertawakan ikan-ikan
sebab kau masih juga bungkam
sampai akhirnya angin datang berbisik
di telingaku ia kirimkan kabar dukamu yang tak henti menganak sungai
membanjiri lesung pipimu
tapi kau tetap diam,
wajahmu dikurung murung,
dan aku hanya menyimak ocehan angin
sembari terus menunggu bibirmu jujur padaku
Banda Aceh, 3 Januari 2010, 23.50 WIB
Minggu, 03 Januari 2010
Sedikit Bocoran dari Buku Terbarunya Salim A. Fillah (Insya Allah segera terbit. Dapat dari fb, yuk kita intip ^_^)
Prolog: Dua Telaga
Telaga itu luas, sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Di tepi telaga itu berdiri seorang lelaki. Rambutnya hitam, disisir rapi sepapak daun telinga. Dia menoleh dengan segenap tubuhnya, menghadap hadirin dengan sepenuh dirinya. Dia memanggil-manggil. Seruannya merindu dan merdu. “Marhabban ayyuhal insaan! Silakan mendekat, silakan minum!”
Senyumnya lebar, hingga otot di ujung matanya berkerut dan gigi putihnya tampak. Dari sela gigi itu terpancar cahaya. Mata hitamnya yang bercelak dan berbulu lentik mengerjap bahagia tiap kali menyambut pria dan wanita yang bersinar bekas-bekas wudhunya.
Tapi di antara alisnya yang tebal dan nyaris bertaut itu ada rona merah dan urat yang membiru tiap kali beberapa manusia dihalau dari telaganya. Dia akan diam sejenak. Wibawanya terasa semerbak. Lalu dia bicara penuh akhlaq, matanya berkaca-kaca. “Ya Rabbi”, serunya sendu, “Mereka bagian dariku! Mereka ummatku!”
Ada suara menjawab, “Engkau tak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu!”
Air telaga itu menebar wangi yang lebih harum dari kasturi. Rasanya lebih lembut dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih sejuk dari salju. Di telaga itu, bertebar cangkir kemilau sebanyak bilangan gemintang. Dengan itulah si lelaki memberi minum mereka yang kehausan, menyejukkan mereka yang kegerahan. Wajahnya berseri tiap kali ummatnya menghampiri. Dia berduka jika dari telaganya ada yang dihalau pergi.
Telaga itu sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Tapi ia tak terletak di dunia ini. Telaga itu Al Kautsar. Lelaki itu Muhammad. Namanya terpuji di langit dan bumi.
***
Telaga lain yang lebih kecil, konon pernah ada dalam cangkungan sebuah hutan di Yunani. Dan ke telaga itu, setiap pagi seorang lelaki berkunjung. Dia berlutut di tepinya, mengagumi bayangannya yang terpantul di air telaga. Dia memang tampan. Garis dan lekuk parasnya terpahat sempurna. Matanya berkilau. Alis hitam dan cambang di wajahnya berbaris rapi, menjadi kontras yang menegaskan kulit putihnya.
Lelaki itu, kita tahu, Narcissus. Dia tak pernah berani menjamah air telaga. Dia takut citra indah yang dicintainya itu memudar hilang ditelan riak. Konon, dia dikutuk oleh Echo, peri wanita yang telah dia tolak cintanya. Dia terkutuk untuk mencintai tanpa bisa menyentuh, tanpa bisa merasakan, tanpa bisa memiliki.
Maka di tepi telaga itu dia selalu terpana dan terpesona. Wajah dalam air itu mengalihkan dunianya. Dia lupa pada segala hajat hidupnya. Kian hari tubuhnya melemah, hingga satu hari dia jatuh dan tenggelam. Alkisah, di tempat dia terbenam, tumbuh sekuntum bunga. Orang-orang menyebut kembang itu, narcissus.
Selesai.
Tetapi Paulo Coelho punya anggitan lain untuk kisah Narcissus. Dalam karyanya The Alchemist, tragika lelaki yang jatuh cinta pada dirinya sendiri itu diakhiri dengan lebih memikat. Konon, setelah kematian Narcissus, peri-peri hutan datang ke telaga. Airnya telah berubah dari semula jernih dan tawar menjadi seasin air mata.
“Mengapa kau menangis?”, tanya para peri.
Telaga itu berkaca-kaca. “Aku menangisi Narcissus”, katanya.
“Oh, tak heranlah kau tangisi dia. Sebab semua penjuru hutan selalu mengaguminya, namun hanya kau yang bisa mentakjubi keindahannya dari dekat.”
”Oh, indahkah Narcissus?”
Para peri hutan saling memandang. “Siapa yang mengetahuinya lebih daripadamu?”, kata salah seorang. “Di dekatmulah tiap hari dia berlutut mengagumi keindahannya.”
Sejenak hening menyergap mereka. “Aku menangisi Narcissus”, kata telaga kemudian, “Tapi tak pernah kuperhatikan bahwa dia indah. Aku menangis karena, kini aku tak bisa lagi memandang keindahanku sendiri yang terpantul di bola matanya tiap kali dia berlutut di dekatku.”
***
Setiap kita punya kecenderungan untuk menjadi Narcissus. Atau telaganya. Kita mencintai diri ini, menjadikannya pusat bagi segala yang kita perbuat dan semua yang ingin kita dapat. Kita berpayah-payah agar ketika manusia menyebut nama kita yang mereka rasakan adalah ketakjuban pada manusia paling memesona. Kita mengerahkan segala daya agar tiap orang yang bertemu kita merasa telah berjumpa dengan manusia paling sempurna.
Kisah tentang Narcissus menginsyafkan kita bahwa setinggi-tinggi nilai yang kita peroleh dari sikap itu adalah ketakmengertian dari yang jauh dan abainya orang dekat. Kita menuai sikap yang sama dari sesama, seperti apa yang kita tabur pada mereka. Dari jaraknya, para peri memang takjub, namun dalam ketidaktahuan. Sementara telaga itu hanya menjadikan Narcissus sebagai sarana untuk mengagumi bayangannya sendiri. Persis sebagaimana Narcissus memperlakukannya. Pada dasarnya, tiap-tiap jiwa hanya takjub pada dirinya.
Tetapi ‘Amr ibn Al ‘Ash merasakan ketiadaan sikap ala Narcissus pada seorang Muhammad, lelaki yang sesampai di surga pun masih menjadikan diri pelayan bagi ummatnya. ‘Amr telah belasan tahun menjadikan silat lidahnya sebagai senjata paling mematikan bagi da’wah Sang Nabi. Lalu setelah hari Hudaibiyah yang menegangkan itu, hidayah menyapanya. Dia, bersama Khalid ibn Al Walid dan ‘Utsman ibn Thalhah menuju Madinah menyatakan keislaman. Mereka disambut senyum Sang Nabi, dilayani bagai saudara yang dirindukan, dimuliakan begitu rupa.
Bagaimanapun, ‘Amr merasa hanya dirinya yang istimewa. Itu tampak dari sikap, kata-kata, dan perlakuan Sang Nabi padanya. Hari itu dia merasa Sang Rasul pastilah mencintainya melebihi siapapun, mengungguli apapun. Pikirnya, itu disebabkan bakat lisannya begitu rupa yang kelak bermanfaat bagi da’wah. Terasa sekali. Maka dia beranikan diri meminta penegasan. “Ya Rasulallah”, dia berbisik ketika kudanya menjajari tunggangan Sang Nabi, “Siapakah yang paling kau cintai?”
Sang Nabi tersenyum. “’Aisyah”, katanya.
“Maksudku”, kata ‘Amr, “Dari kalangan laki-laki.”
“Ayah ‘Aisyah.” Rasulullah terus saja tersenyum padanya.
“Lalu siapa lagi?”
“’Umar.”
“Lalu siapa lagi?”
“’Utsman.” Dan beliau terus tersenyum.
“Setelah itu”, kata ‘Amr berkisah di kemudian hari, “Aku menghentikan tanyaku. Aku takut namaku akan disebut paling akhir.” ‘Amr tersadar, apalagi sesudah berbincang dengan Khalid dan ‘Utsman, bahwa Muhammad adalah jenis manusia yang membuat tiap-tiap jiwa merasa paling dicinta dan paling berharga. Dan itu bukan basa-basi. Muhammad tak kehilangan kejujuran saat ditanya.
Nabi itu indah dan menakjubkan memang. Tapi yang paling menarik dari dirinya adalah bahwa berada di dekatnya menjadikan setiap orang merasa istimewa, merasa berharga, merasa memesona. Dan itu semua tersaji dalam ketulusan yang utuh.
***
Di buku ini, Dalam Dekapan Ukhuwah, kita ingin meninggalkan bayang-bayang Narcissus. Kita ingin
kecintaan pada diri berhijrah menjadi cinta sesama yang melahirkan peradaban cinta. Dari Narcissus yang dongeng, kita menuju Muhammad yang menyejarah. Pribadi semacam Sang Nabi ini yang akan menjadi telisik pembelajaran kita. Inilah pribadi pencipta ukhuwah, pribadi perajut persaudaraan, pembawa kedamaian, dan beserta itu semua; pribadi penyampai kebenaran.
Tak ayal, kita harus memulainya dari satu kata. Iman. Karena ada tertulis, yang mukmin lah yang bisa bersaudara dengan ukhuwah sejati. Iman itu pembenaran dalam hati, ikrar dengan lisan, dan amal dengan perbuatan. Kita faham bahwa yang di hati tersembunyi, lisan bisa berdusta, dan amal bisa dipura-pura. Maka Allah dan RasulNya telah meletakkan banyak ukuran iman dalam kualitas hubungan kita dengan sesama. Setidaknya, terjaganya mereka dari gangguan lisan dan tangan kita. Dan itulah batas terrendah dalam dekapan ukhuwah.
Dalam dekapan ukhuwah kita menghayati pesan Sang Nabi. “Jangan kalian saling membenci”, begitu beliau bersabda seperti dicatat Al Bukhari dalam Shahihnya, “Jangan kalian saling mendengki, dan jangan saling membelakangi karena permusuhan dalam hati.. Tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara..”
Dalam dekapan ukhuwah kita mendaki menuju puncak segala hubungan, yakni taqwa. Sebab, firmanNya tentang penciptaan insan yang berbangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal ditutup dengan penegasan bahwa kemuliaan terletak pada ketaqwaan. Dan ada tertulis, para kekasih di akhirat kelak akan menjadi seteru satu sama lain, kecuali mereka yang bertaqwa.
Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.
Dalam dekapan ukhuwah, kita akan mengeja makna-makna itu, menjadikannya bekal untuk menjadi pribadi pencipta ukhuwah, pribadi perajut persaudaraan, pembawa kedamaian, dan beserta itu semua; pribadi penyampai kebenaran. Dalam dekapan ukhuwah, kita tinggalkan Narcissus yang dongeng menuju Muhammad yang mulia dan nyata. Namanya terpuji di langit dan bumi.
***
Ah, tapi jika semua tadi masih terasa sulit dan melangit, mari kita sederhanakan Dalam Dekapan Ukhuwah ini dengan sabda Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam yang menghimbau kita untuk bercermin. Seperti Narcissus. Tapi bukan di telaga. Dan pemaknaannya pun jadi berbeda.
“Mukmin yang satu”, kata Sang Nabi, “Adalah cermin bagi mukmin yang lain.”
Bercerminlah, tapi bukan untuk takjub pada bayang-bayang seperti Narcissus, atau telaganya. Menjadikan sesama peyakin sebagai cermin berarti melihat dengan seksama. Lalu saat kita menemukan hal-hal yang tak terkenan di hati dalam bayangan itu, kita tahu bahwa yang harus kita benahi bukanlah sang bayang-bayang. Kita tahu, yang harus dibenahi adalah diri kita yang sedang mengaca. Yang harus diperbaiki bukan sesama yang kita temukan celanya, melainkan pribadi kita yang sedang bercermin padanya.
Itu saja.
Selamat datang dalam dekapan ukhuwah. Aku mencintai kalian karena Allah.
Langganan:
Komentar (Atom)